Tuesday, December 28, 2021

review hotel : The Studio Seminyak - Bali

 

the lovely POOL 

Pandemi memang merubah banyak hal dalam hidup, termasuk ‘budaya’ traveling-nya anak Milenial. Tidak, saya gak akan ngaku-ngaku jadi anak milenial (sekalipun usia saya masih termasuk didalam golongan anak-anak Milenial), karena pola pikir, cara berpakaian dan lagu kesukaan masih suka-suka saya, saya tidak suka yang template, saya gak suka dijuluki anak senja, dan saya menolak disamakan dengan orang-orang yang suka musik jazz karena zaman. Anak muda… saya sudah suka jazz saat manusia bumi menggilai POP/ R N B.

Baik, back to topic. Masih dalam rangka bday celebration #sederhanadanmembumi Tahun ini, begitu ajaib nya satu mimpi untuk kembali ke Bali, rasanya bisa terwujud. This time, kita akan berbosan-bosan di Seminyak, tepatnya di The Studio Seminyak. Pertama kali yang saya lakukan setelah membayar tiket citilink kami, adalah melihat lihat available room di tanggal ulangtahun saya. Karena sebegitu niatnya, ada beberapa apps yang saya download hari itu; traveloka, tiket.com, booking.com, trip, membandingkan rate & availability dari apps satu ke apps lain, dan begitu masuk ke pembayaran, tidak ada satupun apps yang support pembayaran dengan debit card, (atau mungkin bisa.. tapi card debit saya masih yang jadul dan tidak berlogo Visa –waktu itu dengan alasan murah biaya admin, jadi tidak mau yang berlogo vis*--), merasa kesal, saya lalu iseng menelepon beberapa hotel yang menarik perhatian saya. Fokus utama saya adalah kenyamanan karena mengajak anak dan menginap adalah hal yang cukup tricky untuk saya.

The Studio lewat apps, dan juga hasil googling, memiliki kamar dengan luas 50sqm alias 50 meter persegiiiiii.. iyak gak salah baca.. beneran 50sqm dan itu seluas rumah-rumah milenial,, bahkan lebih luas.. sekarang rumah-rumah dipasaran mungkin hanya seluas 20sqm, 33 sqm, 36sqm, dan bahkan apartment studio atau 1 BR sekalipun, sepertinya jarang ada yang seluas itu. Bersyukur rate-nya hanya 200k/ night, kebayang kan 4 hari di kamar luas dan dikasih rate super ciamik.. berasa dikasih kado aja terus menerus oleh semesta. Setelah menelepon saya semakin yakin untuk booking, memang ada beberapa tipe kamar, ada yang 1 villa juga, dengan interior yang lumayan manjain mata, dan super nyaman. Tetapi, karena budget sangat minim, saya akhirnya setuju untuk booking superior suit room, via telepon, dan hanya perlu mentransfer ke rekening owner, dan juga menulis (via text) apa apa saja special request (mis: tambah bantal, ganti handuk 2x sehari, no smoking room atau malah smoking room) saya cukup kaget dengan kenyataan bahwa booking price  via aplikasi dan via telepon akan lebih murah bila booking via telepon, saya anggap itu sebagai hadiah, karena saya BUKAN PEMAKAI/ PENGGUNA KARTU KREDIT.

Bli hotel juga bilang, mereka ada jasa airport pick up ( mereka bisa arrange airport pickup bilamana tamu mau dijemput dari bandara Ngurahrai –tentu dengan harga terpisah dari harga room). Yang setelah saya pikir-pikir, seminyak cukup dekat dari ngurah rai, harusnya saya bisa manage untuk pergi sendiri ke hotel, tapi akhirnya pun,, saya booking airport pick up di Bli yang menyewakan Skuter untuk kami, katanya sih best price, jadi saya percaya saja. hotel check, airport pick up check, rent bike check. Selanjutnya saya hanya perlu menunggu beberapa bulan lain dengan sabar hati, saya merahasiakan trip Bali ini dari monkey, untuk menjaga kelancaran belajar di sekolah dan ritme les renangnya.

Hari yang ditunggu tiba, penerbangan yang smooth, landing yang super smooth, sampai penjemputan oleh Bli rent bike pun tepat waktu membuat saya sangat bahagia. Sampai di hotel dan check in, saya kembali di kagetkan karena satu hotel ini hanya kami yang menginap!! Wohoooo.. tamu lain memilih budget Villa yang letaknya 20 meter ke Utara, alias beda gedung. The Studio sebetulnya terletak diperbatasan seminyak, dan saya beruntung The Studio lokasinya benar benar berada di luar hiruk pikuk semaraknya Seminyak, masuk gang, 1 mobil, posisi di ujung gang buntu, sangat amat menjadikan The Studio tempat nyaman untuk tidur tanpa banyak basa basi. Sebab lokasi yang cukup ‘masuk gang’ dengan row jalan kemungkinan hanya 3,5 – 4 meter, Hotel ini hanya menyediakan parkiran motor, syukurlah kami memang menyewa motor (gak ada uang juga untuk sewa mobil). Sebetulnya bisa juga parkir mobil di tanah kosong dekat hotel, tapi tetap saja menurutku, lebih enak sewa motor, lebih hemat dan kita kan Cuma pergi berdua, saya juga sudah mengantongi SIM A dan C, jadi tetap aman selalu.

