Showing posts with label #TRAVEL. Show all posts
Showing posts with label #TRAVEL. Show all posts

Saturday, February 5, 2022

ngopi di : D'John cafe & resto -- Gresik


Singkat cerita, pekerjaan broker yang secara tidak sengaja saya geluti post laidoff dari pekerjaan sebelumnya, membuat saya lebih sering dijalan daripada dirumah, dan beberapa Minggu terakhir, fokus pekerjaan saya, berada di seputaran Kedamean- Gresik. Dan karena seringnya bolak balik kesana, saya jadi penasaran mengexplore warung kopi / café local yang ada disekitar, dan saya cukup penasaran dengan satu cafe yang adanya di garasi --- teras & halaman rumah, dengan nama D'john. 

Seperti biasa, sebelum saya kesana.. saya bertanya ke orang lokal tentang tempat ini. Dan juga cek review nya di google maps, tapi biasanya saya lebih sering pakai feeling sih.. hehe.. hidung saya mencium aroma nyaman di café ini, dan plus nya pemandangan yang terkesan ‘ngopi di teras rumah nenek’ menjadi kenyataan. Setelah beberapa kali bolak balik ‘hanya lewat’ café ini, siang itu, dengan niat bulat, sehabis mampir ke lokasi properti yang akan di listing, kami kemudian secara sadar dan sengaja mampir ngopi disini.


First impression ku begitu masuk ke dalam café nya adalah nyaman, udara Gresik yang panas ( entah karena bersebelahan dengan lautan, atau juga karena Gresik memang dikelilingi pabrik-pabrik) tidak mengurangi rasa itu! Walaupun di meja sekitar kasir, hanya ada kipas, dan udara panas yang sumuk (gerah – bikin keringat berdatangan) tapi ya nyaman! Kafe ini kebetulan adalah juga rumah tinggal si empunya café. Karena namanya DJohn, saya menyimpulkan kalau owner café ini adalah pak John (atau anggap aja begitu ya.. hehehe)

monkey langsung ketemu tempat nyaman (dan juga teman baru).

Terdapat 2 vibes dalam satu café dan menurut saya itu smart sekali. Vibes pertama area semi formal, dengan meja – kursi  ‘template’ café. Vibes kedua area non formal, dimana ada rerumputan, semak semak hijau, bebatuan yang sedikit berlumut, ayunan super nyaman bergantung di dekat pohon manga, dan juga ada kolam ikan yang menghidupkan area santai ini.  Lagi-lagi saya merasa betulan berada di teras rumah nenek, karena lokasinya persis di jalan besar, kiri-kanan rumah tapi rasa-rasa angin desa ada banget disini.. dan memang karena lokasinya sendiri merupakan halaman rumah pak John, dan sebagian juga adalah garasi nya. Karyawan disini, tidak banyak, tidak seperti coffee shop yang lain. DJohn ini dikelola oleh keluarga pak John, sewaktu saya order, pas pertama datang, anak perempuannya yang menerima order, dan juga yang mengantarkan makanan/ lite bite pesanan kami. Untuk kopi sebagian diantar langsung oleh pak John. Dan saat membayar sebelum pulang, yang ada di meja kasir adalah ibunya (istri pak John). Saya jujur senang sekali ketemu kafe yang dikelola keluarga, seperti cerminan ‘support system’ yang baik, yang memang seharusnya terjadi disetiap keluarga, yaitu support each other. Dari situ juga, saya tahu bahwa pak john adalah pencinta kopi sejati,dan beliau sangat beruntung karena selain support dari keluarga, beliau-pun sudah menjalani profesi idaman setiap orang, yaitu menjadikan hobinya sebagai pekerjaan (yang menghasilkan uang & cuan).

Buku menunya, bukanlah buku menu yang disainnya ajaib, hanya buku menu sederhana, dan informative, kadang kala, sering juga orang suka ngopi tapi tidak tahu apa yang mereka minum, nah.. di menu nya Djohn, hal itu nggak akan terjadi. Karena setiap minuman, dijelaskan campurannya. Jadi untuk yang pertama kali coba cappucinno akan tahu, apa saja yang ingredients nya.. bagaimana rasanya. 




Dan kaget seketika melihat harganya yang sangat murah. Untuk sebagian orang, mungkin langsung pesan (hanya karena harganya murah). Untuk saya, karena memang dari awal (berminggu-minggu sebelum akhirnya mampir) yang membuat saya kesini adalah rasa penasaran saya, terhadap rasa kopinya, dan setelah datang semakin kuat bahwa feeling saya benar, saya yakin, kopi yang dijual ini bukanlah kopi kemasan melainkan kopi artisan. Saya lihat pak John sendiri yang membuat semua orderan kopinya.


Diuntungkan oleh harga kopi yang murah itu, saya memutuskan membeli beberapa kopi, tidak ada salahnya mencoba kopi yang iced, dan hot. Untuk yang hot, saya pilih manual brew dengan French press. Dan gila-nya French press disini jarnya besar, jadi cukup untuk 2 porsi (2 orang) 2 gelas kopi hitam pahit. Lucunya, saat saya  memesan wine kopi, pak John memanggil saya dan menanyakan, seperti nggak yakin kalau lidah saya kuat menghadapi ‘wine coffee’ racikannya. Karena pertimbangan itu, akhirnya saya cancel pesanan kopi dan menggantinya dengan jenis kopi lain ( Argopuro dan bukan yang wine coffee).

drench in cafeine

Later on, Pak John datang menghampiri meja, tempat saya duduk. Dan membawa 2 gelas FREE wine coffee (yang tadi mau saya pesan namun saya batalkan atas anjuran pak Jhon). Tidak tanggung-tanggung 2 gelas. saya sendiri, saat itu sedang menyesap kopi hitam saya, yang baru saja saya tuang dari French press-nya.  Sebuah ironi macam apa ini, siang hingga sore itu, mulut saya sudah mencicipi 4 gelas kopi hitam (panas), dan 2 gelas kopi dingin. Setelah mencoba semua manual black coffee ( juga wine coffee nya) pilihan saya jatuh kepada kopi (yang di french press) karena si wine kopi ini kebetulan sangat manis untuk lidah ‘kopi hitam apa adanya’ versi saya. Lewat pak Djohn saya jadi paham kalau kopi manual brew (wine) biasanya diminum bersama dengan hisapan cerutu, maka dari itu dibuat manis, untuk menutupi ‘beratnya’ cerutu tersebut. No worries saya tetap menghabiskan semua kopi dengan tak bersisa.

