Showing posts with label #TRAVELBERDUA. Show all posts
Showing posts with label #TRAVELBERDUA. Show all posts

Thursday, May 5, 2022

Traveloro 1st roadtrip : to JAKARTA



Sudah sejak lama saya, kami, menganggap Surabaya sebagai rumah, tempat kami bertumbuh, saling percaya dan mengembalikan rasa saling menguatkan satu sama lain more and more, jadi konsep keluar dari Jawa Timur, Surabaya khususnya, kami anggap sebagai “pergi” yang mana hal tersebut sifatnya sementara. Monky mungkin belum genap 6tahun usianya, namun kedewasaan dan kemandiriannya, dan pengertiannya terhadap si ibu  ini sangat luar biasa, diapun terbiasa menjadi ‘DO-ERS’, tanpa keluhan sedikitpun. Pada trip kali ini pun, dia mampu jadi kernet along the way pergi & pulang.

Singkat cerita, Lebaran tahun 2022 sangatlah ditunggu semua orang, terlebih ketika larangan untuk mudik sudah dihapuskan (mengingat 2tahun ini mudik dilarang oleh pemerintah due to COVID-19) sebagai gantinya, ada peraturan cukup ketat untuk mereka yang mau mudik ke Jakarta (termasuk kami), dan peraturan road-trip bagi pemudik (diberlakukan system one way arus mudik dan arus balik di ruas jalan tol Jawa) khusus yang mudik dengan kendaraan pribadi (jalur darat), untuk naik kereta, syaratnya harus vaksin 3 kali (termasuk booster) which I just got my 2ndshot late December.


Kesuksesan roadtrip kali inipun, tak lepas dari ke-bulat-tekad-an kami, khususnya si Monky yang terus terusan menyemangati saya, membuat saya semakin percaya diri, bisa dan mampu nyetir jalur darat dari Surabaya ke Jakarta. Juga sekembalinya rute Jakarta – Surabaya di sela sela riuh nya berita jalur one way <bahkan untuk tol> saat arus mudik dan arus balik, salah tanggal kami pergi dan pulang akan membuat kami terjebak dan harus lewat jalur bawah <tanpa tol> yang pasti membuat jarak tempuh lebih lama. Saat ini, hanya mengingat perjalanan pulang, kaki kiri rasanya lelah sekali.  Entah mengapa, sebuah mantra bernama “semangat anak” sepertinya sudah padam saat ini sehingga, hanya dengan membayangkan perjalanan pulang dan mulai macet di Semarang – Mojokerto rasanya huwooowwwh tiada dua.

Malam itu, 26 April 2022 kami sengaja mengisi full bensin, dan juga membeli beberapa makanan untuk di perjalanan. Saya hanya berbekal kopi dan hanya kopi. Malam itu juga, kami memastikan semua barang sudah masuk ke bagasi mobil. Juga beberapa hal lain yang perlu dibawa, bantal. Selimut untuk tidur di Jakarta, jaket dan sandal santai, dan botol air 2 liter-an yang kami isi penuh kedua-duanya. Oh juga satu buah flashdrive terisi lagu jazz, keroncong dan video baby bus untuk Sa. Tidak beberapa lama kami terlelap lebih awal karena paginya harus bangun dini hari.

Jam alarm selular berbunyi, tandanya jam 2.25AM, ku siap siap dan kemudian membangunkan Sa, yang beneran langsung bangun tanpa ritual ‘ngumpulin nyawa’ yang biasanya, memakan waktu 10 menit sendiri. Ajaib emang si monky itu. Pukul 3.30AM kami memulai perjalanan panjang melewati tol Mojokerto. Lancar sekali. Perjalanan pergi kami sangat menyenangkan dan cukup singkat, tapi karena kami lewat tol, ya ada biaya yang sedikit lebih banyak daripada kalau kami naik kereta / pesawat. Fyi, pesawat dan kereta-pun perlu bawa hasil RT PCR both untuk ku &Sa (yang kalau dihitung ya sama aja sih, karena PCR buat 2 orang untuk pergi dan pulang). Tambah lagi tiket kereta, aku nggak dapat yang harga murah (saudara sempat bilang ada kereta tambahan yang mana, tiketnya habis aja gitu, walaupun dijualnya dengan harga yang menurutku nggak murah-murah banget juga sih).

Pergi kali ini, ku hanya berhenti di 2 rest area besar yaitu; Semarang & Cirebon. Disetiap rest area pun sudah ada spanduk ‘maksimal berhenti 30 menit’ yang mungkin buat persiapan arus mudik, karena lonjakan kendaraan, nggak akan cukup untuk rest area kecil, yang tidak ada starbucksnya, hanya ada jalan lebihan untuk mobil parkir, tidak ada tenant F&B nya sama sekali. Oh ya disepanjang jalan juga ada beberapa station semacam drive-thru isi e money, cukup menarik, tapi untuk mempersingkat waktu, aku sudah lebih dulu mengisi e-tol yang cukup sampai tiba kembali ke Surabaya.



Mojokerto – semarang bisa tercapai dalam waktu 3-jam, sementara Cirebon – Jakarta was another story. Aku bahkan sudah mulai misuh begitu memasuki tol cikampek, capek lihat kemacetan, kendaraan yang serobot jalur tanpa tanda, dan suara bising klakson yang mengudara disekitar. Sampai setibanya di Kembangan, kira kira 850meter dari rumah mama, mobil ditabrak motor yang lawan arah dan ngebut. Kita butuh 1 jam dipinggir jalan untuk berdebat sama premotor bodoh yang hampir lepas tanggung jawab dan drama seolah olah kakinya tidak bisa jalan. Semoga mas nya dapat hidayah ya (kamu selamat karena boss mu tanggung jawab). Total perjalanan pergi kita sekitar 10 jam, istirahat kira-kira 1 jam in total, kami tiba di rumah mama sekitar jam 3.30PM.


10 hari di Jakarta, tibalah kami untuk pulang kembali ke Surabaya. Seperti saat berangkat, saat pulang pun kami start jam 3.30AM dari Tangerang. Perjalanan begitu lancar, kami tiba di Cirebon sekitar jam 7.40AM. Itupun, kesal karena starbucks tidak ada di rest area padahal rest areanya besar. Sebagai ganti, saya ketemu coffee shop sederhana yang sudah buka dan kopinya enak, mobicafe namanya. Disitu saya beli longwhite 2 gelas (dan dimasukan kedalam tumbler yang saya bawa) sebagai bekal ngopi, sampai ketemu Starbucks di rest area selanjutnya (rest area Semarang).