Sewaktu check in, saya dipermudah karena sudah confirm terlebih dahulu waktu kedatangan saya dengan meberikan tiket pesawat kami. Kamar sudah disiapkan, lokasinya dilantai 2. Sejujurnya saya sangat mencintai Bali, dan segala hal tentangnya. Mendaki tangga sambil membawa koper ditangan satu, dan memegang tangan anak balita ditangan yang lain adalah hal lain. Perlu effort dan nafas yang panjang. Kamar kami diujung, dan yah.. sedikit PR untuk bolak-balik ke bawah (karena kolam ada dilantai 1).  Tiap kali naik atau turun tangga, rasanya bobot badan saya  berkurang 0.50 gram.

Sampai di kamar setelah naik tangga, rasanya seperti dapat jackpot! 50sqm didepan mata, masuk kamar langsung ketemu lorong, ada 3 ruangan terpisah, kamar tidur dengan 2 pintu ( 1 pintu menuju ke lorong, 1 pintu lagi menuju langsung ke kamar mandi), kamar mandi dengan 2 pintu (1 pintu direct ke bedroom, 1 pintu lagi menuju lorong dan ruang tamu/ruang tv). Ruang tamu sendiri sangat lega dan interiornya tidak sia-sia, cukup fungsional dan nyaman. Terdapat lukisan Buddha berukuran besar menempel didinding. TV dan meja TV, meja & sofa L, meja makan dan kursi makan. Tempat sampah dan aircon. Whouuw 50sqm dan dibawah sejuta, kayanya Cuma the Studio yang punya.. diruang tamu juga ada pintu dan jendela kaca (all wooden & glass) menuju ke balcony. Pemandangan sunset & sunrise dari balcony cukup memuaskan.

Kamar 50 meter persegi adalah alasan ku memilih The Studio. Dan harga juga sangat terjangkau bahkan menurutku murah. Gimana enggak?? 200ribu, bisa santai rebahan sambil nonton di ruang TV, bisa memandangi langit di balkon, bisa berendam di bathtub-nya, bisa juga nyantai di kamar, semuanya masih satu interior yang sama tapi beda-beda kesan. Bahkan ada meja makan dan kursi makan di pojok dinding dekat meja TV. Betulan toughful deh arsitek dan ownernya. Betul-betul memikirkan tamunya. Oh dan selain luas kamar dan rate, ku pilih The Studio karena tempatnya yang cukup ‘terasing’ dari hiruk pikuk Seminyak tapi masih di perbatasan Seminyak dan itu membuat kami tetap bisa skuteran kepantai Kuta – Legian – seminyak dengan leluasa, one way tidak ada artinya karena jarak hotel ke destinasi yang ada di list kami dekat-dekat saja.

Di Bali artinya harus percaya perbuatan baik ataupun buruk akan ada buahnya, LANGSUNG. Atau paling tidak itulah yang saya percayai, perdana sewa motor dan motor-nya pun yang mahal (sebetulnya sengaja karena mimpi someday punya vespa, tapi karena belum ada rejekinnya, akhirnnya sewa dulu) takut pas tiba-tiba lagi di parkir, motornya hilang, musti ganti rugi pakai uang apa.. syukurlah terjadi hanya yang baik baik saja.. walaupun sempat lupa kunci bagasi motor dan terparkir semalaman, tapi barang-barangku di bagasi termasuk STNK motornya, masih duduk cantik, aman, nggak hilang. Haa.. jadi rindu Bali, lagi.

Hal – hal unik yang ku perhatikan:

n  Hotel ini bukan hotel baru, begitupun arsitekturnya, interiornya dan exteriornya. Tapi saya suka, terlebih perpaduan elemen kayu dan kaca pada setiap pintu (pintu kamar, pintu kamar tidur ke kamar mandi, jendela kamar ke balkon). Dan kuncinya pun kunci jadul dan cukup berat. Saya selalu menitipkan kunci hotel di reception, kalau-kalau saya lupa atau kuncinya yang menghilang dari tas saya. Bisa saja.

n  Entah kenapa, tanaman di balcony kamarku sama sekali tidak ada, hanya pot berisikan tanah kering. Too bad, saya padahal suka yang hijau-hijau..

there's fridge under the wash basin. its magic

n  Masih di kamar, semuanya Nampak sempurna, bahkan untuk hotel bintang 3 dengan rate 200k, mendapatkan kamar mandi dengan bathtub adalah sebuah keniscayaan, tapi disini, setiap kamar memang dilengkapi dengan bathtub, dan huge wash basin dengan kaca yang juga super huge, too bad, ngga ada hairdryer (tenang, saya bawa hairdryer dan catokan juga) padahal kiri kanan kaca washbasin ada terminal electric (colokan), kalau mereka provide hairdryer pasti lebih ok. Sempat mikir, pasti nggak ada kulkas lah… ternyata pas buka wash basin didepan kamar mandi, ada kulkas tersembunyi dengan cantiknya dilemari bawah wash basin. TAKJUB. Titik.


