Saturday, February 3, 2018

SEHARIAN DI BANDUNG



Jalan-jalan pertama kita keluar Jakarta adalah ke Anyer (Banten) sebetulnya waktu usia Sa masih belum setahun, tapi karena itu adalah outing kelurga besar dan semuanya ikutan pergi dan kita berkendara pribadi kesana, jadi saya rasa itu adalah pre-travel-loro,, alias, Cuma latihan. Jadi pertama kali yang benaran jalan keluar kota dan cuma berduaan adalah ke BANDUNG.

BANDUNG sendiri bagi saya bukan hal baru, karena saya cukup sering menghabiskan weekend kesini dan kadang PP juga sehari, tapi saya selalu suka dengan suasana Bandung yang kadang hangat tapi berangin sejuk. Dan dengan pertimbangan jarak tempuh yang cukup cepat, akhirnya saya berani NEKAD membawa serta Sa kesini.

Saat itu, saya beli tiket kereta api lewat tokopedia, yang kata adik saya, harga tiketnya bisa lebih murah dibandingkan harga di website resmi nya KAI. Dan iya sih, dapat cashback juga yang bisa buat saya belikan pulsa HP. Hihi.. total harga tiket kereta yang saya bayarkan pada saat itu adalah 80k ( bayi dibawah 3th masih free alias gratiss tiss.. tiss ) 


Ke Bandung naik kereta, menjadi pengalaman baru dan pertama kalinya untuk kami berdua ( biasa saya naik travel atau kendaraan pribadi atau juga shuttle buss dari Soetha atau pesawat) dan pengalaman itu cukup nyaman dan menyenangkan bagi kami berdua. Dan membuat saya planning next traveloro pakai kereta juga deh.. bahkan karena sampai di Gambir lebih awal, kami sempat ngopi dulu di starbucks 

Dari Jakarta kayaknya stasiun yang mungkin, Cuma Gambir, seinget saya sih,, atau bisa check langsung di web resminya PT. KAI dan banyak banget pilihan jam berangkatnya, karena St. Gambir kayak 25KM away from home, jadi saya gak mau ngambil yang jam subuh banget lah,, takutnya Sa masih tidur dan jadi rusak mood karena masih tidur udah di gotong-gotong dan di gantiin baju, jadi kami naik kereta jam 9 dan ETA nya jam 12-an. Karena setahu saya weekend di Bandung hectic banget, super macet, jadi saya pilih pergi hari Jumat. Pas sampai disana, pas banget waktunya Sholat Jumat, jadi saya sempat selonjoran dulu di depan Stasiun Bandung.

Selama di Bandung, saya mengandalkan jasa Go-Jek. Nah ini penting, cek juga daerah yang mau di kunjungi tersedia jasa ojek online atau nggak. kalau nggak, cari tahu soal penyewaan kendaraan ( baik motor ataupun mobil) kalau budget mepet, pastikan kalian bisa bawa motor, atau cari kenalan yang mau ngasih free-tour selama disana. Dan cek juga angkutan umum ke tempat wisata yang akan dikunjungi disana, kalau angkutan umum gak ada, ya balik lagi ke ojek online atau sewa kendaraan. Jangan ragu untuk meneliti lebih dulu jauh-jauh hari tentang akomodasi selama di sana ya,, sekarang udah banyak kok blog/website yang bahas soal travel kemana-mana, jangan segan tanya! Biar gak nyengir-nyengir sendiri dan berakhir tersesat di daerah asing.. fufufu jangan sampai yaah..