Perjalanan dilanjutkan, dan sedikit tersendat mulai dari tol Semarang (*cry), ini memang bukan pertama kalinya saya melewati tol ini, untuk menuju Surabaya atau balik ke Jakarta,tapi ini kali pertama saya nyetir sendiri dari tol Jawa Timur – Jakarta & sebaliknya. Saya merasakan betul ngilunya kaki saya saat jalan menanjak dan curam, sekalipun signboard sudah memberi tahu jalan akan menanjak dan curam, kaki saya tetap saja ngilu, tidak berhenti hati berdoa semua doa  yang saya tahu.. (kira kira begitulah excitement dan nervous selama nyetir di Tol Semarang. Betul betul pengalaman baru di usia 30-an saya. Selepas tol semarang, tibalah macet yang lumayan di tol Jogja, astaga… padahal kami pulang tanggal 5 Mei 2022 dimana diperkirakan saya, jalan tol akan se-lenggang dan se-sepi saat kami berangkat, ternyata, dugaan saya salah. Karena Lebaran ini, banyak juga manusia yang berlibur / sowan ke keluarga di luar kota ( yang dari Jawa Tengah mau ke Jawa Timur), untung aja sempat beli greentea late (free redeem point Starbucks) di rest Area Semarang tadi. Dan sempat selonjoran kaki dengan view gunung dan hawa segar khas pegunungan.




perjalanan pulang kami sedikit lebih lama, nyaris 11 jam. Tapi saya masih beruntung (ya saya selalu meng-claim kalau saya manusia paling beruntung di Dunia) karena teman teman saya yang dari Jogja mulai siang, tiba di Surabaya Malam hari. Saya gak kebayang banget deh di tol Ngawi – Madiun kalau sampai saya juga kedapetan macet, mungkin saya akan kapok road trip saat Libur Lebaran. sebagai dokumentasi, saya menyimpan tiket tol saat perjalanan pulang, untuk kendaraan golongan 1 dari jakarta ke Jawa Timur kira kira butuh 800k. 


SOOOOO… Jika ditanya, akan ke Jakarta road trip-an lagi, ku akan jawab Mau! Tentu saja! Why not.. tapi untuk sekarang sekarang ini,,, untuk sisa tahun 2022 sepertinya quota untuk pergi ke Jakarta sudah terpenuhi. Saya harus sadar sebagai seorang “monk” saya harus hidup lebih sederhana daripada hidup saya biasanya. Dan itulah yang sejak sebulan ini saya lakukan. Saya mampu sederhana dengan bersyukur!




Mari bersyukur


Xx
Monk :*

Saturday, February 5, 2022

ngopi di : D'John cafe & resto -- Gresik


Singkat cerita, pekerjaan broker yang secara tidak sengaja saya geluti post laidoff dari pekerjaan sebelumnya, membuat saya lebih sering dijalan daripada dirumah, dan beberapa Minggu terakhir, fokus pekerjaan saya, berada di seputaran Kedamean- Gresik. Dan karena seringnya bolak balik kesana, saya jadi penasaran mengexplore warung kopi / café local yang ada disekitar, dan saya cukup penasaran dengan satu cafe yang adanya di garasi --- teras & halaman rumah, dengan nama D'john. 

Seperti biasa, sebelum saya kesana.. saya bertanya ke orang lokal tentang tempat ini. Dan juga cek review nya di google maps, tapi biasanya saya lebih sering pakai feeling sih.. hehe.. hidung saya mencium aroma nyaman di café ini, dan plus nya pemandangan yang terkesan ‘ngopi di teras rumah nenek’ menjadi kenyataan. Setelah beberapa kali bolak balik ‘hanya lewat’ café ini, siang itu, dengan niat bulat, sehabis mampir ke lokasi properti yang akan di listing, kami kemudian secara sadar dan sengaja mampir ngopi disini.


First impression ku begitu masuk ke dalam café nya adalah nyaman, udara Gresik yang panas ( entah karena bersebelahan dengan lautan, atau juga karena Gresik memang dikelilingi pabrik-pabrik) tidak mengurangi rasa itu! Walaupun di meja sekitar kasir, hanya ada kipas, dan udara panas yang sumuk (gerah – bikin keringat berdatangan) tapi ya nyaman! Kafe ini kebetulan adalah juga rumah tinggal si empunya café. Karena namanya DJohn, saya menyimpulkan kalau owner café ini adalah pak John (atau anggap aja begitu ya.. hehehe)

monkey langsung ketemu tempat nyaman (dan juga teman baru).

Terdapat 2 vibes dalam satu café dan menurut saya itu smart sekali. Vibes pertama area semi formal, dengan meja – kursi  ‘template’ café. Vibes kedua area non formal, dimana ada rerumputan, semak semak hijau, bebatuan yang sedikit berlumut, ayunan super nyaman bergantung di dekat pohon manga, dan juga ada kolam ikan yang menghidupkan area santai ini.  Lagi-lagi saya merasa betulan berada di teras rumah nenek, karena lokasinya persis di jalan besar, kiri-kanan rumah tapi rasa-rasa angin desa ada banget disini.. dan memang karena lokasinya sendiri merupakan halaman rumah pak John, dan sebagian juga adalah garasi nya. Karyawan disini, tidak banyak, tidak seperti coffee shop yang lain. DJohn ini dikelola oleh keluarga pak John, sewaktu saya order, pas pertama datang, anak perempuannya yang menerima order, dan juga yang mengantarkan makanan/ lite bite pesanan kami. Untuk kopi sebagian diantar langsung oleh pak John. Dan saat membayar sebelum pulang, yang ada di meja kasir adalah ibunya (istri pak John). Saya jujur senang sekali ketemu kafe yang dikelola keluarga, seperti cerminan ‘support system’ yang baik, yang memang seharusnya terjadi disetiap keluarga, yaitu support each other. Dari situ juga, saya tahu bahwa pak john adalah pencinta kopi sejati,dan beliau sangat beruntung karena selain support dari keluarga, beliau-pun sudah menjalani profesi idaman setiap orang, yaitu menjadikan hobinya sebagai pekerjaan (yang menghasilkan uang & cuan).

