Showing posts with label #SHORTGETAWAY. Show all posts
Showing posts with label #SHORTGETAWAY. Show all posts

Sunday, October 18, 2020

ONE CALL AWAY: AIRTERJUN/ COBAN

Punya gak satu orang ‘one call away’ yang secara harafiah akan hadir atau ada saat kita butuhkan. Well, my –one call away—kali ini membuat ku bisa mengunjungi air terjun di Pacet – Jawa Timur dan di Malang - Jawa Timur.

-          Air terjun Coban Canggu (Padusan - Pacet)

Ini adalah air terjun yang pertama kali traveloro kunjungi di Jawa Timur, dan kesininya juga engga sengaja.. huehehehhe.. kesini karena, disetirin my one call away, seorang teman yang baik dan ngerti saya banget, walaupun dia sendiri juga sibuk, dan bolak balik terima telpon disepanjang jalan. 9 oktober 2020 dipagi hari, saya berangkat ke Kampus, setelah sebelumnya mengantar Sa ke Nanny nya… merapikan beberapa pages tulisan dalam proposal Tesis ku, Perjalanan kali ini memang bukan yang di rencana-in banget, semuanya serba dadakan dan to be clear berangkat pagi dari Nginden (Surabaya) ke Air terjun (Pacet) dan kembali ke Kampus lagi Cuma butuh waktu 5 jam. Itu juga sudah bengong half meditation di air terjun nya kurleb 45menit, cepet ya…. Hebat sih karena kawan ini terbiasa nyetir Sby – Pacet, sudah hapal lalu lintas nya, juga medan jalan yang harus dilalui, atau sebaliknya, dihindari.

Coban Canggu sendiri, menurutku hampir seperti air terjun yang tidak terjamah, too bad… padahal betul betul indah disini… air yang dingin, khas pegunungan, trek jalan yang masih manusiawi dan sedikit menegangkan serta air terjun tinggi nan indah diakhir trek itu seperti sebuah kesulitan yang diakhiri keindahan. Cerah lagi deh otak kalau gini ceritanya. To be honest, aku pengin banget kesini lagi tapi perlu cari tebengan karena trek jalan pakai mobil ataupun motor sangat bikin jantung sehat, buat yang jantungnya kuat aja lah.. aku mah pasti motoran kesini juga bakalan melorot sih motornya ditengah tengah tanjakan, ,heheheh no kidding..

selain indah, airnya pun MENYEGARKAN

Setelah parkir mobil, dan membayar (karena ditodong mas mas parkir –local people) kami langsung jalan sendiri sendiri (karena kita berdua lagi mumet masalah kuliah dan kerjaan masing masing) menuju air terjun, ada beberapa signboard untuk memudahkan perjalanan (supaya gak kesasar dan arah jalannya jelas). Diawal ada batu undakan mirip tangga (ya emang tangga sih..) karena trek pertama sedikit menurun, dan bebelok kemudian sedikit menanjak dan diakhiri dengan langkah besar diantara batu besar yang dialiri air bening nan segar, ingin rasanya lepas sepatu,. Tapi takut batunya cukup licin, kemungkinan terpeleset pun tinggi.. akhirnya bersepatulah sampai diakhir trek dan percikan air terjun setinggi itu memberi kesegaran di sekitarku. Tidak bicara, aku hanya terdiam, duduk, semi meditasi dihadapan air terjun ini, ah indah sekali.

segelintir manusia yang hadir membersamai alam

Aku yakin, perjalanan dadakan ini merupakan rencana semesta. Disana pun ada beberapa manusia yang juga sedang menyatukan hati dengan alam, bedanya, mereka besama pasangan masing masing, ada yang saling berfoto, makan siang, ada juga yang mandi half naked *tutup mata, tenang, di Indonesia, laki-laki topless di airterjun adalah pemandangan yang biasa saja, dan nggak tabu ya... ) kalau aku… aku hanya membawa otakku yang penuh dan pelan-pelan melepas penuh ini bersama hembusan nafas dan mampu menghirup kesegaran yang kemudian melegakan kepalaku. Bimbingan tesis, im ready!  


-          Air terjun coban Talun ( Kaki Gn Arjuno - Batu)

Tidak berselang beberapa hari kemudian, 12 Oktober 2020 tepatnya, sahabat bucuk ku datang berkunjung ke Surabaya dan menyodorkan itinerary 3 hari full jalan jalan Pasuruan – Malang – Surabaya, yang mau gak mau saya IYA kan karena dia sedang patah hati, dan bukan patah hati biasa, karena dia gagal menikah (untuk ke dua kalinya)! mirisnya, untuk Sa, this is her first time lihat air terjun, dan dia sangat bahagia.. jadi ku pikir it’s a WIN WIN, pertama karena Sa suka, dan kedua karena air terjun Coban Talun ini ada di list itinerary beliau.  kalau ke Coban Canggu tadi adalah one call away-nya aku, maka sebaliknya, aku adalah one call away-nya si sahabat bucuk ini. sebut saja Gadiz.

le toilet, that surprisingly work

Bertolak dari Surabaya pagi hari,, dan bahkan sempat mampir di rest area untuk mampir ke Starbucks agar perjalanan pagi ini bersemangat dan tanpa ngantuk. Perlu digaris bawahi bahwa jalan tol Surabaya – Malang (jalan tol baru) cenderung sepi dipagi hari terlebih kami berangkat di hari Senin, dimana biasanya, kendaraan dari arah Malang yang memadati ruas jalan tol arah ke Surabaya.

Mungkin karena covid-19, setibanya kami disana (setelah nyasar kira-kira 12 KM---fyuuuuuuuh) tempatnya sepi sekali. Hanya ada 2 mobil lain yang sedang terparkir. Tempat wisata dan para penjual makanan pun terlihat tidak beraktivitas. Oh ya.. saya pribadi, lebih suka ke pantai daripada perbukitan atau pegunungan gini sih.. karena dinginnya itu… bikin mager (malas gerak).

