Thursday, May 5, 2022

Traveloro 1st roadtrip : to JAKARTA



Sudah sejak lama saya, kami, menganggap Surabaya sebagai rumah, tempat kami bertumbuh, saling percaya dan mengembalikan rasa saling menguatkan satu sama lain more and more, jadi konsep keluar dari Jawa Timur, Surabaya khususnya, kami anggap sebagai “pergi” yang mana hal tersebut sifatnya sementara. Monky mungkin belum genap 6tahun usianya, namun kedewasaan dan kemandiriannya, dan pengertiannya terhadap si ibu  ini sangat luar biasa, diapun terbiasa menjadi ‘DO-ERS’, tanpa keluhan sedikitpun. Pada trip kali ini pun, dia mampu jadi kernet along the way pergi & pulang.

Singkat cerita, Lebaran tahun 2022 sangatlah ditunggu semua orang, terlebih ketika larangan untuk mudik sudah dihapuskan (mengingat 2tahun ini mudik dilarang oleh pemerintah due to COVID-19) sebagai gantinya, ada peraturan cukup ketat untuk mereka yang mau mudik ke Jakarta (termasuk kami), dan peraturan road-trip bagi pemudik (diberlakukan system one way arus mudik dan arus balik di ruas jalan tol Jawa) khusus yang mudik dengan kendaraan pribadi (jalur darat), untuk naik kereta, syaratnya harus vaksin 3 kali (termasuk booster) which I just got my 2ndshot late December.


Kesuksesan roadtrip kali inipun, tak lepas dari ke-bulat-tekad-an kami, khususnya si Monky yang terus terusan menyemangati saya, membuat saya semakin percaya diri, bisa dan mampu nyetir jalur darat dari Surabaya ke Jakarta. Juga sekembalinya rute Jakarta – Surabaya di sela sela riuh nya berita jalur one way <bahkan untuk tol> saat arus mudik dan arus balik, salah tanggal kami pergi dan pulang akan membuat kami terjebak dan harus lewat jalur bawah <tanpa tol> yang pasti membuat jarak tempuh lebih lama. Saat ini, hanya mengingat perjalanan pulang, kaki kiri rasanya lelah sekali.  Entah mengapa, sebuah mantra bernama “semangat anak” sepertinya sudah padam saat ini sehingga, hanya dengan membayangkan perjalanan pulang dan mulai macet di Semarang – Mojokerto rasanya huwooowwwh tiada dua.

Malam itu, 26 April 2022 kami sengaja mengisi full bensin, dan juga membeli beberapa makanan untuk di perjalanan. Saya hanya berbekal kopi dan hanya kopi. Malam itu juga, kami memastikan semua barang sudah masuk ke bagasi mobil. Juga beberapa hal lain yang perlu dibawa, bantal. Selimut untuk tidur di Jakarta, jaket dan sandal santai, dan botol air 2 liter-an yang kami isi penuh kedua-duanya. Oh juga satu buah flashdrive terisi lagu jazz, keroncong dan video baby bus untuk Sa. Tidak beberapa lama kami terlelap lebih awal karena paginya harus bangun dini hari.

Jam alarm selular berbunyi, tandanya jam 2.25AM, ku siap siap dan kemudian membangunkan Sa, yang beneran langsung bangun tanpa ritual ‘ngumpulin nyawa’ yang biasanya, memakan waktu 10 menit sendiri. Ajaib emang si monky itu. Pukul 3.30AM kami memulai perjalanan panjang melewati tol Mojokerto. Lancar sekali. Perjalanan pergi kami sangat menyenangkan dan cukup singkat, tapi karena kami lewat tol, ya ada biaya yang sedikit lebih banyak daripada kalau kami naik kereta / pesawat. Fyi, pesawat dan kereta-pun perlu bawa hasil RT PCR both untuk ku &Sa (yang kalau dihitung ya sama aja sih, karena PCR buat 2 orang untuk pergi dan pulang). Tambah lagi tiket kereta, aku nggak dapat yang harga murah (saudara sempat bilang ada kereta tambahan yang mana, tiketnya habis aja gitu, walaupun dijualnya dengan harga yang menurutku nggak murah-murah banget juga sih).

