Showing posts with label traveloro. Show all posts
Showing posts with label traveloro. Show all posts

Tuesday, December 28, 2021

review hotel : The Studio Seminyak - Bali

 

the lovely POOL 

Pandemi memang merubah banyak hal dalam hidup, termasuk ‘budaya’ traveling-nya anak Milenial. Tidak, saya gak akan ngaku-ngaku jadi anak milenial (sekalipun usia saya masih termasuk didalam golongan anak-anak Milenial), karena pola pikir, cara berpakaian dan lagu kesukaan masih suka-suka saya, saya tidak suka yang template, saya gak suka dijuluki anak senja, dan saya menolak disamakan dengan orang-orang yang suka musik jazz karena zaman. Anak muda… saya sudah suka jazz saat manusia bumi menggilai POP/ R N B.

Baik, back to topic. Masih dalam rangka bday celebration #sederhanadanmembumi Tahun ini, begitu ajaib nya satu mimpi untuk kembali ke Bali, rasanya bisa terwujud. This time, kita akan berbosan-bosan di Seminyak, tepatnya di The Studio Seminyak. Pertama kali yang saya lakukan setelah membayar tiket citilink kami, adalah melihat lihat available room di tanggal ulangtahun saya. Karena sebegitu niatnya, ada beberapa apps yang saya download hari itu; traveloka, tiket.com, booking.com, trip, membandingkan rate & availability dari apps satu ke apps lain, dan begitu masuk ke pembayaran, tidak ada satupun apps yang support pembayaran dengan debit card, (atau mungkin bisa.. tapi card debit saya masih yang jadul dan tidak berlogo Visa –waktu itu dengan alasan murah biaya admin, jadi tidak mau yang berlogo vis*--), merasa kesal, saya lalu iseng menelepon beberapa hotel yang menarik perhatian saya. Fokus utama saya adalah kenyamanan karena mengajak anak dan menginap adalah hal yang cukup tricky untuk saya.

The Studio lewat apps, dan juga hasil googling, memiliki kamar dengan luas 50sqm alias 50 meter persegiiiiii.. iyak gak salah baca.. beneran 50sqm dan itu seluas rumah-rumah milenial,, bahkan lebih luas.. sekarang rumah-rumah dipasaran mungkin hanya seluas 20sqm, 33 sqm, 36sqm, dan bahkan apartment studio atau 1 BR sekalipun, sepertinya jarang ada yang seluas itu. Bersyukur rate-nya hanya 200k/ night, kebayang kan 4 hari di kamar luas dan dikasih rate super ciamik.. berasa dikasih kado aja terus menerus oleh semesta. Setelah menelepon saya semakin yakin untuk booking, memang ada beberapa tipe kamar, ada yang 1 villa juga, dengan interior yang lumayan manjain mata, dan super nyaman. Tetapi, karena budget sangat minim, saya akhirnya setuju untuk booking superior suit room, via telepon, dan hanya perlu mentransfer ke rekening owner, dan juga menulis (via text) apa apa saja special request (mis: tambah bantal, ganti handuk 2x sehari, no smoking room atau malah smoking room) saya cukup kaget dengan kenyataan bahwa booking price  via aplikasi dan via telepon akan lebih murah bila booking via telepon, saya anggap itu sebagai hadiah, karena saya BUKAN PEMAKAI/ PENGGUNA KARTU KREDIT.

Bli hotel juga bilang, mereka ada jasa airport pick up ( mereka bisa arrange airport pickup bilamana tamu mau dijemput dari bandara Ngurahrai –tentu dengan harga terpisah dari harga room). Yang setelah saya pikir-pikir, seminyak cukup dekat dari ngurah rai, harusnya saya bisa manage untuk pergi sendiri ke hotel, tapi akhirnya pun,, saya booking airport pick up di Bli yang menyewakan Skuter untuk kami, katanya sih best price, jadi saya percaya saja. hotel check, airport pick up check, rent bike check. Selanjutnya saya hanya perlu menunggu beberapa bulan lain dengan sabar hati, saya merahasiakan trip Bali ini dari monkey, untuk menjaga kelancaran belajar di sekolah dan ritme les renangnya.

