Showing posts with label #bali. Show all posts
Showing posts with label #bali. Show all posts

Saturday, December 18, 2021

BDAY TRIP KE : BALI ISLAND!!!!

 

always put a smile even we wore a mask

Saya, kami, sangat excited untuk ada didalam pesawat yang membawa kami berlibur ke pulau BALI. Setelah selama covid kami tidak kemana mana, sebuah trip pasti akan membuat kami melupakan kesedihan, kesesakan dan perasaan tersegarkan oleh angin dan pemandangan pulau Bali yang begitu memanjakan.

Bila taun lalu  tujuan kami adalah UBUD, kali ini tujuan kami hanya seputar SEMINYAK – KUTA – LEGIAN saja. mengapa demikian? Banyak teman yang menyarankan untuk mencoba pantai disaat covid (mungkin karena super sepi jadi akan nyaman dan tidak begitu crowd seperti biasanya), juga saya sudah terlanjur pesan NEW VESPA sebagai kendaraan kami keliling selama liburan. Not sure bila stay di UBUD apakah ada local bike rental yang harganya sesuai kantong saya. Iya bokek.


our flight with Citilink

Entah mengapa semesta memberi ijin dan kemudahan kami. Bagaimana tidak? Di bulan oktober 2021 saat iseng mengecek apps BETTER FLY Citilink bisa bisanya harga tiket PP ke Bali untuk 2 orang hanya 1,100k, LIKE IS IT REALL… sebab sebelumnya, perjalanan PP ke Bali termurah 2.000k berdua. Juga kenyataan bahwa setelah berhasil membeli tiket, kami juga mendapatkan harga murah untuk hotel tempat kami stay selama di Seminyak. Perfect combo yang mmbuat saya jadi berpikir bahwa ini adalah tanda dari semesta, restu dari NYA.

Bally.. here we come!!!

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya kami berdua trip… tapi saya agak gugup karena harus membawa BALITA yang belum vaksin ini berpergian,, Saya sendiri baru mendapatkan vaksin shoot dosis kedua beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Denpasar. Syukurlah efek dosis kedua ini lebih soft daripada dosis yang petama. Anyway, dengan beberapa hari sebelumnya brief Sa, dan sebelumnya selama berbulan bulan afirmasi ( Oktober – November – desember) dia pun berjanji untuk selalu memakai masker bila kami keluar (sekalipun hanya turun untuk berenang di bawah, tetap harus bermasker)

Siang itu, cuaca mendung tanpa hujan menyapa kami. Saya berhasil arrange penjemputan oleh tim sewa vespa yang sudah menunggu kami di terminal kedatangan sambil membawa kertas bertuliskan nama saya. Senang? Ya tentu saja, artinya kami bisa langsung handsfree karena koper dan barang lain langsung berpindah tangan dan dibawakan Bli nya. Tujuan petama, tentu saja hotel.. saya cukup lelah, agak gugup juga dipesawat karena sudah berbulan bulan lalu off naik pesawat. Terakhir kami naik pesawat adalah pada saat saya menjemput Sa di bandara Soetha dan bersama kembali ke Juanda.

ikkhousha ramen. shoyu ramen

Selesai meletakan koper dan mencuci muka dan berganti baju, kamipun berangkat untuk makan ramen di sekitar hotel. Senang sekali ramen yang sudah bertahun tahun tidak saya makan, hari ini, dihari ulangtahun saya.. saya bisa merasakan kembali lembutnya ramen dipadu dengan gurihnya Shoyu broth, saya rasanya mau terbang saat akhirnya lidah kembali merasakan kenikmatan ini.


Selesai makan kami langsung menuju toko oleh oleh krisna yang di Sunset Road, sedikit mengisi tas belanja kami #BringYourOwnShoppingBag untuk hadiah natal para saudara, ipar dan keponakan di Jakarta, mampir ke minimarket untuk membeli air minum, kemudian kembali ke hotel dalam sekejap. Tidak lama, saya kembali mengorder nasi tempong sebagai penutup hari lahir saya, senang, nasi tempongnya sangat nikmat dan juga harganya cukup murah.


