Showing posts with label #TRAVELORO. Show all posts
Showing posts with label #TRAVELORO. Show all posts

Sunday, February 20, 2022

Staycation @ Grand Tropic Hotel Jakarta

monkey swimming

Sudah seminggu kami di Jakarta, betulan gak berasa loh udah seminggu di Jakarta.. seperti nya baru kemarin naik kereta dari stasiun Pasar Turi, dan mengantre untuk tes antigen,, dan karena angka positif covid yang lumayan tinggi di Jakarta, kamipun hampir gak kemana-mana, hanya full dirumah dan Sa yang puas main dengan saudara seumurannya, dan juga kegiatan sekolah online yang dia jalani hampir setiap paginya.

my list

jauh sebelum ke Jakarta, saya sudah menulis makanan apa saja yang ingin saya makan selama di Jakarta, seminggu disana, saya bahkan hanya berhasil mencentang beberapa makanan, dan tersisa beberapa makanan lain yang tidak sempat saya cicipi. Padahal list nya pun nggak banyak-banyak amat.. jadi rangkuman 7 hari di Jakarta hanya waktu berkualitas sama anak & saudara-saudara (again, angka covid yang tinggi bikin kita gak bisa kumpul setiap hari, full team kumpul hanya di hari minggu, sewaktu adiknaburju Mitoni & gender reveal dirumah mama) karenanya, ku putuskan untuk  staycation sehari sebelum kami kembali ke Surabaya. 

the view from the pool

Alasannya? karena ingin sedikit memanjakan anak satu-satunya yang lagi senang berenang, ke jakarta, hal pertama yang dilakukan nya adalah memastikan baju renangnya ada di koper, untuk dibawa kejakarta, karena ingin sekali berenang dengan sepupu-sepupunya, atau memperlihatkan ke budhe-budhe nya bahwa dia sudah berenang dengan sangat baik (personally untuk Sa, masuk ke kolam renang tanpa menangis dan kepalanya terkena air tanpa penolakan adalah memang sebuah prestasi. pernah nggak anakmu mimisan setiap habis mandi pagi?? itulah yang belum lama yang lalu terjadi pada Sa, karena ternyata ketidak-suka-annya terhadap air adalah karena pembuluh darah nya yang sensitif sehingga apabila terkena air dikepala, sering langsung mimisan karena pembuluh darah di hidung begitu tipis sehingga kena air sedikit dingin dipagi hari akan membuatnya pecah begitu saja). 

tired after swimming

Beberapa hotel ada dikepala saya, tapi akhirnya saya pilih untuk bermalam di grand tropic karena; kolam renangnya bisa dipakai dan ukurannya cukup besar, ratenya hemat dikantong, spacious room (asli besar banget untuk ukuran hotel hemat dikantong), cukup dekat dari stasiun, mengingat besok pagi sehabis subuh kita harus berangkat ke stasiun untuk kembali ke Surabaya, dan yang terakhir, bisa pandangi cityview dari dalam kamar, dengan membayar 300ribuan saja, kami bisa menginap di hotel bagus ini. menurut hasil googling dan hasil scroll applikasi, hotel ini termasuk kedalam hotel bintang 4, lumayan banget sih rate untuk hotel bintang 4. kami sendiri HANYA PESAN ROOM ONLY, karena, berpikir pasti akan sarapan di stasiun.

Sehabis check in, dan diberikan kunci kamar, kami langsung naik, lift dengan smooth membawa kami ke lantai 12, kamar kami tidak begitu jauh dari lift, dan kami langsung meletakan koper dan barang lain, dan kembali turun kebawah untuk berenang, di lift saat turun, kami berpapasan dengan keluarga yang baru saja selesai berenang, saat itu saya sedikit worry kolam akan ramai.. ternyata begitu sampai di kolam hanya ada 1 anak kecil yang berenang di kolam kedalaman 1,15m. sepi begini disaat lagi pandemi membuat hati tenang bukan main.. karena kalau kolam ramaipun, kami tidak akan berenang. takut tertular virus.