Buku menunya, bukanlah buku menu yang disainnya ajaib, hanya buku menu sederhana, dan informative, kadang kala, sering juga orang suka ngopi tapi tidak tahu apa yang mereka minum, nah.. di menu nya Djohn, hal itu nggak akan terjadi. Karena setiap minuman, dijelaskan campurannya. Jadi untuk yang pertama kali coba cappucinno akan tahu, apa saja yang ingredients nya.. bagaimana rasanya. 




Dan kaget seketika melihat harganya yang sangat murah. Untuk sebagian orang, mungkin langsung pesan (hanya karena harganya murah). Untuk saya, karena memang dari awal (berminggu-minggu sebelum akhirnya mampir) yang membuat saya kesini adalah rasa penasaran saya, terhadap rasa kopinya, dan setelah datang semakin kuat bahwa feeling saya benar, saya yakin, kopi yang dijual ini bukanlah kopi kemasan melainkan kopi artisan. Saya lihat pak John sendiri yang membuat semua orderan kopinya.


Diuntungkan oleh harga kopi yang murah itu, saya memutuskan membeli beberapa kopi, tidak ada salahnya mencoba kopi yang iced, dan hot. Untuk yang hot, saya pilih manual brew dengan French press. Dan gila-nya French press disini jarnya besar, jadi cukup untuk 2 porsi (2 orang) 2 gelas kopi hitam pahit. Lucunya, saat saya  memesan wine kopi, pak John memanggil saya dan menanyakan, seperti nggak yakin kalau lidah saya kuat menghadapi ‘wine coffee’ racikannya. Karena pertimbangan itu, akhirnya saya cancel pesanan kopi dan menggantinya dengan jenis kopi lain ( Argopuro dan bukan yang wine coffee).

drench in cafeine

Later on, Pak John datang menghampiri meja, tempat saya duduk. Dan membawa 2 gelas FREE wine coffee (yang tadi mau saya pesan namun saya batalkan atas anjuran pak Jhon). Tidak tanggung-tanggung 2 gelas. saya sendiri, saat itu sedang menyesap kopi hitam saya, yang baru saja saya tuang dari French press-nya.  Sebuah ironi macam apa ini, siang hingga sore itu, mulut saya sudah mencicipi 4 gelas kopi hitam (panas), dan 2 gelas kopi dingin. Setelah mencoba semua manual black coffee ( juga wine coffee nya) pilihan saya jatuh kepada kopi (yang di french press) karena si wine kopi ini kebetulan sangat manis untuk lidah ‘kopi hitam apa adanya’ versi saya. Lewat pak Djohn saya jadi paham kalau kopi manual brew (wine) biasanya diminum bersama dengan hisapan cerutu, maka dari itu dibuat manis, untuk menutupi ‘beratnya’ cerutu tersebut. No worries saya tetap menghabiskan semua kopi dengan tak bersisa.

Pengalaman ngopi di DJohn sepertinya akan membawa saya, membawa kami kesini lagi. Saya sangat berharap semakin banyak warung kopi/ café /coffeeshop yang berkonsep jelas dan nyaman dibuat berlama lama entah itu untuk nugas, ketemu klien/ kolega, quality time sama seluruh anggota keluarga, atau bahkan reuni sekolah sekalipun. Oh ya Selain kopi, saya juga berhasil menjejal perut saya dengan cwie mie, sempol ayam pesanan si monkey, tahu dan juga air mineral untuk sedikit menetralisir kafein ditubuh saya. Sebanyak itu menu yang saya pesan, saya hanya membayar selembar uang merah dan masih kembali. Sungguh sangat murah. 

Dan satu lagi keunikan dari DJohn adalah kenyataan bahwa menu termahal adalah wine kopi, bukan makanannya, padahal disini banyak sekali menu makanannya, tapi ajaibnya harganya dibawah rata-rata harga makanan di café atau di warung makan sekalipun. Betulan sangat murah sekali, dengan ragam menu yang menggugah selera dan hemat di kantong. 






enjoy your weekend. 


xoxo

Monk&Mnkey

Saturday, December 18, 2021

BDAY TRIP KE : BALI ISLAND!!!!

 

always put a smile even we wore a mask

Saya, kami, sangat excited untuk ada didalam pesawat yang membawa kami berlibur ke pulau BALI. Setelah selama covid kami tidak kemana mana, sebuah trip pasti akan membuat kami melupakan kesedihan, kesesakan dan perasaan tersegarkan oleh angin dan pemandangan pulau Bali yang begitu memanjakan.

Bila taun lalu  tujuan kami adalah UBUD, kali ini tujuan kami hanya seputar SEMINYAK – KUTA – LEGIAN saja. mengapa demikian? Banyak teman yang menyarankan untuk mencoba pantai disaat covid (mungkin karena super sepi jadi akan nyaman dan tidak begitu crowd seperti biasanya), juga saya sudah terlanjur pesan NEW VESPA sebagai kendaraan kami keliling selama liburan. Not sure bila stay di UBUD apakah ada local bike rental yang harganya sesuai kantong saya. Iya bokek.


our flight with Citilink

Entah mengapa semesta memberi ijin dan kemudahan kami. Bagaimana tidak? Di bulan oktober 2021 saat iseng mengecek apps BETTER FLY Citilink bisa bisanya harga tiket PP ke Bali untuk 2 orang hanya 1,100k, LIKE IS IT REALL… sebab sebelumnya, perjalanan PP ke Bali termurah 2.000k berdua. Juga kenyataan bahwa setelah berhasil membeli tiket, kami juga mendapatkan harga murah untuk hotel tempat kami stay selama di Seminyak. Perfect combo yang mmbuat saya jadi berpikir bahwa ini adalah tanda dari semesta, restu dari NYA.

Bally.. here we come!!!