OK. Karena Bandung adalah SURGANYA BELANJA FASHION. Tujuan utama saya emang Factory Outlet di Dago. Gak tahu, walaupun di jakarta juga udah banyak FO FO yang jualin baju keluaran Bandung, saya dengan senang strolling around disana, alias jalan kaki. Dan Yak! Beruntungnya saya karena Sa udah bisa dan lancar banget jalan, dan moodnya juga lagi bagus ( kayaknya emang ini anak suka jalan juga kayak ibunya) dia mau jalan sendiri ( tidak digendong) selama keliling Dago dari satu FO ke FO lainnya. Dan Oh ya.. saya juga bawa bekal untuk Sa makan disana. So, this time saya gak mikirin mau kulineran apa dan dimana. But, i’ll try next time full kulineran di Bandung ( jika ada umur dan rejeki tentunya )



Puas memanjakan mata dengan FO di Dago, kita naik ke Dago Atas, dan kali ini untuk memanjakan lidah dengan kopi. Kebetulan saya suka ngopi dan saya suka view saat ngopi di Dago Atas ( Dago Pakar) selalu ngebayangin ngopi di atas bukit jadi aktivitas tiap hari ( sementara ngimpi dulu, siapa tahu besok-besok jadi kenyataan, kan yaa...) kami disana sampai jam 5an, setelah mengabiskan 2 gelas kopi hitam ( untuk saya) dan kentang goreng beserta pisang bakar. Lalu, turun untuk memesan travel pulang Jakarta, yang menjadi pertimbangan saat itu adalah, mendapatkan lokasi turun terdekat dari rumah, itulah makanya kenapa saya engga pesan tiket kereta pulang, hanya ber-kereta saat pergi saja. Dan untuk Bandung – Jakarta, saya putuskan untuk pakai jasanya Baraya Travel jurusan Surapati2 – Kebon Jeruk harganya pun terbilang murah, setengah harga tiket kereta, karena saya ambil jam keberangkatan termalam ( 20:30 ) yang katanya selalu diskon menjadi 45k.  


Setelah tiket pulang ada di tangan, saya mlipir makan di #CekeranMidun yang gak jauh dari terminal Baraya, dan sampai disana saya dapet 3 waiting list, HA-HA.. tempatnya sih gak besar ya, dan gak ada parkiran juga, tapi i must admit rasanya juara banget.. banyak menu yang sudah sold out meskipun masih sore, terpaksa lah, saya pesankan Sa ceker ( yang tidak pedas) dan gak disangka-sangka Sa suka banget, hahah padahal ceker ayam Cuma kulit sama lemak doang gak ada dagingnya acan.. tapi syukurlah dia suka, nasi juga dia makan habis seporsi. DAN dari ngobrol-ngobrol sama penumpang lain  saya jadi tahu jika, Baraya Travel keberangkatan paling pagi ( awal) dan paling malam (akhir) selalu mendiskon harga tiketnya. Jadi tergiur naik Baraya subuh nih jika ke Bandung lagi #Ibubanyakmaunya

Beberapa tips saat traveloro:

  • Siapkan baju ganti secukupnya untuk ibu, dan baju ganti sebanyak2nya untuk Balitamu. Karena balita kan tahu sendiri, suka main, suka lari, ngobok2 air kolam, keringetan, atau ketumpahan air, jadi better bawa spare baju ganti yang cukup. Dengan catatan yang kaos-kaos aja jadi gak menuhin ransel ya.
  • Jika anak belum lulus TT (Toilet Training) pastikan bawa diapers yang cukup juga, lihat juga suhu di daerah yang mau dikunjungi. Jika dingin (  lebih dingin dari suhu biasa sehari-hari di rumah) bawa diapers lebihan untuk hari pertama & pejalanan saja, dan jika planning untuk stay for few days, beli sisa diapersnya di minimart terdekat hotel tempat kalian bakalan Stay. Kecuali diapers yang dipakai adalah sepesial dan travel ke pedalaman yang susah diapers, bawa banyakan ya..
  • Pastikan kesehatan terjaga selama travel. Jika memungkinkan, bawa obat-obatan yang sering kalian pakai. Kalau saya cukup: Vicks Vaporub dan telon untuk si bayi.
  • Paling tidak, bawalah tumbler sendiri, jadi di perjalanan bisa leluasa minum tanpa perlu mengandalkan tukang jualan atau warung sekitar. Jika isinya habis, refil lah di ruang ibu&bayi ( ini di stasiun juga ada kok dan ruangannya bersih aku udah cek sendiri) jika ruang itu gak ada, refil lah di warung sekitar, bayar jika memang perlu. Kalau dikasih gratis, jangan lupa bilang makasih.
  • Jika naik travel / kereta pada malam hari.
o   naik travel ( bis kecil seukuran elf gitu loh): pilihlah seat di paling belakang ( jika memungkinkan) jangan seat yang sebelah supir, karena cahaya lampu dari kendaraan lain dedepan akan sangat mungkin mengganggu bayi untuk tidur nyenyak & pulas.
o   Naik kereta. Tidak seperti pesawat, lampu kereta kayaknya nggak bisa dimatiin ( begitu juga AC) jadi bawalah penutup mata untuk si bayi. Boleh kacamata hitam atau penutup mata sejenisnya demi menjaga bayi agak tidur nyenyak sepanjang malam.