IG stories Sahabat bucuk

Untuk saya yang belum lama ini pergi ke Coban Canggu dengan trek yang ‘mudah aja’ saya yakin betul Coban Talun pun demikian, tapi siapa sangka trek nya  lebih –SANGAT –AMAT –MENANTANG – SEKALI, trek yang benar benar membuat saya kehabisan nafas. Padahal pas awal jalan, dengan sombongnya saya bertanya, kenapa ya sampai ada pak ojek disini, (kebetulan bolak balik sliweran menawarkan jasa sampai ke Coban-nya), padahal trek nya OK lho (masih sombong), walaupun mulai selembar selembar nafasnya… sempat juga numpang buang air di toilet darurat (biasanya cuaca dingin emang mempengaruhi sistem ekskresi kita) yang dilihat lihat, aesthetic sekali. Sa juga kebetulan mau jalan didepanku, mendahuluiku, dan tidak mau digendong (*emang anak pengertian). Setelah berdoa berdoa sepanjang jalan dan wondering dalam hati ‘kapan ye sampainya… kok gak sampai sampai… ‘ hari ini jujur step di fitbitku hitting 10k lebih. Karena trek jalannya itu beneran menantang dan melelahkan kalau dihitung mungkin mencapai 1,5mile pulang pergi. Sepanjang trek yang naik turun itu, kami ketemu binatang unik khas pegunungan dan beberapa monkey (monkey beneran) yang sliweran aja seolah mendampingi kita dan memaksa kita selalu berjaga-jaga sepanjang perjalanan.

Setelah kaki lelah dan mulai malas melangkah, terdengarlah suara air memecah telinga ku.. tanda bahwa air terjun sudah didepan mata, muncul lagi semangat itu..dan.. jika kemarin saat ke Coban Canggu otakku sedang penuh, kali ini ke Coban Talun, hatiku sedang tidak baik-baik saja, sebabnya.. kemarin sore Hp ku pecah, hp merah yang sudah menemani ku selama 2tahun, dan pecahnya pun, pas selesai bimbingan pengajuan judul untuk kemudian seminar proposal Tesis, dan lanjut malamnya bertukar pesan dengan professor pembimbing mengenai kelengkapan sem-pro. Dan semua itu ku lakukan via whatapps web di laptop (*cry).

Mata kemudian tertuju pada warung dekat air terjun, tidak aesthetic tapi aku lapar, setelah puas memandangi air terjun nan indah, ku dan Sa melangkah ke warung untuk makan indomie telur dan ngopi gooday freeze sambil menunggu sahabat bucuk selesai ngonten (biasalah anak jaksel ketemu airterjun, sampai mau bikin hashtag #WorkFromWaterFall). Selesai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan, trek yang sama…… untuk kembali ke parkiran dan, apa yang terjadi baru ¼ perjalanan dan aku give up.. makan indomie kuah dan minum kopi lalu naik trek tanjakan terjal adalah kombinasi yang sangat failed. Akhirnya, ku dan Sa duduk di bale-bale kayu (yang most likely tempat biasa pak ojek mengangkut penumpang) dan menyetop begitu pak ojek tiba, aku dan Sa kemudian naik ojek. Alam memang selalu punya cara untuk membuat manusia tetap rendah hati. Dan sesalku kemudian, naik ojeknya ternyata cepat sekali sampainya, dan ternyata ku dan Sa sudah berjalan 3/4 itupun aku tidak menyesal sekalipun ongkos ojeknya tidak di korting (padahal udah ditawar and minta harga mahasiswa J)

Diantar kedua air terjun itu, kedua duanya mempunyai makna tersendiri buat kami. Dan kami menunggu kesempatan untuk bisa mengunjungi Air Terjun lain di Jawa Timur, karena banyak sekali air terjun di Jawa Timur, dan 2 air terjun ini hanyalah permulaan buat kami berdua.

 

Cheers

Traveloro

Thursday, October 3, 2019

crossing Java Island : Bali




Sempat dibilang jahat karena tidak ajak Sa ke Jakarta untuk nyekar 8th-an mamake..  Padahal sebenarnya sebulan jauh sebelum itu saya sudah mengantongi IJIN day-off selama 3 hari dari boss saya (maacie ya bossque yang cantik dan baik hati). Tentu saja boss saya bolak-balik nanya.. emang kamu mau kemana sih.. lama-lama gitu,,? tentu aja saya bilang "mau ke Bali, ajak anak saya bu.." dan beliaupun akhire bilang "ya udah kamu pergilah.. tapi syarat dan ketentuan berlaku ya, kamis harus masuk.. kan kamu bisa pergi dari hari Minggu (whaaaaaat Minggu kan aku masih kudu sekolah dulu, ada kelas dari pagi..--- eh tapi jujur itu yang terusnya menumbuhkan ide saya untuk ngambil flight ke BALI hari Minggu di jam sore) dan untuk penerbangan pulang, saya extend sehari, karena pindah dari Ubud ke Seminyak, cause im desperately need to REST and RELAX 


Kenapa UBUD?? jawabannya simple, karena saya belum pernah.. Sa juga pasti senang senang aja selama itu ada saya.. dan tentu saja sedikit sogokan berupa susu dan candy... flight kami berjalan mulus tanpa turbulence, kayaknya cuma 35menitan deh,, dan di Ngurah Rai, kami tenang karena sudah minta airport pickup sama owner Villa kami di Ubud 


Sampai Ubud tengah malam disambut guyuran hujan, adem banget.. meni Sa tidur dari pas dijalan ya,, dan Villa nya itu ada di tengah sawah (Dalam arti yang sebenarnya), jadi sambil gendong dimalam gelap dan hujan, bener-bener pengalaman yang tidak terlupakan, tau kan persawahaan itu jalannya cuma setapak dan sliperry juga,, untung aja bisa menjaga keseimbangan badan, karena salah langkah kami bakalan nyusruk ke Sawah..




Sampai dan diberi sedikit room tour sama Bli owner.. dan dia juga tanya mau sarapan jam berapa, dan info menu sarapannya juga.. dan kami tidur terlelap di empuknya kasur dan dinginnya udara UBUD. sempet kecewa pas tahu kalau kamar kami, gak ada Aircon, tapi begitu lepas sepatu, dan bertelanjang kaki, baru deh tahu dinginnya lantai. Sempat Bli tanya besok mau kemana, saya jawab mau istirahat aja di Villa.. 



