Showing posts with label #IBUDANANAK. Show all posts
Showing posts with label #IBUDANANAK. Show all posts

Sunday, August 9, 2020

stop by: Bengawan Solo - POM Bensin Wiyung ( Surabaya)

Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Setelah semalam, mata bisa terpejam lewat pukul 1 dini hari ( atau mungkin lebih). Mataku hanya bisa terpejam selama beberapa saat, dan kemudian 'body alarm'-ku membangunkan ku untuk langsung beranjak dari kasur dan mulai beraktivitas! 



Sejak totally jadi stay at home mum (again!) [ walaupun masih suka keliaran juga sesekali buat ketemu orang terkait kerjaan ataupun antar kaka les. dan tentunya ke pasar dan supermarket buat groceries-an] bangun pagi adalah sebuah keniscayaan. Tapi belakangan setelah Sa aku masukin sekolah TK, dan awalnya kayak gak ikhlas gitu masuk sekolah jam 1/2 8 pagi dan via online, ---entah dari mana datangnya si motivasi itu..--- pokoknya tiap hari, gak perduli semalam apapun aku tidur (atau bahkan cuma 30 menit merem) aku bakalan bangun sebelum subuh!


DAN hari ini tuh, setelah masak simple buat bekal diperjalanan, kami lalu berangkat ke kampus(ku). Perjalanan yang cukup jauh kali ini, membuatku harus berhenti sejenak, buat meluruskan kaki dan mengisi bensin kendaraan. Tibalah kami di SPBU Wiyung yang gak besar-besar amat, tapi lengkap, ada ATM Gallery, ada Donat 24 jam dan ada BENGAWAN SOLO KOPI yang juga 24 jam. Sebelumnya, aku udah lihat warung kopi ini, disini, dari tahun lalu.. Tapi ya buat apa mampir ( pikirku dulu) toh perginya selalu bareng oranglain dan selalu dengan kegiatan lain yang gak membuat ku gak bisa bebas mampir-mampir.. Jadinya.. pas kebetulan lewat sini, dan perginya pun berdua Sa. ku putuskan untuk mampir beli kopi to go.



Tempatnya cukup luas ya.. aku jadi inget bengawan solo coffee di pombensin Penjernihan (yang juga 24jam) bedanya, disini, smoking room & non smoking tidak dipisah. digabung dalam 1 ruangan hanya berbeda area saja (dan tidak ada sekat sama sekali-- hanya pilar pilar kayu kecil yang menurut mata awamku, cuma sebagai bagian dari dekorasi interior-nya ajah). Dan yah tanpa pikir panjang (walaupun udah tahunan gak ngopi disini) aku pesen cookies & cream, demi masa lalu bersama sahabat yang menggenalkan ku dengan coffee shop ini. 


 Aku pesan segelas iced cookies n cream fav kalau di bengawan solo (selain cappucinno nya tentu saja!) ukuran sedang, yang dibanderol dengan harga 39k (kalau gak salah inget), gak lama itu kita melanjutkan perjalan (karena tujuan masih jauh.. hehehe) terus fyi, di pom bensin ini juga ada Dunkin Donut, padahal gak yang seberapa besar juga pom bensin-nya, tapi mungkin karena 24 hour jadi selalu rame.. gak sabar buat balik lagi kesini secepatnya.. tentu saja kalau COVID-19 sudah hilang dari muka bumi.. 



x0x0,

monk

Wednesday, October 2, 2019

Review Villa: Thani Villa - Ubud

View Depan Villa jam 7 WITA ( masih kelihatan kabut)

Omong-omong soal Ubud.. dibenak saya selalu membayangkan Julia Robert di film Eat, Pray, Love. namun, Ubud kali ini minus bersepeda, dan plus anak.. the love of my life, Sa Prajna, my Monkey. Disini, Ubud versi saya mencakup semua hal, Eat (a lot), Pray (a little), Love (MOREE).

Setelah naksir banyak hal tentang Ubud yang utamanya adalah = hijaunya hamparan Paddy field, dan jatuh hati pada tampilan Thani Villa (again saya book lewat situs booking.com) jadilah saya jatuhkan pilihan ke Thani Villa, yang ternyata setelah disana, baru percaya kalau lokasinya itu jauh dari UBUD CENTRE **yang mana akhirnya butuh 100k (PP) untuk menghantarkan kita lunch dan JJS kesana. 

Pesawat malam menghantarkan kami dari Surabaya ke Denpasar, dan perjalanan selanjutnya ditempuh dengan jasa *AIRPORT PICKUP* yang ditawarkan owner Thani Villa. Manisnya si Owner jemput kami dengan mengajak serta isterinya. Jadi pas datang, dan Bli bantu angkat ransel saya, dia bilang "maaf saya ajak istri saya.." dijalan, mampir ke minimart untuk beli susu& isi data internet (iya tamu dikasih internet yang mumpuni untuk tetap bisa terhubung dengan dunia luar/ pekerjaan dll, meskipun rasanya susah mendapat sinyal selama di Villa.

hasil foto Sa. dekorasi di ruang tidur

Sampai Villa udah tengah malam menjelang dini hari, hujan tercampur dengan embun yang membuat jalan setapak di sawah menuju ke Villa jadi tantangan tersendiri untuk saya ( Sa tidur, saya gendong sambil dipayungi Bli, sambil jinjing sandal Sa juga, sementara Istri Bli, bantu membawa sisa barang yang lain). sampai disana, setelah beberes sekenanya saya ikutan tertidur. kita stay disini 29 Sept - 2Okt 2019.