ngopi di @Kopi Ireng, Dago Pakar, Bandung




Cewek kok suka ngopi?? Kayaknya itu pertanyaan otak konvensional nya laki-laki jaman dulu ketika lihat perempuan ngopi.. tapi gak dulu-dulu banget juga sih,, soalnya pas ke Aceh ( dan stay cukup lama disana) dan kita ( saya dan sahabat perempuan yang asli Aceh) ngopi atau - nongkrong di warung kopi -  habis tarawih, ya sekitaran jam 9an malam mungkin yaa,, itu kita pasti dilihat-in sinis dan dengan mata-mata yang wonder, mungkin di benak mereka bertanya ‘kok yo cewek2 masih keliaran dan di warung kopi pula..’ fyi, sepanjang Jalan di Aceh ( mulai Aceh Timur hingga Banda Aceh) itu gampang banget ditemui warung/kedai kopi. Dan jika kalian belum pernah coba kopi Gayo, try some deh! PASTI KETAGIHAN! Kopi Gayo ada yang Robusta juga kok,, gak Cuma Arabica aja..

(source: instagram @Lampoh Kupi- Langsa) 

Saya pribadi udah gila kopi sejak di akhir masa skripsi yang ngejar bimbingan beneran kurang dari sebulan harus naik sidang [ kalo nggak ya bay-bye DO ] ngerti kopi sih dari bayi merah, karena mama saya doyan banget ngopi dan udah ‘cekokin—in a GOOD way- anak-anaknya kopi itam pahit dari pas kami baru lahir, dan bokap juga tipe bapak-bapak yang hampir gak kelihatan ngopi instan sih, dia selalu beli kopi Lampung yg baru digiling ketika dibeli. Kalo kopi bubuknya habis,beliau akan mendapatkan dosis cafeine nya dari teh hitam yang diseduh di dalam poci tanah liat.



Okay, ceritanya pas menghadiri pernikahan teman yang kebetulan banget nih di selenggarakan di Bandung, saya dan beberapa teman dari jakarta gak mau Cuma dateng undangan trus pulang, Jauh-jauh 3jam perjalanan, makan-haha~hihi 20 menit trus pulang lagi.. jadinya ngopilah kita di salah satu coffee shop di Dago Pakar, dan coffee shop itu bernama “ Kopi Ireng” tempatnya asyik  pisan, kesan ku pas pertama kali lihat coffee shop ini adalah ‘adem’ interiornya gak mewah, exteriornya pun demikian, membawa rasa ‘ngopi di teras rumah sendiri’ dengan view perbukitan berselimutkan kabut tipis, ah cantik niaan, GW BETAH!! Saat itu saya pesan cappuccino, sempet foto-foto juga sedikit ( minta di fotoin sih lebih tepatnya)



Pulang ke Jakarta, dengan rasa kopi yang membekas di lidah saya dan view yang tertanam di otak saya, dalam hati berdoa juga, someday gw akan balik kesana lagi sama orang yang gw sayang. By any chance, DOA itu dikabulkan sama Tuhan, walaupun butuh waktu 6th untuk terwujud. 2 Feb 2018 menjadi tanggal dimana saya balik lagi ke Kopi Ireng membawa serta Sa. And we had so much fun, there.