the bathtub

Disini ada beberapa kolam, dengan berbagai kedalaman. Sa memilih berenang di kolam kedalaman 1,15 hanya karena kolam yang lebih rendah (80cm kalau tidak salah) ada isi pasir-parisnya yang menurut dia bakal membuat renang tidak nyaman. saya pun duduk sambil menikmati kolam dan suara air terjun buatan, sungguh sebuah definisi santai sore yang sebenarnya. Puas berenang, kami lalu kembali ke kamar. Sa sendiri melanjutnya 'main air' dengan berendam air hangat di bathtub hotel. senangnya... fasilitas kamar memang luar biasa. 

dinning table
spacious living room

the kitchen
also the kitchen


kamar terbagi menjadi 2 ruangan, ruang tamu & ruang tidur. ruang tidur, terdapat 3 ruangan terpisah; ruang tidur, wardrobe dan kamar mandi. sementara, ruang tamu dilengkapi dengan dapur, meja makan, dan kulkas 1 pintu. interiornya mirip apartemen dengan 1 kamar, luas ruangan juga dimanfaatkan dengan sangat baik, interiornya betulan seperti apartemen 1BR. satu hal yang membuat saya kurang nyaman adalah, suara berisik di area ruang tamu setiap kali air hangat di kamar mandi saya nyalakan. saya jadi berfikir apakah instalasinya ada di setiap kamar atau gimana.. kurang paham tapi cukup mengganggu. 

Hotel juga menjual popcorn di lobby, Sa sudah bolak balik minta dibelikan popcorn, jadilah beli popcorn dan juga berbelanja sedikit makanan dan air minum di Daily foodhall yang ada di lantai bawah dekat lobby utama yang menyatukan tower hotel dan tower apartemen nya. saya juga order online Burgreens, karena di Surabaya nggak ada Burgreens, ada sih.. tapi cuma beberapa menu saja, dan itupun collab dengan coffee shop kecintaan saya SBUX. senangnya bisa merasakan makanan burgreens yang enak DAN MAHAL ITU.

TV di ruang tamu, work properly. Tidak ada kesulitan mengoperasikannya, dan thankfully, program tv kabel juga bisa di tonton dan gambarnya bagus. malam hari kami habiskan mengobrol sambil menonton sementara dia juga sibuk nyemil pop corn nya. Malam berlalu semakin larut, Sa saya ajak ke kamar untuk tidur, karena besok subuh (jam 6 pagi) sudah harus check out dan tes antigen di Stasiun. dia pun setuju dan tidak lama setelah saya bacakan cerita, dia tertidur pulas. Sementara saya sendiri cukup takut ketiduran dan ketinggalan kereta (cukup sudah masa muda ku habiskan dengan ketinggalan pesawat berulang kali) memang semesta ini selalu punya cara untuk membuat kita tetap rendah hati, bila dulu santai walaupun uang hilang sia sia, tiket hangus karena ketinggalan pesawat, hari ini saya bisa takut tiket kereta hangus padahal nominalnya hanya 10% dari tiket pesawat. tapi i manage to fall asleep juga beberapa jam.. 

pintu ke kamar tidur. 

re-pack koper dan tas jinjing, supaya besok pagi bisa check out dengan nyaman... menikmati sekali lagi pemandangan jalanan jakarta dimalam hari.. begitu indah nya lampu lampu kendaraan yang lalu lalang,, dan tetidur sekitar jam 2 pagi.. sudah lama rasanya tidak tidur se-pulas-ini,, senang.. sampai sampai..  

jakarta'S Traffic @5AM

terbangun jam 3 pagi dan menghabiskan makanan yang tersisa, merebus air di electric jar dan menuangnya kedalam termos yang memang saya bawa untuk berpergian. entah... sekalipun selalu pakai masker, polusi Jakarta tetap membuat kami flu dan bersin bersin nyaris radang. jam 5 pagi saya membangunkan Sa, kami pun bersiap dan turun ke lobby jam 6 pagi, tidak berapa lama, taksi online yang kami pesan pun datang.. dan kami kembali ke Surabaya.

See you on another stories of US.  





Saturday, February 5, 2022

ngopi di : D'John cafe & resto -- Gresik


Singkat cerita, pekerjaan broker yang secara tidak sengaja saya geluti post laidoff dari pekerjaan sebelumnya, membuat saya lebih sering dijalan daripada dirumah, dan beberapa Minggu terakhir, fokus pekerjaan saya, berada di seputaran Kedamean- Gresik. Dan karena seringnya bolak balik kesana, saya jadi penasaran mengexplore warung kopi / café local yang ada disekitar, dan saya cukup penasaran dengan satu cafe yang adanya di garasi --- teras & halaman rumah, dengan nama D'john. 