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya kami berdua trip… tapi saya agak gugup karena harus membawa BALITA yang belum vaksin ini berpergian,, Saya sendiri baru mendapatkan vaksin shoot dosis kedua beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Denpasar. Syukurlah efek dosis kedua ini lebih soft daripada dosis yang petama. Anyway, dengan beberapa hari sebelumnya brief Sa, dan sebelumnya selama berbulan bulan afirmasi ( Oktober – November – desember) dia pun berjanji untuk selalu memakai masker bila kami keluar (sekalipun hanya turun untuk berenang di bawah, tetap harus bermasker)

Siang itu, cuaca mendung tanpa hujan menyapa kami. Saya berhasil arrange penjemputan oleh tim sewa vespa yang sudah menunggu kami di terminal kedatangan sambil membawa kertas bertuliskan nama saya. Senang? Ya tentu saja, artinya kami bisa langsung handsfree karena koper dan barang lain langsung berpindah tangan dan dibawakan Bli nya. Tujuan petama, tentu saja hotel.. saya cukup lelah, agak gugup juga dipesawat karena sudah berbulan bulan lalu off naik pesawat. Terakhir kami naik pesawat adalah pada saat saya menjemput Sa di bandara Soetha dan bersama kembali ke Juanda.

ikkhousha ramen. shoyu ramen

Selesai meletakan koper dan mencuci muka dan berganti baju, kamipun berangkat untuk makan ramen di sekitar hotel. Senang sekali ramen yang sudah bertahun tahun tidak saya makan, hari ini, dihari ulangtahun saya.. saya bisa merasakan kembali lembutnya ramen dipadu dengan gurihnya Shoyu broth, saya rasanya mau terbang saat akhirnya lidah kembali merasakan kenikmatan ini.


Selesai makan kami langsung menuju toko oleh oleh krisna yang di Sunset Road, sedikit mengisi tas belanja kami #BringYourOwnShoppingBag untuk hadiah natal para saudara, ipar dan keponakan di Jakarta, mampir ke minimarket untuk membeli air minum, kemudian kembali ke hotel dalam sekejap. Tidak lama, saya kembali mengorder nasi tempong sebagai penutup hari lahir saya, senang, nasi tempongnya sangat nikmat dan juga harganya cukup murah.


Pagi hari, kami memulai dengan berenang, karena hotel tidak menyediakan breakfast (room only), kamipun memulai hari dengan skuteran ke Pantai Kuta, well… rodok sedikit kecewa karena di pantai ramai manusia, yah sebenarnya sepi pengunjung, tapi ramai pedagang, mulai dari kelapa muda seharga 40k, meni pedi & nail art, per-kalung-an, per-kaos-an, sampai per-kepang-an. Too bad, menawarkan jasa sampai memaksa, yang membuat kami akhirnya setuju untuk di kepang dengan harga sesuai yang ditawar. Dalam hati sambil berharap.. lain kali boleh kan ya kami duduk santai dipantai, menikmati suara ombak tanpa ‘paksaan’ menggunakan jasa jasa yang ada.. untuk minuman, kami pasti akan membeli dipantai juga untuk support local business. Selesai dikepang, kami langsung meninggalkan pantai, pergi ke parkiran dan pindah ke pasar seni Legian, too bad, saya gak sempat beli apapun disana karena, lagi lagi saya keburu takut di tembak harga, (berdasarkan pengalaman saya sebelum sebelumnya… kami sering dikira tourist jadi dikasih harga tourist). Perjalanan pulang dan Sa insist pergi ke warung gelato terkenal yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap.

menikmati traffic Bali dengan scooter sewaan

Gelato ini lain cerita, disini kami mendapatkan perlakuan TIDAK RAMAH oleh para waiters dan petugas disana. Untuk rasa gelato OK, tapi pelayanan sorry to say, saya secara personal lebih memilih untuk TIDAK LAGI PERGI KESINI. Karena pembeli butuh rasa nyaman yang sayangnya tidak tersedia di toko ini. FYI, kesini saya MEMBELI, MEMBAYAR SEJUMLAH UANG, bukan menukarkan tiket / kupon hadiah giveaway untuk se-cup gelato. Miris memang, toko ini langsung saya blacklist, hehehe.. gak apa saya gak sebut merk kan.. aman kamu.. kemudian kamipun pulang, dengan membawa serta si gelato yang masih tersisa, iya bawaannya pengin pergi aja kalau tempatnya tidak nyaman, Karena kami kesini untuk berlibur dan have fun, segala yang buat not fun akan langsung kami tinggalkan.

sudah pengin kesini sejak Pepita buka beberapa tahun lalu.

Tiba di hotel kami lalu order gofood untuk makan, this time pilih nasi goreng local, rasanya nikmat. Setelahnya kami skuteran agak jauh untuk bertemu seseorang mentor vegan keren yang rumahnya, berhasil membuat kami nyasar. Kebayang kan, di kota orang, motoran modal googlemaps, dan tapi Jalan di denpasar dan sekitarnya itu kebanyakan Jalan satu arah yang membuat saya bingung sendiri, karena bolak balik nyasar.. waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit or so, menjadi satu jam lebih.. tapi ini ku syukuri karena bisa ngobrol lepas bersama mba Mitha di rumah beliau. Sebelum perjalanan makin memusingkan, kami juga sudah mampir ke Pepita n Sons untuk ngopi dingin dan merasakan nikmatnya vegan donut buatan mba Sophie Navita. Saat saya mengetik ini, terbayang lembutnya choco vegan donut yang saat itu saya rasakan, FIXX saya akan kesana lagi pada trip to Bali yang selanjutnya.. sampai hotel dan mandi.. kemudian kami pergi ke jimbaran untuk menikmati seafood dan sunset sepanjang Jalan. Merasakan nyamannya mengendarai vespa impian yang entah kapan akan dimiliki… malam belum berakhir, kami pergi ke Made’s di Seminyak untuk menikmati LIVE MUSIC.\

Made's Seminyak on Friday

Bersyukur lagi, jauh sebelum mengunjungi Warung ini, saya sudah menelepon nya terlebih dahulu untuk menanyakan perihal live music ini, awalnya saya berharap ada Bali dance atau local show lainnya. Dari informasi yang saya dapatkan lewat telpon, selama covid ini tidak ada traditional Bali dance, hanya ada LIVE MUSIC di hari Jumat dan Salsa night di Malam Sabtu. Jadi hari Jumat berakhir dengan ber-live music-ria dengan lagu lagu yang saya hapal semua lyricnya menikmati indahnya suara kakak penyanyi sambil nyemil marinara pizza dan menyesap kopi cappuccino saya..