Ditemani rintik hujan kami menikmati minuman masing-masing. Saat itu saya pesan kopi hitam; Flores Bajawa dengan Vietnam drip dan juga cemilan untuk Sa. Fyi lagi, Sa juga suka ngopi loh,, #girang karena dari bayi merah udah ta kenalin kopi item, waktu itu Kopi Tanah Karo kalo gak salah, dan dia suka. Sekarang Sa kalau dengar kata kopi, dia akan selalu bilang –Kopi Gayo- rupanya dia sangat amat suka kopi Gayo. Haha.. 

 

Beginilah beberapa view di Kopi Ireng, cantik banget yaa ---homie pulak! lengkapnya silakan googling atau lihat web resminya ya.. kisaran harganya sih cukup bersahabat ya menurut saya, dan juga pilihan kopinya banyak single origin, robusta, arabica, ILLY, Luwak, wine coffee pun ada. Jangan berpikiran picik dengan bilang “sok banget sih ngopi di kafe, nghabisin duit 50k, apa bedanya sama kopi **** (sebut merk kopi instan) 5k udah dapet 2gelas.. sama-sama kopi..” kata-kata itu saya anggap adalah omongan orang culas yang ngga tahu bedanya kopi instan dan kopi Asli. Gini deh,, kopi kan ada masa tanam, ada masa penjemuran, proses sorting, roasting dan lainnya sampai kopi itu matang dan siap di giling brewing dan tersaji di gelas kita. Dan proses itu gak Cuma sehari atau sebulan, kita juga berkontribusi menyejahterakan petani kopi (dan juga) kualitas kopi dengan membeli kopi asli di warung/kafe/kedai sekalipun! Apalagi jika kopinya dibuat oleh barista yang udah expert. Rasanya pasti beda JAUUUUUUUUH dari kopi instan. 


Yang pasti kalau ada umur dan rejeki, traveloro akan balik lagi, ngopi lagi, bengong-bengong ketawa tiwi di Kopi Ireng, Bandung. dan jika memungkinkan sih, kesini nya malam hari, penarasan dengan suasana romantis melankolis yang terpampang di kala malam.

~~SEKIAN

Saturday, December 30, 2017

Natalan di: RS ( Rumah Sa.. )