Pagi hari, kami memulai dengan berenang, karena hotel tidak menyediakan breakfast (room only), kamipun memulai hari dengan skuteran ke Pantai Kuta, well… rodok sedikit kecewa karena di pantai ramai manusia, yah sebenarnya sepi pengunjung, tapi ramai pedagang, mulai dari kelapa muda seharga 40k, meni pedi & nail art, per-kalung-an, per-kaos-an, sampai per-kepang-an. Too bad, menawarkan jasa sampai memaksa, yang membuat kami akhirnya setuju untuk di kepang dengan harga sesuai yang ditawar. Dalam hati sambil berharap.. lain kali boleh kan ya kami duduk santai dipantai, menikmati suara ombak tanpa ‘paksaan’ menggunakan jasa jasa yang ada.. untuk minuman, kami pasti akan membeli dipantai juga untuk support local business. Selesai dikepang, kami langsung meninggalkan pantai, pergi ke parkiran dan pindah ke pasar seni Legian, too bad, saya gak sempat beli apapun disana karena, lagi lagi saya keburu takut di tembak harga, (berdasarkan pengalaman saya sebelum sebelumnya… kami sering dikira tourist jadi dikasih harga tourist). Perjalanan pulang dan Sa insist pergi ke warung gelato terkenal yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap.

menikmati traffic Bali dengan scooter sewaan

Gelato ini lain cerita, disini kami mendapatkan perlakuan TIDAK RAMAH oleh para waiters dan petugas disana. Untuk rasa gelato OK, tapi pelayanan sorry to say, saya secara personal lebih memilih untuk TIDAK LAGI PERGI KESINI. Karena pembeli butuh rasa nyaman yang sayangnya tidak tersedia di toko ini. FYI, kesini saya MEMBELI, MEMBAYAR SEJUMLAH UANG, bukan menukarkan tiket / kupon hadiah giveaway untuk se-cup gelato. Miris memang, toko ini langsung saya blacklist, hehehe.. gak apa saya gak sebut merk kan.. aman kamu.. kemudian kamipun pulang, dengan membawa serta si gelato yang masih tersisa, iya bawaannya pengin pergi aja kalau tempatnya tidak nyaman, Karena kami kesini untuk berlibur dan have fun, segala yang buat not fun akan langsung kami tinggalkan.

sudah pengin kesini sejak Pepita buka beberapa tahun lalu.

Tiba di hotel kami lalu order gofood untuk makan, this time pilih nasi goreng local, rasanya nikmat. Setelahnya kami skuteran agak jauh untuk bertemu seseorang mentor vegan keren yang rumahnya, berhasil membuat kami nyasar. Kebayang kan, di kota orang, motoran modal googlemaps, dan tapi Jalan di denpasar dan sekitarnya itu kebanyakan Jalan satu arah yang membuat saya bingung sendiri, karena bolak balik nyasar.. waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit or so, menjadi satu jam lebih.. tapi ini ku syukuri karena bisa ngobrol lepas bersama mba Mitha di rumah beliau. Sebelum perjalanan makin memusingkan, kami juga sudah mampir ke Pepita n Sons untuk ngopi dingin dan merasakan nikmatnya vegan donut buatan mba Sophie Navita. Saat saya mengetik ini, terbayang lembutnya choco vegan donut yang saat itu saya rasakan, FIXX saya akan kesana lagi pada trip to Bali yang selanjutnya.. sampai hotel dan mandi.. kemudian kami pergi ke jimbaran untuk menikmati seafood dan sunset sepanjang Jalan. Merasakan nyamannya mengendarai vespa impian yang entah kapan akan dimiliki… malam belum berakhir, kami pergi ke Made’s di Seminyak untuk menikmati LIVE MUSIC.\

Made's Seminyak on Friday

Bersyukur lagi, jauh sebelum mengunjungi Warung ini, saya sudah menelepon nya terlebih dahulu untuk menanyakan perihal live music ini, awalnya saya berharap ada Bali dance atau local show lainnya. Dari informasi yang saya dapatkan lewat telpon, selama covid ini tidak ada traditional Bali dance, hanya ada LIVE MUSIC di hari Jumat dan Salsa night di Malam Sabtu. Jadi hari Jumat berakhir dengan ber-live music-ria dengan lagu lagu yang saya hapal semua lyricnya menikmati indahnya suara kakak penyanyi sambil nyemil marinara pizza dan menyesap kopi cappuccino saya..