dapur. letak nya disebelah kiri Villa

Room Rate di Thani 800k/night. tapi dengan kenyamanan dan Fasilitas yang ada, saya rasa semuanya worth-it banget.. itu sudah include breakfast, yang harus saya akui, sangat amat simple ( Vegetarian Breakie) tapi enak dan juga Sa suka, sekalipun itu Vegetarian dan ada sayur-sayuran juga.. dan untuk dinner bisa request dan di charge biaya 35k ( atau sekitar $2.. masih masuk akal dan rasanya juga juarakk). 

omellete for breakie, plus mix fruits, juice and milk

Banana Pancake for breakie day 2

Nasi Goreng. Vegetarian. Sa seporsi habis!!! 
di Kitchen ada kulkas 2 pintu, kompor canggih, teko untuk rebus air, thermos untuk simpan air hangat, alat makan dan alat masak, bisa banget sebenernya kalau mau masak sendiri, karena umumnya yang stay di UBUD untuk meditasi dan relaksasi, bahkan dari hasil obrol-obrol sama Bli, pernah ada beberapa tamu yang stay di Thani Villa selama 3 bulan!! emang sih Villa nya sangat amat nyaman, rasanya mau kasih ratting lebih dari bintang 5, karena emang sebagus itu sih.. dan untuk stay selama itu, mereka masak-masak sendiri, dan bisa banget... karena fasilitas yang disediakan juga lengkap. 


Nah, untuk kamar, ranjangnya idaman saya banget.. dibuat ala-ala ranjang jaman kolonial Belanda yang ada tirai penutup semacam kelambu, yang bisa difungsikan kalau malam, kalau takut kena gigitan nyamuk.. atau buat tambah pengalaman lah, minimal pernah tidur di ranjang romantis namun fungsional ini.. lampunya kataku so-so pencahayaan emang kayaknya sengaja gak dibuat terlalu terang, mungkin mau memberi efek ala ala pedesaan yang minim cahaya... (mungkin loh ya... )


di teras nan luas, ada meja makan, di tengah tengah dan ada juga kursi bersantai lengkap dengan beberapa novel impor ( novel berbahasa Inggris), kalau kalau mau santai sore sambil baca novel. kalau saya disini karena ada tamu lain (baca: para kucing) dan bertebaran bulu kucing, saya gak terlalu pakai kursi ini, tapi sempat berjemur disini karena sinar matahari sampai kekursi, biar aman, aku alasi dulu dudukannya pakai handuk yang disediakan hotel (fyi, hotel siapin 4 handuk bersih).
Oh, dan handuk ini pun, karena cukup panjang, aku pakai juga buat alas berjemur ditaman Villa, sekalipun masih kena gigitan semut in the process. 

pintu kamar. antik sekali ya!
Sekalipun pintu terlihat kuno, karena memang iya, tapi pintu juga canggih! dilengkapi dengan selot dibeberapa titik dan tentu saja kunci. kan gak lucu kalau sepulang jalan-jalan, sampai Villa, barang-barang kita raib! Sekalipun aman, better keep pintu terkunci.. walaupun ini sering lupa saya lakukan.. maklumi lah ke pikunan saya...


Dressing Room. natural & beratapkan langit

Dressing room isinya lengkap dan etnic natural semua. ada toilet, ada wastafel dengan baru besar sebagai wadahnya, ada kaca besar, dan ada shower plus sabun&shampoo juga. Karena gak beratap alias langsung kena ekspos matahari, saya juga sempat curi curi berjemur disini, sekalipun akhirnya pegal karena berdiri, akhirnya yah puas berjemur di taman Villa yang membuat (bisa dibilang ) persentasi tanning saya sukses 20%, dan tanning selanjutnya yang lebih puas terlaksana di SEMINYAK. 

our piece of heaven 

Over all traveloro suka sekali dan BETAH stay di Thani Villa. ownernya sangat amat baik, informatif dan helpful banget, bahkan karena tahu saya suka kopi, Bli selalu siapin kopi hitam plus isi penuh thermos air (in case gw mau bikin lagi.. terbaik emang) fasilitas jempolan, gak ada wifi tapi diberikan sim card untuk internetan, no AC tapi UBUD sudah cukup dingin (cukup membuat selimutan every single night), dapurnya asyik, kompor gas nya canggih... sempat kecewa pas tahu kolam renang nya belum dibuat, dan Thani Villa yang dilengkapi kolam renang sudah full book sampai pertengahan tahun depan katanya.. eh bahkan Bli Sentana ini mencarikan driver untuk mengantarkan kita kemana-mana, dengan best deal harga.. suksma ya Bli!! long life and we will come back SOOOOOOOOON!!