n  Bed, idk badan ku yang terlalu hulk apa gimana, setiap pindah posisi tidur pasti papan divan akan berbunyi ‘kreeeek’ takut sewaktu waktu papannya patah, dan kasur kami amblas ke lantai **untung aja nggak terjadi**

n  Cupboard nya HULK sekali! Ini tuh ya.. baju, kulkas 2 pintu, anak & cucu masuk semua deh saking huge nya lemari. Memang, the studio adalah pilihan stay orang-orang yang menjalani WFB *Work from Bali* atau memang sedang dinas pekerjaan di Bali, mereka juga menyediakan rate special untuk yang tinggal bulanan (seperti indekos gitu modelannya). Jadi jangan heran sama lemari yang guedheeeeee banget itu yaa…

n  Kolam renang tidak besar, tapi cukup untuk alternative kegiatan keluarga. Monkey sangat senang berenang disini, sekalipun berjarak 1 meter dari kolam renang, ada aliran kali yang suaranya cukup bising, no problem, saya suka sama arsitekturnya, seriusan… cukup sulit disain kolam dengan kontur tanah dan posisi tanah yang sebelahan dengan Kali, karena rawan sekali longsor, dan arsitek the studio bisa mendisain dengan baik.

n  Tidak ada breakfast, I specifically asking them lewat aplikasi traveloka, dan no.. mereka memang tidak menyediakan breakfast, 200k for room only. but they provide plate & cutlery so we can always take away or cook something.

n  Canang everywhere. Saya tahu canang memang bagian dari tradisi, tapi saya sedikit takut karena posisi nya dekat saya parkir motor, saya cukup khawatir motor sewaan akan secara tidak sengaja menyentuh canang. Dan juga canang yang ada di ujung tangga (bagian atas), kadang saya takut terinjak oleh kaki saya atau kaki anak saya. Huffttt… disini bener bener menjaga dan melihat betul-betul jalan yang akan kita lewati.

n  Dimalam hari, akan ada saat dimana reception pergi untuk membeli makan / hal lain, sehingga Bli nya tidak stand by, tapi mereka cukup bertanggung jawab dengan memberikan tulisan dan juga mencantumkan nomor hp mereka yang terhubung dengan aplikasi perpesanan, sehingga kita pun tetap bisa menyampaikan request atau pertanyaan kepada bli yang jaga.

n  Hotelnya sangat sunyi. Sangat ‘nggak seminyak banget!’ tapi justru saya sukakk.. kenapa? Karena dekat dengan warung banyuwangi yang bisa di gofood / dine in, masakannya enak-enak, juga nasi tempong bu Devie yang sambelnya juara! Dekat dengan lokasi makanan dan pusat hiburan (kafe, coffeeshop, bar, etc), lokasinya yang memang di gang, perumahan, bukan di lokasi seminyak yang sibuk, betulan bisa buat tempat persemedian juga (I call it –little ubud—) mungkin hanya sesekali terdengar suara anjing menggonggong.

BIG SPIDER in the bathroom. FYI, theyre nice

Secara keseluruhan HOTEL ini memenuhi segala keinginan, kalau biasa cari hotel murah-murah aja yang penting ada tempat buat tidur (karena bakalan kelayapan ALL DAY), artinya lagi nggak perlu space kamar yang luas. Nah The Studio ini berbeda, kamu mau satu minggu semedi didalam kamar hotel pun pasti nyaman karena spacious room yang ditawarkan. Mau nonton TV sampai bosan, ada ruang tamu.. memandangi kehidupan, bisa duduk terbengong dibalcony nya.. mau tidur seharian hayuuk pindah ke kamar.. atau mau bermain air dengan sedikit privacy ada bathtub dikamar mandi.. makan bisa gofood/ sejenisnya karena di dalam juga ada meja makan- kulkas, piring, gelas minum, gelas kopi bahkan wash bashin untuk cuci cuci berserta kelengkapannya. 

Saturday, December 18, 2021

BDAY TRIP KE : BALI ISLAND!!!!

 

always put a smile even we wore a mask

Saya, kami, sangat excited untuk ada didalam pesawat yang membawa kami berlibur ke pulau BALI. Setelah selama covid kami tidak kemana mana, sebuah trip pasti akan membuat kami melupakan kesedihan, kesesakan dan perasaan tersegarkan oleh angin dan pemandangan pulau Bali yang begitu memanjakan.

Bila taun lalu  tujuan kami adalah UBUD, kali ini tujuan kami hanya seputar SEMINYAK – KUTA – LEGIAN saja. mengapa demikian? Banyak teman yang menyarankan untuk mencoba pantai disaat covid (mungkin karena super sepi jadi akan nyaman dan tidak begitu crowd seperti biasanya), juga saya sudah terlanjur pesan NEW VESPA sebagai kendaraan kami keliling selama liburan. Not sure bila stay di UBUD apakah ada local bike rental yang harganya sesuai kantong saya. Iya bokek.


our flight with Citilink

Entah mengapa semesta memberi ijin dan kemudahan kami. Bagaimana tidak? Di bulan oktober 2021 saat iseng mengecek apps BETTER FLY Citilink bisa bisanya harga tiket PP ke Bali untuk 2 orang hanya 1,100k, LIKE IS IT REALL… sebab sebelumnya, perjalanan PP ke Bali termurah 2.000k berdua. Juga kenyataan bahwa setelah berhasil membeli tiket, kami juga mendapatkan harga murah untuk hotel tempat kami stay selama di Seminyak. Perfect combo yang mmbuat saya jadi berpikir bahwa ini adalah tanda dari semesta, restu dari NYA.

Bally.. here we come!!!