Pergi kali ini, ku hanya berhenti di 2 rest area besar yaitu; Semarang & Cirebon. Disetiap rest area pun sudah ada spanduk ‘maksimal berhenti 30 menit’ yang mungkin buat persiapan arus mudik, karena lonjakan kendaraan, nggak akan cukup untuk rest area kecil, yang tidak ada starbucksnya, hanya ada jalan lebihan untuk mobil parkir, tidak ada tenant F&B nya sama sekali. Oh ya disepanjang jalan juga ada beberapa station semacam drive-thru isi e money, cukup menarik, tapi untuk mempersingkat waktu, aku sudah lebih dulu mengisi e-tol yang cukup sampai tiba kembali ke Surabaya.



Mojokerto – semarang bisa tercapai dalam waktu 3-jam, sementara Cirebon – Jakarta was another story. Aku bahkan sudah mulai misuh begitu memasuki tol cikampek, capek lihat kemacetan, kendaraan yang serobot jalur tanpa tanda, dan suara bising klakson yang mengudara disekitar. Sampai setibanya di Kembangan, kira kira 850meter dari rumah mama, mobil ditabrak motor yang lawan arah dan ngebut. Kita butuh 1 jam dipinggir jalan untuk berdebat sama premotor bodoh yang hampir lepas tanggung jawab dan drama seolah olah kakinya tidak bisa jalan. Semoga mas nya dapat hidayah ya (kamu selamat karena boss mu tanggung jawab). Total perjalanan pergi kita sekitar 10 jam, istirahat kira-kira 1 jam in total, kami tiba di rumah mama sekitar jam 3.30PM.


10 hari di Jakarta, tibalah kami untuk pulang kembali ke Surabaya. Seperti saat berangkat, saat pulang pun kami start jam 3.30AM dari Tangerang. Perjalanan begitu lancar, kami tiba di Cirebon sekitar jam 7.40AM. Itupun, kesal karena starbucks tidak ada di rest area padahal rest areanya besar. Sebagai ganti, saya ketemu coffee shop sederhana yang sudah buka dan kopinya enak, mobicafe namanya. Disitu saya beli longwhite 2 gelas (dan dimasukan kedalam tumbler yang saya bawa) sebagai bekal ngopi, sampai ketemu Starbucks di rest area selanjutnya (rest area Semarang).

Perjalanan dilanjutkan, dan sedikit tersendat mulai dari tol Semarang (*cry), ini memang bukan pertama kalinya saya melewati tol ini, untuk menuju Surabaya atau balik ke Jakarta,tapi ini kali pertama saya nyetir sendiri dari tol Jawa Timur – Jakarta & sebaliknya. Saya merasakan betul ngilunya kaki saya saat jalan menanjak dan curam, sekalipun signboard sudah memberi tahu jalan akan menanjak dan curam, kaki saya tetap saja ngilu, tidak berhenti hati berdoa semua doa  yang saya tahu.. (kira kira begitulah excitement dan nervous selama nyetir di Tol Semarang. Betul betul pengalaman baru di usia 30-an saya. Selepas tol semarang, tibalah macet yang lumayan di tol Jogja, astaga… padahal kami pulang tanggal 5 Mei 2022 dimana diperkirakan saya, jalan tol akan se-lenggang dan se-sepi saat kami berangkat, ternyata, dugaan saya salah. Karena Lebaran ini, banyak juga manusia yang berlibur / sowan ke keluarga di luar kota ( yang dari Jawa Tengah mau ke Jawa Timur), untung aja sempat beli greentea late (free redeem point Starbucks) di rest Area Semarang tadi. Dan sempat selonjoran kaki dengan view gunung dan hawa segar khas pegunungan.




perjalanan pulang kami sedikit lebih lama, nyaris 11 jam. Tapi saya masih beruntung (ya saya selalu meng-claim kalau saya manusia paling beruntung di Dunia) karena teman teman saya yang dari Jogja mulai siang, tiba di Surabaya Malam hari. Saya gak kebayang banget deh di tol Ngawi – Madiun kalau sampai saya juga kedapetan macet, mungkin saya akan kapok road trip saat Libur Lebaran. sebagai dokumentasi, saya menyimpan tiket tol saat perjalanan pulang, untuk kendaraan golongan 1 dari jakarta ke Jawa Timur kira kira butuh 800k. 