Saturday, June 29, 2019

JJP ke : Djawatan - Banyuwangi


Dari banyak hal yang saya kagumi tentang JAWA TIMUR, salah satu yang ada di top list adalah Banyuwangi.. menurut cerita legenda, Banyuwangi adalah bukti kejujuran Puteri Surati kepada suamiya Raden Banterang.. kalau menurut saya pribadi, Banyuwangi punya tempat tersendiri di hati dan pikiran saya karena ada Kawah Ijen -- yang sejak sepuluh tahunan lalu- sudah jadi list to visit di kepala saya.. 


eniwey.. masih dalam ajaibnya Tuhan dalam menjawab doa-doa saya.. lha kok.. pas banget acara sekolah ada penelitian nya di Banyuwangi.. dan nilai plusnya adalah saya bisa ajak serta Sa. yah sekalipun kalau diceritain,, cukup lumayan hectic juga bawa anak perjalanan jauh naik bis malam hari.. sekalipun jam berangkat dan pulang balik ke S ngambil jam tidur dia, tetepan saja cukup menantang.. 


Tujuan utama kami sebetulnya adalah ke Desa Kemiren, tapi sebelumnya, kami diijinkan berpergian dan mampir ke beberapa lokasi yang semuanya indah-indah betulan memanjakan mata.. dan juga seperti merefresh otak yang penat setelah beberapa waktu memikirkan tugas sekolah yang seabrek-abreg dan juga kerjaan yang makin hari makin deras.. ( ciyee gituu..) dan hal ini diamini juga oleh teman-teman yang ikut pergi penelitian.. semua sepakat kalau riset kali ini membuat kami sejenak melupakan tugas tugas sekolah dan juga pekerjaan yang menumpuk..


Hutan de Djawatan ini berada di Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Sekilas sih mirip Hutan Fangorn di Film Lord of The Rings ( bener gak sih.. ??) Jadi ngga perlu jauh-jauh sampai ke Nz kan?? 


awalnya tujuan ke Djawatan ini masih tentatif, karena Prof bilang, kalau di Djawatan itu hanya pohon-pohon dan ya maksimal 30 menit disini untuk foto-foto tok.. nyatanya.. keindahan hutan ini membuat kami betah banget bahkan sampai lebih dari 1 jam-an, karena rupanya selain poto-poto kami juga strolling around berhamburan ke luasnya area yang semuanya hijau ini,, adem dan sejuk tapi panasnya cukup nyelekit dikulit.. 


Hampir semua area pohon di liputi lumut atau rumput menjalar sampai ke batang pohon bagian atas.. sejuknya udara saat itu seperti memberi nafas baru untuk hari-hari kita kedepan.. disini sih area terbuka gitu ya,, kayak sama sekali gak ada pembatas jadi pandangan kami juga luas dan bebas.. gak ada penjual makanan yang keliling, area benar-benar bersih.. banyak spot untuk foto tapi ada beberapa spot yang membutuhkan adrenalin yang cukup karena letaknya tinggi diatas pohon dan yang mau difoto harus manjat dengan alat yang seadanya ( seutas tali atau tangga kayu). 


Sa sendiri, sangat nyaman dan betah berlama-lama diatas mobil jeep-jeep-an yang ada kemudi dan rem ala-alanya,, gak mau dia disuruh turun, sampai saya rasanya mau titipkan dia ke teman-teman karena kaki saya udah minta di slonjorin ( kami jalan cukup jauh memang sampai ke dalam-dalam hutannya, dan Sa kebetulan saya gendong.. jadi kebayang kan jomponya kayak apa.. ) 



Ini nih yang menarik di Djawatan, dari hal-hal yang membuat traveloro betah, kayaknya pendopo & rumah ini deh yang bikin saya rela wasting time disini.. bisa jadi kalau gak ada agenda lain yang harusa dikerjakan di Banyuwangi, saya milih gelayutan luntang-lantung disini dan menghabiskan bergelas-gelas kopi Ijen. DUH.. adrenaline saya rushing tiap kali bebayang bisa ngopi ijen di tempat yang seindah ini.. Mungkin karena kebiasaan suka suasana ngopi yang layaknya 'ngopi di ruang tamu rumah' pas ketemu tempat ngopi dengan pemandangan hamparan hutan yang luas ini,, rasanya jadi lain ya.. Pas lagi enak-enak mengagumi arsitektur warung ini, Prof saya bilang kalau ini adalah 'Rumah Suku Osing,, ya gini ini' dan saya langsung wah.. serius prof.. ? kayak langsung kepingin punya satu rumah model gini di belakang rumah induk saya ( nantinya) [amiiiiiiiiiin... ] 


Dan iya,, setelah wawancara dengan kepala desa & ketua adat desa, saya jadi paham kalau rumah suku Osing adalah serupa warung ini, dan sekalipun berbentuk rumah, ada atap dan pilar, ini gak betul-betul disebut rumah sampai ada 3 ruang didalamnya, yaitu ruang inti, ruang kamar dan ruang anak-anak.. 