Bangun pagi setelah sarapan omellete (isi bayam dan tomat cincang) singkat cerita, Bli tidak punya gayung untuk mandi (sa gak suka mandi pakai shower) sebagai gantinya, Bli bilang bahwa 2 menit jalan lurus kebawah, ada air terjun mini dan mata air alami yang biasa dicari orang seperti holly water dan kita beruntung bahwa area itu masih punya nya Bli, jadi sekalipun lumayan jauh dari Villa, air terjun dan mata air ini private, dan Sa bisa mandi disana. lalu coba turun kebawah, masih persawahan sih.. tapi berundak dan yang cukup PR adalah gimana caranya ajak Sa turun dengan digendong, kondisi tanah basah dan lumut juga berat badan Sa yang lumayan dengan panjang badan yang udah gak bisa dilipat macam bayi dulu... tapi bisa sih dengan sedikit usaha dan banyak keringat (hueheheh...) terus dia mandi deh dengan asyiknya dipancuran itu.. niat awal mau istirahat dan sepeda-an (macem Julia Robert di film Eat, Pray, Love gitu kan ya,, ) taunya apa coba....siangan dikit, karena laper, kami minta di drop ke Ubud Center.... ciye.. terus makan siang di salah satu warung.. yang menunya enak-enak (tapi juga) mahal-mahal.. dan strolling around Pasar Seni Ubud, karena Sa insist beli sandal buat mba nya dirumah setelah dapet ya senyum aja dengan muka cemong penuh gellato yang lagi dia makan..  malamnya untuk dinner kita pesan di Villa dan dibuatkan Veggie Curry oleh istrinya Bli, rasanya TDF sekalipun later i got diare karena si kuah nan inak itu berbahan dasar santan



Pagi-pagi ada yang komplain gak mau mandi kalau gak ke pancuran air lagi... dan emang jadwal kita hari ini cukup padat. Goa Gajah - Tirta Gangga - mampir pantai sepanjang karangasem (kalau sempat) DAN kelakon juga semua itu.. first stop kita Kimia Farma, disitu saya beli obat untuk mengatasi diare dan kami ke Goa Gajah setelahnya. disitu, rasa magis kental terasa menghampiri raga, ada semacam aura yang membuat saya merasa tempat ini sakral sekali.. saya sempat goosebump saat masuk ke salah satu goa yang ada benda peninggalan dewa dewa,, ditempat ini juga ada tulisan yang intinya, kalau perempuan dengan kondisi lagi period, gak diperbolehkan masuk ke areal yang sudah dibatasi,, berani melanggar ya tanggung sendiri akibatnya yah.. untunglah pas kemarin kesana, aku gak lagi period, bisa explore lebih dan berkeringat secukupnya.. 



right before the big fish come out and kiss her 

Tirta gangga adalah lain hal,, dan disini saya bahkan sempat berenang bersama ikan-ikan didalam kolam pancur.. gak terbayangkan tapi terjadi juga sih.. ternyata saya cukup berani berbusana renang dan dilihatin banyak mata.. sempat lama di sini, Sa bahkan mengalami adegan cukup membuat jantungnya berdegup keras sampai dia tersungkur dan menangis.. saat dia kasih makan ikan, dan salah satu ikan besarnya loncat dari permukaan air, nyaris mencium pipinya (mirip adegan dolphin kiss penunjung seaworld di film-film). Juga karena disini cukup lama, kami memutuskan makan di kafe tirta gangga, pajaknya 21% dan saya inget nominalnya Rp.51.000 wagelaseeh.. bangkrut kakk!!! perjalanan Pulang kami sempat mampir ke 2 lokasi lain, masih di seputaran wilayah karangasem, Bali. dan sempat juga lho lewatin Padang Bai, wah........ pikiran langsung melayang,,,,,,, seandainya dulu saya ambil sekolah diving di Padang Bai yah.. saya pasti gak bakalan sekolah di Surabaya, apalagi dapet kerjaan yang bisa mengantarkan traveloro ke Bali-Ubud-Seminyak (terimakasih Tuhan eniwey sepanjang jalan pergi-pulang pas lewat perbukitan kita melihat kawanan monyet dikiri-kanan jalan... Sa jerit jerit dan semangat banget lihatnya, this is her first time lihat Monyet.. 


say hello to the Villa @Ubud

hari ketiga, kami sempat keteteran packing dan lost track time... karena Bli yang bakalan antar kami ke Seminyak mengalami kendala di kendaraannya, sehingga jam cek out jadi keteteran lebih dari 2 jam.. ditunggu-tunggu bli gak kunjung datang, saya sampai bolak balik mandi-berjemur-mandi-berjemur, untuk bilas tanning oil yang saya apply selama berjemur... dan tibalah di Seminyak dengan waktu perjalanan 2 jam, lumayan padat jalanan Ubud - Seminyak. Nginap di Bali Reski Hotel dan puas puasin tanning karena ini adalah matahari terakhir sebelum beraktivitas kembali.. 




Sa keren,, dia mau berenang sendiri, gak mau dipegang atau di jagain....... kita sampai berjam-jam dalam air dan cuma naik untuk makan siang yang kami pesan lewat aplikasi gofood. mulai gelap, kami naik dan bilas.. jalan lah kami ke Krisna. untuk beli Oleh-oleh dan ada niat juga paketin oleh-oleh ke keluarga di Jakarta. di Krisna, kasirnya lucu sih.. terpisah antara kasir kartu dan kasir tunai.. dan karena tunai gak banyak.. saya sampai mengembalikan tas rajut incaran karena males untuk antre panjang di kasir non tunai



untuk menutup malam ini, kita mampir ke Made;s Warung di Seminyak. ah.. rindu.. its been a while since my last visit.. ga berubah.. masih tetap indah.. Sa pesan gelato strawberry dan saya pesan kopi.. keduanya enak..dan tambah enak lagi karena kami menikmatinya sambil melihat penampilan tari Bali.. di panggungnya Warung.. sampai hotel.. Sa tidur.. saya packing dan gak bisa tidur, takut ketinggalan pesawat......



xx
Traveloro














** untuk yang mau ke Ubud, harus nabung lama........ karena pajak restonya 21% ( iyak sebesar itu) *bangkrut in an instant* belum lagi yah.. kemana-mana jauh, harus sewa kendaraan minimal sepeda atau motor. Kita cukup beruntung Bli Santana (villa owner) berikan harga terbaik untuk tour seharian & layanan drop off - Pick up yang luar biasa, bahkan pak Supir nya mau-mauan gendong Sa selama tour ( tour lumayan jauh, mendaki banyak tangga, dan padat [ Gua Gajah - Tirta Gangga - Lunch - Taman Soekasada Ujung - Pantai Wates Yeh Malet] 

Sunday, September 22, 2019

One night in Jakarta






Menghabiskan malam di Jakarta sebetulnya bukan rencana saya ( tiket pesawatnya muahaal bwook!). Tapi, karena itu satu-satunya jalan untuk bisa ketemu mama dan kunjungi makamnya, pun udah hampir setahun gak nyekar, ya aku jalanin dong.. ta lakonono lek orang Suroboyo-an bilang..