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya kami berdua trip… tapi saya agak gugup karena harus membawa BALITA yang belum vaksin ini berpergian,, Saya sendiri baru mendapatkan vaksin shoot dosis kedua beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Denpasar. Syukurlah efek dosis kedua ini lebih soft daripada dosis yang petama. Anyway, dengan beberapa hari sebelumnya brief Sa, dan sebelumnya selama berbulan bulan afirmasi ( Oktober – November – desember) dia pun berjanji untuk selalu memakai masker bila kami keluar (sekalipun hanya turun untuk berenang di bawah, tetap harus bermasker)

Siang itu, cuaca mendung tanpa hujan menyapa kami. Saya berhasil arrange penjemputan oleh tim sewa vespa yang sudah menunggu kami di terminal kedatangan sambil membawa kertas bertuliskan nama saya. Senang? Ya tentu saja, artinya kami bisa langsung handsfree karena koper dan barang lain langsung berpindah tangan dan dibawakan Bli nya. Tujuan petama, tentu saja hotel.. saya cukup lelah, agak gugup juga dipesawat karena sudah berbulan bulan lalu off naik pesawat. Terakhir kami naik pesawat adalah pada saat saya menjemput Sa di bandara Soetha dan bersama kembali ke Juanda.

ikkhousha ramen. shoyu ramen

Selesai meletakan koper dan mencuci muka dan berganti baju, kamipun berangkat untuk makan ramen di sekitar hotel. Senang sekali ramen yang sudah bertahun tahun tidak saya makan, hari ini, dihari ulangtahun saya.. saya bisa merasakan kembali lembutnya ramen dipadu dengan gurihnya Shoyu broth, saya rasanya mau terbang saat akhirnya lidah kembali merasakan kenikmatan ini.


Selesai makan kami langsung menuju toko oleh oleh krisna yang di Sunset Road, sedikit mengisi tas belanja kami #BringYourOwnShoppingBag untuk hadiah natal para saudara, ipar dan keponakan di Jakarta, mampir ke minimarket untuk membeli air minum, kemudian kembali ke hotel dalam sekejap. Tidak lama, saya kembali mengorder nasi tempong sebagai penutup hari lahir saya, senang, nasi tempongnya sangat nikmat dan juga harganya cukup murah.


Pagi hari, kami memulai dengan berenang, karena hotel tidak menyediakan breakfast (room only), kamipun memulai hari dengan skuteran ke Pantai Kuta, well… rodok sedikit kecewa karena di pantai ramai manusia, yah sebenarnya sepi pengunjung, tapi ramai pedagang, mulai dari kelapa muda seharga 40k, meni pedi & nail art, per-kalung-an, per-kaos-an, sampai per-kepang-an. Too bad, menawarkan jasa sampai memaksa, yang membuat kami akhirnya setuju untuk di kepang dengan harga sesuai yang ditawar. Dalam hati sambil berharap.. lain kali boleh kan ya kami duduk santai dipantai, menikmati suara ombak tanpa ‘paksaan’ menggunakan jasa jasa yang ada.. untuk minuman, kami pasti akan membeli dipantai juga untuk support local business. Selesai dikepang, kami langsung meninggalkan pantai, pergi ke parkiran dan pindah ke pasar seni Legian, too bad, saya gak sempat beli apapun disana karena, lagi lagi saya keburu takut di tembak harga, (berdasarkan pengalaman saya sebelum sebelumnya… kami sering dikira tourist jadi dikasih harga tourist). Perjalanan pulang dan Sa insist pergi ke warung gelato terkenal yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap.

menikmati traffic Bali dengan scooter sewaan

Gelato ini lain cerita, disini kami mendapatkan perlakuan TIDAK RAMAH oleh para waiters dan petugas disana. Untuk rasa gelato OK, tapi pelayanan sorry to say, saya secara personal lebih memilih untuk TIDAK LAGI PERGI KESINI. Karena pembeli butuh rasa nyaman yang sayangnya tidak tersedia di toko ini. FYI, kesini saya MEMBELI, MEMBAYAR SEJUMLAH UANG, bukan menukarkan tiket / kupon hadiah giveaway untuk se-cup gelato. Miris memang, toko ini langsung saya blacklist, hehehe.. gak apa saya gak sebut merk kan.. aman kamu.. kemudian kamipun pulang, dengan membawa serta si gelato yang masih tersisa, iya bawaannya pengin pergi aja kalau tempatnya tidak nyaman, Karena kami kesini untuk berlibur dan have fun, segala yang buat not fun akan langsung kami tinggalkan.

sudah pengin kesini sejak Pepita buka beberapa tahun lalu.

Tiba di hotel kami lalu order gofood untuk makan, this time pilih nasi goreng local, rasanya nikmat. Setelahnya kami skuteran agak jauh untuk bertemu seseorang mentor vegan keren yang rumahnya, berhasil membuat kami nyasar. Kebayang kan, di kota orang, motoran modal googlemaps, dan tapi Jalan di denpasar dan sekitarnya itu kebanyakan Jalan satu arah yang membuat saya bingung sendiri, karena bolak balik nyasar.. waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit or so, menjadi satu jam lebih.. tapi ini ku syukuri karena bisa ngobrol lepas bersama mba Mitha di rumah beliau. Sebelum perjalanan makin memusingkan, kami juga sudah mampir ke Pepita n Sons untuk ngopi dingin dan merasakan nikmatnya vegan donut buatan mba Sophie Navita. Saat saya mengetik ini, terbayang lembutnya choco vegan donut yang saat itu saya rasakan, FIXX saya akan kesana lagi pada trip to Bali yang selanjutnya.. sampai hotel dan mandi.. kemudian kami pergi ke jimbaran untuk menikmati seafood dan sunset sepanjang Jalan. Merasakan nyamannya mengendarai vespa impian yang entah kapan akan dimiliki… malam belum berakhir, kami pergi ke Made’s di Seminyak untuk menikmati LIVE MUSIC.\

