Punya gak satu orang ‘one call away’ yang secara harafiah akan hadir atau ada saat kita butuhkan. Well, my –one call away—kali ini membuat ku bisa mengunjungi air terjun di Pacet – Jawa Timur dan di Malang - Jawa Timur.
-
Air terjun Coban Canggu (Padusan -
Pacet)
Ini adalah air terjun yang pertama
kali traveloro kunjungi di Jawa Timur, dan kesininya juga engga sengaja..
huehehehhe.. kesini karena, disetirin my one call away, seorang teman yang baik
dan ngerti saya banget, walaupun dia sendiri juga sibuk, dan bolak balik terima
telpon disepanjang jalan. 9 oktober 2020 dipagi hari, saya berangkat ke Kampus,
setelah sebelumnya mengantar Sa ke Nanny nya… merapikan beberapa pages tulisan dalam proposal Tesis ku, Perjalanan kali ini memang bukan
yang di rencana-in banget, semuanya serba dadakan dan to be clear berangkat
pagi dari Nginden (Surabaya) ke Air terjun (Pacet) dan kembali ke Kampus lagi Cuma
butuh waktu 5 jam. Itu juga sudah bengong half meditation di air terjun nya
kurleb 45menit, cepet ya…. Hebat sih karena kawan ini terbiasa nyetir Sby – Pacet,
sudah hapal lalu lintas nya, juga medan jalan yang harus dilalui, atau
sebaliknya, dihindari.
Coban Canggu sendiri, menurutku
hampir seperti air terjun yang tidak terjamah, too bad… padahal betul betul
indah disini… air yang dingin, khas pegunungan, trek jalan yang masih manusiawi
dan sedikit menegangkan serta air terjun tinggi nan indah diakhir trek itu
seperti sebuah kesulitan yang diakhiri keindahan. Cerah lagi deh otak kalau
gini ceritanya. To be honest, aku pengin banget kesini lagi tapi perlu cari
tebengan karena trek jalan pakai mobil ataupun motor sangat bikin jantung
sehat, buat yang jantungnya kuat aja lah.. aku mah pasti motoran kesini juga
bakalan melorot sih motornya ditengah tengah tanjakan, ,heheheh no kidding..
![]() |
selain indah, airnya pun MENYEGARKAN |
Setelah parkir mobil, dan membayar
(karena ditodong mas mas parkir –local people) kami langsung jalan sendiri
sendiri (karena kita berdua lagi mumet masalah kuliah dan kerjaan masing
masing) menuju air terjun, ada beberapa signboard untuk memudahkan perjalanan
(supaya gak kesasar dan arah jalannya jelas). Diawal ada batu undakan mirip
tangga (ya emang tangga sih..) karena trek pertama sedikit menurun, dan bebelok
kemudian sedikit menanjak dan diakhiri dengan langkah besar diantara batu besar
yang dialiri air bening nan segar, ingin rasanya lepas sepatu,. Tapi takut
batunya cukup licin, kemungkinan terpeleset pun tinggi.. akhirnya bersepatulah
sampai diakhir trek dan percikan air terjun setinggi itu memberi kesegaran di
sekitarku. Tidak bicara, aku hanya terdiam, duduk, semi meditasi dihadapan air
terjun ini, ah indah sekali.
![]() |
segelintir manusia yang hadir membersamai alam |
Aku yakin, perjalanan dadakan ini
merupakan rencana semesta. Disana pun ada beberapa manusia yang juga sedang
menyatukan hati dengan alam, bedanya, mereka besama pasangan masing masing, ada
yang saling berfoto, makan siang, ada juga yang mandi half naked *tutup mata, tenang, di Indonesia, laki-laki topless di airterjun adalah pemandangan yang biasa saja, dan nggak tabu ya... ) kalau
aku… aku hanya membawa otakku yang penuh dan pelan-pelan melepas penuh ini
bersama hembusan nafas dan mampu menghirup kesegaran yang kemudian melegakan
kepalaku. Bimbingan tesis, im ready!
- Air terjun coban Talun ( Kaki Gn Arjuno - Batu)
Tidak berselang beberapa hari
kemudian, 12 Oktober 2020 tepatnya, sahabat bucuk ku datang berkunjung ke
Surabaya dan menyodorkan itinerary 3 hari full jalan jalan Pasuruan – Malang –
Surabaya, yang mau gak mau saya IYA kan karena dia sedang patah hati, dan bukan
patah hati biasa, karena dia gagal menikah (untuk ke dua kalinya)! mirisnya, untuk
Sa, this is her first time lihat air terjun, dan dia sangat bahagia.. jadi ku
pikir it’s a WIN WIN, pertama karena Sa suka, dan kedua karena air terjun Coban
Talun ini ada di list itinerary beliau. kalau ke Coban Canggu tadi adalah one call away-nya aku, maka sebaliknya, aku adalah one call away-nya si sahabat bucuk ini. sebut saja Gadiz.