Hari yang ditunggu tiba, penerbangan yang smooth, landing yang super smooth, sampai penjemputan oleh Bli rent bike pun tepat waktu membuat saya sangat bahagia. Sampai di hotel dan check in, saya kembali di kagetkan karena satu hotel ini hanya kami yang menginap!! Wohoooo.. tamu lain memilih budget Villa yang letaknya 20 meter ke Utara, alias beda gedung. The Studio sebetulnya terletak diperbatasan seminyak, dan saya beruntung The Studio lokasinya benar benar berada di luar hiruk pikuk semaraknya Seminyak, masuk gang, 1 mobil, posisi di ujung gang buntu, sangat amat menjadikan The Studio tempat nyaman untuk tidur tanpa banyak basa basi. Sebab lokasi yang cukup ‘masuk gang’ dengan row jalan kemungkinan hanya 3,5 – 4 meter, Hotel ini hanya menyediakan parkiran motor, syukurlah kami memang menyewa motor (gak ada uang juga untuk sewa mobil). Sebetulnya bisa juga parkir mobil di tanah kosong dekat hotel, tapi tetap saja menurutku, lebih enak sewa motor, lebih hemat dan kita kan Cuma pergi berdua, saya juga sudah mengantongi SIM A dan C, jadi tetap aman selalu.

Sewaktu check in, saya dipermudah karena sudah confirm terlebih dahulu waktu kedatangan saya dengan meberikan tiket pesawat kami. Kamar sudah disiapkan, lokasinya dilantai 2. Sejujurnya saya sangat mencintai Bali, dan segala hal tentangnya. Mendaki tangga sambil membawa koper ditangan satu, dan memegang tangan anak balita ditangan yang lain adalah hal lain. Perlu effort dan nafas yang panjang. Kamar kami diujung, dan yah.. sedikit PR untuk bolak-balik ke bawah (karena kolam ada dilantai 1).  Tiap kali naik atau turun tangga, rasanya bobot badan saya  berkurang 0.50 gram.

Sampai di kamar setelah naik tangga, rasanya seperti dapat jackpot! 50sqm didepan mata, masuk kamar langsung ketemu lorong, ada 3 ruangan terpisah, kamar tidur dengan 2 pintu ( 1 pintu menuju ke lorong, 1 pintu lagi menuju langsung ke kamar mandi), kamar mandi dengan 2 pintu (1 pintu direct ke bedroom, 1 pintu lagi menuju lorong dan ruang tamu/ruang tv). Ruang tamu sendiri sangat lega dan interiornya tidak sia-sia, cukup fungsional dan nyaman. Terdapat lukisan Buddha berukuran besar menempel didinding. TV dan meja TV, meja & sofa L, meja makan dan kursi makan. Tempat sampah dan aircon. Whouuw 50sqm dan dibawah sejuta, kayanya Cuma the Studio yang punya.. diruang tamu juga ada pintu dan jendela kaca (all wooden & glass) menuju ke balcony. Pemandangan sunset & sunrise dari balcony cukup memuaskan.

Kamar 50 meter persegi adalah alasan ku memilih The Studio. Dan harga juga sangat terjangkau bahkan menurutku murah. Gimana enggak?? 200ribu, bisa santai rebahan sambil nonton di ruang TV, bisa memandangi langit di balkon, bisa berendam di bathtub-nya, bisa juga nyantai di kamar, semuanya masih satu interior yang sama tapi beda-beda kesan. Bahkan ada meja makan dan kursi makan di pojok dinding dekat meja TV. Betulan toughful deh arsitek dan ownernya. Betul-betul memikirkan tamunya. Oh dan selain luas kamar dan rate, ku pilih The Studio karena tempatnya yang cukup ‘terasing’ dari hiruk pikuk Seminyak tapi masih di perbatasan Seminyak dan itu membuat kami tetap bisa skuteran kepantai Kuta – Legian – seminyak dengan leluasa, one way tidak ada artinya karena jarak hotel ke destinasi yang ada di list kami dekat-dekat saja.

Di Bali artinya harus percaya perbuatan baik ataupun buruk akan ada buahnya, LANGSUNG. Atau paling tidak itulah yang saya percayai, perdana sewa motor dan motor-nya pun yang mahal (sebetulnya sengaja karena mimpi someday punya vespa, tapi karena belum ada rejekinnya, akhirnnya sewa dulu) takut pas tiba-tiba lagi di parkir, motornya hilang, musti ganti rugi pakai uang apa.. syukurlah terjadi hanya yang baik baik saja.. walaupun sempat lupa kunci bagasi motor dan terparkir semalaman, tapi barang-barangku di bagasi termasuk STNK motornya, masih duduk cantik, aman, nggak hilang. Haa.. jadi rindu Bali, lagi.

