Saturday, December 30, 2017

Natalan di: RS ( Rumah Sa.. )


Banyak yang bilang kalau feeling ibu itu selalu nganan.. dalam arti yang lebih sederhana, perasaan ibu ke anak-anaknya selalu betul, mengapa begitu.. jika dulu saya cuma bisa bilang, itu kayak berkah ibu, itu adalah paket pemberian Tuhan  yang terbungkus bersama bayi. Seperti lampu yang akan langsung menyala saat di pasang ke listrik. Tapi terus terang, pemikiran tentang berkah itu bertambah dalam saat saya sendiri di karuniakan anak bayi ini. Rupanya, alasan mengapa perasaan ibu dan anak begitu terkoneksi adalah karena sejak awal di ciptakan, si janin sudah berada nyaman di dalam rahim, jauh sebelum itu pun, saat Tuhan menentukan Janin itu berjenis kelamin perempuan, sel-sel telur di dalam rahim si Janin sudah ada, dan hingga dilahirkan sampai usia belasan, sel telur itu dalam posisi ‘sleep mode’ dan akan aktif saat perempuan mulai mendapatkan first mentruation. Nah, nantinya, sel telur itu pula lah yang akan berkembang ( jika sudah di buahi ) menjadi janin hari ke hari ke bulan hingga lahir, dan siklus itu terus berulang. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa perasaan ibu kepada anak, feeling ibu ke anak, mengapa selalu ‘nganan’ adalah karena antara bayi dan ibu terkoneksi, bukan hanya sejak di dalam janin, tapi jauh sebelum itu. jauh sebelum dibuahi, sejak didalam kandungan, sel telur yang ada sudah bersama sama dengan si ibu, dan ketika sel telur berubah menjadi kantong rahim, berkembang menjadi janin dan hingga hari kelahiran dan pertumbuhan bayi setiap harinya. Sel telur yang ada di rahim selalu menemani ibu, selalu ada saat ibu sedih, saat ibu down, saat ibu-nya gembira, kelelahan dan hal hal lain yang membuat mereka somehow magically grow together with this kindda feeling. Ajaib bukan, bagaimana sang pencipta membuat semua ini sejak awal bumi tercipta? Dan saya boleh jadi satu orang ibu yang bersyukur sangat dalam karena mengalami feeling kuat, dengan bayi saya, Sa.
Oh ya, dan feeling antara ibu dan bayi itu makin terkoneksi saat ibu menyusui anaknya ( baik perempuan ataupun laki-laki), dan bukan berarti ibu yang tidak bisa menyusui anaknya ( untuk alasan apapun) tidak punya feeling ke anak-anaknya, feeling itu tumbuh bukan hanya karena ibu menyusui / memberi ASI kepada anak, tapi karena selama 9 / 10 bulan di rahim, dan jauh sebelum sel telur dibuahi, ibu dan ‘telur’ sudah bersama sama. That’s way mommy always right! Woman always right!!!
Jauh sebelum Sa tumbang dan akhirnya di rawat, saya sudah ada feeling yang telah susah payah saya buang jauh, tapi feeling itu tepat, dan jadi kenyataan. Disinilah saya semakin yakin bahwa selain feeling ibu, ada juga rencana Tuhan yang terselip diataranya, dan kita para ibu hanya bisa dan HARUS KUAT menjalaninya. Rencana Tuhan.
Belakangan, Sa, makannya berantakan, memang, harus saya akui, riwayat alergi Sa yang panjang mau tak mau menyebabkan minimnya pasokan protein dan gizi yang masuk ke tubuh dia. Dan anak ini, suka banget main diluar, dan secara gak sadar, ngorek tanah lah, atau kadang ngemut hak sepatu tantenya-lah, pernah juga ngemut ban mobil-mobilan sepupunya yang baru aja kena lantai,, membayangkan kuman-kuman yang mungkin masuk ke tubuh dia membuat saya pusyingg tapi juga DSA bilang itu adalah salah satu hal yang membuat anak KUAT, karena sudah bersentuhan langsung dengan kuman, dan tubuh nya secara otomatis membuat antibody terhadap kuman tersebut. Singkatnya, Sa dirawat karena GERD. Awalnya 2 hari sebelum itu, saya masih main ke Mall, ajak Sa Jalan before Xmas mau membuatnya senang, kami gunakan hari itu untuk nonton film, main robot, mampir ke MINISO untuk beli crayon. Dan, pas di MINISO, Sa muntah, gak tahu karena apa, tapi feeling saya makin gak enak sekalipun saya usir usir pikiran negative itu, tetap hati kecil saya merasa sesuatu yang berat di dada. Pulang ke rumah, hari berlalu, makan masih susah dan tapi masih ceria.
Tanggal 25 nya, pagi hari, kami sekeluarga sowan ke makam Eyang & Akung di Cibubur, Sa muntah lagi, kali ini sampai terlihat sangat lemas.. feeling semakin menjadi-jadi, pikiran saya kemana-mana, memikirkan kemungkinan dari yang terselow sampai yang ter-ngegas.. dan semuanya sama-sama menyesakan dada.
Siangnya, masih tanggal 25 Desember, diatara keluarga yang berkumpul di rumah, kondisi dan suasana Natal yang hangat, saya putuskan bulat tekad ajak Sa ke Rumah Sakit yang lokasinya sangat dekat dengan Rumah. Sampai di IGD, dan setelah tes darah, dokter jaga bertanya apakah Sa mau rawat Jalan atau di rawat intensive di Rumah Sakit. Dokter pun memberi saran jika pun Sa dirawat, sebaiknya di Rumah Sakit besar yang alatnya lebih lengkap, dokter nya pun lebih banyak, kamarnya lebih nyaman & besar, terpisah antara pasien biasa & pasien invektus dan bisa seruangan dengan anak-anak seusia Sa, tapi lokasinya jauh dari rumah. Tanpa berpikir panjang, Saya langsung memutuskan untuk rawat inap Sa di rumah sakit ini, gak masalah kamarnya kecil, dan pasien umum, gak semua anak balita, yang penting dekat rumah jadi gampang dijenguk, gampang bolak balik RS – Rumah tanpa harus mikir macet dan sebagainya. 