Made's Seminyak on Friday

Bersyukur lagi, jauh sebelum mengunjungi Warung ini, saya sudah menelepon nya terlebih dahulu untuk menanyakan perihal live music ini, awalnya saya berharap ada Bali dance atau local show lainnya. Dari informasi yang saya dapatkan lewat telpon, selama covid ini tidak ada traditional Bali dance, hanya ada LIVE MUSIC di hari Jumat dan Salsa night di Malam Sabtu. Jadi hari Jumat berakhir dengan ber-live music-ria dengan lagu lagu yang saya hapal semua lyricnya menikmati indahnya suara kakak penyanyi sambil nyemil marinara pizza dan menyesap kopi cappuccino saya..


Sabtu pagi berawal dengan berenang…. Sa kebetulan lagi GIAT SANGAT berenang jadi ya hampir setiap hari dan dalam sehari bisa beberapa kali berenang bersama. Pagi ini sarapan nasi tempong lagi di warung banyuwangi dekat hotel. Entah sudah berapa porsi nasi tempong dan menu khas banyuwangi lainnya yang sudah kami nikmati selama di Bali. Lost count karena memang SE ENAK ITU dan mudah dipilih daripada terjebak memakan daging B yang tidak kami konsumsi. Selesai sarapan kami lalu berangkat sedikit ke tengah, ke Cangu untuk mengunjungi warung kakak kandung saya (ngarepdotcom) Teh Manis Bali. Perjalanan ke Cangu dengan motor tidaklah begitu menyenangkan diterik nya matahari Bali dan ramainya jalanan oleh para tourist local dan tourist asing. Saya harus berkali kali mengerem dan membuat jari saya kapalan, iya se---sering---itu ngeremnya. Dan rem Vespa memang keras, jadi perlu tenaga dan kesabaran dan kekuatan yang penuh. Sekembalinya dari cangu, kami langsung ngemall, kali ini tujuannya, discovery mall, mall kecintaan saya yang tidak banyak berubah, dan luckily kami bisa memanjakan mata karena selain dibelakang mall persis ada hamparan laut kuta nan indah dengan langit yang aduhaii,, di dalam mall.. sedang ada pameran karya seni (lukisan dan sejenisnya) yang betulan membuat hati terkagum kagum melihat rupanya dan harganya.. (lihat saja, belum sanggup membeli). Seolah belum terlalu kapalan si jari, kami lanjutkan perjalanan ke Krisna, kali ini Krisna terbesar yang ada di Bypass, baru petama kali kesini dan kagum aja gitu.. segitu banyaknya lahan untuk parkir, sampai penuh dan harus di refer ke parkiran lain yang jaraknya beberapa meter dari lokasi, untunglah motor tetap bisa parkir di basement. Beli – beli sedikit lagi kado natal untuk diberikan ke keluarga, setelahnya kami pulang dengan kardus menyempil dibagian depan vespa, perjalanan balik ke hotel menjadi pelan dan sedikit mendebarkan karena cukup tricky membawa kardus besar disela sela kali saya yang panjang.

warung banyuwangi dekat hotel, dine in or takeaway

Malam ditutup dengan MAKAN MALAM NASI TEMPONG LAGI. hehehe bingung mau makan apa, warung banyuwangi selalu jadi jawaban. Dan rasa masakan yang mirip mirip dengan masakan Suroboyoan----masakanku, membuatnya menjadi sangat kusukai..

Nusa Dua Skies

Ya sebetulnya mau extend di NUSA DUA, dan hotelpun sudah di lunasi, tapi tiket pesawat tidak bisa di extend Karena flight nya sedang penuh sampai Natal. Dengan berat hati kami harus pulang sesuai jadwal dan merelakan booking-an hotel di Nusa Dua hangus sia sia.. anyway.. kami merasakan kenyamanan saat Drive-thru tes antigen dan PCR (untuk Sa) hasilnya cepat dan juga terkoneksi dengan apps PeduliLindungi.

why you grow up so fast, my Monkey?

Sesampainya kembali di bandara Djuanda, kami menunggu lumayan lama untuk baggage claim. Ya, kali ini, pergi dan pulang, selalu ada bagasi yang dititip karena pesawat citilink pesanan kami juga include baggage sebanyak 20kg each, itulah mengapa saya suka terbang dengan citilink, sebab pesawat lainnya, pasti butuh extra money untuk baggage. diusia baru ini, saya tersadar begitu banyak berkat yang boleh saya rasakan sekalipun, disetiap Desember, ada saja cobaan untuk kami, terkhusus di kesehatannya Sa. tahun lalu, bulan Desember, dihari dimana saya harus bimbingan tesis untuk finalisasi menuju sidang tesis, Sa harus dilarikan ke IGD karena muntah terus dan ternyata hasil tes darahnya dia terkena gejala typus. Desember tahun-tahun sebelumnya pun.. tidak mudah untuk kami lalui, tapi kami berhasil sampai di tahun ini. 


cheers, XOXO

Traveloro

Friday, October 1, 2021

Khayal jadi nyata ( part II)

Setelah 2020 selama 6 bulan Sa les piano (dan kebetulan dapat guru muda, yang membuat banyak kekecewaan) selesai semester 1 di les ini, Sa gak melanjutkan.  Tahun 2021 kita membuat perbedaan, kali ini ke arah yang juga positif dan banyak manfaat. Oktober mulainya, Sa setuju untuk ikut les renang yang bukan Cuma membuatnya berani sama air dalam jumlah banyak, tapi juga jadi mahir berenang sampai hari ini, masih lanjut.