It’s a hectic kindda day, karena weekendku biasanya emang diisi dengan sekolah from 9am to 9pm. Lalu Sabtu ini aku harus skip classes karena aku ambil pesawat yang penerbangan 19.10. Mungkin emang sudah diatur sang pencipta, pas banget pak Dosen “ilfil (meminjam ungkapannya beliau sendiri), jadi sekolahnya bubar jam 3 sore. Langsung lanjut ke Juanda.. kayak Cuma 30-45 menit dijalan plus macet ( aku ngga lewat tol karena ya nyantai lah, flight malam dan sudah di check-in kan sama kawan saya ( thanks Ded!!))

Originally tiket pulang saya di jam 11.20 ( CGK – SUB) tapi setelah perbincangan WA dengan saudara (dan berpikir ribuan kali..) akhirnya saya re-schedule penerbangan Pulang, untung aja pas banget ada rejeki ( soalnya re-shedule kena potong 50% dari harga tiket dan musti order tiket dengan harga yang baru *nangis dipojokan*) sampai Bandara,, banyak hal yang dulunya saya gak notice, TERNYATA di Juanda ini disediakan water dispenser with papercup—so we can drink water free-ly) senang banget, bisa isi ulang terus tumblerku selama nunggu pesawat –yang entah kenapa delay for hours— selain itu ada electrical cord, ini penting ya karena gak semua punya powerbank,kan?


Cerita unik yang bakalan saya inget seumur hidup saya adalah, saat di dalam pesawat dan saya sedang asyik membaca novel nya Sherlock Holmes, flight attendant panggil saya dan Tanya bangku yang saya duduki, saya bilang “ya betul, saya 2F” dan gak lama, datang bapak-bapak dari arah pintu yang meng-claim kalau dia juga berhak atas bangku no 2F. heyyyyyy.. dan tahu gak sih.. tiket si bapak tercetaknya nama saya, kode booking juga kode bookingnya saya.. kemudian bapak tsb bercerita kalau beliau punya kawan protokoler Bandara yang membantu beliau check in, dan memang selalu request no. kursi 2F. pramugari dan petugas terlihat bingung karena si bapak bisa masuk check in dengan nama tiket dan nama di ID Card yang jauh berbeda. FA lain datang dan tanya “ini siapa yang namanya Claudia?” dengan gentle saya jawab “ ya saya dong, mba.. saya kan cewek..” entah polos atau emang lugu ya FA nya bergumam “iya juga sih” dalam hati saya Cuma bilang, cepet kek pesawatnya terbang, saya udah lelah pengin cepet rebahan dan ketemu Kasur, mengingat perjalanan dari Soetha Airport ke rumah kakak, bukanlah jarak dan waktu tempuh yang sebentar..

Setelah kurang lebih 10 menit para FA dan petugas bandara berdebat, akhirnya kami berdua bisa duduk tenang dan pakai seatbelt untuk siap berangkat.. saya sih bilang sama si bapak,, alasan kenapa saya senang dengan kursi 2F adalah karena kaki saya bisa leluasa gak kepentok (Bahasa bagusnya apa ya?) dan saya yakinkan si bapak kalau kita bakalan sering ketemu karena saya juga punya kawan protokoler Bandara yang cukup baik hati men-check-in kan saya di kursi favorit saya 2F.

Karena beli tiket ekonomi dengan harga fair, saya gak dapat bagasi, bawaan juga Cuma ransel isinya buku kuliah dan 2 lembar baju untuk besok.. jadi begitu sampai Soetha saya langsung keluar dan suhu dingin Jakarta menyapa lembut seluruh kulit saya.. saya masih ingat betul bagaimana rasanya dulu tiap kali pulang dari solo travel ( masih belum ada Sasa) jam berapa malam-pun tiba di Soetha, berani aja, lagi tajir naik taksi, lagi miskin naik damri, lagi mujur: dijemput. Tapi malam ini saya merasa kok asing banget ya di Jakarta,,, perut lapar pun ngga kerasa.. di otak saya pengin cepet-cepet sampai rumah kakak, supaya bisa rebahan dan perasaaan ‘asing’ itu segera lenyap. Saya cukup beruntung sepertinya, karena saya dapat taksi online yang mengijinkan saya menyetir mobilnya ( maksudnya sih biar cepat sampai..) tapi di tengah jalan tukeran setir lagi, karena mobilnya sedikit bermasalah.. hehehe… Malam itu saya gak bisa tidur sekalipun dapat Kasur empuk, Aircon yang mumpuni dan selimut super lembut, saya berusaha banget untuk terpejam dan berharap pagi bisa merubah rasa asing itu.. ternyata engga loh,, pagi bangun tidur, saya masih merasa asing.. kepala saya juga berat, kemungkinan besar karena kurang tidur..


Saat sampai di parkiran kompleks pemakaman, kakak dan ipar saya masih asyik mengobrol sambil menunggu yang lain datang, saya memilih untuk duluan ke makam mama dengan berjalan kaki, yah sekalian nambah-nambah step nya smart watch ku huehehehee.. (etapi bener stepku hari ini tuh nyampek 7000-an rasanya,,,,)


Selesai nyekar ke mama dan baba’s kami semua pulang untuk sama sama lunch di rumah induk. Menu sederhana yang semuanya terasa bertambah-tambah enaknya karena selain dinikmati bersama-sama, menu ini juga mengandung kenangan bersama mama dalam setiap suapnya.. I love you ma.. tidak lupa juga saya memesan kopi kesayangan saya *Kula Kopi* via aplikasi gofoooooo* bahagianya lidah dan hati saya.. 