Sabtu pagi berawal dengan berenang…. Sa kebetulan lagi GIAT SANGAT berenang jadi ya hampir setiap hari dan dalam sehari bisa beberapa kali berenang bersama. Pagi ini sarapan nasi tempong lagi di warung banyuwangi dekat hotel. Entah sudah berapa porsi nasi tempong dan menu khas banyuwangi lainnya yang sudah kami nikmati selama di Bali. Lost count karena memang SE ENAK ITU dan mudah dipilih daripada terjebak memakan daging B yang tidak kami konsumsi. Selesai sarapan kami lalu berangkat sedikit ke tengah, ke Cangu untuk mengunjungi warung kakak kandung saya (ngarepdotcom) Teh Manis Bali. Perjalanan ke Cangu dengan motor tidaklah begitu menyenangkan diterik nya matahari Bali dan ramainya jalanan oleh para tourist local dan tourist asing. Saya harus berkali kali mengerem dan membuat jari saya kapalan, iya se---sering---itu ngeremnya. Dan rem Vespa memang keras, jadi perlu tenaga dan kesabaran dan kekuatan yang penuh. Sekembalinya dari cangu, kami langsung ngemall, kali ini tujuannya, discovery mall, mall kecintaan saya yang tidak banyak berubah, dan luckily kami bisa memanjakan mata karena selain dibelakang mall persis ada hamparan laut kuta nan indah dengan langit yang aduhaii,, di dalam mall.. sedang ada pameran karya seni (lukisan dan sejenisnya) yang betulan membuat hati terkagum kagum melihat rupanya dan harganya.. (lihat saja, belum sanggup membeli). Seolah belum terlalu kapalan si jari, kami lanjutkan perjalanan ke Krisna, kali ini Krisna terbesar yang ada di Bypass, baru petama kali kesini dan kagum aja gitu.. segitu banyaknya lahan untuk parkir, sampai penuh dan harus di refer ke parkiran lain yang jaraknya beberapa meter dari lokasi, untunglah motor tetap bisa parkir di basement. Beli – beli sedikit lagi kado natal untuk diberikan ke keluarga, setelahnya kami pulang dengan kardus menyempil dibagian depan vespa, perjalanan balik ke hotel menjadi pelan dan sedikit mendebarkan karena cukup tricky membawa kardus besar disela sela kali saya yang panjang.

warung banyuwangi dekat hotel, dine in or takeaway

Malam ditutup dengan MAKAN MALAM NASI TEMPONG LAGI. hehehe bingung mau makan apa, warung banyuwangi selalu jadi jawaban. Dan rasa masakan yang mirip mirip dengan masakan Suroboyoan----masakanku, membuatnya menjadi sangat kusukai..

Nusa Dua Skies

Ya sebetulnya mau extend di NUSA DUA, dan hotelpun sudah di lunasi, tapi tiket pesawat tidak bisa di extend Karena flight nya sedang penuh sampai Natal. Dengan berat hati kami harus pulang sesuai jadwal dan merelakan booking-an hotel di Nusa Dua hangus sia sia.. anyway.. kami merasakan kenyamanan saat Drive-thru tes antigen dan PCR (untuk Sa) hasilnya cepat dan juga terkoneksi dengan apps PeduliLindungi.

why you grow up so fast, my Monkey?

Sesampainya kembali di bandara Djuanda, kami menunggu lumayan lama untuk baggage claim. Ya, kali ini, pergi dan pulang, selalu ada bagasi yang dititip karena pesawat citilink pesanan kami juga include baggage sebanyak 20kg each, itulah mengapa saya suka terbang dengan citilink, sebab pesawat lainnya, pasti butuh extra money untuk baggage. diusia baru ini, saya tersadar begitu banyak berkat yang boleh saya rasakan sekalipun, disetiap Desember, ada saja cobaan untuk kami, terkhusus di kesehatannya Sa. tahun lalu, bulan Desember, dihari dimana saya harus bimbingan tesis untuk finalisasi menuju sidang tesis, Sa harus dilarikan ke IGD karena muntah terus dan ternyata hasil tes darahnya dia terkena gejala typus. Desember tahun-tahun sebelumnya pun.. tidak mudah untuk kami lalui, tapi kami berhasil sampai di tahun ini. 