Pengalaman ngopi di DJohn sepertinya akan membawa saya, membawa kami kesini lagi. Saya sangat berharap semakin banyak warung kopi/ café /coffeeshop yang berkonsep jelas dan nyaman dibuat berlama lama entah itu untuk nugas, ketemu klien/ kolega, quality time sama seluruh anggota keluarga, atau bahkan reuni sekolah sekalipun. Oh ya Selain kopi, saya juga berhasil menjejal perut saya dengan cwie mie, sempol ayam pesanan si monkey, tahu dan juga air mineral untuk sedikit menetralisir kafein ditubuh saya. Sebanyak itu menu yang saya pesan, saya hanya membayar selembar uang merah dan masih kembali. Sungguh sangat murah. 

Dan satu lagi keunikan dari DJohn adalah kenyataan bahwa menu termahal adalah wine kopi, bukan makanannya, padahal disini banyak sekali menu makanannya, tapi ajaibnya harganya dibawah rata-rata harga makanan di café atau di warung makan sekalipun. Betulan sangat murah sekali, dengan ragam menu yang menggugah selera dan hemat di kantong. 






enjoy your weekend. 


xoxo

Monk&Mnkey

Tuesday, March 16, 2021

my covid story -MONK

 

3 times a DAY. befriended with them for week


Cerita ini ditulis saat setelah saya sembuh dari COVID. Tidak pernah sedikitpun terbesit akan positif sekalipun tubuh saya ‘bilang’ –take me to the ER right now!!—selama beberapa hari saya abaikan perasaan itu. Saat ini saya sedang sibuk-sibuknnya mengurus revisi Tesis karena deadline (yang sudah diundur) sungguh semakin dekat, saya harus mengejar tanda tangan approval revisi dosen pembimbing, saat itu juga ada beberapa aktivitas pekerjaan yang saya lakukan dalam saat yang bersamaan, disaat yang sama pula, ada satu manusia yang mengusik inner peace saya, dan saya yakin, itulah yang membuat saya jadi positif.

Sabtu pagi, saya terbangun kaget karena telpon dari teman kuliah saya, mengingatkan bahwa kami ada acara sumpah profesi & pengarahan wisuda online lewat zoom meeting. Tidak ada yang berbeda, namun saya rasanya mau tumbang karena flu berat. Tentulah flu itu membuat saya kehilangan indra penciuman saya, yang kemudian saya ketahui bahwa itu adalah anosmia, satu gejala positif covid yang paling umum. Pagi itu masih mengikuti zoom dengan baik sampai selesai, lalu berhasil sarapan bubur, bubur yang biasa rasanya gurih, pagi itu harus extra effort agar bisa habis, padahal 1 porsi sudah dibagi dua dengan Sa, anak saya.

sister sent me this

Sorenya saya motoran berdua Sa untuk mengecek proyek pekerjaan yang saya handle, entah kenapa beberapa detik saya silap dan literally BLANK, saya limbung dan BRUK!! Kami berdua jatuh dari motor, badan saya sendiri tertimpa motor dan secara beruntung Sa tidak lecet sedikitpun, hanya shock luar biasa (ini pengalaman pertamanya jatuh dari motor), saya seperti kehilangan keseimbangan saat itu, betul betul seperti linglung, later I know, itu juga merupakan ‘kode’ dari tubuh saya bahwa saya butuh periksa, tapi saya abaikan, saya hanya setuju untuk booking massage karena luka saya yang lumayan parah dan kaki saya juga lumayan bengkak. Minggu saya full dirumah menunggu tukang pijit datang dan memberikan saya petuah soal ‘firasat alam & semesta’ yang sepertinya sedang saya abaikan.

fatique & headache @Uni

Senin nya, saya masih memaksakan diri untuk pergi ke Kampus mengambil toga dan kelengkapan wisuda lainnya. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, adalah cobaan tersendiri untuk saya saat itu, mual pusing seperti vertigo.. keringat dingin dan perasaan gugup… kopi yang saya minum sudah tidak lagi ada rasanya sama sekali. Selasa pagi kami ke IGD untuk tes antigen, hasil keluar dan saya dinyatakan positif covid sementara Sa negative, berbagai opsi sudah saya berikan untuk sa; tinggal di rumah tetangga sementara saya isolasi mandiri, tinggal di rumah beberapa saudara saya yang memang tinggal di Surabaya,, kemudian adik saya pun menawarkan diri untuk menjaga Sa selama saya isolasi 14 hari. Tawaran itu yang akhirnya di terima Sa. Sementara saya lanjut laporkan ke kelurahan dan puskesmas setempat, adik saya terbang dari Jakarta ke soetha sore hari. Itupun saya yang mengantar Sa sampai bertemu Bulik (ibu cilik) nya. Mereka kemudian bermalam di hotel dekat bandara Djuanda untuk kemudian morning flight pada hari berikutnya.