Sabtu pagi berawal dengan berenang…. Sa kebetulan lagi GIAT SANGAT berenang jadi ya hampir setiap hari dan dalam sehari bisa beberapa kali berenang bersama. Pagi ini sarapan nasi tempong lagi di warung banyuwangi dekat hotel. Entah sudah berapa porsi nasi tempong dan menu khas banyuwangi lainnya yang sudah kami nikmati selama di Bali. Lost count karena memang SE ENAK ITU dan mudah dipilih daripada terjebak memakan daging B yang tidak kami konsumsi. Selesai sarapan kami lalu berangkat sedikit ke tengah, ke Cangu untuk mengunjungi warung kakak kandung saya (ngarepdotcom) Teh Manis Bali. Perjalanan ke Cangu dengan motor tidaklah begitu menyenangkan diterik nya matahari Bali dan ramainya jalanan oleh para tourist local dan tourist asing. Saya harus berkali kali mengerem dan membuat jari saya kapalan, iya se---sering---itu ngeremnya. Dan rem Vespa memang keras, jadi perlu tenaga dan kesabaran dan kekuatan yang penuh. Sekembalinya dari cangu, kami langsung ngemall, kali ini tujuannya, discovery mall, mall kecintaan saya yang tidak banyak berubah, dan luckily kami bisa memanjakan mata karena selain dibelakang mall persis ada hamparan laut kuta nan indah dengan langit yang aduhaii,, di dalam mall.. sedang ada pameran karya seni (lukisan dan sejenisnya) yang betulan membuat hati terkagum kagum melihat rupanya dan harganya.. (lihat saja, belum sanggup membeli). Seolah belum terlalu kapalan si jari, kami lanjutkan perjalanan ke Krisna, kali ini Krisna terbesar yang ada di Bypass, baru petama kali kesini dan kagum aja gitu.. segitu banyaknya lahan untuk parkir, sampai penuh dan harus di refer ke parkiran lain yang jaraknya beberapa meter dari lokasi, untunglah motor tetap bisa parkir di basement. Beli – beli sedikit lagi kado natal untuk diberikan ke keluarga, setelahnya kami pulang dengan kardus menyempil dibagian depan vespa, perjalanan balik ke hotel menjadi pelan dan sedikit mendebarkan karena cukup tricky membawa kardus besar disela sela kali saya yang panjang.

warung banyuwangi dekat hotel, dine in or takeaway

Malam ditutup dengan MAKAN MALAM NASI TEMPONG LAGI. hehehe bingung mau makan apa, warung banyuwangi selalu jadi jawaban. Dan rasa masakan yang mirip mirip dengan masakan Suroboyoan----masakanku, membuatnya menjadi sangat kusukai..

Nusa Dua Skies

Ya sebetulnya mau extend di NUSA DUA, dan hotelpun sudah di lunasi, tapi tiket pesawat tidak bisa di extend Karena flight nya sedang penuh sampai Natal. Dengan berat hati kami harus pulang sesuai jadwal dan merelakan booking-an hotel di Nusa Dua hangus sia sia.. anyway.. kami merasakan kenyamanan saat Drive-thru tes antigen dan PCR (untuk Sa) hasilnya cepat dan juga terkoneksi dengan apps PeduliLindungi.

why you grow up so fast, my Monkey?

Sesampainya kembali di bandara Djuanda, kami menunggu lumayan lama untuk baggage claim. Ya, kali ini, pergi dan pulang, selalu ada bagasi yang dititip karena pesawat citilink pesanan kami juga include baggage sebanyak 20kg each, itulah mengapa saya suka terbang dengan citilink, sebab pesawat lainnya, pasti butuh extra money untuk baggage. diusia baru ini, saya tersadar begitu banyak berkat yang boleh saya rasakan sekalipun, disetiap Desember, ada saja cobaan untuk kami, terkhusus di kesehatannya Sa. tahun lalu, bulan Desember, dihari dimana saya harus bimbingan tesis untuk finalisasi menuju sidang tesis, Sa harus dilarikan ke IGD karena muntah terus dan ternyata hasil tes darahnya dia terkena gejala typus. Desember tahun-tahun sebelumnya pun.. tidak mudah untuk kami lalui, tapi kami berhasil sampai di tahun ini. 


cheers, XOXO

Traveloro

Friday, July 31, 2020

ke Malang lagi...

PEEK - A - booo


 Sejak COVID-19 merebak di Indonesia, khususnya di Surabaya, banyak rencana kami yang persiapkan gak bisa kelakon sama sekali bahkan batal (***nangis di pojokan) lha terus nya, segala aktivitas kami yang cukup boring (na-ni-nu.. disini disitu....) bener - bener bikin saya meniatkan hati dan menyiapkan waktu buat ber-libur-- sebentar saja ke MALANG!!! Kenapa Malang?? karena sangat dekat dengan Surabaya, kemudian (gak butuh rapid test karna via darat) kebetulan beberapa bulan belakang saya terlibat satu penelitian dengan teman & 2 dosen di sekolah, dan kebetulan lagi judul tesis saya 2x ganti (makin mumet kan,, jadi otak ini ngajakinnya liburan melulu...)

gunung Arjuno-Penanggungan-Welirang

Kita prepare sih gak seberapa banyak.. tapi udah lebih siap daripada trip ke Malang tahun lalu (gak bakal salah bawa jaket, gak bakal lupa bawa toiletries, extra selimut buat Sa.. cemilan buat diperjalanan, dan kaus kaki extra + masker berlebih buat cadangan aja) we stayed at the very same hotel (eh hostel sih) dan dapet discount COVID yang lumayan.. dan karena sudah tahu service nya Helios Hotel/Kampung Tourist Hostel, ku jadi yakin untuk stay a night disini.


Alun-Alun Malang

Yang kusukai dari Malang, adalah, daerah yang tata kota-nya baik, hampir mirip Surabaya soal kebersihannya, dan arus kendaraan yang cukup ramai (hanya ramai, tidak padat), dan makanan yang menggugah selera siapapun, harga juga relatif murah menurutku, yah pas lah dikantong kami.. gak se-mahal di Ubud-Bali (link ke Ubud) yang tax nya aja 21% sendiri (***nangis dipojokan lagi) 


view from the rooftop. 