Emang kalo lagi ngumpul tu waktu rasanya cepet banget, tau tau udah jam 2 dan saya harus buru-buru ke Airport agar gak ketinggalan pesawat.. bersyukur ada yang berbaik hati mau anter ke aiport dengan kondisi jalan tol bandara siang itu terbilang Ramai-Lancar. Btw saking takutnya telat, saya sampai gunain fitur web checkin yang disediakan maskapai, bersyukur juga dapat tempat di wing 17F jadi kaki saya lega selama penerbangan.



saya percaya tiap penerbangan itu, beda-beda ceritanya. Penerbangan saya siang ini, terbilang lancar, ontime tanpa delay tapi nih,. Tapi… saat di udara pesawatnya turbulence juga bikin deg deg ser.. syukur aja bisa tidur walau cuma sebentar.. nah karena di Juanda gak bisa masuk taksi Online, saya nekad naik damri. Pengin coba-coba, tarifnya reasonable 25k, dan saya turun di ‘gudang garam’ lalu lanjut perjalanan menggunakan taksi online. Sampai dirumah, dapat peluk hangat dari Sasa,, what a weekend..

Xx
Traveloro

Sunday, August 4, 2019

meet the Green @ Surabaya


gak kerasa ( kata siape..) udah 5 bulan sejak kita stay di Surabaya, 
rasanya.. kayak udah ada di comfort zone yang 100x lebih sederhana tapi mewah klo di Surabaya tuh.. kenapa mewah tapi sederhana coba?? mewah nya itu karena waktu di perjalanan yang gak seberapa membuat saya lebih banyak waktu luang yang dulu kayak "ya ampun udah malem lagi..." kalau sekarang seringnya "kok masih sore ya.. ngapain lagi yaa........." semewah itu jadinya waktu senggang bisa dipakai sekedar untuk masak yang simple atau ngopi karena kebetulan juga di Surabaya banyak banget ya warung kopi, mulai dari yang 3ribuan/ gelas sampai kelas kafe yang membanderol sekitar puluhan - ratusan ribu lah ( tergantung pilihan kopinya apa.. ) 

Nah, waktu lowong yang banyak banget ini kerasa lagi nih, setelah sekolah mulai liburan, UAS kelar dan badan merasa harus bergerak kalau ngga yak eman-eman di waktu yang 'lowong' ini.. 

Pencarian pertama itu yang pasti Googling dan akhirnya, ketemu 2 driving range yang jaraknya dekat banget dari kantor,, YGC dan BDR dekatnya ini sama-sama sekitaran 4KM, weiits 4KM di Surabaya itu bisa cuma 10 menit sampek loh ( enak tho tinggal di Surabaya...?) timbulah keinginan untuk driving lagi.. tapi nyari waktu yang pas, masih belum ketemu.. 

2 bulan sebelum ini, saya udah nyari nyari glove yang 21 dan sepasang, too bad di Garuda Sport Mayjen Sungkono gak ada yang sepasang, adanya yang sebelah kiri doang, which is untuk golfer cowok dan juga sizenya diatas 24, daripada kedodoran,, ya udah gak saya beli.. tapi emang di suggest cari di toko golf yang di Brawijaya sih,, disini katanya lebih lengkap.. trus saya lupa karena banyaknya PEER Sekolah dan Kerjaan.. 

Tidak lama setelahnya, hasil ngobrol-ngobrol over lunch, temen-temen kantor ngide untuk manggil Guru Yoga dan sekantor Yoga bareng after office, dan ditentukanlah harinya, yaitu setiap Kamis. Saya langsung senang, karena bisa ikut, lain cerita kalau Yoga nya tiap Jumat, saya pasti gak bisa deh, karena kan Sekolah mulai sore - malam. 


Dapat sebulan jalan Yoga, lalu disusul UAS di Sekolah, saya jadi beneran sibuk buk buk.. waktu yang mewah itu terasa langka banget, karena beneran tiap tidur cuma dapet 1,5jam atau sama sekali gak tidur karena nugas dan langsung berangkat kerja paginya,, gitu terus selama 2 minggu-an dan sampailah di akhir masa UAS, tepat hari ini, (ciyeee) saya mulai Yoga lagi, dan pulangnya mampirlah ke YGC.

YGC atau Yani Golf Club adalah green ternama dan salah satu yang tertua di Indonesia yang sekaligus pertama di Jawa Timur, menurut informasi lapangan ini sudah ada sejak tahun 1898. Setelah beberapa kali ganti nama & kepemilikan, tahun '65 namanya berubah jadi Lapangan Golf Ahmad Yani untuk mengenang Jenderal Ahmad Yani (Surabaya kota Pahlawan, reeeeeeeeek) Sebelumnya udah estimasi kalau harus beli glove duluan, sayangnya lupa, untung banget di YGC sediain sarung tangan, dan yah saya pakai ukuran 23 siy.. kelonggaran dikit, dan cuma sebelah kiri, hahaha gak papa lah, daripada gak pakai glove sama sekali..


Terkenal dengan tempatnya golfer cowok, bahkan se-caddy-caddy-nya pun,, kayaknya cuma saya deh yang perempuan malam itu,, tapi saya bonek rek,, aku WANI!!! Pas banget lagi pake baju Persebaya edisi Independence day yang warna nya merah, dan celana Yoga masih nempel di badan.. Dan disini saya disambut sama Pak Chandra yang adalah pengelola Driving Range, baik orangnya, dan informatif banget.. buat yang mau ke YGC, harus siapkan uang cash ya,, kalau saya karena malam itu pas banget gak ada cash, Pak Chandra nawarkan untuk bayar via ebanking saja, bisa kok.. tapi mereka memang gak sediakan mesin EDC ya... tapi di kompleks itu ada ATM BNI sih.. kalau keasyikan main dan cash gak cukup, bisa mlipir ke ATM dulu..


YGC pasang tarif flat Rp. 60.000/100 Bola..dan ada tambahan buat yang mau di bantu Caddy, kalo saya engga pakai Caddy, cukup PD dengan kemampuan sendiri ( ciyee gitu..) nah buat yang gak punya stick golf juga atau kebetulan lagi gak bawa, disini juga sediakan stik yg bisa di sewa di pinjam, pak Chandra kasih saya stick no. 7 dan 8 yang lumayan ringan ya, enak juga buat swing ( kalau udah biasa), pas banget gaya-gayaan nambah 100 bola ke dua, udah lumayan malam nyaris tutup YGC nya ( mereka tutup jam 9 malam, tapi boleh juga lanjut main jika masih mampu,, atau bola sisanya bisa di simpan untuk dimainkan kapan-kapan klo driving lagi.. akhirnya saya tinggal pulang beberapa bola itu.. 