Seperti biasa, sebelum saya kesana.. saya bertanya ke orang lokal tentang tempat ini. Dan juga cek review nya di google maps, tapi biasanya saya lebih sering pakai feeling sih.. hehe.. hidung saya mencium aroma nyaman di café ini, dan plus nya pemandangan yang terkesan ‘ngopi di teras rumah nenek’ menjadi kenyataan. Setelah beberapa kali bolak balik ‘hanya lewat’ café ini, siang itu, dengan niat bulat, sehabis mampir ke lokasi properti yang akan di listing, kami kemudian secara sadar dan sengaja mampir ngopi disini.


First impression ku begitu masuk ke dalam café nya adalah nyaman, udara Gresik yang panas ( entah karena bersebelahan dengan lautan, atau juga karena Gresik memang dikelilingi pabrik-pabrik) tidak mengurangi rasa itu! Walaupun di meja sekitar kasir, hanya ada kipas, dan udara panas yang sumuk (gerah – bikin keringat berdatangan) tapi ya nyaman! Kafe ini kebetulan adalah juga rumah tinggal si empunya café. Karena namanya DJohn, saya menyimpulkan kalau owner café ini adalah pak John (atau anggap aja begitu ya.. hehehe)

monkey langsung ketemu tempat nyaman (dan juga teman baru).

Terdapat 2 vibes dalam satu café dan menurut saya itu smart sekali. Vibes pertama area semi formal, dengan meja – kursi  ‘template’ café. Vibes kedua area non formal, dimana ada rerumputan, semak semak hijau, bebatuan yang sedikit berlumut, ayunan super nyaman bergantung di dekat pohon manga, dan juga ada kolam ikan yang menghidupkan area santai ini.  Lagi-lagi saya merasa betulan berada di teras rumah nenek, karena lokasinya persis di jalan besar, kiri-kanan rumah tapi rasa-rasa angin desa ada banget disini.. dan memang karena lokasinya sendiri merupakan halaman rumah pak John, dan sebagian juga adalah garasi nya. Karyawan disini, tidak banyak, tidak seperti coffee shop yang lain. DJohn ini dikelola oleh keluarga pak John, sewaktu saya order, pas pertama datang, anak perempuannya yang menerima order, dan juga yang mengantarkan makanan/ lite bite pesanan kami. Untuk kopi sebagian diantar langsung oleh pak John. Dan saat membayar sebelum pulang, yang ada di meja kasir adalah ibunya (istri pak John). Saya jujur senang sekali ketemu kafe yang dikelola keluarga, seperti cerminan ‘support system’ yang baik, yang memang seharusnya terjadi disetiap keluarga, yaitu support each other. Dari situ juga, saya tahu bahwa pak john adalah pencinta kopi sejati,dan beliau sangat beruntung karena selain support dari keluarga, beliau-pun sudah menjalani profesi idaman setiap orang, yaitu menjadikan hobinya sebagai pekerjaan (yang menghasilkan uang & cuan).

Buku menunya, bukanlah buku menu yang disainnya ajaib, hanya buku menu sederhana, dan informative, kadang kala, sering juga orang suka ngopi tapi tidak tahu apa yang mereka minum, nah.. di menu nya Djohn, hal itu nggak akan terjadi. Karena setiap minuman, dijelaskan campurannya. Jadi untuk yang pertama kali coba cappucinno akan tahu, apa saja yang ingredients nya.. bagaimana rasanya. 




Dan kaget seketika melihat harganya yang sangat murah. Untuk sebagian orang, mungkin langsung pesan (hanya karena harganya murah). Untuk saya, karena memang dari awal (berminggu-minggu sebelum akhirnya mampir) yang membuat saya kesini adalah rasa penasaran saya, terhadap rasa kopinya, dan setelah datang semakin kuat bahwa feeling saya benar, saya yakin, kopi yang dijual ini bukanlah kopi kemasan melainkan kopi artisan. Saya lihat pak John sendiri yang membuat semua orderan kopinya.