Hari –hari menjalani isolasi sendirian sungguh sangat berat untuk saya yang terbiasa 5tahun ini bersama sama terus dengan Sa. Waktu tidur saya berantakan, makan sekalipun selera makan tinggi, tetap saja semua makanan bahkan yang biasa saya tahu rasanya enak sekali, tidak ada rasanya. Dari rumah sakit saya mendapatkan 6 obat berbeda yang harus diminum, dan bila habis hanya perlu menunggu sampai beberapa hari untuk selanjutnya tes PCR. Setiap hari saya hanya dirumah, order makanan online dan memaksa untuk tidur ( saya mengalami kesulitan tidur karena jauh dari belahan jiwa). Kami sering ber-video call dan tidak jarang dia menangis, membuat hati saya tambah hancur. Saya sedih karena menginginkan dia ada disisi saya setiap saat, tapi saya juga tahu tidak mungkin karena terpisah sementara adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa yang saya minum selain rutin minum obat resep dokter : susu beruang, asap cair, vitamin C, vitamin D, Kalsium. Itu saja sampai bosan. Lebih banyak berbaring karena berdiri sebentar membuat saya pusing mual, sayapun ada merasakan diare, sekalipun tidak parah. Segala pujian untuk Netflix dan Mola TV yang bisa ditonton kapan saja dimana saja. Rasa bosan hilang seketika. { video source netflix : Grey's Anatomy ---loving the quote 'we teach best what we most need to learn' }

Tibalah hari yang ditunggu, sebetulnya peraturan pemerintah sudah tidak lagi mewajibkan pasien positif untuk tes PCR. Dan kalau boleh jujur saya pun tidak mau tes PCR karena cukup pricey, 1.000k waktu itu *nangissss. Tapi saya butuh itu untuk terbang menjemput Sa di Bandara Soetha. Setelah hasil tesnya keluar saya dibantu teman untuk arrange flight ke Jakarta. Flight paling pagi saya pilih agar cukup waktu untuk tiba dirumah lagi (Surabaya) pada siang / sore hari. Sampai di Soetha, saya harus naik bis lagi untuk pindah terminal, karena citilink terbang di terminal 3, sementara Batavia tadi turun di terminal 2. Disitu saya hampir panic karena flight kami jam 9 pagi sementara bis trans terminal hanya muncul 30 menit sekali. Tiba bis shuttle saya langsung naik, walaupun harus berdiri selama perjalanan saya sanggupi karena rasa rindu dan juga rasa takut ketinggalan pesawat J

Tidak lama tiba di terminal 3, saya langsung bertemu Sa. Saya ingat betul dia berlari menghampiri saya, memeluk saya dengan begitu erat sambil berbisik ‘ ibu……. Aku kangen sekali sama ibu….’ Dengan manjanya.. saya ingin menangis, tapi airmata tidak keluar,, mungkin karena hari itu saya belum minum airputih sama sekali.. (hanya kopi dan greentea) atau karena perasaan bahagia saya lebih banyak daripada perasaan haru saya.

Untuk semua orang yang sedang berjuang melawan covid, semangat ya!!! Matahari akan terus bersinar, dan kita akan kembali sehat dan lebih sehat lagi



 

Xoxo

---monk

Sunday, October 18, 2020

ONE CALL AWAY: AIRTERJUN/ COBAN

Punya gak satu orang ‘one call away’ yang secara harafiah akan hadir atau ada saat kita butuhkan. Well, my –one call away—kali ini membuat ku bisa mengunjungi air terjun di Pacet – Jawa Timur dan di Malang - Jawa Timur.

-          Air terjun Coban Canggu (Padusan - Pacet)

Ini adalah air terjun yang pertama kali traveloro kunjungi di Jawa Timur, dan kesininya juga engga sengaja.. huehehehhe.. kesini karena, disetirin my one call away, seorang teman yang baik dan ngerti saya banget, walaupun dia sendiri juga sibuk, dan bolak balik terima telpon disepanjang jalan. 9 oktober 2020 dipagi hari, saya berangkat ke Kampus, setelah sebelumnya mengantar Sa ke Nanny nya… merapikan beberapa pages tulisan dalam proposal Tesis ku, Perjalanan kali ini memang bukan yang di rencana-in banget, semuanya serba dadakan dan to be clear berangkat pagi dari Nginden (Surabaya) ke Air terjun (Pacet) dan kembali ke Kampus lagi Cuma butuh waktu 5 jam. Itu juga sudah bengong half meditation di air terjun nya kurleb 45menit, cepet ya…. Hebat sih karena kawan ini terbiasa nyetir Sby – Pacet, sudah hapal lalu lintas nya, juga medan jalan yang harus dilalui, atau sebaliknya, dihindari.

Coban Canggu sendiri, menurutku hampir seperti air terjun yang tidak terjamah, too bad… padahal betul betul indah disini… air yang dingin, khas pegunungan, trek jalan yang masih manusiawi dan sedikit menegangkan serta air terjun tinggi nan indah diakhir trek itu seperti sebuah kesulitan yang diakhiri keindahan. Cerah lagi deh otak kalau gini ceritanya. To be honest, aku pengin banget kesini lagi tapi perlu cari tebengan karena trek jalan pakai mobil ataupun motor sangat bikin jantung sehat, buat yang jantungnya kuat aja lah.. aku mah pasti motoran kesini juga bakalan melorot sih motornya ditengah tengah tanjakan, ,heheheh no kidding..