Selengkapnya tentang kunjungan ke Bwi, bakalan traveloro bahas pada tulisan selanjutnya.. 

xx,
traveloro




                                                                                               

Saturday, June 15, 2019

Jakarta : to DO Least


di detik akhir packing barang untuk ke Malang, Sa nangis saat video call tante unda nya, dan jadi impulsif mengajak saya ke ATM untuk bayar tiket kereta. eniwey setelah banyak pertimbangan, akhirnya saya iya-in juga deh permintaannya Sa, karena sesungguhnya otak saya udah membuat list apa-apa saja yang ingin saya lakukan dan nikmati selama di Jakarta. So, here's the list :

1. MAKAN TAHU



Untuk aktivitas yang ini boleh dibilang, saya agak maksa sih.. dan sekalipun orang-orang akan tanya juga,, kayak "ngapain sih jauh jauh ke Jakarta cuma makan tahu" itu karena,, karena hanya karena di Surabaya ini saya belum pernah ketemu tahu yang rasanya enak, lembut. Dan terakhir kali makan tahu enak itu di warung penyetan CJDW dekat kos yang gak rela memberi tahu asal muasal tahunya.. *nangissambilngemutbandalem* 

2. LETTING GO


Ini yang memang udah diniati, didalam hati dan juga masih saya pelajari sampai detik ini. Selalu mensugestikan otak bahwa "letting go is EASY" tapi ngunu yaa..... Karena ada keterikatan secara emosional sama baju-baju ini,, kayak berat banget ngelepas semuanya,, but since ini adalah hal yang baik untuk dilakukan, jadii ya saya lakukan, bukan karena saya senang melakukannya atau karena saya gak mampu untuk simpan barang-barang ini lebih lama, tapi lebih ke pemikiran bahwa ada orang lain yang lebih layak untuk memilikinya, dan hoarder adalah sikap yang buruk, TUHAN benci itu. 

3. NASI PADANG-AN


Setelah jalan 4 bulan di Surabaya, sama sekali saya belum pernah merasakan masakan Padang, ini karena yang pertama, tukang warung Padang kayak emang so-so aja, beda dengan di Jakarta yang tiap 20m mungkin ada warung Padang,, Palingan Sederhana yang ada di SBY, dan yang lain bukannya malem, mosok malam-malam saya nimbun kolesterol ( santen bwook) jadinya pas banget di Jakarta, sekalian deh ya makan Nasi Padang, ditempat, no plastic waste deh.. Sa juga makan yang sama.. ayam sayur kayak meresap banget, sampai dia habiskan sisa tulangnya doang. ( nasinya kami sharing karena buanyak juga yaa.. porsinya).

4. Hangout sama Kaka


Baru berasa mudik kalo udah menapakan kaki ke dalam Mall Puri ( its a MUST) and btw,, selalu heppy kesini,, apalagi perginya bareng kakak2 yang selama ini selalu sibuk kerja, jarang bisa ngumpul yang gini-gini, terakhir hangout begini emak2 sama anak2 ke Mall itu tahun 2011 bulan Agustus, sebulan sebelum mamake meninggal jadi ya kayak udah 8th ini gak begini.. saya girang banget, plus plus karena klo dulu saya mendampingi ponakan2,, sekarang saya mendampingi anak sendiri dan ponakan yang udah beranjak ABG.. Seru, Fun, Rame.... 


5. ORDER KULA KOPI


Ini yang beneran saya rindukan selama saya di Surabaya, ialah "es kopi keluarga coconut" yang rasanya nempel di lidah dan di hati..... selama ini saya cari cari, kayak ga ada yang rasanya mirip plek dengan Kula Kopi, good to be back,, bisa order by GOFOOD dan hati rasa berendam es kopi.. ademmmm.. ini aku order di siang sebelum pulang kembali ke S,hopefully ini bakalan membuatku semangat terjaga sampai bisa menemukan KULA (mendadak ambigu)

6. PACKING 


Bawa taas tote bag 2 dalam kondisi kosong, yoga bag pun pas pergi cuma keisi oleh2 untuk keluarga,, dan TARAAAAAAAAAAAAA~~~~ Saat pulang, bawaanku sebanyak ini.. makasih ya pak nya, baik hati sungguhan. tote bag ditarok di jok paling belakang dan AMAN sampai SURABAYA.. Syenangnyaaa. Emang jodoh gak kemana.. gak sia-sia pack meringkes 3 kamar kedalam 4 bag selama 5 hari bisa sepuas ini.. hehe no waste.. semuanya kepakai dan kebawa.. gak ada yang ketinggalan kecuali jaket Sa..  ( tetep aja ada yang ketinggalan...)


7. Paketin Barang


Biar aja orang bilang kaki saya panjang, emang iya kenyataannya gitu.. dan itulah yang membuat saya semacam jadi kolektor sepatu,, maksudnya beli-beli terus.. karena kaki yang panjang dan sepatu yang mumpuni itu adalah sebuah keniscayaan,, makanya pas ketemu yang pas.. saya langsung beli deh.. tapi PR nya adalah,, gimana bawa nya ke Surabaya sedangkan sepatu saya gak cuma sepasang, dan dari segi panjangnya, gak mungkin bisa diringkas ke dalam Tas. Solusinya? Paketin ajah... ya walapun tarif paketnya juga gak murah sih.. yah tapi daripada kebanyakan bawaan dan saya lupa dijalan,, untuk sepatu dan sandal2 ( both Sa dan saya) kami kirim ke Sby via Paket, pulang yang tempo bulanpun, kami paketkan sepatu ke Sby.. gak ada ruginya, semuanya kepakai buat ganti-ganti klo kepatu yang satu kehujanan di jalan atau becek pas di proyek...


itu dulu yaahh.. 