Diuntungkan oleh harga kopi yang murah itu, saya memutuskan membeli beberapa kopi, tidak ada salahnya mencoba kopi yang iced, dan hot. Untuk yang hot, saya pilih manual brew dengan French press. Dan gila-nya French press disini jarnya besar, jadi cukup untuk 2 porsi (2 orang) 2 gelas kopi hitam pahit. Lucunya, saat saya  memesan wine kopi, pak John memanggil saya dan menanyakan, seperti nggak yakin kalau lidah saya kuat menghadapi ‘wine coffee’ racikannya. Karena pertimbangan itu, akhirnya saya cancel pesanan kopi dan menggantinya dengan jenis kopi lain ( Argopuro dan bukan yang wine coffee).

drench in cafeine

Later on, Pak John datang menghampiri meja, tempat saya duduk. Dan membawa 2 gelas FREE wine coffee (yang tadi mau saya pesan namun saya batalkan atas anjuran pak Jhon). Tidak tanggung-tanggung 2 gelas. saya sendiri, saat itu sedang menyesap kopi hitam saya, yang baru saja saya tuang dari French press-nya.  Sebuah ironi macam apa ini, siang hingga sore itu, mulut saya sudah mencicipi 4 gelas kopi hitam (panas), dan 2 gelas kopi dingin. Setelah mencoba semua manual black coffee ( juga wine coffee nya) pilihan saya jatuh kepada kopi (yang di french press) karena si wine kopi ini kebetulan sangat manis untuk lidah ‘kopi hitam apa adanya’ versi saya. Lewat pak Djohn saya jadi paham kalau kopi manual brew (wine) biasanya diminum bersama dengan hisapan cerutu, maka dari itu dibuat manis, untuk menutupi ‘beratnya’ cerutu tersebut. No worries saya tetap menghabiskan semua kopi dengan tak bersisa.

Pengalaman ngopi di DJohn sepertinya akan membawa saya, membawa kami kesini lagi. Saya sangat berharap semakin banyak warung kopi/ café /coffeeshop yang berkonsep jelas dan nyaman dibuat berlama lama entah itu untuk nugas, ketemu klien/ kolega, quality time sama seluruh anggota keluarga, atau bahkan reuni sekolah sekalipun. Oh ya Selain kopi, saya juga berhasil menjejal perut saya dengan cwie mie, sempol ayam pesanan si monkey, tahu dan juga air mineral untuk sedikit menetralisir kafein ditubuh saya. Sebanyak itu menu yang saya pesan, saya hanya membayar selembar uang merah dan masih kembali. Sungguh sangat murah. 

Dan satu lagi keunikan dari DJohn adalah kenyataan bahwa menu termahal adalah wine kopi, bukan makanannya, padahal disini banyak sekali menu makanannya, tapi ajaibnya harganya dibawah rata-rata harga makanan di café atau di warung makan sekalipun. Betulan sangat murah sekali, dengan ragam menu yang menggugah selera dan hemat di kantong. 






enjoy your weekend. 


xoxo

Monk&Mnkey

Saturday, December 18, 2021

BDAY TRIP KE : BALI ISLAND!!!!

 

always put a smile even we wore a mask

Saya, kami, sangat excited untuk ada didalam pesawat yang membawa kami berlibur ke pulau BALI. Setelah selama covid kami tidak kemana mana, sebuah trip pasti akan membuat kami melupakan kesedihan, kesesakan dan perasaan tersegarkan oleh angin dan pemandangan pulau Bali yang begitu memanjakan.

Bila taun lalu  tujuan kami adalah UBUD, kali ini tujuan kami hanya seputar SEMINYAK – KUTA – LEGIAN saja. mengapa demikian? Banyak teman yang menyarankan untuk mencoba pantai disaat covid (mungkin karena super sepi jadi akan nyaman dan tidak begitu crowd seperti biasanya), juga saya sudah terlanjur pesan NEW VESPA sebagai kendaraan kami keliling selama liburan. Not sure bila stay di UBUD apakah ada local bike rental yang harganya sesuai kantong saya. Iya bokek.


our flight with Citilink

Entah mengapa semesta memberi ijin dan kemudahan kami. Bagaimana tidak? Di bulan oktober 2021 saat iseng mengecek apps BETTER FLY Citilink bisa bisanya harga tiket PP ke Bali untuk 2 orang hanya 1,100k, LIKE IS IT REALL… sebab sebelumnya, perjalanan PP ke Bali termurah 2.000k berdua. Juga kenyataan bahwa setelah berhasil membeli tiket, kami juga mendapatkan harga murah untuk hotel tempat kami stay selama di Seminyak. Perfect combo yang mmbuat saya jadi berpikir bahwa ini adalah tanda dari semesta, restu dari NYA.