Hal – hal unik yang ku perhatikan:

n  Hotel ini bukan hotel baru, begitupun arsitekturnya, interiornya dan exteriornya. Tapi saya suka, terlebih perpaduan elemen kayu dan kaca pada setiap pintu (pintu kamar, pintu kamar tidur ke kamar mandi, jendela kamar ke balkon). Dan kuncinya pun kunci jadul dan cukup berat. Saya selalu menitipkan kunci hotel di reception, kalau-kalau saya lupa atau kuncinya yang menghilang dari tas saya. Bisa saja.

n  Entah kenapa, tanaman di balcony kamarku sama sekali tidak ada, hanya pot berisikan tanah kering. Too bad, saya padahal suka yang hijau-hijau..

there's fridge under the wash basin. its magic

n  Masih di kamar, semuanya Nampak sempurna, bahkan untuk hotel bintang 3 dengan rate 200k, mendapatkan kamar mandi dengan bathtub adalah sebuah keniscayaan, tapi disini, setiap kamar memang dilengkapi dengan bathtub, dan huge wash basin dengan kaca yang juga super huge, too bad, ngga ada hairdryer (tenang, saya bawa hairdryer dan catokan juga) padahal kiri kanan kaca washbasin ada terminal electric (colokan), kalau mereka provide hairdryer pasti lebih ok. Sempat mikir, pasti nggak ada kulkas lah… ternyata pas buka wash basin didepan kamar mandi, ada kulkas tersembunyi dengan cantiknya dilemari bawah wash basin. TAKJUB. Titik.


n  Bed, idk badan ku yang terlalu hulk apa gimana, setiap pindah posisi tidur pasti papan divan akan berbunyi ‘kreeeek’ takut sewaktu waktu papannya patah, dan kasur kami amblas ke lantai **untung aja nggak terjadi**

n  Cupboard nya HULK sekali! Ini tuh ya.. baju, kulkas 2 pintu, anak & cucu masuk semua deh saking huge nya lemari. Memang, the studio adalah pilihan stay orang-orang yang menjalani WFB *Work from Bali* atau memang sedang dinas pekerjaan di Bali, mereka juga menyediakan rate special untuk yang tinggal bulanan (seperti indekos gitu modelannya). Jadi jangan heran sama lemari yang guedheeeeee banget itu yaa…

n  Kolam renang tidak besar, tapi cukup untuk alternative kegiatan keluarga. Monkey sangat senang berenang disini, sekalipun berjarak 1 meter dari kolam renang, ada aliran kali yang suaranya cukup bising, no problem, saya suka sama arsitekturnya, seriusan… cukup sulit disain kolam dengan kontur tanah dan posisi tanah yang sebelahan dengan Kali, karena rawan sekali longsor, dan arsitek the studio bisa mendisain dengan baik.

n  Tidak ada breakfast, I specifically asking them lewat aplikasi traveloka, dan no.. mereka memang tidak menyediakan breakfast, 200k for room only. but they provide plate & cutlery so we can always take away or cook something.

n  Canang everywhere. Saya tahu canang memang bagian dari tradisi, tapi saya sedikit takut karena posisi nya dekat saya parkir motor, saya cukup khawatir motor sewaan akan secara tidak sengaja menyentuh canang. Dan juga canang yang ada di ujung tangga (bagian atas), kadang saya takut terinjak oleh kaki saya atau kaki anak saya. Huffttt… disini bener bener menjaga dan melihat betul-betul jalan yang akan kita lewati.

n  Dimalam hari, akan ada saat dimana reception pergi untuk membeli makan / hal lain, sehingga Bli nya tidak stand by, tapi mereka cukup bertanggung jawab dengan memberikan tulisan dan juga mencantumkan nomor hp mereka yang terhubung dengan aplikasi perpesanan, sehingga kita pun tetap bisa menyampaikan request atau pertanyaan kepada bli yang jaga.

n  Hotelnya sangat sunyi. Sangat ‘nggak seminyak banget!’ tapi justru saya sukakk.. kenapa? Karena dekat dengan warung banyuwangi yang bisa di gofood / dine in, masakannya enak-enak, juga nasi tempong bu Devie yang sambelnya juara! Dekat dengan lokasi makanan dan pusat hiburan (kafe, coffeeshop, bar, etc), lokasinya yang memang di gang, perumahan, bukan di lokasi seminyak yang sibuk, betulan bisa buat tempat persemedian juga (I call it –little ubud—) mungkin hanya sesekali terdengar suara anjing menggonggong.