selain indah, airnya pun MENYEGARKAN

Setelah parkir mobil, dan membayar (karena ditodong mas mas parkir –local people) kami langsung jalan sendiri sendiri (karena kita berdua lagi mumet masalah kuliah dan kerjaan masing masing) menuju air terjun, ada beberapa signboard untuk memudahkan perjalanan (supaya gak kesasar dan arah jalannya jelas). Diawal ada batu undakan mirip tangga (ya emang tangga sih..) karena trek pertama sedikit menurun, dan bebelok kemudian sedikit menanjak dan diakhiri dengan langkah besar diantara batu besar yang dialiri air bening nan segar, ingin rasanya lepas sepatu,. Tapi takut batunya cukup licin, kemungkinan terpeleset pun tinggi.. akhirnya bersepatulah sampai diakhir trek dan percikan air terjun setinggi itu memberi kesegaran di sekitarku. Tidak bicara, aku hanya terdiam, duduk, semi meditasi dihadapan air terjun ini, ah indah sekali.

segelintir manusia yang hadir membersamai alam

Aku yakin, perjalanan dadakan ini merupakan rencana semesta. Disana pun ada beberapa manusia yang juga sedang menyatukan hati dengan alam, bedanya, mereka besama pasangan masing masing, ada yang saling berfoto, makan siang, ada juga yang mandi half naked *tutup mata, tenang, di Indonesia, laki-laki topless di airterjun adalah pemandangan yang biasa saja, dan nggak tabu ya... ) kalau aku… aku hanya membawa otakku yang penuh dan pelan-pelan melepas penuh ini bersama hembusan nafas dan mampu menghirup kesegaran yang kemudian melegakan kepalaku. Bimbingan tesis, im ready!  


-          Air terjun coban Talun ( Kaki Gn Arjuno - Batu)

Tidak berselang beberapa hari kemudian, 12 Oktober 2020 tepatnya, sahabat bucuk ku datang berkunjung ke Surabaya dan menyodorkan itinerary 3 hari full jalan jalan Pasuruan – Malang – Surabaya, yang mau gak mau saya IYA kan karena dia sedang patah hati, dan bukan patah hati biasa, karena dia gagal menikah (untuk ke dua kalinya)! mirisnya, untuk Sa, this is her first time lihat air terjun, dan dia sangat bahagia.. jadi ku pikir it’s a WIN WIN, pertama karena Sa suka, dan kedua karena air terjun Coban Talun ini ada di list itinerary beliau.  kalau ke Coban Canggu tadi adalah one call away-nya aku, maka sebaliknya, aku adalah one call away-nya si sahabat bucuk ini. sebut saja Gadiz.

le toilet, that surprisingly work

Bertolak dari Surabaya pagi hari,, dan bahkan sempat mampir di rest area untuk mampir ke Starbucks agar perjalanan pagi ini bersemangat dan tanpa ngantuk. Perlu digaris bawahi bahwa jalan tol Surabaya – Malang (jalan tol baru) cenderung sepi dipagi hari terlebih kami berangkat di hari Senin, dimana biasanya, kendaraan dari arah Malang yang memadati ruas jalan tol arah ke Surabaya.

Mungkin karena covid-19, setibanya kami disana (setelah nyasar kira-kira 12 KM---fyuuuuuuuh) tempatnya sepi sekali. Hanya ada 2 mobil lain yang sedang terparkir. Tempat wisata dan para penjual makanan pun terlihat tidak beraktivitas. Oh ya.. saya pribadi, lebih suka ke pantai daripada perbukitan atau pegunungan gini sih.. karena dinginnya itu… bikin mager (malas gerak).

IG stories Sahabat bucuk

Untuk saya yang belum lama ini pergi ke Coban Canggu dengan trek yang ‘mudah aja’ saya yakin betul Coban Talun pun demikian, tapi siapa sangka trek nya  lebih –SANGAT –AMAT –MENANTANG – SEKALI, trek yang benar benar membuat saya kehabisan nafas. Padahal pas awal jalan, dengan sombongnya saya bertanya, kenapa ya sampai ada pak ojek disini, (kebetulan bolak balik sliweran menawarkan jasa sampai ke Coban-nya), padahal trek nya OK lho (masih sombong), walaupun mulai selembar selembar nafasnya… sempat juga numpang buang air di toilet darurat (biasanya cuaca dingin emang mempengaruhi sistem ekskresi kita) yang dilihat lihat, aesthetic sekali. Sa juga kebetulan mau jalan didepanku, mendahuluiku, dan tidak mau digendong (*emang anak pengertian). Setelah berdoa berdoa sepanjang jalan dan wondering dalam hati ‘kapan ye sampainya… kok gak sampai sampai… ‘ hari ini jujur step di fitbitku hitting 10k lebih. Karena trek jalannya itu beneran menantang dan melelahkan kalau dihitung mungkin mencapai 1,5mile pulang pergi. Sepanjang trek yang naik turun itu, kami ketemu binatang unik khas pegunungan dan beberapa monkey (monkey beneran) yang sliweran aja seolah mendampingi kita dan memaksa kita selalu berjaga-jaga sepanjang perjalanan.

Setelah kaki lelah dan mulai malas melangkah, terdengarlah suara air memecah telinga ku.. tanda bahwa air terjun sudah didepan mata, muncul lagi semangat itu..dan.. jika kemarin saat ke Coban Canggu otakku sedang penuh, kali ini ke Coban Talun, hatiku sedang tidak baik-baik saja, sebabnya.. kemarin sore Hp ku pecah, hp merah yang sudah menemani ku selama 2tahun, dan pecahnya pun, pas selesai bimbingan pengajuan judul untuk kemudian seminar proposal Tesis, dan lanjut malamnya bertukar pesan dengan professor pembimbing mengenai kelengkapan sem-pro. Dan semua itu ku lakukan via whatapps web di laptop (*cry).