xx
traveloro

Thursday, May 9, 2019

Uniknya Surabaya


Memperhatikan lingkungan sekitar adalah hal yang saya sukai, karena dari proses itulah, kemudian saya berfikir, dan karena berfikir, saya merasa hidup. Secara ajaib, sekarang traveloro tinggal dan menetap di S. Terbilang mudah menyesuaikan diri karena kedua orangtua memang arek dan bonek, stay di S menjadikan kami ibarat going back home alias Pulang Kampung. Lucu memang, seminggu di S dan kami balik ke Jakarta, hanya semalam, dan Sa langsung flu, dan kembali sehat sekembalinya di S. Ini membuktikan bahwa Sa luarbiasa cepat beradaptasi dengan lingkungan S. Jalan dua bulan stay, traveloro menemukan keunikan-keunikan yang kayaknya hanya ada di Surabaya deh.. yuk simak :

1. Penjual Sate Jinjing



Pernah kebayang gak, bawa bara api diatas kepala? engga? sama! saya juga sams sekali gak kepikiran, tapi disini, lain cerita. saya pikir ini cuma ada di satu perumahan aja, karena awal liatnya di rumah sodara di Pacar Keling, dan pas pindah, ndilalah.. ada tukang sate jinjing begini lewat depan rumah, dan Sa panggil. Kebetulan Sa suka sate, dan sate jinjing ini amazing banget.. si ibu bawa tampah dikepalanya, isinya bumbu sate, sate yang sudah ditusuk-tusuk, dan bara api sak tungku-tungku’e. dan satenya, sate Madura asli, penjualnya pun, asli Madura, dengan aksen dan logat yang kental. Rasa satenya, enak sepertinya, Sa lahap makan.. seporsi Sate Jinjing Rp. 12.000 ( isi nya 10bh sate dan lontong). Jika sate nya saja dihargai Rp. 1.000,-/pc


 2.  Angkot yang suantai dan jarang nonggol



Satu kata untuk angkutan umum di Surabaya. Angel ( Bahasa jawa yang artinya: susah). Dari yang saya amati, kita harus nunggu di terminal untuk waktu yang sedemikian lamanya, sampai si angkot datang dan mulai beroperasi, jumlahnya yang terbatas, kalau berdasarkan hasil wawancara saya sama warga asli sini adalah karena memang warga Surabaya yang dari dulunya adalah warga yang mandiri, lebih senang pergi-pergian berjalan kaki, bersepeda atau motoran. Itulah sebabnya angkot hanya sedikit. Ditambah lagi kedatangan ojek online beberapa tahun silam, buat angkot semakin jarang dan supirnya suantai. Masalah lainnya adalah, warna yang hampir mirip antar trayek satu dengan lainnya, juga tujuan yang tidak ditulis di kendaraan, buat pendatang, pasti sulit sekali.. itulah kenapa saya belum pernah coba naik angkot disini.

3. Naik bis bayar pakai sampah

foto dari google images

Sebetulnya ini adalah salah satu program uniknya pemerintah Surabaya dalam rangka meminimalisir sampah plastic yang bertebaran di ruas jalan atau di kali. Cukup ampuh tapi bagi saya yang memang selalu bawa tumbler dari rumah jadi kesulitan naik bis ini. Sedangkan Sa pengin banget naik, untung aja pas di sekolahnya Sa ngadain trip dengan bis ini, saya jadi lega deh, keinginannya naik bis terpenuhi juga, sekalipun saya masih tetep ditagihi “kapan naik bis boyo” dan tiap kali lihat sampah botol dikampus, pasti saya bawa pulang.. hihiihi.. tapi minggu lalu, professor saya bilang kalau ini sekarang menjadi polemik karena pemerintah bingung mau diapakan sampah-sampah ini, karena kan pada akhirnya ini jadi pemasukan kas daerah dan mau gak mau harus di konversikan ke dalam bentuk uang.. nah... masih PR juga dari segi penukaran botol yang setahu saya cuma di terminal Purabaya ( rodok lumayan jauh sih dari lokasi tempat tinggal saya), botol nantinya akan ditukar menjadi stiker perjalanan yang berlaku selama 2 jam. selengkapnya nanti jika saya sudah berhasil naik, saya akan ceritakan detailnya yaa.. ^^


   
      4.Mural yang diawasi CCTV



Suatu pagi saat macet di simpang jalan Aditya Warman dari arah Kutei, saya gak sengaja lihat mural disebelah kiri jalan, mural-nya bagus pisan sih menurut saya, dan artistic sekali, menyatu dengan bangunan yang tampaknya tidak dipakai. Dan yang membuat saya terkejut adalah, tulisan yang ditempel di pojok kanan atas yang intinya “ mural ini diawasi CCTV, siapapun yang merusak akan kena sanksi dari institusi terkait”  pas selesai baca jadi mikir, ternyata mural ini memang  merupakan contoh ril support pemerintah Surabaya untuk seniman mural. Karena memang dinding disepanjang jalan di Surabaya saya perhatikan pasti ada mural beragam corak dan warna dan theme yang semuanya cantik-cantik dan instagramable..