Banyak yang bilang kalau feeling ibu itu selalu nganan.. dalam arti yang lebih sederhana, perasaan ibu ke anak-anaknya selalu betul, mengapa begitu.. jika dulu saya cuma bisa bilang, itu kayak berkah ibu, itu adalah paket pemberian Tuhan  yang terbungkus bersama bayi. Seperti lampu yang akan langsung menyala saat di pasang ke listrik. Tapi terus terang, pemikiran tentang berkah itu bertambah dalam saat saya sendiri di karuniakan anak bayi ini. Rupanya, alasan mengapa perasaan ibu dan anak begitu terkoneksi adalah karena sejak awal di ciptakan, si janin sudah berada nyaman di dalam rahim, jauh sebelum itu pun, saat Tuhan menentukan Janin itu berjenis kelamin perempuan, sel-sel telur di dalam rahim si Janin sudah ada, dan hingga dilahirkan sampai usia belasan, sel telur itu dalam posisi ‘sleep mode’ dan akan aktif saat perempuan mulai mendapatkan first mentruation. Nah, nantinya, sel telur itu pula lah yang akan berkembang ( jika sudah di buahi ) menjadi janin hari ke hari ke bulan hingga lahir, dan siklus itu terus berulang. Yang saya ingin sampaikan adalah bahwa perasaan ibu kepada anak, feeling ibu ke anak, mengapa selalu ‘nganan’ adalah karena antara bayi dan ibu terkoneksi, bukan hanya sejak di dalam janin, tapi jauh sebelum itu. jauh sebelum dibuahi, sejak didalam kandungan, sel telur yang ada sudah bersama sama dengan si ibu, dan ketika sel telur berubah menjadi kantong rahim, berkembang menjadi janin dan hingga hari kelahiran dan pertumbuhan bayi setiap harinya. Sel telur yang ada di rahim selalu menemani ibu, selalu ada saat ibu sedih, saat ibu down, saat ibu-nya gembira, kelelahan dan hal hal lain yang membuat mereka somehow magically grow together with this kindda feeling. Ajaib bukan, bagaimana sang pencipta membuat semua ini sejak awal bumi tercipta? Dan saya boleh jadi satu orang ibu yang bersyukur sangat dalam karena mengalami feeling kuat, dengan bayi saya, Sa.
Oh ya, dan feeling antara ibu dan bayi itu makin terkoneksi saat ibu menyusui anaknya ( baik perempuan ataupun laki-laki), dan bukan berarti ibu yang tidak bisa menyusui anaknya ( untuk alasan apapun) tidak punya feeling ke anak-anaknya, feeling itu tumbuh bukan hanya karena ibu menyusui / memberi ASI kepada anak, tapi karena selama 9 / 10 bulan di rahim, dan jauh sebelum sel telur dibuahi, ibu dan ‘telur’ sudah bersama sama. That’s way mommy always right! Woman always right!!!
Jauh sebelum Sa tumbang dan akhirnya di rawat, saya sudah ada feeling yang telah susah payah saya buang jauh, tapi feeling itu tepat, dan jadi kenyataan. Disinilah saya semakin yakin bahwa selain feeling ibu, ada juga rencana Tuhan yang terselip diataranya, dan kita para ibu hanya bisa dan HARUS KUAT menjalaninya. Rencana Tuhan.
Belakangan, Sa, makannya berantakan, memang, harus saya akui, riwayat alergi Sa yang panjang mau tak mau menyebabkan minimnya pasokan protein dan gizi yang masuk ke tubuh dia. Dan anak ini, suka banget main diluar, dan secara gak sadar, ngorek tanah lah, atau kadang ngemut hak sepatu tantenya-lah, pernah juga ngemut ban mobil-mobilan sepupunya yang baru aja kena lantai,, membayangkan kuman-kuman yang mungkin masuk ke tubuh dia membuat saya pusyingg tapi juga DSA bilang itu adalah salah satu hal yang membuat anak KUAT, karena sudah bersentuhan langsung dengan kuman, dan tubuh nya secara otomatis membuat antibody terhadap kuman tersebut. Singkatnya, Sa dirawat karena GERD. Awalnya 2 hari sebelum itu, saya masih main ke Mall, ajak Sa Jalan before Xmas mau membuatnya senang, kami gunakan hari itu untuk nonton film, main robot, mampir ke MINISO untuk beli crayon. Dan, pas di MINISO, Sa muntah, gak tahu karena apa, tapi feeling saya makin gak enak sekalipun saya usir usir pikiran negative itu, tetap hati kecil saya merasa sesuatu yang berat di dada. Pulang ke rumah, hari berlalu, makan masih susah dan tapi masih ceria.
Tanggal 25 nya, pagi hari, kami sekeluarga sowan ke makam Eyang & Akung di Cibubur, Sa muntah lagi, kali ini sampai terlihat sangat lemas.. feeling semakin menjadi-jadi, pikiran saya kemana-mana, memikirkan kemungkinan dari yang terselow sampai yang ter-ngegas.. dan semuanya sama-sama menyesakan dada.
Siangnya, masih tanggal 25 Desember, diatara keluarga yang berkumpul di rumah, kondisi dan suasana Natal yang hangat, saya putuskan bulat tekad ajak Sa ke Rumah Sakit yang lokasinya sangat dekat dengan Rumah. Sampai di IGD, dan setelah tes darah, dokter jaga bertanya apakah Sa mau rawat Jalan atau di rawat intensive di Rumah Sakit. Dokter pun memberi saran jika pun Sa dirawat, sebaiknya di Rumah Sakit besar yang alatnya lebih lengkap, dokter nya pun lebih banyak, kamarnya lebih nyaman & besar, terpisah antara pasien biasa & pasien invektus dan bisa seruangan dengan anak-anak seusia Sa, tapi lokasinya jauh dari rumah. Tanpa berpikir panjang, Saya langsung memutuskan untuk rawat inap Sa di rumah sakit ini, gak masalah kamarnya kecil, dan pasien umum, gak semua anak balita, yang penting dekat rumah jadi gampang dijenguk, gampang bolak balik RS – Rumah tanpa harus mikir macet dan sebagainya. 