Mata kemudian tertuju pada warung dekat air terjun, tidak aesthetic tapi aku lapar, setelah puas memandangi air terjun nan indah, ku dan Sa melangkah ke warung untuk makan indomie telur dan ngopi gooday freeze sambil menunggu sahabat bucuk selesai ngonten (biasalah anak jaksel ketemu airterjun, sampai mau bikin hashtag #WorkFromWaterFall). Selesai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan, trek yang sama…… untuk kembali ke parkiran dan, apa yang terjadi baru ¼ perjalanan dan aku give up.. makan indomie kuah dan minum kopi lalu naik trek tanjakan terjal adalah kombinasi yang sangat failed. Akhirnya, ku dan Sa duduk di bale-bale kayu (yang most likely tempat biasa pak ojek mengangkut penumpang) dan menyetop begitu pak ojek tiba, aku dan Sa kemudian naik ojek. Alam memang selalu punya cara untuk membuat manusia tetap rendah hati. Dan sesalku kemudian, naik ojeknya ternyata cepat sekali sampainya, dan ternyata ku dan Sa sudah berjalan 3/4 itupun aku tidak menyesal sekalipun ongkos ojeknya tidak di korting (padahal udah ditawar and minta harga mahasiswa J)

Diantar kedua air terjun itu, kedua duanya mempunyai makna tersendiri buat kami. Dan kami menunggu kesempatan untuk bisa mengunjungi Air Terjun lain di Jawa Timur, karena banyak sekali air terjun di Jawa Timur, dan 2 air terjun ini hanyalah permulaan buat kami berdua.

 

Cheers

Traveloro

Friday, July 31, 2020

ke Malang lagi...

PEEK - A - booo


 Sejak COVID-19 merebak di Indonesia, khususnya di Surabaya, banyak rencana kami yang persiapkan gak bisa kelakon sama sekali bahkan batal (***nangis di pojokan) lha terus nya, segala aktivitas kami yang cukup boring (na-ni-nu.. disini disitu....) bener - bener bikin saya meniatkan hati dan menyiapkan waktu buat ber-libur-- sebentar saja ke MALANG!!! Kenapa Malang?? karena sangat dekat dengan Surabaya, kemudian (gak butuh rapid test karna via darat) kebetulan beberapa bulan belakang saya terlibat satu penelitian dengan teman & 2 dosen di sekolah, dan kebetulan lagi judul tesis saya 2x ganti (makin mumet kan,, jadi otak ini ngajakinnya liburan melulu...)

gunung Arjuno-Penanggungan-Welirang

Kita prepare sih gak seberapa banyak.. tapi udah lebih siap daripada trip ke Malang tahun lalu (gak bakal salah bawa jaket, gak bakal lupa bawa toiletries, extra selimut buat Sa.. cemilan buat diperjalanan, dan kaus kaki extra + masker berlebih buat cadangan aja) we stayed at the very same hotel (eh hostel sih) dan dapet discount COVID yang lumayan.. dan karena sudah tahu service nya Helios Hotel/Kampung Tourist Hostel, ku jadi yakin untuk stay a night disini.


Alun-Alun Malang

Yang kusukai dari Malang, adalah, daerah yang tata kota-nya baik, hampir mirip Surabaya soal kebersihannya, dan arus kendaraan yang cukup ramai (hanya ramai, tidak padat), dan makanan yang menggugah selera siapapun, harga juga relatif murah menurutku, yah pas lah dikantong kami.. gak se-mahal di Ubud-Bali (link ke Ubud) yang tax nya aja 21% sendiri (***nangis dipojokan lagi) 


view from the rooftop. 

Sampai di Helios,, kami dapat exact same Gazebo (gazzebo nomor 2) dan percaya ngga sih... sak hostel itu, cuma kami pengunjungnya (iya sesepi itu.. sedih jadinya) biasa yang dormitory room itu pasti penuh keisi sama expat yang mau naik ke Bromo, but pas kami kesana, sama sekali kosong melompong.. tapi salutnya sama penjaga hostel, mereka masih jaga, stand by di meja reception selama waktu jaganya, gak malas-malasan atau menghilang saat dibutuhkan ( kayak siapa tuh yaa.. hehehe) 

Take note aja nih, pas kedua kalinya kami ke Malang, hal-hal yang agak menyebalkan: 

1. jalanan one way jauh.. jauh banget.. sampai muterin-nya sendiri butuh waktu cukup lama. Ini adalah PR yang sama di kota padat : Kota Bandung, Kota Malang, dan beberapa daerah di Bali. ( as i know, daerah lain mungkin juga ada penerapan one way, tapi kami belum pernah kesana jadi tidak seberapa paham)

2. restorannya/warung enak-nya jarang, sampai beberapa kali makan di warung yang sama, karena susah cari makan (atau aku yang ga tau..) coba pakai googlemaps, gak ketemu warung yang dicari, malah nyasar, apakah googlemaps nya yang ngga update atau gimana ya?? dan akhirnya ke resto seafood gitu, ngantri makanannya luamaa juga (memang kondisi saat itu lagi rame, lagi pandemi juga mungkin menjadi sebab banyak warung yang ngga buka, jadi warung yang buka diserbu abis-abisan sama pelancong) sampe kami kelaparan.

KOI POND


3. coffee shop inceran persis diseberang warung, tutupnya cepet amat.. bikin (lagi-lagi gak bisa mampir deh) tapi di Hotel, ada kolam Koi nan megah dan bersih yang bisa dijadikan tempat asyik untuk menyesap kopi hitam pahit yang disediakan hotel saat breakfast. Selain itu, kolam Koi pun bisa dinikmati dari lantai atas, dari balkon kamar hotel, buat kami yang stay di hostel ya harus turun ke lantai dasar, karena pemiliknya dengan baik hati mengijinkan monkey untuk memberi makan ikan koi pas sarapan. seru sekali!!!