 5.Jual kerupuk setinggi rumah


Dulunya, saya gak tahu stigma ini, tapi waktu kerja di The EAST dan ada teman yang kayaknya ga bisa hidup jika gak makan kerupuk dan kebetulan dia adalah orang Surabaya (Jawa) dan timbul stigma “pantang bagi orang jawa makan tanpa krupuk” dan okey saya melihatnya sendiri di rumah, adik saya yang bisa dibilang selalu cari kerupuk saat makan, bahkan kadang keripik macem lays atau citato gitu dijadikan kerupuk jika kepepet gak ada stok kerupuk sama sekali. Pas pagi hari jalan kaki ke pasar Simo, ketemu distributor kerupuk setinggi ini.. gak Cuma satu atau dua ya, tapi buanyaaaaaaaaaaaaaaak,, mulai dari yang pakai sepeda onthel sampai yang rodok modern pakai motor, semuanya bawa kerupuk seplastik besar setinggi-tinggi ini, dan kayaknya habis setiap hari. Sampai pas beli makan di warung, ga ada cerita kerupuk alot,seringnya kaleng kosong karena kehabisan kerupuk,,



6. JPO dengan lift


Ini lho, saya sampai sekarang belum pernah merasakan.. tapi sering lewat.. dan banyak banget JPO yang difasilitasi dengan Lift, dan ini keren! Sumpah ya.. saya sampai mikir gimana caranya ide itu tercetus sampai terwujud nyata. Karena pertama, harga lift gak murah, dan kedua, gimana caranya lift ini jadi fasilitas umum, trus terbengkalai, terus di coret coret oknum, terus jorok, terus.. terus.. ternyata engga sih.. masih pada berfungsi dengan baik semua.. walaupun beberapa masih bertuliskan “percobaan”.

Tuesday, April 23, 2019

Dinner di: Jiraiya Ramen @Nginden Intan - Surabaya


Sudah sejak lama saya suka ramen, bahkan saya sampai belajar bikin udon sendiri dan sukses besar, kuah kaldunya pun tangan saya sudah mahir betul meraciknya, tanpa perlu lihat contekan resep yang saya buat,,  itu adalah bukti nyata cinta saya pada mie secara umum, dan khususnya cinta pada Ramen.

Weekend yang lalu saya pergi jalan-jalan mengajak Sa ke taman yang ada ayunannya ( kalau kata Sa) Taman ini berlokasi nggak begitu jauh dari rumah tempat kami tinggal, yah kalo sore hari cuaca mendung gloomy gloomy tanpa matahari mentereng, saya berani deh jalan kaki, kalau panas terik, jangan kan jalan kaki, naik ojek aja aku emoh.. panas cyiiint..Setelah main-main sampai kulineran sekitaran situ, saya lihat ada lapak ramen di parkiran Alfa Midi-nya Nginden Intan, wah wah.. saya tertarik beneran mau coba, lihat yang makan menyeruput kuah dan bercucuran keringat, membuat saya, duh rek ngiler bangetlah pokoknya mah..

Lalu timbulah niat untuk makan disini, dan nunggu Sa bobo, karena kebetulan Ramen buka sampai jam 23.00 ( jika lihat di Google), setelah Sa tidur dan saya jalan ke sana, ternyata sudah habis ( padahal belum jam 11malam lhoo),, huhu sedih banget lah.. namanya kepingin,, lalu lihat ada mamang somay, beli lah, untungnya masih ada, eh ndilalah, somay yang saya beli jatuh ke jalanan dan plastic pembungkusnya pecah,, saya pulang dengan hati sedih dan mangkel, kok yo ngunu banget yak lagi laper tapi gak direstui makan,, haha

buku menu

Jadilah, saya niat dan merencanakan icip-icip kemari selepas kerja,, jemput Sa di sekolah. Lha kok lupa ada janji sama anak wedhok ini untuk pergi groceries shopping apple dan susunya dia, jadilah ke superindo Nginden Semolo baru setelahnya, sekitaran jam 7 malam, saya ke Jiraiya Ramen.
Ramen ini mengklaim sebagai Ramen Asli Indonesia sekalipun, ramen kan aslinya dari Jepang ya,, yang saya wonder adalah, waktu tunggunya, untuk ukuran orang yang puluhan tahun tinggal di Jakarta yang –apa apa serba cepet- menunggu 15 menitan ( kayaknya lebih deh) untuk dapat merasakan semangkuk Ramen, rasanya udah puluhan kali mulut gatal pengin bolak balik nanya, karena aku lihat mie nya masih di dalam rebusan, kok iso lama segitu ya, apa mie nya gak lodoh ( pikir saya)..



Datang minuman duluan, aku lupa deh ini namanya minuman apa ya.. pokoknya kopi sih,, harga nya murah pisan, 6k, ada layer kesukaan saya 70% isinya susu putih, sisanya kopi capucinno.. ini udah diaduk sih sama Sa jadi gak terlalu keliatan lagi deh ini layernya, tapi rasa, lumayan lah, gurih, gak kemanisan, dan gak enek.. dan ini membantu banget pas lagi kepedesan trus nyruput ini, rasa pedas dileher hilang seketika.


maunya suap sendiri.. 

Lalu pesanan kami datang, saya kongsi dengan Sa, dia bertugas menghabiskan ayam, dan bakso, bagian saya menghabiskan telur, sementara Mie, Sa makan duluan, sisanya baru saya habiskan, mungkin saya belum pernah cerita, tapi Sa juga suka mie kayak saya.. porsi semangkuk cukup besar, ini saya pesan yang tidak pedas, tapi bisa ditambahkan cabai kering yang disediakan di setiap meja.
Pertama kali makan ini, rasanya, maaaaaaaaaaaaaaaak… mienya lembut beneran, kok bisa ya, padahal direbus kayak 10 menit lebih, gak kelembekan atau kematangan sama sekali, rasanya pas banget.. 