cheers, XOXO

Traveloro

Thursday, October 3, 2019

crossing Java Island : Bali




Sempat dibilang jahat karena tidak ajak Sa ke Jakarta untuk nyekar 8th-an mamake..  Padahal sebenarnya sebulan jauh sebelum itu saya sudah mengantongi IJIN day-off selama 3 hari dari boss saya (maacie ya bossque yang cantik dan baik hati). Tentu saja boss saya bolak-balik nanya.. emang kamu mau kemana sih.. lama-lama gitu,,? tentu aja saya bilang "mau ke Bali, ajak anak saya bu.." dan beliaupun akhire bilang "ya udah kamu pergilah.. tapi syarat dan ketentuan berlaku ya, kamis harus masuk.. kan kamu bisa pergi dari hari Minggu (whaaaaaat Minggu kan aku masih kudu sekolah dulu, ada kelas dari pagi..--- eh tapi jujur itu yang terusnya menumbuhkan ide saya untuk ngambil flight ke BALI hari Minggu di jam sore) dan untuk penerbangan pulang, saya extend sehari, karena pindah dari Ubud ke Seminyak, cause im desperately need to REST and RELAX 


Kenapa UBUD?? jawabannya simple, karena saya belum pernah.. Sa juga pasti senang senang aja selama itu ada saya.. dan tentu saja sedikit sogokan berupa susu dan candy... flight kami berjalan mulus tanpa turbulence, kayaknya cuma 35menitan deh,, dan di Ngurah Rai, kami tenang karena sudah minta airport pickup sama owner Villa kami di Ubud 


Sampai Ubud tengah malam disambut guyuran hujan, adem banget.. meni Sa tidur dari pas dijalan ya,, dan Villa nya itu ada di tengah sawah (Dalam arti yang sebenarnya), jadi sambil gendong dimalam gelap dan hujan, bener-bener pengalaman yang tidak terlupakan, tau kan persawahaan itu jalannya cuma setapak dan sliperry juga,, untung aja bisa menjaga keseimbangan badan, karena salah langkah kami bakalan nyusruk ke Sawah..




Sampai dan diberi sedikit room tour sama Bli owner.. dan dia juga tanya mau sarapan jam berapa, dan info menu sarapannya juga.. dan kami tidur terlelap di empuknya kasur dan dinginnya udara UBUD. sempet kecewa pas tahu kalau kamar kami, gak ada Aircon, tapi begitu lepas sepatu, dan bertelanjang kaki, baru deh tahu dinginnya lantai. Sempat Bli tanya besok mau kemana, saya jawab mau istirahat aja di Villa.. 



Bangun pagi setelah sarapan omellete (isi bayam dan tomat cincang) singkat cerita, Bli tidak punya gayung untuk mandi (sa gak suka mandi pakai shower) sebagai gantinya, Bli bilang bahwa 2 menit jalan lurus kebawah, ada air terjun mini dan mata air alami yang biasa dicari orang seperti holly water dan kita beruntung bahwa area itu masih punya nya Bli, jadi sekalipun lumayan jauh dari Villa, air terjun dan mata air ini private, dan Sa bisa mandi disana. lalu coba turun kebawah, masih persawahan sih.. tapi berundak dan yang cukup PR adalah gimana caranya ajak Sa turun dengan digendong, kondisi tanah basah dan lumut juga berat badan Sa yang lumayan dengan panjang badan yang udah gak bisa dilipat macam bayi dulu... tapi bisa sih dengan sedikit usaha dan banyak keringat (hueheheh...) terus dia mandi deh dengan asyiknya dipancuran itu.. niat awal mau istirahat dan sepeda-an (macem Julia Robert di film Eat, Pray, Love gitu kan ya,, ) taunya apa coba....siangan dikit, karena laper, kami minta di drop ke Ubud Center.... ciye.. terus makan siang di salah satu warung.. yang menunya enak-enak (tapi juga) mahal-mahal.. dan strolling around Pasar Seni Ubud, karena Sa insist beli sandal buat mba nya dirumah setelah dapet ya senyum aja dengan muka cemong penuh gellato yang lagi dia makan..  malamnya untuk dinner kita pesan di Villa dan dibuatkan Veggie Curry oleh istrinya Bli, rasanya TDF sekalipun later i got diare karena si kuah nan inak itu berbahan dasar santan