SOOOOO… Jika ditanya, akan ke Jakarta road trip-an lagi, ku akan jawab Mau! Tentu saja! Why not.. tapi untuk sekarang sekarang ini,,, untuk sisa tahun 2022 sepertinya quota untuk pergi ke Jakarta sudah terpenuhi. Saya harus sadar sebagai seorang “monk” saya harus hidup lebih sederhana daripada hidup saya biasanya. Dan itulah yang sejak sebulan ini saya lakukan. Saya mampu sederhana dengan bersyukur!




Mari bersyukur


Xx
Monk :*

Sunday, February 20, 2022

Staycation @ Grand Tropic Hotel Jakarta

monkey swimming

Sudah seminggu kami di Jakarta, betulan gak berasa loh udah seminggu di Jakarta.. seperti nya baru kemarin naik kereta dari stasiun Pasar Turi, dan mengantre untuk tes antigen,, dan karena angka positif covid yang lumayan tinggi di Jakarta, kamipun hampir gak kemana-mana, hanya full dirumah dan Sa yang puas main dengan saudara seumurannya, dan juga kegiatan sekolah online yang dia jalani hampir setiap paginya.

my list

jauh sebelum ke Jakarta, saya sudah menulis makanan apa saja yang ingin saya makan selama di Jakarta, seminggu disana, saya bahkan hanya berhasil mencentang beberapa makanan, dan tersisa beberapa makanan lain yang tidak sempat saya cicipi. Padahal list nya pun nggak banyak-banyak amat.. jadi rangkuman 7 hari di Jakarta hanya waktu berkualitas sama anak &amp; saudara-saudara (again, angka covid yang tinggi bikin kita gak bisa kumpul setiap hari, full team kumpul hanya di hari minggu, sewaktu adiknaburju Mitoni & gender reveal dirumah mama) karenanya, ku putuskan untuk  staycation sehari sebelum kami kembali ke Surabaya. 

the view from the pool

Alasannya? karena ingin sedikit memanjakan anak satu-satunya yang lagi senang berenang, ke jakarta, hal pertama yang dilakukan nya adalah memastikan baju renangnya ada di koper, untuk dibawa kejakarta, karena ingin sekali berenang dengan sepupu-sepupunya, atau memperlihatkan ke budhe-budhe nya bahwa dia sudah berenang dengan sangat baik (personally untuk Sa, masuk ke kolam renang tanpa menangis dan kepalanya terkena air tanpa penolakan adalah memang sebuah prestasi. pernah nggak anakmu mimisan setiap habis mandi pagi?? itulah yang belum lama yang lalu terjadi pada Sa, karena ternyata ketidak-suka-annya terhadap air adalah karena pembuluh darah nya yang sensitif sehingga apabila terkena air dikepala, sering langsung mimisan karena pembuluh darah di hidung begitu tipis sehingga kena air sedikit dingin dipagi hari akan membuatnya pecah begitu saja). 

tired after swimming

Beberapa hotel ada dikepala saya, tapi akhirnya saya pilih untuk bermalam di grand tropic karena; kolam renangnya bisa dipakai dan ukurannya cukup besar, ratenya hemat dikantong, spacious room (asli besar banget untuk ukuran hotel hemat dikantong), cukup dekat dari stasiun, mengingat besok pagi sehabis subuh kita harus berangkat ke stasiun untuk kembali ke Surabaya, dan yang terakhir, bisa pandangi cityview dari dalam kamar, dengan membayar 300ribuan saja, kami bisa menginap di hotel bagus ini. menurut hasil googling dan hasil scroll applikasi, hotel ini termasuk kedalam hotel bintang 4, lumayan banget sih rate untuk hotel bintang 4. kami sendiri HANYA PESAN ROOM ONLY, karena, berpikir pasti akan sarapan di stasiun.