Bally.. here we come!!!

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya kami berdua trip… tapi saya agak gugup karena harus membawa BALITA yang belum vaksin ini berpergian,, Saya sendiri baru mendapatkan vaksin shoot dosis kedua beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Denpasar. Syukurlah efek dosis kedua ini lebih soft daripada dosis yang petama. Anyway, dengan beberapa hari sebelumnya brief Sa, dan sebelumnya selama berbulan bulan afirmasi ( Oktober – November – desember) dia pun berjanji untuk selalu memakai masker bila kami keluar (sekalipun hanya turun untuk berenang di bawah, tetap harus bermasker)

Siang itu, cuaca mendung tanpa hujan menyapa kami. Saya berhasil arrange penjemputan oleh tim sewa vespa yang sudah menunggu kami di terminal kedatangan sambil membawa kertas bertuliskan nama saya. Senang? Ya tentu saja, artinya kami bisa langsung handsfree karena koper dan barang lain langsung berpindah tangan dan dibawakan Bli nya. Tujuan petama, tentu saja hotel.. saya cukup lelah, agak gugup juga dipesawat karena sudah berbulan bulan lalu off naik pesawat. Terakhir kami naik pesawat adalah pada saat saya menjemput Sa di bandara Soetha dan bersama kembali ke Juanda.

ikkhousha ramen. shoyu ramen

Selesai meletakan koper dan mencuci muka dan berganti baju, kamipun berangkat untuk makan ramen di sekitar hotel. Senang sekali ramen yang sudah bertahun tahun tidak saya makan, hari ini, dihari ulangtahun saya.. saya bisa merasakan kembali lembutnya ramen dipadu dengan gurihnya Shoyu broth, saya rasanya mau terbang saat akhirnya lidah kembali merasakan kenikmatan ini.


Selesai makan kami langsung menuju toko oleh oleh krisna yang di Sunset Road, sedikit mengisi tas belanja kami #BringYourOwnShoppingBag untuk hadiah natal para saudara, ipar dan keponakan di Jakarta, mampir ke minimarket untuk membeli air minum, kemudian kembali ke hotel dalam sekejap. Tidak lama, saya kembali mengorder nasi tempong sebagai penutup hari lahir saya, senang, nasi tempongnya sangat nikmat dan juga harganya cukup murah.


Pagi hari, kami memulai dengan berenang, karena hotel tidak menyediakan breakfast (room only), kamipun memulai hari dengan skuteran ke Pantai Kuta, well… rodok sedikit kecewa karena di pantai ramai manusia, yah sebenarnya sepi pengunjung, tapi ramai pedagang, mulai dari kelapa muda seharga 40k, meni pedi & nail art, per-kalung-an, per-kaos-an, sampai per-kepang-an. Too bad, menawarkan jasa sampai memaksa, yang membuat kami akhirnya setuju untuk di kepang dengan harga sesuai yang ditawar. Dalam hati sambil berharap.. lain kali boleh kan ya kami duduk santai dipantai, menikmati suara ombak tanpa ‘paksaan’ menggunakan jasa jasa yang ada.. untuk minuman, kami pasti akan membeli dipantai juga untuk support local business. Selesai dikepang, kami langsung meninggalkan pantai, pergi ke parkiran dan pindah ke pasar seni Legian, too bad, saya gak sempat beli apapun disana karena, lagi lagi saya keburu takut di tembak harga, (berdasarkan pengalaman saya sebelum sebelumnya… kami sering dikira tourist jadi dikasih harga tourist). Perjalanan pulang dan Sa insist pergi ke warung gelato terkenal yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap.