Sabtunya, 3 Agustus, saya mau balik main di YGC, tapi atas bisikan seseorang, akhirnya coba deh di Brawijaya.. sebelum datang saya udah tanya-tanya by phone ke reception nya karena saya gak mau gak prepare uang lalu disana gak ada mesin EDC dan ATM, malu rek.. Brawijaya Driving Range ini terletak di Jl. Hayam Wuruk, dan kayaknya termasuk ke salah satu Lapangan tertua juga ya di Jawa Timur, tapi emang saya akui, di Jawa Timur ini emang banyak sekali lapangan golf ya,, compare to Jakarta, kayaknya enakan main di Surabaya deh,, panas terik, angin sepoy sepoy dan orang orang yang masih mau saling sapa membuat Driving saya di Surabaya bakalan jadi kegiatan yang rutin saya lakukan, demi apa? nambah skill tentunya, siapa tahu besok besok bisa ikut turnamen amateur golf.. sekarang mimpi dulu dan latihan rutin biar bisa lancar mukul.. 



Barawijaya pasang tarif Rp. 105.000/100 Bola untuk weekend, dan ada promo potongan harga jika kita datang weekday ( di jam 6 - 2 siang #cmiww) dan Rp. 100.000 untuk sewa stick se-bag selama 3 jam. Bisa bayar pakai debit/ CC dan minimal harus 200 bola, ih gempor kan.. hahaha... tapi karena santai selepas kerja dan hari juga masih siang, ya sudah 200 bola hajar juga.. di sini persis Driving Range di Senayan yah, bertingkat gitu,,, saya tetap pilih yang lantai 1, biar bisa tau pukulan lurus atau zig-zag.. 


Dan dari ke dua lapangan ini, aku prefer YGC sih,, tempatnya homie banget.. inget jaman kecil lihat bokap main golf, ngintip dari dalam mobil.. sebenernya kedua lapangan ini sama bagus, cuma aku kurang suka pas ke Brawijaya ini, lagi pas ada event di GOR nya, dengan lagu Dangdut sebagai backsound, alahmak.. kasihan telingaku.. kalau YGC lagu-lagunya enak-enak, satu selera kayaknya,, dan sekalipun malam, penerangan yang memadai tersedia kok,,, di YGC jadinya bisa tetap main..(jika mau)


traveloro
xx

Tuesday, June 4, 2019

Review Hostel : Kampong Tourist - Malang Kota


Berawal dari mesan-kan hotel untuk sepupu yang ingin ke Jogja, di situs ( booking.com ) saya lalu gak sengaja ketemu dengan hostel murah ini. Jujur, bukan murahnya yang menarik mata saya, tapi tampilan awalnya yang berupa foto bangunan dari bambu-bambu yang membuat saya akhirnya kepingin icip-icip stay disini, dan bunk in bed dormitory adalah pilihan saya awalnya, karena pengin merasakan nginap di kamar campur dengan suasana yang berbeda, well kalo jadi kenyataan sih, kemarin itu, adalah pengalaman pertama saya, kami, traveloro, nyoba nginap di dormitory room, tapi sayangnya, pihak manajemen hotel gak ijinkan karena saya ajak serta balita. (ini sih gak dijelaskan lebih detail.. mungkin takut anaknya rewel dan ganggu traveler lain?) akhirnya setelah nego alot lewat whatapps saya ngalah deh, dan mengganti pesanan saya dengan Gazebo, dan dipaksa cancel pesanan saya yang di booking.com ( sorry ya............... )


gazebo yang kita tempati.. 

Sebetulnya, pengin ke Malang udah dari Bulan Mei, pas May-day kan tanggal merah tuh.. ndilalah,, gajian belum keluar.. ( curhat banget buk.....) dan karena beberapa alasan kayak gak ready kalo ke Malang saat itu, toh tanggal 2 harus ngantor lagi, nanggung juga kalau di Malang cuma 1 hari ( bener gak sih??) jadinya re-schedule dan akhirnya tiba juga hari dimana kita pergi ke Malang dan nginapnya di Kampong Tourist Hostel.


Disini, pas sampai, saya kaget karena jarak si Hostel yang kayak cuma 1kilo dari Stasiun Kota Baru, Malang. Jalan kaki juga bisa, Cak.. ( kalau mau siy..) naik gojek pun cuma 6k kalau gak salah ya.. gocar juga tarifnya masih manusiawi.. terusnya pas sampai, dibuat kaget dengan lokasinya yang ternyata ada di rooftop nya HELIOS HOTEL. Saat itu juga, jujur saya langsung kagum sama owner nya sih.. kayak kepikiran banget memanfaatkan rooftop jadi hostel dengan konsep yang bisa dibilang jempolan juga ya.. rooftop yang biasa cuma tempat nya tandon atas terus per-AC-an dan kawan-kawannya sama si owner dirubah menjadi beberapa gazebo dan satu ruang dormitory besar berkapasitas kurleb 20-an kasur ya.. 

Letaknya di lantai 4 dari HELIOS HOTEL, penataan yang apik dan serius membuat saya langsung terasa di Bali, banyaknya unsur alam seperti bambu, pohon-pohon, atap anyaman, batu alam, pintu anyaman, komplit ke dinding kafe dengan metode exposed brick membuat nya makin mirip Bali, kafenya kecil ya,, tapi menunya terbilang lengkap, segala jenis beer dan breakfast ala prancis / western gitu komplit deh..

tempat mandinya. dibuat senatural mungkin

toilet yang persis ada di bilik sebelahnya, imut!

Kita sempat keliling sendiri, setelah dikasih kunci beserta gembok,, iya karena kita bakalan nginep di gazebonya, kita dikasih gembok,, dan gemboknya sempat mencium jempol kaki saya sampai rasa kemeng.. lumayan berat itu gemboknya.. nah untuk toilet saya sukanya itu, temboknya dibarkan seperti cukup dengan aci-an saja, ngga di cat atau apapun, memberi kesan alami dengan sentuhan batu pualam dilantainya, nah untuk toiletnya persis ada di bilik sebelahnya, sama-sama imut, dengan pintu anyaman bambu setinggi 1,6m yang bikin pas mandi bisa ngintip pemandangan Mt. Bromo dari kejauhan. teteup.. enakkkkkkkk..

kipas di dormitory room nya.. 