Sehabis check in, dan diberikan kunci kamar, kami langsung naik, lift dengan smooth membawa kami ke lantai 12, kamar kami tidak begitu jauh dari lift, dan kami langsung meletakan koper dan barang lain, dan kembali turun kebawah untuk berenang, di lift saat turun, kami berpapasan dengan keluarga yang baru saja selesai berenang, saat itu saya sedikit worry kolam akan ramai.. ternyata begitu sampai di kolam hanya ada 1 anak kecil yang berenang di kolam kedalaman 1,15m. sepi begini disaat lagi pandemi membuat hati tenang bukan main.. karena kalau kolam ramaipun, kami tidak akan berenang. takut tertular virus.

the bathtub

Disini ada beberapa kolam, dengan berbagai kedalaman. Sa memilih berenang di kolam kedalaman 1,15 hanya karena kolam yang lebih rendah (80cm kalau tidak salah) ada isi pasir-parisnya yang menurut dia bakal membuat renang tidak nyaman. saya pun duduk sambil menikmati kolam dan suara air terjun buatan, sungguh sebuah definisi santai sore yang sebenarnya. Puas berenang, kami lalu kembali ke kamar. Sa sendiri melanjutnya 'main air' dengan berendam air hangat di bathtub hotel. senangnya... fasilitas kamar memang luar biasa. 

dinning table
spacious living room

the kitchen
also the kitchen


kamar terbagi menjadi 2 ruangan, ruang tamu &amp; ruang tidur. ruang tidur, terdapat 3 ruangan terpisah; ruang tidur, wardrobe dan kamar mandi. sementara, ruang tamu dilengkapi dengan dapur, meja makan, dan kulkas 1 pintu. interiornya mirip apartemen dengan 1 kamar, luas ruangan juga dimanfaatkan dengan sangat baik, interiornya betulan seperti apartemen 1BR. satu hal yang membuat saya kurang nyaman adalah, suara berisik di area ruang tamu setiap kali air hangat di kamar mandi saya nyalakan. saya jadi berfikir apakah instalasinya ada di setiap kamar atau gimana.. kurang paham tapi cukup mengganggu. 

Hotel juga menjual popcorn di lobby, Sa sudah bolak balik minta dibelikan popcorn, jadilah beli popcorn dan juga berbelanja sedikit makanan dan air minum di Daily foodhall yang ada di lantai bawah dekat lobby utama yang menyatukan tower hotel dan tower apartemen nya. saya juga order online Burgreens, karena di Surabaya nggak ada Burgreens, ada sih.. tapi cuma beberapa menu saja, dan itupun collab dengan coffee shop kecintaan saya SBUX. senangnya bisa merasakan makanan burgreens yang enak DAN MAHAL ITU.

TV di ruang tamu, work properly. Tidak ada kesulitan mengoperasikannya, dan thankfully, program tv kabel juga bisa di tonton dan gambarnya bagus. malam hari kami habiskan mengobrol sambil menonton sementara dia juga sibuk nyemil pop corn nya. Malam berlalu semakin larut, Sa saya ajak ke kamar untuk tidur, karena besok subuh (jam 6 pagi) sudah harus check out dan tes antigen di Stasiun. dia pun setuju dan tidak lama setelah saya bacakan cerita, dia tertidur pulas. Sementara saya sendiri cukup takut ketiduran dan ketinggalan kereta (cukup sudah masa muda ku habiskan dengan ketinggalan pesawat berulang kali) memang semesta ini selalu punya cara untuk membuat kita tetap rendah hati, bila dulu santai walaupun uang hilang sia sia, tiket hangus karena ketinggalan pesawat, hari ini saya bisa takut tiket kereta hangus padahal nominalnya hanya 10% dari tiket pesawat. tapi i manage to fall asleep juga beberapa jam.. 

pintu ke kamar tidur. 

re-pack koper dan tas jinjing, supaya besok pagi bisa check out dengan nyaman... menikmati sekali lagi pemandangan jalanan jakarta dimalam hari.. begitu indah nya lampu lampu kendaraan yang lalu lalang,, dan tetidur sekitar jam 2 pagi.. sudah lama rasanya tidak tidur se-pulas-ini,, senang.. sampai sampai..  