Teringat saya, beberapa tahun silam, Sa usia 2th yang sangat amat takut air. Setiap paginya, saat mandi untuk berangkat ke pre-schoolnya dia akan mimisan dalam jumlah banyak, kadang.. sejak itu, menurutku jadi trigger yang membuat dia malas mandi pagi, saya paham dan ngerti betul rasanya, jadi saya coba pahami. Saya juga sudah berkonsultasi dengan dr THT untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter bilang, tidak apa, nanti bertambah usia akan semakin membaik dan berkurang intensitas mimisan & volume darahnya.

bila ditarik sedikit lebih ke belakang, Ya, Sa bayi pun sebenarnya paling anti bila kepalanya terkena air sedikit saja... jadi harus extra kuat kuping ini, mendengar suara tangisan dan teriakan, saat mandiin dan ingin shampoo-in dia. Setiap kali itu menjadi sulit, selalu datang Budhe-nyayang selalu jadi pilihan untuk memandikan dia. Iya! dia pilih sendiri siapa yang mau mandikan dia. 

fast forward ke waktu dimana kami sudah meninggalkan Jakarta, segala sesuatu berubah kearah kebaikan dan Sa seolah menjadi fearless baby of all time. Dia berani naik speedboad,  berani naik becak (traditional transportration), mau hujan-hujanan atau motor-an panas panasan, semua dia mau, tidak ada keengganan. Berjalan waktu, suatu weekend, siang hari, saya iseng pergi ke kolam, awalnya, Sa hanya main di kolam anak dengan kedalaman 50cm, yang mudah banget buat dia (gak akan kelelep), ternyata dia yang senang making friends kemudian melihaat teman teman kolamnya sebagian besar Les Berenang, dan membuatnya tertarik untuk ikutan ‘nyemplung’ ke kolam dalam 1,6m. minggu berikutnya dan berikutnya lagi,, Sa, saya latih sendiri untuk menggerakan kakinya, dia mulai berani nyebur dengan penjagaan saya, seminggu  kemudian, Sa memulai latihan didalam les renang. Coach nya cukup flexible dengan bilang, tidak usah membayar dulu.. kita lihat mood anaknya saja dulu.. ibarat kata ‘trial class’ gitu lah..

Jalan beberapa kali pertemuan dengan coach ini dan tim nya, Sa mulai nyaman di air, awalnya masih dituntun, dipegangi ujung ke ujung (lebar kolam 15 meter) kemudian dilepas per 5meter bertahap sampai ditunggu ditengah kolam, lanjut ke ujung kolam dengan berenang sendiri. Semua dia lakukan dengan sangat gembira, bagi saya pribadi sangat bahagia rasanya saya bisa menemukan minat, despite ketakutan air dimasa lalunya, Sa  5tahun dan sudah lancar berenang.

Semoga lanjut ke tahap yang lebih pro ya…

 

  

Monday, April 12, 2021

Gua Maria POHSARANG - KEDIRI

 


Well hello guys.. whats new??

 

Been a long hectic indescribable YEAR for all of us in the universe sepertinya. COVID membiasakan yang tidak biasa, membuat yang sebelumnya tidak pernah ada bahkan menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Salah satunya buatku, adalah, rutin lihat status WA-nya teman-teman di kontakku.

Dan satu status teman saya, membuat saya berimajinasi cukup LIAR dan Sangar! Berbekal peta digital alias google maps dan bensin FULL pada molly, ku berserta Sa pergi ke Kediri untuk mendatangi salah satu goa Maria yang ada disana. Goa Maria Pohsarang, namanya.

Jika mau di tarik ke belakang, alasan ku, pergi kesini adalah untuk mendoakan saudara-saudaraku terutama mami dan papi ( ibu & bapak sambung, sekaligus ibu & bapak Baptis bagi Sa) setelah beberapa mimpi buruk yang kurasakan hari-hari sebelumnya. Dan juga tentu saja kerinduan untuk dekat dengan bunda Maria,walau hanya melihat dan berdoa di Patungnya saja. 

Saat itu, tidak banyak uang tersisa di saldo e-moneyku, syukurlah itu cukup untuk membawa kami PP melewati Tol, dan bahkan masih sisa sedikit. Hehee judulnya benar-benar nekat, kami tidak mempersiapkan apapun untuk perjalanan, berbekal bensin seadanya, kami berangkat hingga kami lapar dan kehausan… dan karena Kediri adalah satu kota yang tidak begitu jauh dari Surabaya, saya memutuskan tidak mampir di rest area agar perjalanan menjadi lebih cepat.

Tidak mengira bahwa kami akan benar-benar sampai ke Pohsarang, Kediri. Bukannya apa-apa, trek yang agak menanjak dan matic adalah alasan saya terkadang kagok mengerem ataupun ngegas. Anyway jarak yang kami tempuh menurut googlemaps adalah 111km. unik ya angkanya, dan juga, walaupun ini tuh, pertama kali kami ke Pohsarang, tapi saya sama sekali tidak nyasar. kebetulan? Saya rasa tidak.. Tuhan memang punya banyak cara, dan semesta menjadi restuNya.






