![]() |
the lovely POOL |
Pandemi memang
merubah banyak hal dalam hidup, termasuk ‘budaya’ traveling-nya anak Milenial.
Tidak, saya gak akan ngaku-ngaku jadi anak milenial (sekalipun usia saya masih
termasuk didalam golongan anak-anak Milenial), karena pola pikir, cara
berpakaian dan lagu kesukaan masih suka-suka saya, saya tidak suka yang
template, saya gak suka dijuluki anak senja, dan saya menolak disamakan dengan
orang-orang yang suka musik jazz karena zaman. Anak muda… saya sudah suka jazz
saat manusia bumi menggilai POP/ R N B.
Baik, back to
topic. Masih dalam rangka bday celebration #sederhanadanmembumi Tahun ini,
begitu ajaib nya satu mimpi untuk kembali ke Bali, rasanya bisa terwujud. This
time, kita akan berbosan-bosan di Seminyak, tepatnya di The Studio Seminyak.
Pertama kali yang saya lakukan setelah membayar tiket citilink kami, adalah
melihat lihat available room di tanggal ulangtahun saya. Karena sebegitu
niatnya, ada beberapa apps yang saya download hari itu; traveloka, tiket.com,
booking.com, trip, membandingkan rate & availability dari apps satu ke apps
lain, dan begitu masuk ke pembayaran, tidak ada satupun apps yang support
pembayaran dengan debit card, (atau mungkin bisa.. tapi card debit saya masih
yang jadul dan tidak berlogo Visa –waktu itu dengan alasan murah biaya admin,
jadi tidak mau yang berlogo vis*--), merasa kesal, saya lalu iseng menelepon
beberapa hotel yang menarik perhatian saya. Fokus utama saya adalah kenyamanan
karena mengajak anak dan menginap adalah hal yang cukup tricky untuk saya.
The Studio lewat
apps, dan juga hasil googling, memiliki kamar dengan luas 50sqm alias 50 meter
persegiiiiii.. iyak gak salah baca.. beneran 50sqm dan itu seluas rumah-rumah
milenial,, bahkan lebih luas.. sekarang rumah-rumah dipasaran mungkin hanya
seluas 20sqm, 33 sqm, 36sqm, dan bahkan apartment studio atau 1 BR sekalipun,
sepertinya jarang ada yang seluas itu. Bersyukur rate-nya hanya 200k/ night,
kebayang kan 4 hari di kamar luas dan dikasih rate super ciamik.. berasa dikasih
kado aja terus menerus oleh semesta. Setelah menelepon saya semakin yakin untuk
booking, memang ada beberapa tipe kamar, ada yang 1 villa juga, dengan interior
yang lumayan manjain mata, dan super nyaman. Tetapi, karena budget sangat
minim, saya akhirnya setuju untuk booking superior suit room, via telepon, dan
hanya perlu mentransfer ke rekening owner, dan juga menulis (via text) apa apa
saja special request (mis: tambah bantal, ganti handuk 2x sehari, no smoking
room atau malah smoking room) saya cukup kaget dengan kenyataan bahwa booking price via aplikasi dan via telepon akan lebih murah
bila booking via telepon, saya anggap itu sebagai hadiah, karena saya BUKAN
PEMAKAI/ PENGGUNA KARTU KREDIT.
Bli hotel juga
bilang, mereka ada jasa airport pick up ( mereka bisa arrange airport pickup
bilamana tamu mau dijemput dari bandara Ngurahrai –tentu dengan harga terpisah
dari harga room). Yang setelah saya pikir-pikir, seminyak cukup dekat dari
ngurah rai, harusnya saya bisa manage untuk pergi sendiri ke hotel, tapi
akhirnya pun,, saya booking airport pick up di Bli yang menyewakan Skuter untuk
kami, katanya sih best price, jadi saya percaya saja. hotel check, airport pick
up check, rent bike check. Selanjutnya saya hanya perlu menunggu beberapa bulan
lain dengan sabar hati, saya merahasiakan trip Bali ini dari monkey, untuk
menjaga kelancaran belajar di sekolah dan ritme les renangnya.
Hari yang
ditunggu tiba, penerbangan yang smooth, landing yang super smooth, sampai
penjemputan oleh Bli rent bike pun tepat waktu membuat saya sangat bahagia.