Dikamar, kita dapat 1 kipas angin, yang sebenarnya gak diperlukan mengingat Malang itu duingiiiiiiiin udah cukup gak perlu kipas, ada terminal untuk listrik beberapa lubang, ada lampu juga, ada jendela kaca yang cukup panjang sekitar 2 meter lah, lebarnya cuma 50cm-an dan bisa di swing gitu, tapi ya.... plusnya disini, dikasih selimut tambahan karena Malam hari di Malang sangat amat dingin, dan kipas angin akhirnya berguna juga untuk mengusir nyamuk yang bolak balik bikin tidur kurang nyaman yah... kipas angin dipakai untuk usir nyamuk sekalipun saya dan Sa kedinginan banget.. rasanya kayak mau selimutan pakai spring bed-nya deh.. ahhahaaaaaaaa...
 
kelambu nya.. 

kekurangannya disini cuma satu, yah  mungkin karena terbiasa dimanjakan dengan fasilitas basic-nya hotel berupa shampoo & sabun, saya jadi kaget begitu dibilang, pihak hostel gak sediakan sabun dan shampoo.. walaahmak........... ya udah mandi seadanya banget selama 3 hari itu, pas juga lagi dingin banget airnya, jadi yah.. cukup puas dengan lap muka atau gosok gigi,, ( tetep wangi kok.. kita.. saking dinginnya keringet gak berani keluar setetespun.. eh satu lagi deh kurangnya, di kamar Gazebo, nggak dikasih kelambu kayak di dormitory room, ya pantes lah kita dinyamukin.. selebihnya OKE SEMUA..

kafe-nya. cantik yaa...

kafenya enak.. dan masnya siap siaga 24jam untuk buatkan permintaan customer, disini juga bisa numpang makan dan galau sore sambil memandangi lalu lintas kendaraan dari lantai 4 lalu sesekali meyeruput hot chocolate yang mak gilaaaaaaaaak enak bangettttttttttt.. TO DIE FOR lah pokoknya hot choco itu.. harganya juga affordable jadi ku sukaaaaaaa...



OVERALL, Stay di Kampong Tourist sangat amat berkesan buat traveloro,,,, harga bersahabat banget, fasilitas oke punya, petugas ramah-ramah dan informatif sekali, terus juga tidur nyenyak kami disini sekalipun digigit nyamuk setiap malamnya.. 


semoga bermanfaat yaa

Traveloro,

Wednesday, January 2, 2019

Sarapan di: Adele Dining ( Ashley Hotel)

Adele Dining




Akhirnya tiba juga hari ini, hari yang baru baru aja di mimpikan dan didoakan, cukup kaget karena lumayan instan terkabulnya. Kemarin Natalan, kami Staycation di ASHLEYHOTEL tapi pulang pas malamnya, karena Sa nangis mau tidur di kasurnya sendiri ( sekalipun pas sampai rumah, kembali nangis-nangis sambil bilang “aku mau nginep” sungguh membingungkan, memang.. )

Pada malam pergantian tahun, Good Friend of mine, text saya, detail hotel pesanannya, untuk saya, untuk kami, untuk traveloro! Saya kaget campur seneng, lebih banyak senengnya sih, karma baik menimpa kami bertubi-tubi dan kami sangat bersyukur karenanya. Tapi memang, saya cerita ke dia bahwa kemarin saya tidak jadi nginep, padahal saya mau! Sungguh ingin mencoba sarapan disini yang menurut review banyak website booking, rasanya enak-enak dan menu nya variatif.

Jadilah pas tanggal 1 Januari 2019, siang, kami berangkat ke Hotel itu lagi ( memang berjodoh.. senangnyaaa), kembali disambut dengan reception yang cantik cantik dan cekatan, cukup mengeluarkan KTP / ID CARD gak berapa lama langsung diserahkan kunci Room beserta informasih jam dan lokasi breakfast esok hari. Saya terkesan dengan waktu breakfast yang panjang yakni jam 6AM-10AM. Itu rentan waktu sarapan yang cukup panjang menurut saya.

Pertama, saya kaget, karena DELUXE TWIN kali ini, malah dapet superior room sepertinya karena kamar penuh ya ( full book), gak masalah di saya, dapat bed King Size, view tak langsung ke jalanan ( melainkan ke gedung hotel sebelah), tapi, saya agak masalah dengan ruangannya yang lebih kecil dibanding room kami pada tanggal 25 kemarin. Padahal pesannya sama, saya cek lagi email, betul, masih rate sama dengan kelas room yang sama. Dan masalah lain adalah kamar mandi yang bau, entah dari mana baunya. Sorry to say, saya sampai tuang minyak Tea Tree Oil saya ke dalam gelas berisi air hangat, agar bau tak sedap itu tersamarkan, dan saya bisa tidur. Puji Tuhan, iya saya bisa tidur jam 2 pagi. Hahaha dan jam 6an saya sudah bangun, nonton TV sebentar lalu bangunin Sa untuk turun breakfast pada jam 7-an.

Turun lift adalah hal lain, karena kamar kami posisinya persis di depan lift, kayak merasa lucu aja buka pintu langsung lift, ya gak sih.. saya sih iya merasanya begitu. Sampai di Adele Dining, mba-mba nya bertanya kami dari room berapa, dan saya langsung teringat untuk melakukan hal ini, boleh dibilang agak nekad atau apalah, karena belum mengecek menu yang tersedia, saya langsung tanya sama chef nya apakah bisa membuatkan saya sarapan Vegan, lalu chef nya bilang, bisa, saya langsung semangat, dan ada 2 pilihan, “nasi goreng sayuran atau palingan semacam cap cay gitu bu” kata chef. Saya awalnya agak tergiur dengan cap cay, pasti chef gak akan kesulitan untuk buatin, dan pasti enak, saya yakin betul. Tapi karena saya ini anaknya nasi goreng banget, alias rodok maniak dengan nasi goreng, saya putuskan untuk menjatuhkan pilihan pada nasi goreng, cross my finger, semoga enak itu ya nasi gorengnya.