Sampai di Helios,, kami dapat exact same Gazebo (gazzebo nomor 2) dan percaya ngga sih... sak hostel itu, cuma kami pengunjungnya (iya sesepi itu.. sedih jadinya) biasa yang dormitory room itu pasti penuh keisi sama expat yang mau naik ke Bromo, but pas kami kesana, sama sekali kosong melompong.. tapi salutnya sama penjaga hostel, mereka masih jaga, stand by di meja reception selama waktu jaganya, gak malas-malasan atau menghilang saat dibutuhkan ( kayak siapa tuh yaa.. hehehe) 

Take note aja nih, pas kedua kalinya kami ke Malang, hal-hal yang agak menyebalkan: 

1. jalanan one way jauh.. jauh banget.. sampai muterin-nya sendiri butuh waktu cukup lama. Ini adalah PR yang sama di kota padat : Kota Bandung, Kota Malang, dan beberapa daerah di Bali. ( as i know, daerah lain mungkin juga ada penerapan one way, tapi kami belum pernah kesana jadi tidak seberapa paham)

2. restorannya/warung enak-nya jarang, sampai beberapa kali makan di warung yang sama, karena susah cari makan (atau aku yang ga tau..) coba pakai googlemaps, gak ketemu warung yang dicari, malah nyasar, apakah googlemaps nya yang ngga update atau gimana ya?? dan akhirnya ke resto seafood gitu, ngantri makanannya luamaa juga (memang kondisi saat itu lagi rame, lagi pandemi juga mungkin menjadi sebab banyak warung yang ngga buka, jadi warung yang buka diserbu abis-abisan sama pelancong) sampe kami kelaparan.

KOI POND


3. coffee shop inceran persis diseberang warung, tutupnya cepet amat.. bikin (lagi-lagi gak bisa mampir deh) tapi di Hotel, ada kolam Koi nan megah dan bersih yang bisa dijadikan tempat asyik untuk menyesap kopi hitam pahit yang disediakan hotel saat breakfast. Selain itu, kolam Koi pun bisa dinikmati dari lantai atas, dari balkon kamar hotel, buat kami yang stay di hostel ya harus turun ke lantai dasar, karena pemiliknya dengan baik hati mengijinkan monkey untuk memberi makan ikan koi pas sarapan. seru sekali!!!

4. MCd Sarinah nya kurang OK pelayanannya. cuma pesan take away apple pie 1 biji, 20 menit belum kelar.. bikin saya telat balik ke Surabaya... 


dan good things nya:

1. kami bisa strolling di Taman yang indah. banyak burung semi-liar (burung liar yang dipelihara dan dibuatkan rumah, rumahnya tersebar di sekitar taman) not sure itu burung tekukur atau merpati atau keduanya.tapi sungguhan, itu tamannya jadi indah sekali, mirip di eropa gitu... bawa jagung kering aja udah jadi primadona, buat para burung antre mendekat.. hehehe

2. ada toko kopi (kopi bubuk dan biji kopi) di pasar dekat hotel, suka banget.. jualannya kopi asli, bukan kopi sobek. 

3. Pemandangan sepanjang jalan (baik jalan pulang ataupun perginya...) selalu indah disuguhi pemandangan gunung (Arjuno, Welirang, Penanggungan) bila cuaca serah.. kelihatan juga gunung Semeru. 


xx
monk&monkey


Thursday, October 3, 2019

crossing Java Island : Bali




Sempat dibilang jahat karena tidak ajak Sa ke Jakarta untuk nyekar 8th-an mamake..  Padahal sebenarnya sebulan jauh sebelum itu saya sudah mengantongi IJIN day-off selama 3 hari dari boss saya (maacie ya bossque yang cantik dan baik hati). Tentu saja boss saya bolak-balik nanya.. emang kamu mau kemana sih.. lama-lama gitu,,? tentu aja saya bilang "mau ke Bali, ajak anak saya bu.." dan beliaupun akhire bilang "ya udah kamu pergilah.. tapi syarat dan ketentuan berlaku ya, kamis harus masuk.. kan kamu bisa pergi dari hari Minggu (whaaaaaat Minggu kan aku masih kudu sekolah dulu, ada kelas dari pagi..--- eh tapi jujur itu yang terusnya menumbuhkan ide saya untuk ngambil flight ke BALI hari Minggu di jam sore) dan untuk penerbangan pulang, saya extend sehari, karena pindah dari Ubud ke Seminyak, cause im desperately need to REST and RELAX 


Kenapa UBUD?? jawabannya simple, karena saya belum pernah.. Sa juga pasti senang senang aja selama itu ada saya.. dan tentu saja sedikit sogokan berupa susu dan candy... flight kami berjalan mulus tanpa turbulence, kayaknya cuma 35menitan deh,, dan di Ngurah Rai, kami tenang karena sudah minta airport pickup sama owner Villa kami di Ubud 


Sampai Ubud tengah malam disambut guyuran hujan, adem banget.. meni Sa tidur dari pas dijalan ya,, dan Villa nya itu ada di tengah sawah (Dalam arti yang sebenarnya), jadi sambil gendong dimalam gelap dan hujan, bener-bener pengalaman yang tidak terlupakan, tau kan persawahaan itu jalannya cuma setapak dan sliperry juga,, untung aja bisa menjaga keseimbangan badan, karena salah langkah kami bakalan nyusruk ke Sawah..




Sampai dan diberi sedikit room tour sama Bli owner.. dan dia juga tanya mau sarapan jam berapa, dan info menu sarapannya juga.. dan kami tidur terlelap di empuknya kasur dan dinginnya udara UBUD. sempet kecewa pas tahu kalau kamar kami, gak ada Aircon, tapi begitu lepas sepatu, dan bertelanjang kaki, baru deh tahu dinginnya lantai. Sempat Bli tanya besok mau kemana, saya jawab mau istirahat aja di Villa.. 