Sa bayar dan menunggu kembalian

Dan dipastikan traveloro bakalan segera mampir lagi kesini dalam waktu dekat, harga permangkuk 16k, bisa di gojek pula. Kapan lagi bisa nge-Ramen yang enakk dan harganya cocok dikantong.

Xx
traveloro  

Saturday, March 9, 2019

JJP ke : Taman Flora - Surabaya


Anrean Rusa
Semalam, setelah menutup percakapan dengan si Capt tentang apa yang akan saya lakukan esok hari, saya lalu tertidur dan terbangun dengan membaca text dari mba yg memberi tahu bahwa hp nya tidak bisa digunakan.. jadilah hari ini selain ke toko stationary, saya, kami, bakalan mampir ke toko Hp untuk membelikan mba Hp baru. Untungnya kami terbiasa Jalan kaki, Dan jalannya sampai keterusan ngelewati Taman Flora dan akhirnya tanpa keraguan, mampirlah kami kemari.


Ini cukup nyebrang aja kok dari toko Hp di Manyar. Eits.. buat yang belum tahu, kalau mau nyebrang disini harus modal NEKAD karena kalau nunggu, mereka gak akan pernah berhenti dan kasih kita kesempatan untuk nyebrang jadi kalo gak nekad ya sampai ganti bulan juga gak bakalan sampai di sebrang jalan.. ehehe


Berlokasi di Jalan Manyar, taman ini sungguh menarik perhatian karena lokasinya itu loh yang dekat banget sama terminal Bratang. Mungkin cuma 150-step dari terminal, kalian bisa sampai di Taman ini dengan menyelinap diantara pepohonan rindangnya. Karena, kami mengalami kendala menemukan pintu masuknya. Jadi terpaksa nyelip nyelip.. ( untung udah slim :P ) oke, satu kata pertama yang muncul di otak saya adalah ADEM. Jadi sekalipun namanya taman, akan lebih pantas kalau kita menyebutnya hutan kota, karena emang seadem dan serindang itu pohon-pohonnya.


Satu yang saya sesali disini adalah, toiletnya. Bayangkan aja, lagi butuh banget buang air lalu pas ke toilet duduk ( Karena toilet jongkoknya occupied) ada oknum yang meninggalkan jejak di dalam toilet, saya langsung enggan.. untung Sa juga bisa tahan pipis! Anak pinter <3 . saya sampai mikir kok ada ya manusia kayak gitu, memang toilet nya tidak bisa di flush ya tapi ada bak penampungan air, kenapa gak disiram sih, bikin ilfeel taukkk!!


Oke selanjutnya disini juga ada semacam ruangan untuk akses internet,, keren… awalnya dari jauh saya pikir.. rumah ini isinya buku-buku bacaan ternyata, pas masuk, ada beberapa computer yang sudah occupied sama anak-anak yang main games. Kita harus isi buku tamu 2x, pertama yang manual, lalu kemudian yang online juga.. habis itu youtuban deh, Sa ta setelin video dan saya lihat hal lain di internet.. nyamannya ruangan ini tersedia dengan AC yang mumpuni, jadi adeem rek..rekk…

feed the deer

Karena merasa udah capek dan rasanya kok panas.. kami putuskan untuk ke WTC lagi-lagi mau cari HP untuk mba pakai.. udah pesan gojek dan meninggalkan taman, lalu Sa byebye ke taman, kami baru tahu klo taman ini ada RUSA dan burung-burung.. sedih sih karena mereka harus dikandang dan kayak mau gak mau menghisap debu kendaraan bermotor yang massive,,  

Darah penasaran saya mendidih,, bangkitlah keinginan untuk kesini lagi jika ada waktu dan pas cuaca bagus.. kok datang juga hari itu,,, kali ini udah lebih pinter karena order gojek ( kemarin jalan kaki), dan pak-nya udah tahu turun dimana, jadi pas banget.. pas banget kita kesana untuk kedua kalinya,, lagi ada acara kontes ayam se Indonesia.. keren nya rek Suroboyoku rek,,,,,


Oh ya, di pintu masuk yang sebenarnya ( Soale kemarin lewat reruputan samping) ada bapak-bapak penjual kacang panjang untuk pakan rusa yang dibanderol dengan harga 1k/ikat, ada juga makanan ikan yang dibanderol 500-perak. Lumayan murah menurut saya, dan jumlahnya pas.. awalnya saya beli seikat.. lalu beli lagi karena Sa terlihat antusias sekali melihat rusa ( ini pertama kalinya Sa lihat rusa.. semoga dia gak kehilangan konsep menyayangi binatang setelah melihat aktivitas ini..

ada burung juga

Kelar dari situ sih… kemudian kita cari makan di semacam foodcourt yang disediakan dan pssst,,, mie ayam    disini enak sekaliii.. sekalipun ndak pakek ayam.. mie ini lumayan berkesan dilidah dan di hati saya..
Update: will definitely go back to see swing and all..
traveloro

Thursday, March 7, 2019

Ngopi di : Rolag Kopi - Karah/ Surabaya





29 tahun saya melewati Nyepi di Jakarta, dan satu kali coba melewati Nyepi di Bali, dan tahun ini, Tuhan kasih kami berkah untuk merasakan Nyepi di Surabaya. Hal yang baru selalu menarik, betul atau nggak? Betul ya kayaknya, dan menarik ini lebih ke WOW
nobar PERSEBAYA - PERSIB (ruameee reeeeeek)
Tahunan tanggal merah itu kayaknya saya banyak di rumahnya daripada diluar, perkara macet dijalan dan ramai di mall membuat saya malas kemana-mana saat Liburan Nyepi. Lebih baik dirumah, stok cemilan dan take away kopi dan streaming film di Siti.
 