Pagi-pagi ada yang komplain gak mau mandi kalau gak ke pancuran air lagi... dan emang jadwal kita hari ini cukup padat. Goa Gajah - Tirta Gangga - mampir pantai sepanjang karangasem (kalau sempat) DAN kelakon juga semua itu.. first stop kita Kimia Farma, disitu saya beli obat untuk mengatasi diare dan kami ke Goa Gajah setelahnya. disitu, rasa magis kental terasa menghampiri raga, ada semacam aura yang membuat saya merasa tempat ini sakral sekali.. saya sempat goosebump saat masuk ke salah satu goa yang ada benda peninggalan dewa dewa,, ditempat ini juga ada tulisan yang intinya, kalau perempuan dengan kondisi lagi period, gak diperbolehkan masuk ke areal yang sudah dibatasi,, berani melanggar ya tanggung sendiri akibatnya yah.. untunglah pas kemarin kesana, aku gak lagi period, bisa explore lebih dan berkeringat secukupnya.. 



right before the big fish come out and kiss her 

Tirta gangga adalah lain hal,, dan disini saya bahkan sempat berenang bersama ikan-ikan didalam kolam pancur.. gak terbayangkan tapi terjadi juga sih.. ternyata saya cukup berani berbusana renang dan dilihatin banyak mata.. sempat lama di sini, Sa bahkan mengalami adegan cukup membuat jantungnya berdegup keras sampai dia tersungkur dan menangis.. saat dia kasih makan ikan, dan salah satu ikan besarnya loncat dari permukaan air, nyaris mencium pipinya (mirip adegan dolphin kiss penunjung seaworld di film-film). Juga karena disini cukup lama, kami memutuskan makan di kafe tirta gangga, pajaknya 21% dan saya inget nominalnya Rp.51.000 wagelaseeh.. bangkrut kakk!!! perjalanan Pulang kami sempat mampir ke 2 lokasi lain, masih di seputaran wilayah karangasem, Bali. dan sempat juga lho lewatin Padang Bai, wah........ pikiran langsung melayang,,,,,,, seandainya dulu saya ambil sekolah diving di Padang Bai yah.. saya pasti gak bakalan sekolah di Surabaya, apalagi dapet kerjaan yang bisa mengantarkan traveloro ke Bali-Ubud-Seminyak (terimakasih Tuhan eniwey sepanjang jalan pergi-pulang pas lewat perbukitan kita melihat kawanan monyet dikiri-kanan jalan... Sa jerit jerit dan semangat banget lihatnya, this is her first time lihat Monyet.. 


say hello to the Villa @Ubud

hari ketiga, kami sempat keteteran packing dan lost track time... karena Bli yang bakalan antar kami ke Seminyak mengalami kendala di kendaraannya, sehingga jam cek out jadi keteteran lebih dari 2 jam.. ditunggu-tunggu bli gak kunjung datang, saya sampai bolak balik mandi-berjemur-mandi-berjemur, untuk bilas tanning oil yang saya apply selama berjemur... dan tibalah di Seminyak dengan waktu perjalanan 2 jam, lumayan padat jalanan Ubud - Seminyak. Nginap di Bali Reski Hotel dan puas puasin tanning karena ini adalah matahari terakhir sebelum beraktivitas kembali.. 