![]() |
le toilet, that surprisingly work |
Bertolak dari Surabaya pagi hari,,
dan bahkan sempat mampir di rest area untuk mampir ke Starbucks agar perjalanan
pagi ini bersemangat dan tanpa ngantuk. Perlu digaris bawahi bahwa jalan tol
Surabaya – Malang (jalan tol baru) cenderung sepi dipagi hari terlebih kami
berangkat di hari Senin, dimana biasanya, kendaraan dari arah Malang yang
memadati ruas jalan tol arah ke Surabaya.
Mungkin karena covid-19, setibanya
kami disana (setelah nyasar kira-kira 12 KM---fyuuuuuuuh) tempatnya sepi
sekali. Hanya ada 2 mobil lain yang sedang terparkir. Tempat wisata dan para
penjual makanan pun terlihat tidak beraktivitas. Oh ya.. saya pribadi, lebih
suka ke pantai daripada perbukitan atau pegunungan gini sih.. karena dinginnya
itu… bikin mager (malas gerak).
IG stories Sahabat bucuk |
Untuk saya yang belum lama ini pergi
ke Coban Canggu dengan trek yang ‘mudah aja’ saya yakin betul Coban Talun pun
demikian, tapi siapa sangka trek nya
lebih –SANGAT –AMAT –MENANTANG – SEKALI, trek yang benar benar membuat
saya kehabisan nafas. Padahal pas awal jalan, dengan sombongnya saya bertanya,
kenapa ya sampai ada pak ojek disini, (kebetulan bolak balik sliweran menawarkan
jasa sampai ke Coban-nya), padahal trek nya OK lho (masih sombong), walaupun
mulai selembar selembar nafasnya… sempat juga numpang buang air di toilet
darurat (biasanya cuaca dingin emang mempengaruhi sistem ekskresi kita) yang
dilihat lihat, aesthetic sekali. Sa juga kebetulan mau jalan didepanku,
mendahuluiku, dan tidak mau digendong (*emang anak pengertian). Setelah berdoa
berdoa sepanjang jalan dan wondering dalam hati ‘kapan ye sampainya… kok gak
sampai sampai… ‘ hari ini jujur step di fitbitku hitting 10k lebih. Karena trek
jalannya itu beneran menantang dan melelahkan kalau dihitung mungkin mencapai
1,5mile pulang pergi. Sepanjang trek yang naik turun itu, kami ketemu binatang
unik khas pegunungan dan beberapa monkey (monkey beneran) yang sliweran aja
seolah mendampingi kita dan memaksa kita selalu berjaga-jaga sepanjang
perjalanan.
Setelah kaki lelah dan mulai malas
melangkah, terdengarlah suara air memecah telinga ku.. tanda bahwa air terjun
sudah didepan mata, muncul lagi semangat itu..dan.. jika kemarin saat ke Coban
Canggu otakku sedang penuh, kali ini ke Coban Talun, hatiku sedang tidak
baik-baik saja, sebabnya.. kemarin sore Hp ku pecah, hp merah yang sudah
menemani ku selama 2tahun, dan pecahnya pun, pas selesai bimbingan pengajuan
judul untuk kemudian seminar proposal Tesis, dan lanjut malamnya bertukar pesan
dengan professor pembimbing mengenai kelengkapan sem-pro. Dan semua itu ku
lakukan via whatapps web di laptop (*cry).
Mata kemudian tertuju pada warung
dekat air terjun, tidak aesthetic tapi aku lapar, setelah puas memandangi air
terjun nan indah, ku dan Sa melangkah ke warung untuk makan indomie telur dan
ngopi gooday freeze sambil menunggu sahabat bucuk selesai ngonten (biasalah
anak jaksel ketemu airterjun, sampai mau bikin hashtag #WorkFromWaterFall). Selesai
makan, kami kembali melanjutkan perjalanan, trek yang sama…… untuk kembali ke
parkiran dan, apa yang terjadi baru ¼ perjalanan dan aku give up.. makan
indomie kuah dan minum kopi lalu naik trek tanjakan terjal adalah kombinasi
yang sangat failed. Akhirnya, ku dan Sa duduk di bale-bale kayu (yang most
likely tempat biasa pak ojek mengangkut penumpang) dan menyetop begitu pak ojek
tiba, aku dan Sa kemudian naik ojek. Alam memang selalu punya cara untuk
membuat manusia tetap rendah hati. Dan sesalku kemudian, naik ojeknya ternyata
cepat sekali sampainya, dan ternyata ku dan Sa sudah berjalan 3/4 itupun aku
tidak menyesal sekalipun ongkos ojeknya tidak di korting (padahal udah ditawar
and minta harga mahasiswa J)
Diantar kedua air terjun itu, kedua
duanya mempunyai makna tersendiri buat kami. Dan kami menunggu kesempatan untuk
bisa mengunjungi Air Terjun lain di Jawa Timur, karena banyak sekali air terjun
di Jawa Timur, dan 2 air terjun ini hanyalah permulaan buat kami berdua.
Cheers
Traveloro