jakarta'S Traffic @5AM

terbangun jam 3 pagi dan menghabiskan makanan yang tersisa, merebus air di electric jar dan menuangnya kedalam termos yang memang saya bawa untuk berpergian. entah... sekalipun selalu pakai masker, polusi Jakarta tetap membuat kami flu dan bersin bersin nyaris radang. jam 5 pagi saya membangunkan Sa, kami pun bersiap dan turun ke lobby jam 6 pagi, tidak berapa lama, taksi online yang kami pesan pun datang.. dan kami kembali ke Surabaya.

See you on another stories of US.  





Saturday, February 5, 2022

ngopi di : D'John cafe & resto -- Gresik


Singkat cerita, pekerjaan broker yang secara tidak sengaja saya geluti post laidoff dari pekerjaan sebelumnya, membuat saya lebih sering dijalan daripada dirumah, dan beberapa Minggu terakhir, fokus pekerjaan saya, berada di seputaran Kedamean- Gresik. Dan karena seringnya bolak balik kesana, saya jadi penasaran mengexplore warung kopi / café local yang ada disekitar, dan saya cukup penasaran dengan satu cafe yang adanya di garasi --- teras & halaman rumah, dengan nama D'john. 

Seperti biasa, sebelum saya kesana.. saya bertanya ke orang lokal tentang tempat ini. Dan juga cek review nya di google maps, tapi biasanya saya lebih sering pakai feeling sih.. hehe.. hidung saya mencium aroma nyaman di café ini, dan plus nya pemandangan yang terkesan ‘ngopi di teras rumah nenek’ menjadi kenyataan. Setelah beberapa kali bolak balik ‘hanya lewat’ café ini, siang itu, dengan niat bulat, sehabis mampir ke lokasi properti yang akan di listing, kami kemudian secara sadar dan sengaja mampir ngopi disini.


First impression ku begitu masuk ke dalam café nya adalah nyaman, udara Gresik yang panas ( entah karena bersebelahan dengan lautan, atau juga karena Gresik memang dikelilingi pabrik-pabrik) tidak mengurangi rasa itu! Walaupun di meja sekitar kasir, hanya ada kipas, dan udara panas yang sumuk (gerah – bikin keringat berdatangan) tapi ya nyaman! Kafe ini kebetulan adalah juga rumah tinggal si empunya café. Karena namanya DJohn, saya menyimpulkan kalau owner café ini adalah pak John (atau anggap aja begitu ya.. hehehe)

monkey langsung ketemu tempat nyaman (dan juga teman baru).

Terdapat 2 vibes dalam satu café dan menurut saya itu smart sekali. Vibes pertama area semi formal, dengan meja – kursi  ‘template’ café. Vibes kedua area non formal, dimana ada rerumputan, semak semak hijau, bebatuan yang sedikit berlumut, ayunan super nyaman bergantung di dekat pohon manga, dan juga ada kolam ikan yang menghidupkan area santai ini.  Lagi-lagi saya merasa betulan berada di teras rumah nenek, karena lokasinya persis di jalan besar, kiri-kanan rumah tapi rasa-rasa angin desa ada banget disini.. dan memang karena lokasinya sendiri merupakan halaman rumah pak John, dan sebagian juga adalah garasi nya. Karyawan disini, tidak banyak, tidak seperti coffee shop yang lain. DJohn ini dikelola oleh keluarga pak John, sewaktu saya order, pas pertama datang, anak perempuannya yang menerima order, dan juga yang mengantarkan makanan/ lite bite pesanan kami. Untuk kopi sebagian diantar langsung oleh pak John. Dan saat membayar sebelum pulang, yang ada di meja kasir adalah ibunya (istri pak John). Saya jujur senang sekali ketemu kafe yang dikelola keluarga, seperti cerminan ‘support system’ yang baik, yang memang seharusnya terjadi disetiap keluarga, yaitu support each other. Dari situ juga, saya tahu bahwa pak john adalah pencinta kopi sejati,dan beliau sangat beruntung karena selain support dari keluarga, beliau-pun sudah menjalani profesi idaman setiap orang, yaitu menjadikan hobinya sebagai pekerjaan (yang menghasilkan uang & cuan).