Sa keren,, dia mau berenang sendiri, gak mau dipegang atau di jagain....... kita sampai berjam-jam dalam air dan cuma naik untuk makan siang yang kami pesan lewat aplikasi gofood. mulai gelap, kami naik dan bilas.. jalan lah kami ke Krisna. untuk beli Oleh-oleh dan ada niat juga paketin oleh-oleh ke keluarga di Jakarta. di Krisna, kasirnya lucu sih.. terpisah antara kasir kartu dan kasir tunai.. dan karena tunai gak banyak.. saya sampai mengembalikan tas rajut incaran karena males untuk antre panjang di kasir non tunai



untuk menutup malam ini, kita mampir ke Made;s Warung di Seminyak. ah.. rindu.. its been a while since my last visit.. ga berubah.. masih tetap indah.. Sa pesan gelato strawberry dan saya pesan kopi.. keduanya enak..dan tambah enak lagi karena kami menikmatinya sambil melihat penampilan tari Bali.. di panggungnya Warung.. sampai hotel.. Sa tidur.. saya packing dan gak bisa tidur, takut ketinggalan pesawat......



xx
Traveloro














** untuk yang mau ke Ubud, harus nabung lama........ karena pajak restonya 21% ( iyak sebesar itu) *bangkrut in an instant* belum lagi yah.. kemana-mana jauh, harus sewa kendaraan minimal sepeda atau motor. Kita cukup beruntung Bli Santana (villa owner) berikan harga terbaik untuk tour seharian & layanan drop off - Pick up yang luar biasa, bahkan pak Supir nya mau-mauan gendong Sa selama tour ( tour lumayan jauh, mendaki banyak tangga, dan padat [ Gua Gajah - Tirta Gangga - Lunch - Taman Soekasada Ujung - Pantai Wates Yeh Malet] 

Wednesday, October 2, 2019

Review Villa: Thani Villa - Ubud

View Depan Villa jam 7 WITA ( masih kelihatan kabut)

Omong-omong soal Ubud.. dibenak saya selalu membayangkan Julia Robert di film Eat, Pray, Love. namun, Ubud kali ini minus bersepeda, dan plus anak.. the love of my life, Sa Prajna, my Monkey. Disini, Ubud versi saya mencakup semua hal, Eat (a lot), Pray (a little), Love (MOREE).

Setelah naksir banyak hal tentang Ubud yang utamanya adalah = hijaunya hamparan Paddy field, dan jatuh hati pada tampilan Thani Villa (again saya book lewat situs booking.com) jadilah saya jatuhkan pilihan ke Thani Villa, yang ternyata setelah disana, baru percaya kalau lokasinya itu jauh dari UBUD CENTRE **yang mana akhirnya butuh 100k (PP) untuk menghantarkan kita lunch dan JJS kesana. 

Pesawat malam menghantarkan kami dari Surabaya ke Denpasar, dan perjalanan selanjutnya ditempuh dengan jasa *AIRPORT PICKUP* yang ditawarkan owner Thani Villa. Manisnya si Owner jemput kami dengan mengajak serta isterinya. Jadi pas datang, dan Bli bantu angkat ransel saya, dia bilang "maaf saya ajak istri saya.." dijalan, mampir ke minimart untuk beli susu& isi data internet (iya tamu dikasih internet yang mumpuni untuk tetap bisa terhubung dengan dunia luar/ pekerjaan dll, meskipun rasanya susah mendapat sinyal selama di Villa.

hasil foto Sa. dekorasi di ruang tidur

Sampai Villa udah tengah malam menjelang dini hari, hujan tercampur dengan embun yang membuat jalan setapak di sawah menuju ke Villa jadi tantangan tersendiri untuk saya ( Sa tidur, saya gendong sambil dipayungi Bli, sambil jinjing sandal Sa juga, sementara Istri Bli, bantu membawa sisa barang yang lain). sampai disana, setelah beberes sekenanya saya ikutan tertidur. kita stay disini 29 Sept - 2Okt 2019.

dapur. letak nya disebelah kiri Villa

Room Rate di Thani 800k/night. tapi dengan kenyamanan dan Fasilitas yang ada, saya rasa semuanya worth-it banget.. itu sudah include breakfast, yang harus saya akui, sangat amat simple ( Vegetarian Breakie) tapi enak dan juga Sa suka, sekalipun itu Vegetarian dan ada sayur-sayuran juga.. dan untuk dinner bisa request dan di charge biaya 35k ( atau sekitar $2.. masih masuk akal dan rasanya juga juarakk). 