4. MCd Sarinah nya kurang OK pelayanannya. cuma pesan take away apple pie 1 biji, 20 menit belum kelar.. bikin saya telat balik ke Surabaya... 


dan good things nya:

1. kami bisa strolling di Taman yang indah. banyak burung semi-liar (burung liar yang dipelihara dan dibuatkan rumah, rumahnya tersebar di sekitar taman) not sure itu burung tekukur atau merpati atau keduanya.tapi sungguhan, itu tamannya jadi indah sekali, mirip di eropa gitu... bawa jagung kering aja udah jadi primadona, buat para burung antre mendekat.. hehehe

2. ada toko kopi (kopi bubuk dan biji kopi) di pasar dekat hotel, suka banget.. jualannya kopi asli, bukan kopi sobek. 

3. Pemandangan sepanjang jalan (baik jalan pulang ataupun perginya...) selalu indah disuguhi pemandangan gunung (Arjuno, Welirang, Penanggungan) bila cuaca serah.. kelihatan juga gunung Semeru. 


xx
monk&monkey


Thursday, October 3, 2019

crossing Java Island : Bali




Sempat dibilang jahat karena tidak ajak Sa ke Jakarta untuk nyekar 8th-an mamake..  Padahal sebenarnya sebulan jauh sebelum itu saya sudah mengantongi IJIN day-off selama 3 hari dari boss saya (maacie ya bossque yang cantik dan baik hati). Tentu saja boss saya bolak-balik nanya.. emang kamu mau kemana sih.. lama-lama gitu,,? tentu aja saya bilang "mau ke Bali, ajak anak saya bu.." dan beliaupun akhire bilang "ya udah kamu pergilah.. tapi syarat dan ketentuan berlaku ya, kamis harus masuk.. kan kamu bisa pergi dari hari Minggu (whaaaaaat Minggu kan aku masih kudu sekolah dulu, ada kelas dari pagi..--- eh tapi jujur itu yang terusnya menumbuhkan ide saya untuk ngambil flight ke BALI hari Minggu di jam sore) dan untuk penerbangan pulang, saya extend sehari, karena pindah dari Ubud ke Seminyak, cause im desperately need to REST and RELAX 


Kenapa UBUD?? jawabannya simple, karena saya belum pernah.. Sa juga pasti senang senang aja selama itu ada saya.. dan tentu saja sedikit sogokan berupa susu dan candy... flight kami berjalan mulus tanpa turbulence, kayaknya cuma 35menitan deh,, dan di Ngurah Rai, kami tenang karena sudah minta airport pickup sama owner Villa kami di Ubud 


Sampai Ubud tengah malam disambut guyuran hujan, adem banget.. meni Sa tidur dari pas dijalan ya,, dan Villa nya itu ada di tengah sawah (Dalam arti yang sebenarnya), jadi sambil gendong dimalam gelap dan hujan, bener-bener pengalaman yang tidak terlupakan, tau kan persawahaan itu jalannya cuma setapak dan sliperry juga,, untung aja bisa menjaga keseimbangan badan, karena salah langkah kami bakalan nyusruk ke Sawah..




Sampai dan diberi sedikit room tour sama Bli owner.. dan dia juga tanya mau sarapan jam berapa, dan info menu sarapannya juga.. dan kami tidur terlelap di empuknya kasur dan dinginnya udara UBUD. sempet kecewa pas tahu kalau kamar kami, gak ada Aircon, tapi begitu lepas sepatu, dan bertelanjang kaki, baru deh tahu dinginnya lantai. Sempat Bli tanya besok mau kemana, saya jawab mau istirahat aja di Villa.. 



Bangun pagi setelah sarapan omellete (isi bayam dan tomat cincang) singkat cerita, Bli tidak punya gayung untuk mandi (sa gak suka mandi pakai shower) sebagai gantinya, Bli bilang bahwa 2 menit jalan lurus kebawah, ada air terjun mini dan mata air alami yang biasa dicari orang seperti holly water dan kita beruntung bahwa area itu masih punya nya Bli, jadi sekalipun lumayan jauh dari Villa, air terjun dan mata air ini private, dan Sa bisa mandi disana. lalu coba turun kebawah, masih persawahan sih.. tapi berundak dan yang cukup PR adalah gimana caranya ajak Sa turun dengan digendong, kondisi tanah basah dan lumut juga berat badan Sa yang lumayan dengan panjang badan yang udah gak bisa dilipat macam bayi dulu... tapi bisa sih dengan sedikit usaha dan banyak keringat (hueheheh...) terus dia mandi deh dengan asyiknya dipancuran itu.. niat awal mau istirahat dan sepeda-an (macem Julia Robert di film Eat, Pray, Love gitu kan ya,, ) taunya apa coba....siangan dikit, karena laper, kami minta di drop ke Ubud Center.... ciye.. terus makan siang di salah satu warung.. yang menunya enak-enak (tapi juga) mahal-mahal.. dan strolling around Pasar Seni Ubud, karena Sa insist beli sandal buat mba nya dirumah setelah dapet ya senyum aja dengan muka cemong penuh gellato yang lagi dia makan..  malamnya untuk dinner kita pesan di Villa dan dibuatkan Veggie Curry oleh istrinya Bli, rasanya TDF sekalipun later i got diare karena si kuah nan inak itu berbahan dasar santan



Pagi-pagi ada yang komplain gak mau mandi kalau gak ke pancuran air lagi... dan emang jadwal kita hari ini cukup padat. Goa Gajah - Tirta Gangga - mampir pantai sepanjang karangasem (kalau sempat) DAN kelakon juga semua itu.. first stop kita Kimia Farma, disitu saya beli obat untuk mengatasi diare dan kami ke Goa Gajah setelahnya. disitu, rasa magis kental terasa menghampiri raga, ada semacam aura yang membuat saya merasa tempat ini sakral sekali.. saya sempat goosebump saat masuk ke salah satu goa yang ada benda peninggalan dewa dewa,, ditempat ini juga ada tulisan yang intinya, kalau perempuan dengan kondisi lagi period, gak diperbolehkan masuk ke areal yang sudah dibatasi,, berani melanggar ya tanggung sendiri akibatnya yah.. untunglah pas kemarin kesana, aku gak lagi period, bisa explore lebih dan berkeringat secukupnya.. 