BIG SPIDER in the bathroom. FYI, theyre nice

Secara keseluruhan HOTEL ini memenuhi segala keinginan, kalau biasa cari hotel murah-murah aja yang penting ada tempat buat tidur (karena bakalan kelayapan ALL DAY), artinya lagi nggak perlu space kamar yang luas. Nah The Studio ini berbeda, kamu mau satu minggu semedi didalam kamar hotel pun pasti nyaman karena spacious room yang ditawarkan. Mau nonton TV sampai bosan, ada ruang tamu.. memandangi kehidupan, bisa duduk terbengong dibalcony nya.. mau tidur seharian hayuuk pindah ke kamar.. atau mau bermain air dengan sedikit privacy ada bathtub dikamar mandi.. makan bisa gofood/ sejenisnya karena di dalam juga ada meja makan- kulkas, piring, gelas minum, gelas kopi bahkan wash bashin untuk cuci cuci berserta kelengkapannya. 

Friday, October 1, 2021

Khayal jadi nyata ( part II)

Setelah 2020 selama 6 bulan Sa les piano (dan kebetulan dapat guru muda, yang membuat banyak kekecewaan) selesai semester 1 di les ini, Sa gak melanjutkan.  Tahun 2021 kita membuat perbedaan, kali ini ke arah yang juga positif dan banyak manfaat. Oktober mulainya, Sa setuju untuk ikut les renang yang bukan Cuma membuatnya berani sama air dalam jumlah banyak, tapi juga jadi mahir berenang sampai hari ini, masih lanjut.

Teringat saya, beberapa tahun silam, Sa usia 2th yang sangat amat takut air. Setiap paginya, saat mandi untuk berangkat ke pre-schoolnya dia akan mimisan dalam jumlah banyak, kadang.. sejak itu, menurutku jadi trigger yang membuat dia malas mandi pagi, saya paham dan ngerti betul rasanya, jadi saya coba pahami. Saya juga sudah berkonsultasi dengan dr THT untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter bilang, tidak apa, nanti bertambah usia akan semakin membaik dan berkurang intensitas mimisan & volume darahnya.

bila ditarik sedikit lebih ke belakang, Ya, Sa bayi pun sebenarnya paling anti bila kepalanya terkena air sedikit saja... jadi harus extra kuat kuping ini, mendengar suara tangisan dan teriakan, saat mandiin dan ingin shampoo-in dia. Setiap kali itu menjadi sulit, selalu datang Budhe-nyayang selalu jadi pilihan untuk memandikan dia. Iya! dia pilih sendiri siapa yang mau mandikan dia. 

fast forward ke waktu dimana kami sudah meninggalkan Jakarta, segala sesuatu berubah kearah kebaikan dan Sa seolah menjadi fearless baby of all time. Dia berani naik speedboad,  berani naik becak (traditional transportration), mau hujan-hujanan atau motor-an panas panasan, semua dia mau, tidak ada keengganan. Berjalan waktu, suatu weekend, siang hari, saya iseng pergi ke kolam, awalnya, Sa hanya main di kolam anak dengan kedalaman 50cm, yang mudah banget buat dia (gak akan kelelep), ternyata dia yang senang making friends kemudian melihaat teman teman kolamnya sebagian besar Les Berenang, dan membuatnya tertarik untuk ikutan ‘nyemplung’ ke kolam dalam 1,6m. minggu berikutnya dan berikutnya lagi,, Sa, saya latih sendiri untuk menggerakan kakinya, dia mulai berani nyebur dengan penjagaan saya, seminggu  kemudian, Sa memulai latihan didalam les renang. Coach nya cukup flexible dengan bilang, tidak usah membayar dulu.. kita lihat mood anaknya saja dulu.. ibarat kata ‘trial class’ gitu lah..