menikmati traffic Bali dengan scooter sewaan

Gelato ini lain cerita, disini kami mendapatkan perlakuan TIDAK RAMAH oleh para waiters dan petugas disana. Untuk rasa gelato OK, tapi pelayanan sorry to say, saya secara personal lebih memilih untuk TIDAK LAGI PERGI KESINI. Karena pembeli butuh rasa nyaman yang sayangnya tidak tersedia di toko ini. FYI, kesini saya MEMBELI, MEMBAYAR SEJUMLAH UANG, bukan menukarkan tiket / kupon hadiah giveaway untuk se-cup gelato. Miris memang, toko ini langsung saya blacklist, hehehe.. gak apa saya gak sebut merk kan.. aman kamu.. kemudian kamipun pulang, dengan membawa serta si gelato yang masih tersisa, iya bawaannya pengin pergi aja kalau tempatnya tidak nyaman, Karena kami kesini untuk berlibur dan have fun, segala yang buat not fun akan langsung kami tinggalkan.

sudah pengin kesini sejak Pepita buka beberapa tahun lalu.

Tiba di hotel kami lalu order gofood untuk makan, this time pilih nasi goreng local, rasanya nikmat. Setelahnya kami skuteran agak jauh untuk bertemu seseorang mentor vegan keren yang rumahnya, berhasil membuat kami nyasar. Kebayang kan, di kota orang, motoran modal googlemaps, dan tapi Jalan di denpasar dan sekitarnya itu kebanyakan Jalan satu arah yang membuat saya bingung sendiri, karena bolak balik nyasar.. waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit or so, menjadi satu jam lebih.. tapi ini ku syukuri karena bisa ngobrol lepas bersama mba Mitha di rumah beliau. Sebelum perjalanan makin memusingkan, kami juga sudah mampir ke Pepita n Sons untuk ngopi dingin dan merasakan nikmatnya vegan donut buatan mba Sophie Navita. Saat saya mengetik ini, terbayang lembutnya choco vegan donut yang saat itu saya rasakan, FIXX saya akan kesana lagi pada trip to Bali yang selanjutnya.. sampai hotel dan mandi.. kemudian kami pergi ke jimbaran untuk menikmati seafood dan sunset sepanjang Jalan. Merasakan nyamannya mengendarai vespa impian yang entah kapan akan dimiliki… malam belum berakhir, kami pergi ke Made’s di Seminyak untuk menikmati LIVE MUSIC.\

Made's Seminyak on Friday

Bersyukur lagi, jauh sebelum mengunjungi Warung ini, saya sudah menelepon nya terlebih dahulu untuk menanyakan perihal live music ini, awalnya saya berharap ada Bali dance atau local show lainnya. Dari informasi yang saya dapatkan lewat telpon, selama covid ini tidak ada traditional Bali dance, hanya ada LIVE MUSIC di hari Jumat dan Salsa night di Malam Sabtu. Jadi hari Jumat berakhir dengan ber-live music-ria dengan lagu lagu yang saya hapal semua lyricnya menikmati indahnya suara kakak penyanyi sambil nyemil marinara pizza dan menyesap kopi cappuccino saya..


Sabtu pagi berawal dengan berenang…. Sa kebetulan lagi GIAT SANGAT berenang jadi ya hampir setiap hari dan dalam sehari bisa beberapa kali berenang bersama. Pagi ini sarapan nasi tempong lagi di warung banyuwangi dekat hotel. Entah sudah berapa porsi nasi tempong dan menu khas banyuwangi lainnya yang sudah kami nikmati selama di Bali. Lost count karena memang SE ENAK ITU dan mudah dipilih daripada terjebak memakan daging B yang tidak kami konsumsi. Selesai sarapan kami lalu berangkat sedikit ke tengah, ke Cangu untuk mengunjungi warung kakak kandung saya (ngarepdotcom) Teh Manis Bali. Perjalanan ke Cangu dengan motor tidaklah begitu menyenangkan diterik nya matahari Bali dan ramainya jalanan oleh para tourist local dan tourist asing. Saya harus berkali kali mengerem dan membuat jari saya kapalan, iya se---sering---itu ngeremnya. Dan rem Vespa memang keras, jadi perlu tenaga dan kesabaran dan kekuatan yang penuh. Sekembalinya dari cangu, kami langsung ngemall, kali ini tujuannya, discovery mall, mall kecintaan saya yang tidak banyak berubah, dan luckily kami bisa memanjakan mata karena selain dibelakang mall persis ada hamparan laut kuta nan indah dengan langit yang aduhaii,, di dalam mall.. sedang ada pameran karya seni (lukisan dan sejenisnya) yang betulan membuat hati terkagum kagum melihat rupanya dan harganya.. (lihat saja, belum sanggup membeli). Seolah belum terlalu kapalan si jari, kami lanjutkan perjalanan ke Krisna, kali ini Krisna terbesar yang ada di Bypass, baru petama kali kesini dan kagum aja gitu.. segitu banyaknya lahan untuk parkir, sampai penuh dan harus di refer ke parkiran lain yang jaraknya beberapa meter dari lokasi, untunglah motor tetap bisa parkir di basement. Beli – beli sedikit lagi kado natal untuk diberikan ke keluarga, setelahnya kami pulang dengan kardus menyempil dibagian depan vespa, perjalanan balik ke hotel menjadi pelan dan sedikit mendebarkan karena cukup tricky membawa kardus besar disela sela kali saya yang panjang.