Bangun pagi setelah sarapan omellete (isi bayam dan tomat cincang) singkat cerita, Bli tidak punya gayung untuk mandi (sa gak suka mandi pakai shower) sebagai gantinya, Bli bilang bahwa 2 menit jalan lurus kebawah, ada air terjun mini dan mata air alami yang biasa dicari orang seperti holly water dan kita beruntung bahwa area itu masih punya nya Bli, jadi sekalipun lumayan jauh dari Villa, air terjun dan mata air ini private, dan Sa bisa mandi disana. lalu coba turun kebawah, masih persawahan sih.. tapi berundak dan yang cukup PR adalah gimana caranya ajak Sa turun dengan digendong, kondisi tanah basah dan lumut juga berat badan Sa yang lumayan dengan panjang badan yang udah gak bisa dilipat macam bayi dulu... tapi bisa sih dengan sedikit usaha dan banyak keringat (hueheheh...) terus dia mandi deh dengan asyiknya dipancuran itu.. niat awal mau istirahat dan sepeda-an (macem Julia Robert di film Eat, Pray, Love gitu kan ya,, ) taunya apa coba....siangan dikit, karena laper, kami minta di drop ke Ubud Center.... ciye.. terus makan siang di salah satu warung.. yang menunya enak-enak (tapi juga) mahal-mahal.. dan strolling around Pasar Seni Ubud, karena Sa insist beli sandal buat mba nya dirumah setelah dapet ya senyum aja dengan muka cemong penuh gellato yang lagi dia makan..  malamnya untuk dinner kita pesan di Villa dan dibuatkan Veggie Curry oleh istrinya Bli, rasanya TDF sekalipun later i got diare karena si kuah nan inak itu berbahan dasar santan



Pagi-pagi ada yang komplain gak mau mandi kalau gak ke pancuran air lagi... dan emang jadwal kita hari ini cukup padat. Goa Gajah - Tirta Gangga - mampir pantai sepanjang karangasem (kalau sempat) DAN kelakon juga semua itu.. first stop kita Kimia Farma, disitu saya beli obat untuk mengatasi diare dan kami ke Goa Gajah setelahnya. disitu, rasa magis kental terasa menghampiri raga, ada semacam aura yang membuat saya merasa tempat ini sakral sekali.. saya sempat goosebump saat masuk ke salah satu goa yang ada benda peninggalan dewa dewa,, ditempat ini juga ada tulisan yang intinya, kalau perempuan dengan kondisi lagi period, gak diperbolehkan masuk ke areal yang sudah dibatasi,, berani melanggar ya tanggung sendiri akibatnya yah.. untunglah pas kemarin kesana, aku gak lagi period, bisa explore lebih dan berkeringat secukupnya.. 



right before the big fish come out and kiss her 

Tirta gangga adalah lain hal,, dan disini saya bahkan sempat berenang bersama ikan-ikan didalam kolam pancur.. gak terbayangkan tapi terjadi juga sih.. ternyata saya cukup berani berbusana renang dan dilihatin banyak mata.. sempat lama di sini, Sa bahkan mengalami adegan cukup membuat jantungnya berdegup keras sampai dia tersungkur dan menangis.. saat dia kasih makan ikan, dan salah satu ikan besarnya loncat dari permukaan air, nyaris mencium pipinya (mirip adegan dolphin kiss penunjung seaworld di film-film). Juga karena disini cukup lama, kami memutuskan makan di kafe tirta gangga, pajaknya 21% dan saya inget nominalnya Rp.51.000 wagelaseeh.. bangkrut kakk!!! perjalanan Pulang kami sempat mampir ke 2 lokasi lain, masih di seputaran wilayah karangasem, Bali. dan sempat juga lho lewatin Padang Bai, wah........ pikiran langsung melayang,,,,,,, seandainya dulu saya ambil sekolah diving di Padang Bai yah.. saya pasti gak bakalan sekolah di Surabaya, apalagi dapet kerjaan yang bisa mengantarkan traveloro ke Bali-Ubud-Seminyak (terimakasih Tuhan eniwey sepanjang jalan pergi-pulang pas lewat perbukitan kita melihat kawanan monyet dikiri-kanan jalan... Sa jerit jerit dan semangat banget lihatnya, this is her first time lihat Monyet.. 


say hello to the Villa @Ubud

hari ketiga, kami sempat keteteran packing dan lost track time... karena Bli yang bakalan antar kami ke Seminyak mengalami kendala di kendaraannya, sehingga jam cek out jadi keteteran lebih dari 2 jam.. ditunggu-tunggu bli gak kunjung datang, saya sampai bolak balik mandi-berjemur-mandi-berjemur, untuk bilas tanning oil yang saya apply selama berjemur... dan tibalah di Seminyak dengan waktu perjalanan 2 jam, lumayan padat jalanan Ubud - Seminyak. Nginap di Bali Reski Hotel dan puas puasin tanning karena ini adalah matahari terakhir sebelum beraktivitas kembali.. 




Sa keren,, dia mau berenang sendiri, gak mau dipegang atau di jagain....... kita sampai berjam-jam dalam air dan cuma naik untuk makan siang yang kami pesan lewat aplikasi gofood. mulai gelap, kami naik dan bilas.. jalan lah kami ke Krisna. untuk beli Oleh-oleh dan ada niat juga paketin oleh-oleh ke keluarga di Jakarta. di Krisna, kasirnya lucu sih.. terpisah antara kasir kartu dan kasir tunai.. dan karena tunai gak banyak.. saya sampai mengembalikan tas rajut incaran karena males untuk antre panjang di kasir non tunai



untuk menutup malam ini, kita mampir ke Made;s Warung di Seminyak. ah.. rindu.. its been a while since my last visit.. ga berubah.. masih tetap indah.. Sa pesan gelato strawberry dan saya pesan kopi.. keduanya enak..dan tambah enak lagi karena kami menikmatinya sambil melihat penampilan tari Bali.. di panggungnya Warung.. sampai hotel.. Sa tidur.. saya packing dan gak bisa tidur, takut ketinggalan pesawat......



xx
Traveloro














** untuk yang mau ke Ubud, harus nabung lama........ karena pajak restonya 21% ( iyak sebesar itu) *bangkrut in an instant* belum lagi yah.. kemana-mana jauh, harus sewa kendaraan minimal sepeda atau motor. Kita cukup beruntung Bli Santana (villa owner) berikan harga terbaik untuk tour seharian & layanan drop off - Pick up yang luar biasa, bahkan pak Supir nya mau-mauan gendong Sa selama tour ( tour lumayan jauh, mendaki banyak tangga, dan padat [ Gua Gajah - Tirta Gangga - Lunch - Taman Soekasada Ujung - Pantai Wates Yeh Malet] 