Jalan beberapa kali pertemuan dengan coach ini dan tim nya, Sa mulai nyaman di air, awalnya masih dituntun, dipegangi ujung ke ujung (lebar kolam 15 meter) kemudian dilepas per 5meter bertahap sampai ditunggu ditengah kolam, lanjut ke ujung kolam dengan berenang sendiri. Semua dia lakukan dengan sangat gembira, bagi saya pribadi sangat bahagia rasanya saya bisa menemukan minat, despite ketakutan air dimasa lalunya, Sa  5tahun dan sudah lancar berenang.

Semoga lanjut ke tahap yang lebih pro ya…

 

  

Tuesday, March 16, 2021

my covid story -MONK

 

3 times a DAY. befriended with them for week


Cerita ini ditulis saat setelah saya sembuh dari COVID. Tidak pernah sedikitpun terbesit akan positif sekalipun tubuh saya ‘bilang’ –take me to the ER right now!!—selama beberapa hari saya abaikan perasaan itu. Saat ini saya sedang sibuk-sibuknnya mengurus revisi Tesis karena deadline (yang sudah diundur) sungguh semakin dekat, saya harus mengejar tanda tangan approval revisi dosen pembimbing, saat itu juga ada beberapa aktivitas pekerjaan yang saya lakukan dalam saat yang bersamaan, disaat yang sama pula, ada satu manusia yang mengusik inner peace saya, dan saya yakin, itulah yang membuat saya jadi positif.

Sabtu pagi, saya terbangun kaget karena telpon dari teman kuliah saya, mengingatkan bahwa kami ada acara sumpah profesi & pengarahan wisuda online lewat zoom meeting. Tidak ada yang berbeda, namun saya rasanya mau tumbang karena flu berat. Tentulah flu itu membuat saya kehilangan indra penciuman saya, yang kemudian saya ketahui bahwa itu adalah anosmia, satu gejala positif covid yang paling umum. Pagi itu masih mengikuti zoom dengan baik sampai selesai, lalu berhasil sarapan bubur, bubur yang biasa rasanya gurih, pagi itu harus extra effort agar bisa habis, padahal 1 porsi sudah dibagi dua dengan Sa, anak saya.

sister sent me this

Sorenya saya motoran berdua Sa untuk mengecek proyek pekerjaan yang saya handle, entah kenapa beberapa detik saya silap dan literally BLANK, saya limbung dan BRUK!! Kami berdua jatuh dari motor, badan saya sendiri tertimpa motor dan secara beruntung Sa tidak lecet sedikitpun, hanya shock luar biasa (ini pengalaman pertamanya jatuh dari motor), saya seperti kehilangan keseimbangan saat itu, betul betul seperti linglung, later I know, itu juga merupakan ‘kode’ dari tubuh saya bahwa saya butuh periksa, tapi saya abaikan, saya hanya setuju untuk booking massage karena luka saya yang lumayan parah dan kaki saya juga lumayan bengkak. Minggu saya full dirumah menunggu tukang pijit datang dan memberikan saya petuah soal ‘firasat alam & semesta’ yang sepertinya sedang saya abaikan.

fatique & headache @Uni

Senin nya, saya masih memaksakan diri untuk pergi ke Kampus mengambil toga dan kelengkapan wisuda lainnya. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, adalah cobaan tersendiri untuk saya saat itu, mual pusing seperti vertigo.. keringat dingin dan perasaan gugup… kopi yang saya minum sudah tidak lagi ada rasanya sama sekali. Selasa pagi kami ke IGD untuk tes antigen, hasil keluar dan saya dinyatakan positif covid sementara Sa negative, berbagai opsi sudah saya berikan untuk sa; tinggal di rumah tetangga sementara saya isolasi mandiri, tinggal di rumah beberapa saudara saya yang memang tinggal di Surabaya,, kemudian adik saya pun menawarkan diri untuk menjaga Sa selama saya isolasi 14 hari. Tawaran itu yang akhirnya di terima Sa. Sementara saya lanjut laporkan ke kelurahan dan puskesmas setempat, adik saya terbang dari Jakarta ke soetha sore hari. Itupun saya yang mengantar Sa sampai bertemu Bulik (ibu cilik) nya. Mereka kemudian bermalam di hotel dekat bandara Djuanda untuk kemudian morning flight pada hari berikutnya.



