Banyak yang
bilang kalau feeling ibu itu selalu nganan.. dalam arti yang lebih sederhana,
perasaan ibu ke anak-anaknya selalu betul, mengapa begitu.. jika dulu saya cuma
bisa bilang, itu kayak berkah ibu, itu adalah paket pemberian Tuhan yang terbungkus bersama bayi. Seperti lampu
yang akan langsung menyala saat di pasang ke listrik. Tapi terus terang,
pemikiran tentang berkah itu bertambah dalam saat saya sendiri di karuniakan
anak bayi ini. Rupanya, alasan mengapa perasaan ibu dan anak begitu terkoneksi
adalah karena sejak awal di ciptakan, si janin sudah berada nyaman di dalam
rahim, jauh sebelum itu pun, saat Tuhan menentukan Janin itu berjenis kelamin
perempuan, sel-sel telur di dalam rahim si Janin sudah ada, dan hingga
dilahirkan sampai usia belasan, sel telur itu dalam posisi ‘sleep mode’ dan
akan aktif saat perempuan mulai mendapatkan first mentruation. Nah, nantinya,
sel telur itu pula lah yang akan berkembang ( jika sudah di buahi ) menjadi
janin hari ke hari ke bulan hingga lahir, dan siklus itu terus berulang. Yang
saya ingin sampaikan adalah bahwa perasaan ibu kepada anak, feeling ibu ke
anak, mengapa selalu ‘nganan’ adalah karena antara bayi dan ibu terkoneksi,
bukan hanya sejak di dalam janin, tapi jauh sebelum itu. jauh sebelum dibuahi,
sejak didalam kandungan, sel telur yang ada sudah bersama sama dengan si ibu,
dan ketika sel telur berubah menjadi kantong rahim, berkembang menjadi janin
dan hingga hari kelahiran dan pertumbuhan bayi setiap harinya. Sel telur yang
ada di rahim selalu menemani ibu, selalu ada saat ibu sedih, saat ibu down,
saat ibu-nya gembira, kelelahan dan hal hal lain yang membuat mereka somehow
magically grow together with this kindda feeling. Ajaib bukan, bagaimana sang
pencipta membuat semua ini sejak awal bumi tercipta? Dan saya boleh jadi satu orang
ibu yang bersyukur sangat dalam karena mengalami feeling kuat, dengan bayi
saya, Sa.
Oh ya, dan
feeling antara ibu dan bayi itu makin terkoneksi saat ibu menyusui anaknya (
baik perempuan ataupun laki-laki), dan bukan berarti ibu yang tidak bisa menyusui
anaknya ( untuk alasan apapun) tidak punya feeling ke anak-anaknya, feeling itu
tumbuh bukan hanya karena ibu menyusui / memberi ASI kepada anak, tapi karena
selama 9 / 10 bulan di rahim, dan jauh sebelum sel telur dibuahi, ibu dan
‘telur’ sudah bersama sama. That’s way mommy always right! Woman always
right!!!
Jauh sebelum Sa
tumbang dan akhirnya di rawat, saya sudah ada feeling yang telah susah payah
saya buang jauh, tapi feeling itu tepat, dan jadi kenyataan. Disinilah saya
semakin yakin bahwa selain feeling ibu, ada juga rencana Tuhan yang terselip
diataranya, dan kita para ibu hanya bisa dan HARUS KUAT menjalaninya. Rencana
Tuhan.
Belakangan, Sa,
makannya berantakan, memang, harus saya akui, riwayat alergi Sa yang panjang
mau tak mau menyebabkan minimnya pasokan protein dan gizi yang masuk ke tubuh
dia. Dan anak ini, suka banget main diluar, dan secara gak sadar, ngorek tanah
lah, atau kadang ngemut hak sepatu tantenya-lah, pernah juga ngemut ban
mobil-mobilan sepupunya yang baru aja kena lantai,, membayangkan kuman-kuman
yang mungkin masuk ke tubuh dia membuat saya pusyingg tapi juga DSA bilang itu
adalah salah satu hal yang membuat anak KUAT, karena sudah bersentuhan langsung
dengan kuman, dan tubuh nya secara otomatis membuat antibody terhadap kuman
tersebut. Singkatnya, Sa dirawat karena GERD. Awalnya 2 hari sebelum itu, saya
masih main ke Mall, ajak Sa Jalan before Xmas mau membuatnya senang, kami gunakan
hari itu untuk nonton film, main robot, mampir ke MINISO untuk beli crayon.
Dan, pas di MINISO, Sa muntah, gak tahu karena apa, tapi feeling saya makin gak
enak sekalipun saya usir usir pikiran negative itu, tetap hati kecil saya
merasa sesuatu yang berat di dada. Pulang ke rumah, hari berlalu, makan masih
susah dan tapi masih ceria.
Tanggal 25 nya,
pagi hari, kami sekeluarga sowan ke makam Eyang & Akung di Cibubur, Sa
muntah lagi, kali ini sampai terlihat sangat lemas.. feeling semakin
menjadi-jadi, pikiran saya kemana-mana, memikirkan kemungkinan dari yang
terselow sampai yang ter-ngegas.. dan semuanya sama-sama menyesakan dada.