right before the big fish come out and kiss her 

Tirta gangga adalah lain hal,, dan disini saya bahkan sempat berenang bersama ikan-ikan didalam kolam pancur.. gak terbayangkan tapi terjadi juga sih.. ternyata saya cukup berani berbusana renang dan dilihatin banyak mata.. sempat lama di sini, Sa bahkan mengalami adegan cukup membuat jantungnya berdegup keras sampai dia tersungkur dan menangis.. saat dia kasih makan ikan, dan salah satu ikan besarnya loncat dari permukaan air, nyaris mencium pipinya (mirip adegan dolphin kiss penunjung seaworld di film-film). Juga karena disini cukup lama, kami memutuskan makan di kafe tirta gangga, pajaknya 21% dan saya inget nominalnya Rp.51.000 wagelaseeh.. bangkrut kakk!!! perjalanan Pulang kami sempat mampir ke 2 lokasi lain, masih di seputaran wilayah karangasem, Bali. dan sempat juga lho lewatin Padang Bai, wah........ pikiran langsung melayang,,,,,,, seandainya dulu saya ambil sekolah diving di Padang Bai yah.. saya pasti gak bakalan sekolah di Surabaya, apalagi dapet kerjaan yang bisa mengantarkan traveloro ke Bali-Ubud-Seminyak (terimakasih Tuhan eniwey sepanjang jalan pergi-pulang pas lewat perbukitan kita melihat kawanan monyet dikiri-kanan jalan... Sa jerit jerit dan semangat banget lihatnya, this is her first time lihat Monyet.. 


say hello to the Villa @Ubud

hari ketiga, kami sempat keteteran packing dan lost track time... karena Bli yang bakalan antar kami ke Seminyak mengalami kendala di kendaraannya, sehingga jam cek out jadi keteteran lebih dari 2 jam.. ditunggu-tunggu bli gak kunjung datang, saya sampai bolak balik mandi-berjemur-mandi-berjemur, untuk bilas tanning oil yang saya apply selama berjemur... dan tibalah di Seminyak dengan waktu perjalanan 2 jam, lumayan padat jalanan Ubud - Seminyak. Nginap di Bali Reski Hotel dan puas puasin tanning karena ini adalah matahari terakhir sebelum beraktivitas kembali.. 




Sa keren,, dia mau berenang sendiri, gak mau dipegang atau di jagain....... kita sampai berjam-jam dalam air dan cuma naik untuk makan siang yang kami pesan lewat aplikasi gofood. mulai gelap, kami naik dan bilas.. jalan lah kami ke Krisna. untuk beli Oleh-oleh dan ada niat juga paketin oleh-oleh ke keluarga di Jakarta. di Krisna, kasirnya lucu sih.. terpisah antara kasir kartu dan kasir tunai.. dan karena tunai gak banyak.. saya sampai mengembalikan tas rajut incaran karena males untuk antre panjang di kasir non tunai



untuk menutup malam ini, kita mampir ke Made;s Warung di Seminyak. ah.. rindu.. its been a while since my last visit.. ga berubah.. masih tetap indah.. Sa pesan gelato strawberry dan saya pesan kopi.. keduanya enak..dan tambah enak lagi karena kami menikmatinya sambil melihat penampilan tari Bali.. di panggungnya Warung.. sampai hotel.. Sa tidur.. saya packing dan gak bisa tidur, takut ketinggalan pesawat......



xx
Traveloro














** untuk yang mau ke Ubud, harus nabung lama........ karena pajak restonya 21% ( iyak sebesar itu) *bangkrut in an instant* belum lagi yah.. kemana-mana jauh, harus sewa kendaraan minimal sepeda atau motor. Kita cukup beruntung Bli Santana (villa owner) berikan harga terbaik untuk tour seharian & layanan drop off - Pick up yang luar biasa, bahkan pak Supir nya mau-mauan gendong Sa selama tour ( tour lumayan jauh, mendaki banyak tangga, dan padat [ Gua Gajah - Tirta Gangga - Lunch - Taman Soekasada Ujung - Pantai Wates Yeh Malet] 

Sunday, September 22, 2019

One night in Jakarta






Menghabiskan malam di Jakarta sebetulnya bukan rencana saya ( tiket pesawatnya muahaal bwook!). Tapi, karena itu satu-satunya jalan untuk bisa ketemu mama dan kunjungi makamnya, pun udah hampir setahun gak nyekar, ya aku jalanin dong.. ta lakonono lek orang Suroboyo-an bilang..


It’s a hectic kindda day, karena weekendku biasanya emang diisi dengan sekolah from 9am to 9pm. Lalu Sabtu ini aku harus skip classes karena aku ambil pesawat yang penerbangan 19.10. Mungkin emang sudah diatur sang pencipta, pas banget pak Dosen “ilfil (meminjam ungkapannya beliau sendiri), jadi sekolahnya bubar jam 3 sore. Langsung lanjut ke Juanda.. kayak Cuma 30-45 menit dijalan plus macet ( aku ngga lewat tol karena ya nyantai lah, flight malam dan sudah di check-in kan sama kawan saya ( thanks Ded!!))

