3 times a DAY. befriended with them for week |
Cerita ini
ditulis saat setelah saya sembuh dari COVID. Tidak pernah sedikitpun terbesit
akan positif sekalipun tubuh saya ‘bilang’ –take me to the ER right
now!!—selama beberapa hari saya abaikan perasaan itu. Saat ini saya sedang
sibuk-sibuknnya mengurus revisi Tesis karena deadline (yang sudah diundur)
sungguh semakin dekat, saya harus mengejar tanda tangan approval revisi dosen
pembimbing, saat itu juga ada beberapa aktivitas pekerjaan yang saya lakukan
dalam saat yang bersamaan, disaat yang sama pula, ada satu manusia yang
mengusik inner peace saya, dan saya yakin, itulah yang membuat saya jadi
positif.
Sabtu pagi, saya
terbangun kaget karena telpon dari teman kuliah saya, mengingatkan bahwa kami
ada acara sumpah profesi & pengarahan wisuda online lewat zoom meeting.
Tidak ada yang berbeda, namun saya rasanya mau tumbang karena flu berat.
Tentulah flu itu membuat saya kehilangan indra penciuman saya, yang kemudian
saya ketahui bahwa itu adalah anosmia, satu gejala positif covid yang paling
umum. Pagi itu masih mengikuti zoom dengan baik sampai selesai, lalu berhasil
sarapan bubur, bubur yang biasa rasanya gurih, pagi itu harus extra effort agar
bisa habis, padahal 1 porsi sudah dibagi dua dengan Sa, anak saya.
sister sent me this |
Sorenya saya
motoran berdua Sa untuk mengecek proyek pekerjaan yang saya handle, entah
kenapa beberapa detik saya silap dan literally BLANK, saya limbung dan BRUK!!
Kami berdua jatuh dari motor, badan saya sendiri tertimpa motor dan secara
beruntung Sa tidak lecet sedikitpun, hanya shock luar biasa (ini pengalaman
pertamanya jatuh dari motor), saya seperti kehilangan keseimbangan saat itu,
betul betul seperti linglung, later I know, itu juga merupakan ‘kode’ dari
tubuh saya bahwa saya butuh periksa, tapi saya abaikan, saya hanya setuju untuk
booking massage karena luka saya yang lumayan parah dan kaki saya juga lumayan
bengkak. Minggu saya full dirumah menunggu tukang pijit datang dan memberikan
saya petuah soal ‘firasat alam & semesta’ yang sepertinya sedang saya
abaikan.
fatique & headache @Uni |
Senin nya, saya
masih memaksakan diri untuk pergi ke Kampus mengambil toga dan kelengkapan
wisuda lainnya. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, adalah cobaan
tersendiri untuk saya saat itu, mual pusing seperti vertigo.. keringat dingin
dan perasaan gugup… kopi yang saya minum sudah tidak lagi ada rasanya sama
sekali. Selasa pagi kami ke IGD untuk tes antigen, hasil keluar dan saya
dinyatakan positif covid sementara Sa negative, berbagai opsi sudah saya
berikan untuk sa; tinggal di rumah tetangga sementara saya isolasi mandiri,
tinggal di rumah beberapa saudara saya yang memang tinggal di Surabaya,,
kemudian adik saya pun menawarkan diri untuk menjaga Sa selama saya isolasi 14
hari. Tawaran itu yang akhirnya di terima Sa. Sementara saya lanjut laporkan ke
kelurahan dan puskesmas setempat, adik saya terbang dari Jakarta ke soetha sore
hari. Itupun saya yang mengantar Sa sampai bertemu Bulik (ibu cilik) nya.
Mereka kemudian bermalam di hotel dekat bandara Djuanda untuk kemudian morning
flight pada hari berikutnya.
Hari –hari
menjalani isolasi sendirian sungguh sangat berat untuk saya yang terbiasa
5tahun ini bersama sama terus dengan Sa. Waktu tidur saya berantakan, makan
sekalipun selera makan tinggi, tetap saja semua makanan bahkan yang biasa saya
tahu rasanya enak sekali, tidak ada rasanya. Dari rumah sakit saya mendapatkan
6 obat berbeda yang harus diminum, dan bila habis hanya perlu menunggu sampai
beberapa hari untuk selanjutnya tes PCR. Setiap hari saya hanya dirumah, order
makanan online dan memaksa untuk tidur ( saya mengalami kesulitan tidur karena
jauh dari belahan jiwa). Kami sering ber-video call dan tidak jarang dia
menangis, membuat hati saya tambah hancur. Saya sedih karena menginginkan dia
ada disisi saya setiap saat, tapi saya juga tahu tidak mungkin karena terpisah
sementara adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa yang saya minum selain
rutin minum obat resep dokter : susu beruang, asap cair, vitamin C, vitamin D,
Kalsium. Itu saja sampai bosan. Lebih banyak berbaring karena berdiri sebentar
membuat saya pusing mual, sayapun ada merasakan diare, sekalipun tidak parah.
Segala pujian untuk Netflix dan Mola TV yang bisa ditonton kapan saja dimana
saja. Rasa bosan hilang seketika. { video source netflix : Grey's Anatomy ---loving the quote 'we teach best what we most need to learn' }
Tibalah hari
yang ditunggu, sebetulnya peraturan pemerintah sudah tidak lagi mewajibkan
pasien positif untuk tes PCR. Dan kalau boleh jujur saya pun tidak mau tes PCR
karena cukup pricey, 1.000k waktu itu *nangissss. Tapi saya butuh itu untuk
terbang menjemput Sa di Bandara Soetha. Setelah hasil tesnya keluar saya dibantu
teman untuk arrange flight ke Jakarta. Flight paling pagi saya pilih agar cukup
waktu untuk tiba dirumah lagi (Surabaya) pada siang / sore hari. Sampai di
Soetha, saya harus naik bis lagi untuk pindah terminal, karena citilink terbang
di terminal 3, sementara Batavia tadi turun di terminal 2. Disitu saya hampir
panic karena flight kami jam 9 pagi sementara bis trans terminal hanya muncul
30 menit sekali. Tiba bis shuttle saya langsung naik, walaupun harus berdiri
selama perjalanan saya sanggupi karena rasa rindu dan juga rasa takut
ketinggalan pesawat J
Tidak lama tiba di terminal 3, saya langsung bertemu Sa. Saya ingat betul dia berlari menghampiri saya, memeluk saya dengan begitu erat sambil berbisik ‘ ibu……. Aku kangen sekali sama ibu….’ Dengan manjanya.. saya ingin menangis, tapi airmata tidak keluar,, mungkin karena hari itu saya belum minum airputih sama sekali.. (hanya kopi dan greentea) atau karena perasaan bahagia saya lebih banyak daripada perasaan haru saya.
Untuk semua
orang yang sedang berjuang melawan covid, semangat ya!!! Matahari akan terus
bersinar, dan kita akan kembali sehat dan lebih sehat lagi
Xoxo
---monk