Menempuh waktu kurang lebih 1 jam lebih 15 menit, kami akhirnya sampai dan sempat kebingungan untuk parker kendaraan. This is our first time! Dan percaya atau tidak… saking direstuiNya kami, Sa yang baru 4th lebih usianya, dibolehkan untuk masuk ke dalam Gua ( diperaturan minimal usia 11th untuk bisa masuk dan berdoa di Gua, alasannya apa? Aku masih kurang paham, tapi seingatku, dulu sekali, pas ke Gua Maria Sendang Sono, kami nunggu di parkiran, hanya mama, kakak pertama, kedua dan ketiga yang masuk ke dalam, sisanya, harus rela menunggu di parkiran saja. Jadi aku yakin, apapun alasannya, pasti untuk kebaikan semua pihak) oh anyway, Sa bukannya melanggar peraturan kok, Sa bisa masuk juga atas ijin security yang menjaga di depan. Alasannya? Karena memang Gua masih sepi pengunjung, hari ini adalah hari kerja, Senin, dan kami berdua adalah pengunjung pertama di hari itu. Saya pun berjanji, tidak akan berlama-lama didalam, hanya berdoa dan pulang.

 


Setelahnya, saya juga tahu, bahwa sebelumnya, siapapun yang datang ke Pohsarang, harus membawa hasil tes PCR/Antigen, dan peraturan itu juga sudah tidak diberlakukan ( gak tahu lagi ya, kalau peraturan yang sekarang seperti apa?? Mungkin diganti lagi, mengikuti anjuran pemerintah tentang PPKM) 






 first impression, karena memang saya, minim pengalaman wisata rohani ke gua maria ( di Pulau Jawa), saya bisa bilang, kalau perjalanan ke sebuah gua itu memang cukup menantang, trek yang tidak mulus, jalan yang bebatuan, ditambah harus juga gendong Sa yang ketakutan karena gongongan anjing warga setempat, betulan bikin perjalanan ini magis sekaligus ajaib. tiba-tiba aja kami udah sampai, tapi bukan di gua, melainkan di rumah doa, tempat para Romo dikremasikan. kami sempatkan berdoa didalam, dan emang rasanya bener-bener magis (Menurutku). 





gak cuma sampai disitu, selesai berdoa (dan merasa nyasar, udah bolak balik jalan kok gak ketemu Gua nya) saya tanya bapak yang kebetulan membersihkan halaman rumah abu (rumah doa), disitu beliau dengan ramah menjelaskan jalur yang harus kami lewati untuk sampai ke Gua ( kenapa ya perasaanku kok Gua ini jauh banget...) oh ya,, bapaknya juga pakai masker dan jaga jarak tepatnya 2 meter dari tempat ku dan Sa berdiri. trims ya pak!!! 



Tidak banyak yang bisa saya jelaskan, selain rasa kagum yang dalam akan Gua ini. Secara umum, Gua ini sudah mewakili dan satu kutipan yang saya baca, berhasil menghangatkan hati saya seketika “Pohsarang, tempat doa dikabulkan” memang, kita ngga boleh sama sekali berharap bahwa semua doa akan terkabul, langsung terkabul atau terwujud saat itu juga, tanpa usaha tanpa keluh kesah, tapi sejujurnya, kata-kata itu membawa pengharapan baru bagi saya. Untuk wujud doa yang kami panjatkan disitu. Dan Pengharapan adalah salah satu nilai yang juga Tuhan ajarkan kepada anak-anaknya. Jadi, tidak ada salahnya berharap bahwa doa – doa akan terkabul, karena sering dengan doa itu, akan ada iman dan kasih yang sejalan dengan pengarapan, dan semoga wujud-wujud doa yang ku sampaikan pada bunda MARIA akan didengar dan somehow becoming true.

 

Happy & Healthy olways

Xoxxo

Monk & Monkey

Tuesday, March 16, 2021

my covid story -MONK

 

3 times a DAY. befriended with them for week


Cerita ini ditulis saat setelah saya sembuh dari COVID. Tidak pernah sedikitpun terbesit akan positif sekalipun tubuh saya ‘bilang’ –take me to the ER right now!!—selama beberapa hari saya abaikan perasaan itu. Saat ini saya sedang sibuk-sibuknnya mengurus revisi Tesis karena deadline (yang sudah diundur) sungguh semakin dekat, saya harus mengejar tanda tangan approval revisi dosen pembimbing, saat itu juga ada beberapa aktivitas pekerjaan yang saya lakukan dalam saat yang bersamaan, disaat yang sama pula, ada satu manusia yang mengusik inner peace saya, dan saya yakin, itulah yang membuat saya jadi positif.