Originally tiket pulang saya di jam 11.20 ( CGK – SUB) tapi setelah perbincangan WA dengan saudara (dan berpikir ribuan kali..) akhirnya saya re-schedule penerbangan Pulang, untung aja pas banget ada rejeki ( soalnya re-shedule kena potong 50% dari harga tiket dan musti order tiket dengan harga yang baru *nangis dipojokan*) sampai Bandara,, banyak hal yang dulunya saya gak notice, TERNYATA di Juanda ini disediakan water dispenser with papercup—so we can drink water free-ly) senang banget, bisa isi ulang terus tumblerku selama nunggu pesawat –yang entah kenapa delay for hours— selain itu ada electrical cord, ini penting ya karena gak semua punya powerbank,kan?


Cerita unik yang bakalan saya inget seumur hidup saya adalah, saat di dalam pesawat dan saya sedang asyik membaca novel nya Sherlock Holmes, flight attendant panggil saya dan Tanya bangku yang saya duduki, saya bilang “ya betul, saya 2F” dan gak lama, datang bapak-bapak dari arah pintu yang meng-claim kalau dia juga berhak atas bangku no 2F. heyyyyyy.. dan tahu gak sih.. tiket si bapak tercetaknya nama saya, kode booking juga kode bookingnya saya.. kemudian bapak tsb bercerita kalau beliau punya kawan protokoler Bandara yang membantu beliau check in, dan memang selalu request no. kursi 2F. pramugari dan petugas terlihat bingung karena si bapak bisa masuk check in dengan nama tiket dan nama di ID Card yang jauh berbeda. FA lain datang dan tanya “ini siapa yang namanya Claudia?” dengan gentle saya jawab “ ya saya dong, mba.. saya kan cewek..” entah polos atau emang lugu ya FA nya bergumam “iya juga sih” dalam hati saya Cuma bilang, cepet kek pesawatnya terbang, saya udah lelah pengin cepet rebahan dan ketemu Kasur, mengingat perjalanan dari Soetha Airport ke rumah kakak, bukanlah jarak dan waktu tempuh yang sebentar..

Setelah kurang lebih 10 menit para FA dan petugas bandara berdebat, akhirnya kami berdua bisa duduk tenang dan pakai seatbelt untuk siap berangkat.. saya sih bilang sama si bapak,, alasan kenapa saya senang dengan kursi 2F adalah karena kaki saya bisa leluasa gak kepentok (Bahasa bagusnya apa ya?) dan saya yakinkan si bapak kalau kita bakalan sering ketemu karena saya juga punya kawan protokoler Bandara yang cukup baik hati men-check-in kan saya di kursi favorit saya 2F.

Karena beli tiket ekonomi dengan harga fair, saya gak dapat bagasi, bawaan juga Cuma ransel isinya buku kuliah dan 2 lembar baju untuk besok.. jadi begitu sampai Soetha saya langsung keluar dan suhu dingin Jakarta menyapa lembut seluruh kulit saya.. saya masih ingat betul bagaimana rasanya dulu tiap kali pulang dari solo travel ( masih belum ada Sasa) jam berapa malam-pun tiba di Soetha, berani aja, lagi tajir naik taksi, lagi miskin naik damri, lagi mujur: dijemput. Tapi malam ini saya merasa kok asing banget ya di Jakarta,,, perut lapar pun ngga kerasa.. di otak saya pengin cepet-cepet sampai rumah kakak, supaya bisa rebahan dan perasaaan ‘asing’ itu segera lenyap. Saya cukup beruntung sepertinya, karena saya dapat taksi online yang mengijinkan saya menyetir mobilnya ( maksudnya sih biar cepat sampai..) tapi di tengah jalan tukeran setir lagi, karena mobilnya sedikit bermasalah.. hehehe… Malam itu saya gak bisa tidur sekalipun dapat Kasur empuk, Aircon yang mumpuni dan selimut super lembut, saya berusaha banget untuk terpejam dan berharap pagi bisa merubah rasa asing itu.. ternyata engga loh,, pagi bangun tidur, saya masih merasa asing.. kepala saya juga berat, kemungkinan besar karena kurang tidur..


Saat sampai di parkiran kompleks pemakaman, kakak dan ipar saya masih asyik mengobrol sambil menunggu yang lain datang, saya memilih untuk duluan ke makam mama dengan berjalan kaki, yah sekalian nambah-nambah step nya smart watch ku huehehehee.. (etapi bener stepku hari ini tuh nyampek 7000-an rasanya,,,,)


Selesai nyekar ke mama dan baba’s kami semua pulang untuk sama sama lunch di rumah induk. Menu sederhana yang semuanya terasa bertambah-tambah enaknya karena selain dinikmati bersama-sama, menu ini juga mengandung kenangan bersama mama dalam setiap suapnya.. I love you ma.. tidak lupa juga saya memesan kopi kesayangan saya *Kula Kopi* via aplikasi gofoooooo* bahagianya lidah dan hati saya.. 



Emang kalo lagi ngumpul tu waktu rasanya cepet banget, tau tau udah jam 2 dan saya harus buru-buru ke Airport agar gak ketinggalan pesawat.. bersyukur ada yang berbaik hati mau anter ke aiport dengan kondisi jalan tol bandara siang itu terbilang Ramai-Lancar. Btw saking takutnya telat, saya sampai gunain fitur web checkin yang disediakan maskapai, bersyukur juga dapat tempat di wing 17F jadi kaki saya lega selama penerbangan.



saya percaya tiap penerbangan itu, beda-beda ceritanya. Penerbangan saya siang ini, terbilang lancar, ontime tanpa delay tapi nih,. Tapi… saat di udara pesawatnya turbulence juga bikin deg deg ser.. syukur aja bisa tidur walau cuma sebentar.. nah karena di Juanda gak bisa masuk taksi Online, saya nekad naik damri. Pengin coba-coba, tarifnya reasonable 25k, dan saya turun di ‘gudang garam’ lalu lanjut perjalanan menggunakan taksi online. Sampai dirumah, dapat peluk hangat dari Sasa,, what a weekend..

Xx
Traveloro