 Hari pertama, malam pertama tidur di rumah sakit rasanya hati berat banget, dengan pemandangan Sa yang lemas, Sa yang gak ceria seperti biasa, pipi yang semakin tirus dan sesekali muntah atau diare, kelihatan sangat lemas. Dalam satu ruangan, ada 2 pasien lain, satu pasien bayi belum 1tahun usianya, yang sudah ada saat Sa dirawat dan pasien lain, kakak berusia 13 atau 14tahun yang sakit DBD, tapi masuk 3 hari setelah Sa dirawat. Hari ini, saya boleh bersyukur Karena adik na burju mau ikut nginep di rumah sakit, saya cukup kaget dengan kedatangannya membawa Yoga Matt warna orange kesayangannya serta tas penuh berisi baju saya dan juga bajunya sendiri. Lega rasanya saat dia bilang akan nginap dan kami bergantian jaga Sa. 
Malam itu, sama seperti ratusan malam lainnya dimana kafein menjadi teman, tapi malam itu lain, karena selain menjadi teman, kafein pun membuat rasa nyaman dan saya sangat berharap kafein memberi dukungan pada mata saya untuk melek lebih lama. Untuk beberapa orang, kafein membuat susah tidur, karena memacu kerja jantung lebih cepat memompa darah, dan mana ada sih yang jika deg-deg-an bisa tidur pulas. Beda dengan saya yang gak pernah mengalami kesulitan itu. kafein dan tidur adalah dua hal yang bersebrangan dan tidak relevan jika di bandingkan. Saya bisa ngopi 6 gelas sehari dan tetap tidur pulas, dan apa itu insomnia?? 













Hari kedua, tanggal 26 Dan seterusnya sampai tiba saatnya Sa untuk discharge from the hospital, saya tidur sendiri, jaga sendiri karena adik na burju sudah mulai kerja.. saat dia menyampaikan hal itu, ada sedikit rasa sedih di hati saya, dengan satu pikiran, bisakah saya tetap terjaga saat saya benar benar berat mata, dan kafein tak lagi ada fungsinya di tubuh saya? Saya takut kalau-kalau saat saya tertidur, Sa tiba-tiba muntah dan amit amit muntahnya menghalangi airway system dan amit amit lagi, jadi sesak nafas dan lain sebagainya. Untuknya, sangat bersyukur, suster jaga malam sangat amat baik hati, mereka semua rela bolak balik meronda kamar dan tiap bilik, memastikan bahwa baik pasien dan penjaganya dalam keadaan baik, tidak demam, tidak ketiduran atau hal-hal tak terduga lainnya. Jika saya harus membuat lembar terimakasih ketika ‘lulus’ dari sakit, saat discharge saya pasti akan memberikan ucapan terimakasih berupa tulisan tangan untuk para suster jaga yang amat berdedikasi dengan pekerjaannya. Trims banyak yah sus..