Sampai di hotel dan check in, saya kembali di kagetkan karena satu hotel ini
hanya kami yang menginap!! Wohoooo.. tamu lain memilih budget Villa yang
letaknya 20 meter ke Utara, alias beda gedung. The Studio sebetulnya terletak
diperbatasan seminyak, dan saya beruntung The Studio lokasinya benar benar
berada di luar hiruk pikuk semaraknya Seminyak, masuk gang, 1 mobil, posisi di
ujung gang buntu, sangat amat menjadikan The
Studio tempat nyaman untuk tidur tanpa banyak basa basi. Sebab lokasi yang
cukup ‘masuk gang’ dengan row jalan kemungkinan hanya 3,5 – 4 meter, Hotel ini
hanya menyediakan parkiran motor, syukurlah kami memang menyewa motor (gak ada
uang juga untuk sewa mobil). Sebetulnya bisa juga parkir mobil di tanah kosong
dekat hotel, tapi tetap saja menurutku, lebih enak sewa motor, lebih hemat dan
kita kan Cuma pergi berdua, saya juga sudah mengantongi SIM A dan C, jadi tetap
aman selalu.
Sewaktu check
in, saya dipermudah karena sudah confirm terlebih dahulu waktu kedatangan saya
dengan meberikan tiket pesawat kami. Kamar sudah disiapkan, lokasinya dilantai
2. Sejujurnya saya sangat mencintai Bali, dan segala hal tentangnya. Mendaki
tangga sambil membawa koper ditangan satu, dan memegang tangan anak balita
ditangan yang lain adalah hal lain. Perlu effort dan nafas yang panjang. Kamar
kami diujung, dan yah.. sedikit PR untuk bolak-balik ke bawah (karena kolam ada
dilantai 1). Tiap kali naik atau turun
tangga, rasanya bobot badan saya
berkurang 0.50 gram.
Sampai di kamar
setelah naik tangga, rasanya seperti dapat jackpot! 50sqm didepan mata, masuk
kamar langsung ketemu lorong, ada 3 ruangan terpisah, kamar tidur dengan 2
pintu ( 1 pintu menuju ke lorong, 1 pintu lagi menuju langsung ke kamar mandi),
kamar mandi dengan 2 pintu (1 pintu direct ke bedroom, 1 pintu lagi menuju
lorong dan ruang tamu/ruang tv). Ruang tamu sendiri sangat lega dan interiornya
tidak sia-sia, cukup fungsional dan nyaman. Terdapat lukisan Buddha berukuran
besar menempel didinding. TV dan meja TV, meja & sofa L, meja makan dan
kursi makan. Tempat sampah dan aircon. Whouuw 50sqm dan dibawah sejuta, kayanya
Cuma the Studio yang punya.. diruang tamu juga ada pintu dan jendela kaca (all
wooden & glass) menuju ke balcony. Pemandangan sunset & sunrise dari
balcony cukup memuaskan.
Kamar 50 meter
persegi adalah alasan ku memilih The Studio. Dan harga juga sangat terjangkau
bahkan menurutku murah. Gimana enggak?? 200ribu, bisa santai rebahan sambil
nonton di ruang TV, bisa memandangi langit di balkon, bisa berendam di
bathtub-nya, bisa juga nyantai di kamar, semuanya masih satu interior yang sama
tapi beda-beda kesan. Bahkan ada meja makan dan kursi makan di pojok dinding
dekat meja TV. Betulan toughful deh arsitek dan ownernya. Betul-betul
memikirkan tamunya. Oh dan selain luas kamar dan rate, ku pilih The Studio
karena tempatnya yang cukup ‘terasing’ dari hiruk pikuk Seminyak tapi masih di
perbatasan Seminyak dan itu membuat kami tetap bisa skuteran kepantai Kuta –
Legian – seminyak dengan leluasa, one way tidak ada artinya karena jarak hotel
ke destinasi yang ada di list kami dekat-dekat saja.
Di Bali artinya
harus percaya perbuatan baik ataupun buruk akan ada buahnya, LANGSUNG. Atau
paling tidak itulah yang saya percayai, perdana sewa motor dan motor-nya pun
yang mahal (sebetulnya sengaja karena mimpi someday punya vespa, tapi karena
belum ada rejekinnya, akhirnnya sewa dulu) takut pas tiba-tiba lagi di parkir,
motornya hilang, musti ganti rugi pakai uang apa.. syukurlah terjadi hanya yang
baik baik saja.. walaupun sempat lupa kunci bagasi motor dan terparkir
semalaman, tapi barang-barangku di bagasi termasuk STNK motornya, masih duduk
cantik, aman, nggak hilang. Haa.. jadi rindu Bali, lagi.
Hal – hal unik
yang ku perhatikan:
n
Hotel ini bukan hotel baru, begitupun
arsitekturnya, interiornya dan exteriornya. Tapi saya suka, terlebih perpaduan
elemen kayu dan kaca pada setiap pintu (pintu kamar, pintu kamar tidur ke kamar
mandi, jendela kamar ke balkon). Dan kuncinya pun kunci jadul dan cukup berat.
Saya selalu menitipkan kunci hotel di reception, kalau-kalau saya lupa atau
kuncinya yang menghilang dari tas saya. Bisa saja.
n Entah kenapa, tanaman di balcony kamarku sama sekali tidak ada, hanya pot berisikan tanah kering. Too bad, saya padahal suka yang hijau-hijau..