warung banyuwangi dekat hotel, dine in or takeaway

Malam ditutup dengan MAKAN MALAM NASI TEMPONG LAGI. hehehe bingung mau makan apa, warung banyuwangi selalu jadi jawaban. Dan rasa masakan yang mirip mirip dengan masakan Suroboyoan----masakanku, membuatnya menjadi sangat kusukai..

Nusa Dua Skies

Ya sebetulnya mau extend di NUSA DUA, dan hotelpun sudah di lunasi, tapi tiket pesawat tidak bisa di extend Karena flight nya sedang penuh sampai Natal. Dengan berat hati kami harus pulang sesuai jadwal dan merelakan booking-an hotel di Nusa Dua hangus sia sia.. anyway.. kami merasakan kenyamanan saat Drive-thru tes antigen dan PCR (untuk Sa) hasilnya cepat dan juga terkoneksi dengan apps PeduliLindungi.

why you grow up so fast, my Monkey?

Sesampainya kembali di bandara Djuanda, kami menunggu lumayan lama untuk baggage claim. Ya, kali ini, pergi dan pulang, selalu ada bagasi yang dititip karena pesawat citilink pesanan kami juga include baggage sebanyak 20kg each, itulah mengapa saya suka terbang dengan citilink, sebab pesawat lainnya, pasti butuh extra money untuk baggage. diusia baru ini, saya tersadar begitu banyak berkat yang boleh saya rasakan sekalipun, disetiap Desember, ada saja cobaan untuk kami, terkhusus di kesehatannya Sa. tahun lalu, bulan Desember, dihari dimana saya harus bimbingan tesis untuk finalisasi menuju sidang tesis, Sa harus dilarikan ke IGD karena muntah terus dan ternyata hasil tes darahnya dia terkena gejala typus. Desember tahun-tahun sebelumnya pun.. tidak mudah untuk kami lalui, tapi kami berhasil sampai di tahun ini. 


cheers, XOXO

Traveloro

Friday, July 31, 2020

ke Malang lagi...

PEEK - A - booo


 Sejak COVID-19 merebak di Indonesia, khususnya di Surabaya, banyak rencana kami yang persiapkan gak bisa kelakon sama sekali bahkan batal (***nangis di pojokan) lha terus nya, segala aktivitas kami yang cukup boring (na-ni-nu.. disini disitu....) bener - bener bikin saya meniatkan hati dan menyiapkan waktu buat ber-libur-- sebentar saja ke MALANG!!! Kenapa Malang?? karena sangat dekat dengan Surabaya, kemudian (gak butuh rapid test karna via darat) kebetulan beberapa bulan belakang saya terlibat satu penelitian dengan teman & 2 dosen di sekolah, dan kebetulan lagi judul tesis saya 2x ganti (makin mumet kan,, jadi otak ini ngajakinnya liburan melulu...)

gunung Arjuno-Penanggungan-Welirang

Kita prepare sih gak seberapa banyak.. tapi udah lebih siap daripada trip ke Malang tahun lalu (gak bakal salah bawa jaket, gak bakal lupa bawa toiletries, extra selimut buat Sa.. cemilan buat diperjalanan, dan kaus kaki extra + masker berlebih buat cadangan aja) we stayed at the very same hotel (eh hostel sih) dan dapet discount COVID yang lumayan.. dan karena sudah tahu service nya Helios Hotel/Kampung Tourist Hostel, ku jadi yakin untuk stay a night disini.