Hari –hari menjalani isolasi sendirian sungguh sangat berat untuk saya yang terbiasa 5tahun ini bersama sama terus dengan Sa. Waktu tidur saya berantakan, makan sekalipun selera makan tinggi, tetap saja semua makanan bahkan yang biasa saya tahu rasanya enak sekali, tidak ada rasanya. Dari rumah sakit saya mendapatkan 6 obat berbeda yang harus diminum, dan bila habis hanya perlu menunggu sampai beberapa hari untuk selanjutnya tes PCR. Setiap hari saya hanya dirumah, order makanan online dan memaksa untuk tidur ( saya mengalami kesulitan tidur karena jauh dari belahan jiwa). Kami sering ber-video call dan tidak jarang dia menangis, membuat hati saya tambah hancur. Saya sedih karena menginginkan dia ada disisi saya setiap saat, tapi saya juga tahu tidak mungkin karena terpisah sementara adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa yang saya minum selain rutin minum obat resep dokter : susu beruang, asap cair, vitamin C, vitamin D, Kalsium. Itu saja sampai bosan. Lebih banyak berbaring karena berdiri sebentar membuat saya pusing mual, sayapun ada merasakan diare, sekalipun tidak parah. Segala pujian untuk Netflix dan Mola TV yang bisa ditonton kapan saja dimana saja. Rasa bosan hilang seketika. { video source netflix : Grey's Anatomy ---loving the quote 'we teach best what we most need to learn' }

Tibalah hari yang ditunggu, sebetulnya peraturan pemerintah sudah tidak lagi mewajibkan pasien positif untuk tes PCR. Dan kalau boleh jujur saya pun tidak mau tes PCR karena cukup pricey, 1.000k waktu itu *nangissss. Tapi saya butuh itu untuk terbang menjemput Sa di Bandara Soetha. Setelah hasil tesnya keluar saya dibantu teman untuk arrange flight ke Jakarta. Flight paling pagi saya pilih agar cukup waktu untuk tiba dirumah lagi (Surabaya) pada siang / sore hari. Sampai di Soetha, saya harus naik bis lagi untuk pindah terminal, karena citilink terbang di terminal 3, sementara Batavia tadi turun di terminal 2. Disitu saya hampir panic karena flight kami jam 9 pagi sementara bis trans terminal hanya muncul 30 menit sekali. Tiba bis shuttle saya langsung naik, walaupun harus berdiri selama perjalanan saya sanggupi karena rasa rindu dan juga rasa takut ketinggalan pesawat J

Tidak lama tiba di terminal 3, saya langsung bertemu Sa. Saya ingat betul dia berlari menghampiri saya, memeluk saya dengan begitu erat sambil berbisik ‘ ibu……. Aku kangen sekali sama ibu….’ Dengan manjanya.. saya ingin menangis, tapi airmata tidak keluar,, mungkin karena hari itu saya belum minum airputih sama sekali.. (hanya kopi dan greentea) atau karena perasaan bahagia saya lebih banyak daripada perasaan haru saya.

Untuk semua orang yang sedang berjuang melawan covid, semangat ya!!! Matahari akan terus bersinar, dan kita akan kembali sehat dan lebih sehat lagi



 

Xoxo

---monk

Thursday, December 5, 2019

a day (actually couple day @ Surakarta) --Solo



after all the hectic & racing heart beat

this is appreciation post  to my self. long story short.. me and some of my class friends at Uni had a chance to go to Surakarta - Solo, as a participant and also a presenter to our 1st international seminar (psychology). the seminar taking place at Solo, Surakarta, about hours to go by BUS, faster if we go by train, and just a half hour from Surabaya if you choose the Plane. 



this day finally came, we are ( me and my friends) so thrill and nervous at the same time to be presenting our article, our research in front of fellow post grad student and some of them are came from the best & reputable Uni around Indonesia, some of them are professor from some countries. 

lovely Grey Backpack

Because i have work, so i choose to go Solo by night bus, after long ride, the bus stop at the rest area or somehow someplace to stretched our leg (literally)  and i didn't take my Monkey with me just because i thought i really need to focus on my presentation, this is my first international presentation ( i need to speak and answer the question in English/ up until today, cant believe that i can do it, i can speak English fluently and confidently. Never cross my mind that the article of copywriter will be the my way to got my first ISSN Proceeding journal. 