Ada banyak orang yang sebetulnya menguatkan saya tiap detik di rumah sakit hingga Sa boleh lepas infus dan kembali ke rumah, tepat sebelum tahun baru tiba. Sebut saya dia kak Awan, yang tiap pagi datang mampir sebelum berangkat kerja, kadang membawa sarapan buatan minimart, kadang membawa sarapan buatannya sendiri, dan malam hari kadang datang untuk membawa stok kafein, karena dia tahu saya desperately need it! The coffee I mean.. hehee para suster sudah jelas, dokter jaga dan DSA yang pendiam, para penjenguk, para kakak dan ipar saya & keponakan, yang pagi hari sebelum kerja sempat membawa sandal jepit untuk saya karena saya tak sempat mengganti alas kaki saat itu saya pakai sepatu running dan ribet dipakai bolak-balik ke toilet atau ke nurse station. Juga para fans Sa, yang menyempatkan datang untuk cheer her up. Thank you Guysss…
Dan yang lebih berat ternyata setelah discharge adalah, prose’s recovery yang butuh waktu bulanan, dan juga saat transisi dari ASI ke ---HARUS MULAI RUTIN--- SUSU SAPI yang juga menyedot habis saldo kesabaran sampai minus. But at the end of the day, Im very thankful that God surrounded us with HIS BLESSING.

Monday, August 28, 2017

Naik BUSWAY ke RAGUNAN ( Taman Margasatwa Ragunan)

" Sa, has never been to a zoo, at the moment she has no concept that zoos exist, and I shall never go to a zoo again in my life - so it stands to reason that as Sa's being raised vegan, she too won't visit a zoo. But ya, yesterday we went to Ragunan Zoo, to meet my friend from Semarang. i Told to Sa that Ragunan is not a Zoo, just a park at Pasar Minggu with a bunch of birds and a trees😊 and we're here to meet Budhe & De Tito.. I'm hopping she won't be going to a zoo unless she's old enough to take herself (and I hope she never makes that choice). I want my daughter to learn about the varied life on our planet, not the varied, artificial lives created and maintained in zoos (or in the tanks). I want her to learn compassion, not dominance. I want her to respect animals, not observe them"



itu petikan cerita saya di instagram ya memang, kami berdua, saya pribadi dari dulu pun gak terlalu suka ke Zoo. kalaupun di ingat-ingat seumur hidup gak sampai 10 kali ke Zoo ( Taman Safari, Ragunan, Gembira Loka, Safari Bali, BonBin SBY) dan paling cuma 3x ke SEAWORLD yah karena emang saya gak suka. saya lebih menikmati keindahan ikan Nemo saat Snorkeling di Pulau Sabang, atau kerusuhan monyet-monyet iseng di sepanjang jalan pinggiran Kuala Langsa. 




Dan, i must admit, ini pengalaman pertama saya naik Trans Jakarta ke RAGUNAN ( Sa pun demikian) dan juga pengalaman pertama ke Ragunan ajak anak, dan cuma berdua. ternyata REMPONG MAK! ahahaha.. bukannya apa apa sih.. sehari-hari saya lebih milih angkutan macem bis kota atau mikrolet gitu, kalau lagi banyak duit, saya milih naik taksi atau ojek online. padahal naik TJ itu enak, ber AC, cuma kadang suka kzl duluan kalo lihat bapak2 sehat walafiat yang pura-pura tidur daripada merelakan kursinya untuk diduduki ibu-ibu bawa anak. pagi itu, sampai-sampai serombongan ibu-ibu dan bapak-bapak lain membangunkan si pemalas itu, dan akhirnya tempat duduk kosong pun jadi milik saya&Sa. 


