Tuesday, March 16, 2021

my covid story -MONK

 

3 times a DAY. befriended with them for week


Cerita ini ditulis saat setelah saya sembuh dari COVID. Tidak pernah sedikitpun terbesit akan positif sekalipun tubuh saya ‘bilang’ –take me to the ER right now!!—selama beberapa hari saya abaikan perasaan itu. Saat ini saya sedang sibuk-sibuknnya mengurus revisi Tesis karena deadline (yang sudah diundur) sungguh semakin dekat, saya harus mengejar tanda tangan approval revisi dosen pembimbing, saat itu juga ada beberapa aktivitas pekerjaan yang saya lakukan dalam saat yang bersamaan, disaat yang sama pula, ada satu manusia yang mengusik inner peace saya, dan saya yakin, itulah yang membuat saya jadi positif.

Sabtu pagi, saya terbangun kaget karena telpon dari teman kuliah saya, mengingatkan bahwa kami ada acara sumpah profesi & pengarahan wisuda online lewat zoom meeting. Tidak ada yang berbeda, namun saya rasanya mau tumbang karena flu berat. Tentulah flu itu membuat saya kehilangan indra penciuman saya, yang kemudian saya ketahui bahwa itu adalah anosmia, satu gejala positif covid yang paling umum. Pagi itu masih mengikuti zoom dengan baik sampai selesai, lalu berhasil sarapan bubur, bubur yang biasa rasanya gurih, pagi itu harus extra effort agar bisa habis, padahal 1 porsi sudah dibagi dua dengan Sa, anak saya.

sister sent me this

Sorenya saya motoran berdua Sa untuk mengecek proyek pekerjaan yang saya handle, entah kenapa beberapa detik saya silap dan literally BLANK, saya limbung dan BRUK!! Kami berdua jatuh dari motor, badan saya sendiri tertimpa motor dan secara beruntung Sa tidak lecet sedikitpun, hanya shock luar biasa (ini pengalaman pertamanya jatuh dari motor), saya seperti kehilangan keseimbangan saat itu, betul betul seperti linglung, later I know, itu juga merupakan ‘kode’ dari tubuh saya bahwa saya butuh periksa, tapi saya abaikan, saya hanya setuju untuk booking massage karena luka saya yang lumayan parah dan kaki saya juga lumayan bengkak. Minggu saya full dirumah menunggu tukang pijit datang dan memberikan saya petuah soal ‘firasat alam & semesta’ yang sepertinya sedang saya abaikan.

fatique & headache @Uni

Senin nya, saya masih memaksakan diri untuk pergi ke Kampus mengambil toga dan kelengkapan wisuda lainnya. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, adalah cobaan tersendiri untuk saya saat itu, mual pusing seperti vertigo.. keringat dingin dan perasaan gugup… kopi yang saya minum sudah tidak lagi ada rasanya sama sekali. Selasa pagi kami ke IGD untuk tes antigen, hasil keluar dan saya dinyatakan positif covid sementara Sa negative, berbagai opsi sudah saya berikan untuk sa; tinggal di rumah tetangga sementara saya isolasi mandiri, tinggal di rumah beberapa saudara saya yang memang tinggal di Surabaya,, kemudian adik saya pun menawarkan diri untuk menjaga Sa selama saya isolasi 14 hari. Tawaran itu yang akhirnya di terima Sa. Sementara saya lanjut laporkan ke kelurahan dan puskesmas setempat, adik saya terbang dari Jakarta ke soetha sore hari. Itupun saya yang mengantar Sa sampai bertemu Bulik (ibu cilik) nya. Mereka kemudian bermalam di hotel dekat bandara Djuanda untuk kemudian morning flight pada hari berikutnya.



Hari –hari menjalani isolasi sendirian sungguh sangat berat untuk saya yang terbiasa 5tahun ini bersama sama terus dengan Sa. Waktu tidur saya berantakan, makan sekalipun selera makan tinggi, tetap saja semua makanan bahkan yang biasa saya tahu rasanya enak sekali, tidak ada rasanya. Dari rumah sakit saya mendapatkan 6 obat berbeda yang harus diminum, dan bila habis hanya perlu menunggu sampai beberapa hari untuk selanjutnya tes PCR. Setiap hari saya hanya dirumah, order makanan online dan memaksa untuk tidur ( saya mengalami kesulitan tidur karena jauh dari belahan jiwa). Kami sering ber-video call dan tidak jarang dia menangis, membuat hati saya tambah hancur. Saya sedih karena menginginkan dia ada disisi saya setiap saat, tapi saya juga tahu tidak mungkin karena terpisah sementara adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa yang saya minum selain rutin minum obat resep dokter : susu beruang, asap cair, vitamin C, vitamin D, Kalsium. Itu saja sampai bosan. Lebih banyak berbaring karena berdiri sebentar membuat saya pusing mual, sayapun ada merasakan diare, sekalipun tidak parah. Segala pujian untuk Netflix dan Mola TV yang bisa ditonton kapan saja dimana saja. Rasa bosan hilang seketika. { video source netflix : Grey's Anatomy ---loving the quote 'we teach best what we most need to learn' }

Tibalah hari yang ditunggu, sebetulnya peraturan pemerintah sudah tidak lagi mewajibkan pasien positif untuk tes PCR. Dan kalau boleh jujur saya pun tidak mau tes PCR karena cukup pricey, 1.000k waktu itu *nangissss. Tapi saya butuh itu untuk terbang menjemput Sa di Bandara Soetha. Setelah hasil tesnya keluar saya dibantu teman untuk arrange flight ke Jakarta. Flight paling pagi saya pilih agar cukup waktu untuk tiba dirumah lagi (Surabaya) pada siang / sore hari. Sampai di Soetha, saya harus naik bis lagi untuk pindah terminal, karena citilink terbang di terminal 3, sementara Batavia tadi turun di terminal 2. Disitu saya hampir panic karena flight kami jam 9 pagi sementara bis trans terminal hanya muncul 30 menit sekali. Tiba bis shuttle saya langsung naik, walaupun harus berdiri selama perjalanan saya sanggupi karena rasa rindu dan juga rasa takut ketinggalan pesawat J

Tidak lama tiba di terminal 3, saya langsung bertemu Sa. Saya ingat betul dia berlari menghampiri saya, memeluk saya dengan begitu erat sambil berbisik ‘ ibu……. Aku kangen sekali sama ibu….’ Dengan manjanya.. saya ingin menangis, tapi airmata tidak keluar,, mungkin karena hari itu saya belum minum airputih sama sekali.. (hanya kopi dan greentea) atau karena perasaan bahagia saya lebih banyak daripada perasaan haru saya.

Untuk semua orang yang sedang berjuang melawan covid, semangat ya!!! Matahari akan terus bersinar, dan kita akan kembali sehat dan lebih sehat lagi



 

Xoxo

---monk