 Hari pertama, malam pertama tidur di rumah sakit rasanya hati berat banget, dengan pemandangan Sa yang lemas, Sa yang gak ceria seperti biasa, pipi yang semakin tirus dan sesekali muntah atau diare, kelihatan sangat lemas. Dalam satu ruangan, ada 2 pasien lain, satu pasien bayi belum 1tahun usianya, yang sudah ada saat Sa dirawat dan pasien lain, kakak berusia 13 atau 14tahun yang sakit DBD, tapi masuk 3 hari setelah Sa dirawat. Hari ini, saya boleh bersyukur Karena adik na burju mau ikut nginep di rumah sakit, saya cukup kaget dengan kedatangannya membawa Yoga Matt warna orange kesayangannya serta tas penuh berisi baju saya dan juga bajunya sendiri. Lega rasanya saat dia bilang akan nginap dan kami bergantian jaga Sa. 
Malam itu, sama seperti ratusan malam lainnya dimana kafein menjadi teman, tapi malam itu lain, karena selain menjadi teman, kafein pun membuat rasa nyaman dan saya sangat berharap kafein memberi dukungan pada mata saya untuk melek lebih lama. Untuk beberapa orang, kafein membuat susah tidur, karena memacu kerja jantung lebih cepat memompa darah, dan mana ada sih yang jika deg-deg-an bisa tidur pulas. Beda dengan saya yang gak pernah mengalami kesulitan itu. kafein dan tidur adalah dua hal yang bersebrangan dan tidak relevan jika di bandingkan. Saya bisa ngopi 6 gelas sehari dan tetap tidur pulas, dan apa itu insomnia?? 













Hari kedua, tanggal 26 Dan seterusnya sampai tiba saatnya Sa untuk discharge from the hospital, saya tidur sendiri, jaga sendiri karena adik na burju sudah mulai kerja.. saat dia menyampaikan hal itu, ada sedikit rasa sedih di hati saya, dengan satu pikiran, bisakah saya tetap terjaga saat saya benar benar berat mata, dan kafein tak lagi ada fungsinya di tubuh saya? Saya takut kalau-kalau saat saya tertidur, Sa tiba-tiba muntah dan amit amit muntahnya menghalangi airway system dan amit amit lagi, jadi sesak nafas dan lain sebagainya. Untuknya, sangat bersyukur, suster jaga malam sangat amat baik hati, mereka semua rela bolak balik meronda kamar dan tiap bilik, memastikan bahwa baik pasien dan penjaganya dalam keadaan baik, tidak demam, tidak ketiduran atau hal-hal tak terduga lainnya. Jika saya harus membuat lembar terimakasih ketika ‘lulus’ dari sakit, saat discharge saya pasti akan memberikan ucapan terimakasih berupa tulisan tangan untuk para suster jaga yang amat berdedikasi dengan pekerjaannya. Trims banyak yah sus..

Ada banyak orang yang sebetulnya menguatkan saya tiap detik di rumah sakit hingga Sa boleh lepas infus dan kembali ke rumah, tepat sebelum tahun baru tiba. Sebut saya dia kak Awan, yang tiap pagi datang mampir sebelum berangkat kerja, kadang membawa sarapan buatan minimart, kadang membawa sarapan buatannya sendiri, dan malam hari kadang datang untuk membawa stok kafein, karena dia tahu saya desperately need it! The coffee I mean.. hehee para suster sudah jelas, dokter jaga dan DSA yang pendiam, para penjenguk, para kakak dan ipar saya & keponakan, yang pagi hari sebelum kerja sempat membawa sandal jepit untuk saya karena saya tak sempat mengganti alas kaki saat itu saya pakai sepatu running dan ribet dipakai bolak-balik ke toilet atau ke nurse station. Juga para fans Sa, yang menyempatkan datang untuk cheer her up. Thank you Guysss…
Dan yang lebih berat ternyata setelah discharge adalah, prose’s recovery yang butuh waktu bulanan, dan juga saat transisi dari ASI ke ---HARUS MULAI RUTIN--- SUSU SAPI yang juga menyedot habis saldo kesabaran sampai minus. But at the end of the day, Im very thankful that God surrounded us with HIS BLESSING.