Malam sebelum hari H, saya googling perjalanan dari rumah ke Ragunan, kata google ETA nya 4jam-an, masih ketawa tawa tuh saya kira ah masa iyak Kebon Jeruk - Ragunan sama kayak Jakarta - Bandung sih.. dan iya aja dong berangkat jam 6 teng jam 10 baru sampek pintu masuk Ragunan *nyengir* tapi saya pikir mumpung yang biasa di Semarang ini lagi di Jakarta.. ku lakonin juga lah ke Ragunan, sekalipun jatuhnya muter-muter karena rute busway dihari Minggu berubah ( iya, klo minggukan ada CFD --Car Free Day, jadi ada beberapa titik yang Busway gak bisa lewati selama jam CFD ( 6 - 10 pagi )) btw, tarif TJ di jam subuh itu cuma 2k kalo gak salah ingat, dan itu saya pakai e-Money punya adik saya, udah gak bisa cash ya semua halte busway harus pakai uang plastik yang sekali klik masuk gak pakai transaksi tunai lagi, katanya sih untuk mengurangi tindakan keji oknum 'duit penumpang masuk kantong abang' 




Eniwey, karena Sa masih berumur 1th1bulan, saya juga bawakan bekal untuk dia, kebayang aja, kalau misalnya dia lapar disana, trus makanan nya gak edible buat dia malah kasihan,, saya rajin bekalin Sasa kemana-mana karena Sa ini tinggi alergi, jadi ya terserah aja orang mau anggap saya ngirit atau apa yang penting anak saya sehat.. dan semoga Sa nanti gedhe ngerti ya,, kalau bawa bekal itu baik dan sehat.. kali ini cukup mie pati ganyong yang ditumis bawang dan di kecapin dikit.. hehee tidak lupa saya juga membawa botol air dari rumah, itu yang saya selalu biasakan, demi membantu menjaga kelestarian bumi dengan mengurangi plastic waste. bersyukurnya saya, gak terlalu maniak sama air dingin, Sasa juga gak minum susu bubuk jadi saya gak ribet bawa-bawa termos air hangat untuk seduh susu dia sewaktu-waktu.




Sampai di Ragunan, foto dulu lah,, aku sih bilang ke Sa kalo ini bukan Zoo, RAGUNAN cuma taman yang terletak di Pasar Minggu, ada burung-burung, ada banyak tanaman & pohon rindang. gitu aja, oh ya, Ragunan sudah gak jualan tiket lagi ya,, mereka juga sudah pakai sistem uang plastik, namanya JakCard dengan membayar 25k itu bisa dipakai untuk beberapa kali masuk Ragunan, dan gak cuma ragunan aja sih, pokoknya semua merchant yang ada tulisan jakcard nya bisa. kartunya juga berlaku seumur hidup, tinggal disini saldo aja jika saldo nya habis. praktis paperless juga dan turut membantu melestarikan hutan juga kan gak ada tiket/karcis lagi soalnya..  

Pulangnya, kami juga naik TJ juga kok, dari Ragunan turun di Grogol, gak tau transit berapa kali ruwet juga inget-ingetnya, dan dari Grogol ke rumah kami teruskan dengan naik kopaja 4k ongkosnya, ya saya sih gak suggest ya untuk naik kopaja jika bawa anak bayi, bukannya apa, mungkin orang-orang udah sadar sehat dengan matikan rokok jika tahu ada bayi di dalam bis nya, tapi ini nih preman yang suka minta-minta duit, tatoan trus bau alkohol dan beler itu nonggol, udah pasti jadi nightmare ya buat anak-anak bayi yang emang sensitif kalau melihat sesuatu yang 'beda' tapi sih siang itu kami berdua aman,, jalanan lancar, bisnya bersih, supirnya tidak ugal-ugalan, mantep lah.. 4k terbuang istimewa.



[ jadi hari ini aku ke Ragunan dari rumah naik gojek ke halte TJ terdekat ongkosnya around 10k, naik TJ 2x klik 4k, Tiket Ragunan 25k, TJ pulang 1x klik 3.5k dan kopaja nya 4k. dengan note: bawa bekal dan minum dari rumah, cukup 50k ( dan masih ada kembalian) kalian-kalian bisa ajak anak ke RAGUNAN. cukup hemat kan.. ]