Sarapan Sa pilihan Ibu ( atas persetujuan dia)

Sambil menunggu sarapan vega request-an saya datang, saya tuntun Sa duduk, sementara saya keliling, untuk mengambil sarapan untuk Sa. Pada ujung meja dibagian awal, ada roti, mesin pemanggang dan butter beserta 3 selai; selai coklat, selai kacang dan selai strawberry. Disini ada bagguete juga ya ( roti keras ala prancis gitu)  saya pilihkan sa selembar roti dengan mengoles sedikit butter dan sesendok penuh selai strawberry. Selai starberry biasa, bukan homemade nya mereka. Saya gak sempat coba, tapi Sa habis, berati enak. Bisa dipastikan.

Selesai dengan roti, sebelahnya ada bubur ternyata, tau gitu saya gak repot-repot nyusain chef masak untuk saya. Sebelah bubur ada nasi putih & nasi goreng, lalu ikan tepung ( gak tahu ikan apa saya gak buka.. tapi ini lumayan sering di refill, jadi pikir saya ikan ini pasti enak banget), sebelah ikan ada kari ayam, ini saya juga gak buku tutupnya, tapi sepertinya enak, karena banyak juga tamu yang ambil kari ini. Sebelah kari ada kentang & sosis ayam. Nah itulah perhentian saya selanjutnya, mengambil kentang dan sosis ayam, beserta saus tomatnya.
Pecel Sayur & Orek Tempe yang enak itu

Selanjutnya ada Veggie Lasagna, ini nampaknya enak, saya sempat intip, tapi kelihatan agak gak beraturan karena pada ngambil tidak sesuai dengan potongan ( risik banget mata saya lihat yang gini gini,, ). Sebelahnya ada Pakcoy masak bawang putih, ini saya ambil, rada telat jadi sayurnya udah overcook / over-heated, tapi rasanya enak, & hampir plain, no micin detected. Lalu ada orek tempe & pecel sayuran, saya ambil dong, hahaha enak deh,, yummy banget pecelnya, bumbunya berasa dan tidak pedas, lalu orek tempenya sedep, sekalipun agak terlalu kering tempenya ( menurut saya), maklum gusiku lagi sakit, kan, jadi gak bisa ambil banyak-banyak, tapi klo lagi sehat, aku pastikan udah nyendok nasi putih dan makan pakai pecel ber-lauk-an orek tempe ini. Betulan enak.

Lalu ada minuman, jus jambu – air mineral – jus jeruk. Kami ambil jus jambu dan berkali kali refill air mineral. Segelas kopi untuk saya dan segelas susu segar untuk Sa. Telur ceplok dan telur dadar ala hotel juga mereka sediakan dan refill berkali-kali selama kami makan ( laris sepertinya), tepat dipojokan ada salad, dengan beragam sayuran. Ada buah & pudding juga! Saya ambil buahnya dan Puddingnya untuk Sa. Sebetulnya ada burjo & burtan ( both not my fave) jadi saya gak ambil, tapi saya yakin ini enak,,,
Nasi Goreng Vegan ( made by request )

Beginilah penampakan Vegan Nasi Goreng-nya Ashley Hotel, isinya nasi dengan beragam sayuran, mulai dari wortel, kol, sawi hingga tauge & juga ada potongan jamur. Untuk rasa, saya harus bilang kalau B aja sih, cuma rasa lada dan garam, maaf yaa, mas Chef… tapi untuk effort, saya salut sama effort mereka yang mau-maunya susah payah bikinin request tamunya.

Setelah bosan cocol kentang ke saus, Sa saya ajak untuk coba makan Sosisnya, eh dia suka.. Jujur aja, inilah pertama kalinya Sa makan sosis ayam, karena saya emang terbilang jarang banget kasih Sa makanan kemasan & frozen gitu, sosis sapi pun, dia gak doyan, sekalipun cuma sepotong di pingiran pizza atau di dalam roti, dia pasti singkirin. Eh karena dia suka, cepet banget habisnya sosis ini, lalu lanjut dia makan telur dadar ala hotel & sambil sesekali minum susu – jusnya.

Kami menghabiskan waktu cukup lama disini, saya senang. Gak biasanya saya bolehkan Sa makan lebih dari 30 menit. Tapi kali ini, sepertinya ada 1 jam lebih kami duduk dan menikmati makanan disini. Saya selesai duluan, jadi bisa baca novel sambil ngopi oh ya.. kopinya lumayan, untuk ukuran kopi hotel, rasanya gak buruk, agak over-roast tapi masih kategori normal, masih enak diminum hangat tanpa gula sekalipun.

Begitulah pengalaman pertama kali traveloro breakfast di hotel. Rasanya campur aduk sih, tapi utamanya, saya bangga karena Sa bisa behave selama makan dan bahkan gak lari sana sini apalagi ngacakin susunan piring / barang pecah belah lainnya. Dia juga bisa duduk dikursi yang sama dengan tamu lain, kursi yang sama dengan saya. Sekalipun hotel menyiapkan booster seat / high chair, Sa mau dan bisa dan nyampe mulutnya untuk duduk di kursi umum dan makan sendiri ( tanpa disuapin) dan makannya HABIS. Dan bagi teman travel dimanapun berada, biasakan untuk bersikap bijak dalam makan, baik itu makan di rumah ataupun di luar rumah ( hotel, resto, warung pinggir jalan, warung pecel lele dsb) terlebih jika menu prasmanan gini, sebetulnya menurut saya pribadi kelebihan menu prasmanan adalah kita bisa ambil sesuai yang kita mau dan sebanyak yang kita kuat, bukan sebanyak yang kita mau yah.. Karena itu adalah dua hal yang sangat berbeda. mengambil makanan sebanyak yang kita mau, jika gak habis, jatuhnya mubazir dan please deh, sekalipun duit mu banyak dan saldo ATM mu engga habis-habis, tapi ingatlah BUANG MAKANAN itu DOSA!! Dan ingatlah, untuk ambil makanan seperlunya, sambil mengingat saudara-saudara kita di belahan bumi lain mungkin sedang kelaparan dan kehausan.. dan jika makan per porsi, dan sisa, bungkuslah sisa makanmu, jika mungkin minta kemasan pembungkus yang reusable, bukan disposable.



XX

TRAVELORO