WANI!
Siangnya, masuklah chat dari sepupu saya, dan timbul ide nih, untuk ngopi bareng, dan begitu saya tanya, ngopi dimana ya yang enak?? dengan pasti dia menjawab “ Rolag Coffee mbak..!” baiklaah.. rolag coffee it is.. saya googling pun feel saya cocok nih tempatnya, lalu kami bersiap-siap untuk pergi kesana. Eniwey,, pas dijalan, lanchaar jaya, no macet selain lampu merah dan belokan/penyempitan Jalan.
meja kasir
Sampai disana saya kaget bukan main,,, ruameeeee reeek! Ternyata café ini menyelenggarakan acara nonton bareng PERSEBAYA vs PERSIB nih. Saya sampai lama banget scanning tempat duduk, dan beneran gak ada yg kosong, FULL HOUSE. Mau order duluan juga di kasir ngantri banget,, hhahaha… baru kali ini saya sadar kalo tingkat ‘nyaman’ di coffee shop itu beda-beda. Soalnya mungkin saya bakalan pulang deh kalau rame begini, tapi urung pulang, karena tempatnya asyik dan Sa sendiri kadung lari sana-sini sambil ketawa tiwi..
rodok lenggang after the match ended
Mungkin 15 menit berlalu dan para penunjung bubar, karena acara bolanya sudah habis, nah inilah kesempatan kami untuk cari duduk yang nyaman, kami sempat pindah beberapa kali untuk memastikan dapat duduk yang asyik. Disini sebetulnya hampir semua bangku terbuat dari kayu, seingat saya tidak ada kursi/ bangku empuk, sofa pun gak ada. Tapi ramenya jempolan. 
Dengan konsep industrialist, outdoor coffee shop ini betulan membuat saya amazed, lokasinya yang persis sebelah kali Rolak membuat pemandangan amat indah menjelang gelap, dan yah kami bahkan sempat lihat beberapa pemancing dan ada juga yang menjual hasil pacingan di pinggir Kali, ikannya besar-besar. Dan Rolag sendiri ada beberapa cabang diantaranya di Kayoon 6, Khairil Anwar, dan A. Yani – Sidoarjo. Dan yang kami datangi adalah yang di Karah.
 Seperti biasa kami pesan kopi dan kentang goreng, tuh lihat Sa udah bisa pesan dan bilang sendiri ke mas-nya.. saya pun santai sambil knitting dan Sa sambil nonton video Pink Panther. Trusnya, lama menunggu sampai mungkin 1 jam sampai pesanan kami datang. Kalau gak dikejar-kejar, mungkin pesanan kami bakalan tiba lebih dari 1 jam, dan ya tetap sabar karena terlanjur penasaran sama rasa kopinya.. 
Pesanan yang pertama datang adalah kopi, saya merasa langsung ceria, sebuah plunger pot berbahan dasar stainless dan gelas kosong beserta 2 buah gula kemasan. Saya pesan robusta ( karena paginya sudah ngopi Arabica – Kalosi Toraja di rumah) dan untuk itu, saya hanya membayar Rp. 10.909 (sebelum PPN) kopinya enak, pahit legam, rasanya sedikit over burnt dengan scoring 7/10 saya rasa saya bakalan mampir lagi sih ke sini. Kalau tahu dan kentang, mba yang habiskan, dan sisanya bawa pulang. Sepupu saya? Pergi untuk mengantar ‘teman perempuannya’ ke Sidoarjo, hehehe…
Untuk tempatnya full outdoor artinya kita harus rela berbagi asap rokok dengan para smokers, tenang aja mereka menyediakan kipas angin hampir di setiap tiang café kok, sementara untuk suasana nyaman dan santai yang ditawarkan membuat tempat ini terbilang ramah anak-anak, dan juga selain Sa, ada juga keluarga yang bawa nak bayinya kesini,, rata-rata yang datang kesini sepengamatan saya adalah 40% keluarga dan 60% sisanya anak muda usia 20 – 35th, dank arena pilihan menunya cukup variatif dan affordable dan jam buka yang cukup panjang, ROLAG KOPI ini bisa jadi alternatif untuk menghabiskan akhir pekan atau sekedar menonton live music di hari tertentu.
Anyway, kami sangat menyarankan pengaturan yang lebih baik pada pesanan dan pengantarannya, jangan sampai orderan terkacau satu dengan lainnya,, karena gak lucu banget kan kalau harus ngejar dan manggilin mas mas waiters terus-terusan untuk menyanyakan pesanan kita. Yang lain juga saya lihat santai-santai aja tunggu pesanannya datang, bahkan ada beberapa pengunjung yang saya lihat membawa makanan dari luar ( mungkin  tahu kalau pesan disini lama datangnya?) dan datang kesini hanya untuk kopinya.

Xx
Traveloro