Sabtu pagi, saya terbangun kaget karena telpon dari teman kuliah saya, mengingatkan bahwa kami ada acara sumpah profesi & pengarahan wisuda online lewat zoom meeting. Tidak ada yang berbeda, namun saya rasanya mau tumbang karena flu berat. Tentulah flu itu membuat saya kehilangan indra penciuman saya, yang kemudian saya ketahui bahwa itu adalah anosmia, satu gejala positif covid yang paling umum. Pagi itu masih mengikuti zoom dengan baik sampai selesai, lalu berhasil sarapan bubur, bubur yang biasa rasanya gurih, pagi itu harus extra effort agar bisa habis, padahal 1 porsi sudah dibagi dua dengan Sa, anak saya.

sister sent me this

Sorenya saya motoran berdua Sa untuk mengecek proyek pekerjaan yang saya handle, entah kenapa beberapa detik saya silap dan literally BLANK, saya limbung dan BRUK!! Kami berdua jatuh dari motor, badan saya sendiri tertimpa motor dan secara beruntung Sa tidak lecet sedikitpun, hanya shock luar biasa (ini pengalaman pertamanya jatuh dari motor), saya seperti kehilangan keseimbangan saat itu, betul betul seperti linglung, later I know, itu juga merupakan ‘kode’ dari tubuh saya bahwa saya butuh periksa, tapi saya abaikan, saya hanya setuju untuk booking massage karena luka saya yang lumayan parah dan kaki saya juga lumayan bengkak. Minggu saya full dirumah menunggu tukang pijit datang dan memberikan saya petuah soal ‘firasat alam & semesta’ yang sepertinya sedang saya abaikan.

fatique & headache @Uni

Senin nya, saya masih memaksakan diri untuk pergi ke Kampus mengambil toga dan kelengkapan wisuda lainnya. Perjalanan pulang dari kampus menuju rumah, adalah cobaan tersendiri untuk saya saat itu, mual pusing seperti vertigo.. keringat dingin dan perasaan gugup… kopi yang saya minum sudah tidak lagi ada rasanya sama sekali. Selasa pagi kami ke IGD untuk tes antigen, hasil keluar dan saya dinyatakan positif covid sementara Sa negative, berbagai opsi sudah saya berikan untuk sa; tinggal di rumah tetangga sementara saya isolasi mandiri, tinggal di rumah beberapa saudara saya yang memang tinggal di Surabaya,, kemudian adik saya pun menawarkan diri untuk menjaga Sa selama saya isolasi 14 hari. Tawaran itu yang akhirnya di terima Sa. Sementara saya lanjut laporkan ke kelurahan dan puskesmas setempat, adik saya terbang dari Jakarta ke soetha sore hari. Itupun saya yang mengantar Sa sampai bertemu Bulik (ibu cilik) nya. Mereka kemudian bermalam di hotel dekat bandara Djuanda untuk kemudian morning flight pada hari berikutnya.



Hari –hari menjalani isolasi sendirian sungguh sangat berat untuk saya yang terbiasa 5tahun ini bersama sama terus dengan Sa. Waktu tidur saya berantakan, makan sekalipun selera makan tinggi, tetap saja semua makanan bahkan yang biasa saya tahu rasanya enak sekali, tidak ada rasanya. Dari rumah sakit saya mendapatkan 6 obat berbeda yang harus diminum, dan bila habis hanya perlu menunggu sampai beberapa hari untuk selanjutnya tes PCR. Setiap hari saya hanya dirumah, order makanan online dan memaksa untuk tidur ( saya mengalami kesulitan tidur karena jauh dari belahan jiwa). Kami sering ber-video call dan tidak jarang dia menangis, membuat hati saya tambah hancur. Saya sedih karena menginginkan dia ada disisi saya setiap saat, tapi saya juga tahu tidak mungkin karena terpisah sementara adalah yang terbaik untuk saat ini. Beberapa yang saya minum selain rutin minum obat resep dokter : susu beruang, asap cair, vitamin C, vitamin D, Kalsium. Itu saja sampai bosan. Lebih banyak berbaring karena berdiri sebentar membuat saya pusing mual, sayapun ada merasakan diare, sekalipun tidak parah. Segala pujian untuk Netflix dan Mola TV yang bisa ditonton kapan saja dimana saja. Rasa bosan hilang seketika. { video source netflix : Grey's Anatomy ---loving the quote 'we teach best what we most need to learn' }

Tibalah hari yang ditunggu, sebetulnya peraturan pemerintah sudah tidak lagi mewajibkan pasien positif untuk tes PCR. Dan kalau boleh jujur saya pun tidak mau tes PCR karena cukup pricey, 1.000k waktu itu *nangissss. Tapi saya butuh itu untuk terbang menjemput Sa di Bandara Soetha. Setelah hasil tesnya keluar saya dibantu teman untuk arrange flight ke Jakarta. Flight paling pagi saya pilih agar cukup waktu untuk tiba dirumah lagi (Surabaya) pada siang / sore hari. Sampai di Soetha, saya harus naik bis lagi untuk pindah terminal, karena citilink terbang di terminal 3, sementara Batavia tadi turun di terminal 2. Disitu saya hampir panic karena flight kami jam 9 pagi sementara bis trans terminal hanya muncul 30 menit sekali. Tiba bis shuttle saya langsung naik, walaupun harus berdiri selama perjalanan saya sanggupi karena rasa rindu dan juga rasa takut ketinggalan pesawat J

Tidak lama tiba di terminal 3, saya langsung bertemu Sa. Saya ingat betul dia berlari menghampiri saya, memeluk saya dengan begitu erat sambil berbisik ‘ ibu……. Aku kangen sekali sama ibu….’ Dengan manjanya.. saya ingin menangis, tapi airmata tidak keluar,, mungkin karena hari itu saya belum minum airputih sama sekali.. (hanya kopi dan greentea) atau karena perasaan bahagia saya lebih banyak daripada perasaan haru saya.

Untuk semua orang yang sedang berjuang melawan covid, semangat ya!!! Matahari akan terus bersinar, dan kita akan kembali sehat dan lebih sehat lagi



 

Xoxo

---monk