omellete for breakie, plus mix fruits, juice and milk

Banana Pancake for breakie day 2

Nasi Goreng. Vegetarian. Sa seporsi habis!!! 
di Kitchen ada kulkas 2 pintu, kompor canggih, teko untuk rebus air, thermos untuk simpan air hangat, alat makan dan alat masak, bisa banget sebenernya kalau mau masak sendiri, karena umumnya yang stay di UBUD untuk meditasi dan relaksasi, bahkan dari hasil obrol-obrol sama Bli, pernah ada beberapa tamu yang stay di Thani Villa selama 3 bulan!! emang sih Villa nya sangat amat nyaman, rasanya mau kasih ratting lebih dari bintang 5, karena emang sebagus itu sih.. dan untuk stay selama itu, mereka masak-masak sendiri, dan bisa banget... karena fasilitas yang disediakan juga lengkap. 


Nah, untuk kamar, ranjangnya idaman saya banget.. dibuat ala-ala ranjang jaman kolonial Belanda yang ada tirai penutup semacam kelambu, yang bisa difungsikan kalau malam, kalau takut kena gigitan nyamuk.. atau buat tambah pengalaman lah, minimal pernah tidur di ranjang romantis namun fungsional ini.. lampunya kataku so-so pencahayaan emang kayaknya sengaja gak dibuat terlalu terang, mungkin mau memberi efek ala ala pedesaan yang minim cahaya... (mungkin loh ya... )


di teras nan luas, ada meja makan, di tengah tengah dan ada juga kursi bersantai lengkap dengan beberapa novel impor ( novel berbahasa Inggris), kalau kalau mau santai sore sambil baca novel. kalau saya disini karena ada tamu lain (baca: para kucing) dan bertebaran bulu kucing, saya gak terlalu pakai kursi ini, tapi sempat berjemur disini karena sinar matahari sampai kekursi, biar aman, aku alasi dulu dudukannya pakai handuk yang disediakan hotel (fyi, hotel siapin 4 handuk bersih).
Oh, dan handuk ini pun, karena cukup panjang, aku pakai juga buat alas berjemur ditaman Villa, sekalipun masih kena gigitan semut in the process. 

pintu kamar. antik sekali ya!
Sekalipun pintu terlihat kuno, karena memang iya, tapi pintu juga canggih! dilengkapi dengan selot dibeberapa titik dan tentu saja kunci. kan gak lucu kalau sepulang jalan-jalan, sampai Villa, barang-barang kita raib! Sekalipun aman, better keep pintu terkunci.. walaupun ini sering lupa saya lakukan.. maklumi lah ke pikunan saya...


Dressing Room. natural & beratapkan langit

Dressing room isinya lengkap dan etnic natural semua. ada toilet, ada wastafel dengan baru besar sebagai wadahnya, ada kaca besar, dan ada shower plus sabun&shampoo juga. Karena gak beratap alias langsung kena ekspos matahari, saya juga sempat curi curi berjemur disini, sekalipun akhirnya pegal karena berdiri, akhirnya yah puas berjemur di taman Villa yang membuat (bisa dibilang ) persentasi tanning saya sukses 20%, dan tanning selanjutnya yang lebih puas terlaksana di SEMINYAK. 

our piece of heaven 

Over all traveloro suka sekali dan BETAH stay di Thani Villa. ownernya sangat amat baik, informatif dan helpful banget, bahkan karena tahu saya suka kopi, Bli selalu siapin kopi hitam plus isi penuh thermos air (in case gw mau bikin lagi.. terbaik emang) fasilitas jempolan, gak ada wifi tapi diberikan sim card untuk internetan, no AC tapi UBUD sudah cukup dingin (cukup membuat selimutan every single night), dapurnya asyik, kompor gas nya canggih... sempat kecewa pas tahu kolam renang nya belum dibuat, dan Thani Villa yang dilengkapi kolam renang sudah full book sampai pertengahan tahun depan katanya.. eh bahkan Bli Sentana ini mencarikan driver untuk mengantarkan kita kemana-mana, dengan best deal harga.. suksma ya Bli!! long life and we will come back SOOOOOOOOON!!