![]() |
there's fridge under the wash basin. its magic |
n
Masih di kamar, semuanya Nampak sempurna, bahkan
untuk hotel bintang 3 dengan rate 200k, mendapatkan kamar mandi dengan bathtub
adalah sebuah keniscayaan, tapi disini, setiap kamar memang dilengkapi dengan
bathtub, dan huge wash basin dengan kaca yang juga super huge, too bad, ngga
ada hairdryer (tenang, saya bawa hairdryer dan catokan juga) padahal kiri kanan
kaca washbasin ada terminal electric (colokan), kalau mereka provide hairdryer
pasti lebih ok. Sempat mikir, pasti nggak ada kulkas lah… ternyata pas buka
wash basin didepan kamar mandi, ada kulkas tersembunyi dengan cantiknya
dilemari bawah wash basin. TAKJUB. Titik.
n Bed, idk badan ku yang terlalu hulk apa gimana, setiap pindah posisi tidur pasti papan divan akan berbunyi ‘kreeeek’ takut sewaktu waktu papannya patah, dan kasur kami amblas ke lantai **untung aja nggak terjadi**
n
Cupboard nya HULK sekali! Ini tuh ya.. baju,
kulkas 2 pintu, anak & cucu masuk semua deh saking huge nya lemari. Memang,
the studio adalah pilihan stay orang-orang yang menjalani WFB *Work from Bali*
atau memang sedang dinas pekerjaan di Bali, mereka juga menyediakan rate
special untuk yang tinggal bulanan (seperti indekos gitu modelannya). Jadi
jangan heran sama lemari yang guedheeeeee banget itu yaa…
n
Kolam renang tidak besar, tapi cukup untuk
alternative kegiatan keluarga. Monkey sangat senang berenang disini, sekalipun
berjarak 1 meter dari kolam renang, ada aliran kali yang suaranya cukup bising,
no problem, saya suka sama arsitekturnya, seriusan… cukup sulit disain kolam
dengan kontur tanah dan posisi tanah yang sebelahan dengan Kali, karena rawan
sekali longsor, dan arsitek the studio bisa mendisain dengan baik.
n Tidak ada breakfast, I specifically asking them lewat aplikasi traveloka, dan no.. mereka memang tidak menyediakan breakfast, 200k for room only. but they provide plate & cutlery so we can always take away or cook something.
n
Canang everywhere. Saya tahu canang memang
bagian dari tradisi, tapi saya sedikit takut karena posisi nya dekat saya
parkir motor, saya cukup khawatir motor sewaan akan secara tidak sengaja
menyentuh canang. Dan juga canang yang ada di ujung tangga (bagian atas),
kadang saya takut terinjak oleh kaki saya atau kaki anak saya. Huffttt… disini
bener bener menjaga dan melihat betul-betul jalan yang akan kita lewati.
n
Dimalam hari, akan ada saat dimana reception
pergi untuk membeli makan / hal lain, sehingga Bli nya tidak stand by, tapi
mereka cukup bertanggung jawab dengan memberikan tulisan dan juga mencantumkan
nomor hp mereka yang terhubung dengan aplikasi perpesanan, sehingga kita pun
tetap bisa menyampaikan request atau pertanyaan kepada bli yang jaga.
n Hotelnya sangat sunyi. Sangat ‘nggak seminyak banget!’ tapi justru saya sukakk.. kenapa? Karena dekat dengan warung banyuwangi yang bisa di gofood / dine in, masakannya enak-enak, juga nasi tempong bu Devie yang sambelnya juara! Dekat dengan lokasi makanan dan pusat hiburan (kafe, coffeeshop, bar, etc), lokasinya yang memang di gang, perumahan, bukan di lokasi seminyak yang sibuk, betulan bisa buat tempat persemedian juga (I call it –little ubud—) mungkin hanya sesekali terdengar suara anjing menggonggong.
![]() |
BIG SPIDER in the bathroom. FYI, theyre nice |
Secara
keseluruhan HOTEL ini memenuhi segala keinginan, kalau biasa cari hotel
murah-murah aja yang penting ada tempat buat tidur (karena bakalan kelayapan
ALL DAY), artinya lagi nggak perlu space kamar yang luas. Nah The Studio ini
berbeda, kamu mau satu minggu semedi didalam kamar hotel pun pasti nyaman
karena spacious room yang ditawarkan. Mau nonton TV sampai bosan, ada ruang
tamu.. memandangi kehidupan, bisa duduk terbengong dibalcony nya.. mau tidur
seharian hayuuk pindah ke kamar.. atau mau bermain air dengan sedikit privacy
ada bathtub dikamar mandi.. makan bisa gofood/ sejenisnya karena di dalam juga
ada meja makan- kulkas, piring, gelas minum, gelas kopi bahkan wash bashin
untuk cuci cuci berserta kelengkapannya.