Siangnya, masih tanggal
25 Desember, diatara keluarga yang berkumpul di rumah, kondisi dan suasana
Natal yang hangat, saya putuskan bulat tekad ajak Sa ke Rumah Sakit yang
lokasinya sangat dekat dengan Rumah. Sampai di IGD, dan setelah tes darah,
dokter jaga bertanya apakah Sa mau rawat Jalan atau di rawat intensive di Rumah
Sakit. Dokter pun memberi saran jika pun Sa dirawat, sebaiknya di Rumah Sakit
besar yang alatnya lebih lengkap, dokter nya pun lebih banyak, kamarnya lebih
nyaman & besar, terpisah antara pasien biasa & pasien invektus dan bisa
seruangan dengan anak-anak seusia Sa, tapi lokasinya jauh dari rumah. Tanpa
berpikir panjang, Saya langsung memutuskan untuk rawat inap Sa di rumah sakit
ini, gak masalah kamarnya kecil, dan pasien umum, gak semua anak balita, yang
penting dekat rumah jadi gampang dijenguk, gampang bolak balik RS – Rumah tanpa
harus mikir macet dan sebagainya.
Hari pertama,
malam pertama tidur di rumah sakit rasanya hati berat banget, dengan pemandangan
Sa yang lemas, Sa yang gak ceria seperti biasa, pipi yang semakin tirus dan
sesekali muntah atau diare, kelihatan sangat lemas. Dalam satu ruangan, ada 2
pasien lain, satu pasien bayi belum 1tahun usianya, yang sudah ada saat Sa
dirawat dan pasien lain, kakak berusia 13 atau 14tahun yang sakit DBD, tapi
masuk 3 hari setelah Sa dirawat. Hari ini, saya boleh bersyukur Karena adik na
burju mau ikut nginep di rumah sakit, saya cukup kaget dengan kedatangannya
membawa Yoga Matt warna orange kesayangannya serta tas penuh berisi baju saya
dan juga bajunya sendiri. Lega rasanya saat dia bilang akan nginap dan kami
bergantian jaga Sa.
Malam itu, sama
seperti ratusan malam lainnya dimana kafein menjadi teman, tapi malam itu lain,
karena selain menjadi teman, kafein pun membuat rasa nyaman dan saya sangat
berharap kafein memberi dukungan pada mata saya untuk melek lebih lama. Untuk
beberapa orang, kafein membuat susah tidur, karena memacu kerja jantung lebih
cepat memompa darah, dan mana ada sih yang jika deg-deg-an bisa tidur pulas.
Beda dengan saya yang gak pernah mengalami kesulitan itu. kafein dan tidur
adalah dua hal yang bersebrangan dan tidak relevan jika di bandingkan. Saya
bisa ngopi 6 gelas sehari dan tetap tidur pulas, dan apa itu insomnia??
Hari kedua,
tanggal 26 Dan seterusnya sampai tiba saatnya Sa untuk discharge from the
hospital, saya tidur sendiri, jaga sendiri karena adik na burju sudah mulai
kerja.. saat dia menyampaikan hal itu, ada sedikit rasa sedih di hati saya,
dengan satu pikiran, bisakah saya tetap terjaga saat saya benar benar berat
mata, dan kafein tak lagi ada fungsinya di tubuh saya? Saya takut kalau-kalau
saat saya tertidur, Sa tiba-tiba muntah dan amit amit muntahnya menghalangi
airway system dan amit amit lagi, jadi sesak nafas dan lain sebagainya.
Untuknya, sangat bersyukur, suster jaga malam sangat amat baik hati, mereka
semua rela bolak balik meronda kamar dan tiap bilik, memastikan bahwa baik
pasien dan penjaganya dalam keadaan baik, tidak demam, tidak ketiduran atau
hal-hal tak terduga lainnya. Jika saya harus membuat lembar terimakasih ketika
‘lulus’ dari sakit, saat discharge saya pasti akan memberikan ucapan
terimakasih berupa tulisan tangan untuk para suster jaga yang amat berdedikasi
dengan pekerjaannya. Trims banyak yah sus..
Ada banyak orang
yang sebetulnya menguatkan saya tiap detik di rumah sakit hingga Sa boleh lepas
infus dan kembali ke rumah, tepat sebelum tahun baru tiba. Sebut saya dia kak
Awan, yang tiap pagi datang mampir sebelum berangkat kerja, kadang membawa
sarapan buatan minimart, kadang membawa sarapan buatannya sendiri, dan malam
hari kadang datang untuk membawa stok kafein, karena dia tahu saya desperately
need it! The coffee I mean.. hehee para suster sudah jelas, dokter jaga dan DSA
yang pendiam, para penjenguk, para kakak dan ipar saya & keponakan, yang
pagi hari sebelum kerja sempat membawa sandal jepit untuk saya karena saya tak
sempat mengganti alas kaki saat itu saya pakai sepatu running dan ribet dipakai
bolak-balik ke toilet atau ke nurse station. Juga para fans Sa, yang
menyempatkan datang untuk cheer her up. Thank you Guysss…
Dan yang lebih
berat ternyata setelah discharge adalah, prose’s recovery yang butuh waktu
bulanan, dan juga saat transisi dari ASI ke ---HARUS MULAI RUTIN--- SUSU SAPI
yang juga menyedot habis saldo kesabaran sampai minus. But at the end of the
day, Im very thankful that God surrounded us with HIS BLESSING.