Alun-Alun Malang

Yang kusukai dari Malang, adalah, daerah yang tata kota-nya baik, hampir mirip Surabaya soal kebersihannya, dan arus kendaraan yang cukup ramai (hanya ramai, tidak padat), dan makanan yang menggugah selera siapapun, harga juga relatif murah menurutku, yah pas lah dikantong kami.. gak se-mahal di Ubud-Bali (link ke Ubud) yang tax nya aja 21% sendiri (***nangis dipojokan lagi) 


view from the rooftop. 

Sampai di Helios,, kami dapat exact same Gazebo (gazzebo nomor 2) dan percaya ngga sih... sak hostel itu, cuma kami pengunjungnya (iya sesepi itu.. sedih jadinya) biasa yang dormitory room itu pasti penuh keisi sama expat yang mau naik ke Bromo, but pas kami kesana, sama sekali kosong melompong.. tapi salutnya sama penjaga hostel, mereka masih jaga, stand by di meja reception selama waktu jaganya, gak malas-malasan atau menghilang saat dibutuhkan ( kayak siapa tuh yaa.. hehehe) 

Take note aja nih, pas kedua kalinya kami ke Malang, hal-hal yang agak menyebalkan: 

1. jalanan one way jauh.. jauh banget.. sampai muterin-nya sendiri butuh waktu cukup lama. Ini adalah PR yang sama di kota padat : Kota Bandung, Kota Malang, dan beberapa daerah di Bali. ( as i know, daerah lain mungkin juga ada penerapan one way, tapi kami belum pernah kesana jadi tidak seberapa paham)

2. restorannya/warung enak-nya jarang, sampai beberapa kali makan di warung yang sama, karena susah cari makan (atau aku yang ga tau..) coba pakai googlemaps, gak ketemu warung yang dicari, malah nyasar, apakah googlemaps nya yang ngga update atau gimana ya?? dan akhirnya ke resto seafood gitu, ngantri makanannya luamaa juga (memang kondisi saat itu lagi rame, lagi pandemi juga mungkin menjadi sebab banyak warung yang ngga buka, jadi warung yang buka diserbu abis-abisan sama pelancong) sampe kami kelaparan.

KOI POND


3. coffee shop inceran persis diseberang warung, tutupnya cepet amat.. bikin (lagi-lagi gak bisa mampir deh) tapi di Hotel, ada kolam Koi nan megah dan bersih yang bisa dijadikan tempat asyik untuk menyesap kopi hitam pahit yang disediakan hotel saat breakfast. Selain itu, kolam Koi pun bisa dinikmati dari lantai atas, dari balkon kamar hotel, buat kami yang stay di hostel ya harus turun ke lantai dasar, karena pemiliknya dengan baik hati mengijinkan monkey untuk memberi makan ikan koi pas sarapan. seru sekali!!!

4. MCd Sarinah nya kurang OK pelayanannya. cuma pesan take away apple pie 1 biji, 20 menit belum kelar.. bikin saya telat balik ke Surabaya... 


dan good things nya:

1. kami bisa strolling di Taman yang indah. banyak burung semi-liar (burung liar yang dipelihara dan dibuatkan rumah, rumahnya tersebar di sekitar taman) not sure itu burung tekukur atau merpati atau keduanya.tapi sungguhan, itu tamannya jadi indah sekali, mirip di eropa gitu... bawa jagung kering aja udah jadi primadona, buat para burung antre mendekat.. hehehe

2. ada toko kopi (kopi bubuk dan biji kopi) di pasar dekat hotel, suka banget.. jualannya kopi asli, bukan kopi sobek. 

3. Pemandangan sepanjang jalan (baik jalan pulang ataupun perginya...) selalu indah disuguhi pemandangan gunung (Arjuno, Welirang, Penanggungan) bila cuaca serah.. kelihatan juga gunung Semeru. 


xx
monk&monkey