Tuesday, June 4, 2019

Review Hostel : Kampong Tourist - Malang Kota


Berawal dari mesan-kan hotel untuk sepupu yang ingin ke Jogja, di situs ( booking.com ) saya lalu gak sengaja ketemu dengan hostel murah ini. Jujur, bukan murahnya yang menarik mata saya, tapi tampilan awalnya yang berupa foto bangunan dari bambu-bambu yang membuat saya akhirnya kepingin icip-icip stay disini, dan bunk in bed dormitory adalah pilihan saya awalnya, karena pengin merasakan nginap di kamar campur dengan suasana yang berbeda, well kalo jadi kenyataan sih, kemarin itu, adalah pengalaman pertama saya, kami, traveloro, nyoba nginap di dormitory room, tapi sayangnya, pihak manajemen hotel gak ijinkan karena saya ajak serta balita. (ini sih gak dijelaskan lebih detail.. mungkin takut anaknya rewel dan ganggu traveler lain?) akhirnya setelah nego alot lewat whatapps saya ngalah deh, dan mengganti pesanan saya dengan Gazebo, dan dipaksa cancel pesanan saya yang di booking.com ( sorry ya............... )


gazebo yang kita tempati.. 

Sebetulnya, pengin ke Malang udah dari Bulan Mei, pas May-day kan tanggal merah tuh.. ndilalah,, gajian belum keluar.. ( curhat banget buk.....) dan karena beberapa alasan kayak gak ready kalo ke Malang saat itu, toh tanggal 2 harus ngantor lagi, nanggung juga kalau di Malang cuma 1 hari ( bener gak sih??) jadinya re-schedule dan akhirnya tiba juga hari dimana kita pergi ke Malang dan nginapnya di Kampong Tourist Hostel.


Disini, pas sampai, saya kaget karena jarak si Hostel yang kayak cuma 1kilo dari Stasiun Kota Baru, Malang. Jalan kaki juga bisa, Cak.. ( kalau mau siy..) naik gojek pun cuma 6k kalau gak salah ya.. gocar juga tarifnya masih manusiawi.. terusnya pas sampai, dibuat kaget dengan lokasinya yang ternyata ada di rooftop nya HELIOS HOTEL. Saat itu juga, jujur saya langsung kagum sama owner nya sih.. kayak kepikiran banget memanfaatkan rooftop jadi hostel dengan konsep yang bisa dibilang jempolan juga ya.. rooftop yang biasa cuma tempat nya tandon atas terus per-AC-an dan kawan-kawannya sama si owner dirubah menjadi beberapa gazebo dan satu ruang dormitory besar berkapasitas kurleb 20-an kasur ya.. 

Letaknya di lantai 4 dari HELIOS HOTEL, penataan yang apik dan serius membuat saya langsung terasa di Bali, banyaknya unsur alam seperti bambu, pohon-pohon, atap anyaman, batu alam, pintu anyaman, komplit ke dinding kafe dengan metode exposed brick membuat nya makin mirip Bali, kafenya kecil ya,, tapi menunya terbilang lengkap, segala jenis beer dan breakfast ala prancis / western gitu komplit deh..

tempat mandinya. dibuat senatural mungkin

toilet yang persis ada di bilik sebelahnya, imut!

Kita sempat keliling sendiri, setelah dikasih kunci beserta gembok,, iya karena kita bakalan nginep di gazebonya, kita dikasih gembok,, dan gemboknya sempat mencium jempol kaki saya sampai rasa kemeng.. lumayan berat itu gemboknya.. nah untuk toilet saya sukanya itu, temboknya dibarkan seperti cukup dengan aci-an saja, ngga di cat atau apapun, memberi kesan alami dengan sentuhan batu pualam dilantainya, nah untuk toiletnya persis ada di bilik sebelahnya, sama-sama imut, dengan pintu anyaman bambu setinggi 1,6m yang bikin pas mandi bisa ngintip pemandangan Mt. Bromo dari kejauhan. teteup.. enakkkkkkkk..

kipas di dormitory room nya.. 

Dikamar, kita dapat 1 kipas angin, yang sebenarnya gak diperlukan mengingat Malang itu duingiiiiiiiin udah cukup gak perlu kipas, ada terminal untuk listrik beberapa lubang, ada lampu juga, ada jendela kaca yang cukup panjang sekitar 2 meter lah, lebarnya cuma 50cm-an dan bisa di swing gitu, tapi ya.... plusnya disini, dikasih selimut tambahan karena Malam hari di Malang sangat amat dingin, dan kipas angin akhirnya berguna juga untuk mengusir nyamuk yang bolak balik bikin tidur kurang nyaman yah... kipas angin dipakai untuk usir nyamuk sekalipun saya dan Sa kedinginan banget.. rasanya kayak mau selimutan pakai spring bed-nya deh.. ahhahaaaaaaaa...
 
kelambu nya.. 

kekurangannya disini cuma satu, yah  mungkin karena terbiasa dimanjakan dengan fasilitas basic-nya hotel berupa shampoo & sabun, saya jadi kaget begitu dibilang, pihak hostel gak sediakan sabun dan shampoo.. walaahmak........... ya udah mandi seadanya banget selama 3 hari itu, pas juga lagi dingin banget airnya, jadi yah.. cukup puas dengan lap muka atau gosok gigi,, ( tetep wangi kok.. kita.. saking dinginnya keringet gak berani keluar setetespun.. eh satu lagi deh kurangnya, di kamar Gazebo, nggak dikasih kelambu kayak di dormitory room, ya pantes lah kita dinyamukin.. selebihnya OKE SEMUA..

kafe-nya. cantik yaa...

kafenya enak.. dan masnya siap siaga 24jam untuk buatkan permintaan customer, disini juga bisa numpang makan dan galau sore sambil memandangi lalu lintas kendaraan dari lantai 4 lalu sesekali meyeruput hot chocolate yang mak gilaaaaaaaaak enak bangettttttttttt.. TO DIE FOR lah pokoknya hot choco itu.. harganya juga affordable jadi ku sukaaaaaaa...



OVERALL, Stay di Kampong Tourist sangat amat berkesan buat traveloro,,,, harga bersahabat banget, fasilitas oke punya, petugas ramah-ramah dan informatif sekali, terus juga tidur nyenyak kami disini sekalipun digigit nyamuk setiap malamnya.. 


semoga bermanfaat yaa

Traveloro,