Becak (traditional transportation @ Solo)

that night bus drop us to the terminal near Solo Balapan Station and we manage to have online taxi that brought US to UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Seminar day 1, the information from the committee was mix up so we just about to wash our face, some of us were busy manage to bath at Uni's bathroom/rest room, prepare to present our article, not long after the committee says that the presetation for Psychology will be start tomorrow morning. such a HUGE relieve. i still feel this feeling until today. hehe :) 



After the pre-registration for tomorrow presentation, we hurry back to check in to our HOTEL. Solo/Surakarta is a small city, so for us to go from one place to another is easy, near and less traffic. im happy that i got a room for my self. IDK, maybe my uni friends think that im the eldest one (sad but true) so they just give me this huge room for me, while they're share a room for 2. we were booked 5 room in total, 3 for the girls and 2 for the boys. 1 room contain 2 single bed, standard 3 star hotel. we've been staying there for 2 days. 



Choosing Riyadi Palace Hotel is our best decision because the room rate is cheap *yeah.. even with this cheap price i got disappointed over their food that taste so sweetttttt (to my Suroboyoan tongue) i think i will got diabetic if i stayed there for a week *heheh JK.. not that sweet, tho.. but i might say that this kind of food, was not my favorite part of being stayed in Solo < the fact that i didnt bring Monkey with me.. also 1st reason that i DIDNT feel comfortable> but it is just me, who feel that, cause all my friends were good with the food and all, so its all just OK . 

full of rain here, December @ Solo


after the check in, we rest for a while.. we change.. we shower and get dress to finally strolling around Surakarta. first stop was some traditional Mall, that sell BATIK. everything literally batik. you name it, they have it,, all batik stuff and all the batik pattern that you think about, will be there, definitely. we bought SOLO BATIK LINEN for our lecture & the dean. after that we change the destination to some modern MALL, to grab some lunch or early dinner, or both. because at night we all plan to sinau (study--role play presentation) in our room. so if we hungry we better have powerful lunch/ early dinner or just lunch and take away for the dinner later. 



going back to the hotel from the MALL, is indeed easy route. i think i can found the right track if i brought my own bike here. easy route, smooth traffic and rainy, what a compliment.. oh for the powerful lunch i had spicy but overly sweet Pecel Ndeso. but because i didnt know what to eat, and Pecel was the only Vegetarian food i found, so i eat that sweet-spicy pecel. no offense but, i prefer to eat Pecel madiun or nganjuk. that because, i was not a fan of this 'SWEET ALL OVER DISH' -part. 

nice view from the room *where my presentation taking place*

going back to my room, monkey call me, actually her Nanny that been calling me, giving me the update of her. i talk to her for half an hour, precisely she ask me to came back, how pretty her nanny tie her hair, asking my day and did i study well or not, did i actually goes for study or for fun.. shes funny.. as always . i tell her that tomorrow i will be back home, soon after i finished my presentation here at Surakarta, and i promised her i will take the first train to Surabaya. i didnt bought the ticket yet, but im sure i will get the ticker rightaway. after the call, i feel sad, i miss her. so so much that i cant help but looking the picture of her, missing her a lot and i just spent the other hour to watch her video on my phone. i wanted to be with her but i cant. i cant right now because i have this seminar. i cant take her here for the same reason. i need to focus on my seminar, my presentation. 


the D day finally here. i remember i study until 3 AM in the morning and fall asleep later. 5am i wake up by the knock on the door, its my friend asking things, and so i got shower, dry my hair, and go downstairs to have my breakfast. again i hate this sweet friend noodle, fried rice and they even serve sweet pickle, like, can u imagine.. LOL. anyway.. the taxi driver take us to the Uni where the presentation taking place. we got the schedule right away. and so we prepare our presentation and my heart start to racing, my blood drop to the floor i guess. i lost my balance when the committee calling my friends name. the whole class consist of 7-9 presenter, 3 of them was me and my friends from UNTAG Surabaya, other was from the Uni itself & Muhammadiyah Sidoarjo. i might say im, we're lucky that (again im always consider my self as a lucky person inthe universe) after i finish my presentation, we can go out and waiting for our certificate. actually this certificate are the reason we here in the first place, that because oral presentation/ seminar were require to do Thesis (that we can take on 4th semester-- now were on 2nd semester --imagine that) 


be the person you wanted to be. be the one that you will proud of when you looking back. you did good! 

xx,

MONK