Buku menunya, bukanlah buku menu yang disainnya ajaib, hanya buku menu sederhana, dan informative, kadang kala, sering juga orang suka ngopi tapi tidak tahu apa yang mereka minum, nah.. di menu nya Djohn, hal itu nggak akan terjadi. Karena setiap minuman, dijelaskan campurannya. Jadi untuk yang pertama kali coba cappucinno akan tahu, apa saja yang ingredients nya.. bagaimana rasanya. 




Dan kaget seketika melihat harganya yang sangat murah. Untuk sebagian orang, mungkin langsung pesan (hanya karena harganya murah). Untuk saya, karena memang dari awal (berminggu-minggu sebelum akhirnya mampir) yang membuat saya kesini adalah rasa penasaran saya, terhadap rasa kopinya, dan setelah datang semakin kuat bahwa feeling saya benar, saya yakin, kopi yang dijual ini bukanlah kopi kemasan melainkan kopi artisan. Saya lihat pak John sendiri yang membuat semua orderan kopinya.


Diuntungkan oleh harga kopi yang murah itu, saya memutuskan membeli beberapa kopi, tidak ada salahnya mencoba kopi yang iced, dan hot. Untuk yang hot, saya pilih manual brew dengan French press. Dan gila-nya French press disini jarnya besar, jadi cukup untuk 2 porsi (2 orang) 2 gelas kopi hitam pahit. Lucunya, saat saya  memesan wine kopi, pak John memanggil saya dan menanyakan, seperti nggak yakin kalau lidah saya kuat menghadapi ‘wine coffee’ racikannya. Karena pertimbangan itu, akhirnya saya cancel pesanan kopi dan menggantinya dengan jenis kopi lain ( Argopuro dan bukan yang wine coffee).

drench in cafeine

Later on, Pak John datang menghampiri meja, tempat saya duduk. Dan membawa 2 gelas FREE wine coffee (yang tadi mau saya pesan namun saya batalkan atas anjuran pak Jhon). Tidak tanggung-tanggung 2 gelas. saya sendiri, saat itu sedang menyesap kopi hitam saya, yang baru saja saya tuang dari French press-nya.  Sebuah ironi macam apa ini, siang hingga sore itu, mulut saya sudah mencicipi 4 gelas kopi hitam (panas), dan 2 gelas kopi dingin. Setelah mencoba semua manual black coffee ( juga wine coffee nya) pilihan saya jatuh kepada kopi (yang di french press) karena si wine kopi ini kebetulan sangat manis untuk lidah ‘kopi hitam apa adanya’ versi saya. Lewat pak Djohn saya jadi paham kalau kopi manual brew (wine) biasanya diminum bersama dengan hisapan cerutu, maka dari itu dibuat manis, untuk menutupi ‘beratnya’ cerutu tersebut. No worries saya tetap menghabiskan semua kopi dengan tak bersisa.

Pengalaman ngopi di DJohn sepertinya akan membawa saya, membawa kami kesini lagi. Saya sangat berharap semakin banyak warung kopi/ café /coffeeshop yang berkonsep jelas dan nyaman dibuat berlama lama entah itu untuk nugas, ketemu klien/ kolega, quality time sama seluruh anggota keluarga, atau bahkan reuni sekolah sekalipun. Oh ya Selain kopi, saya juga berhasil menjejal perut saya dengan cwie mie, sempol ayam pesanan si monkey, tahu dan juga air mineral untuk sedikit menetralisir kafein ditubuh saya. Sebanyak itu menu yang saya pesan, saya hanya membayar selembar uang merah dan masih kembali. Sungguh sangat murah. 

Dan satu lagi keunikan dari DJohn adalah kenyataan bahwa menu termahal adalah wine kopi, bukan makanannya, padahal disini banyak sekali menu makanannya, tapi ajaibnya harganya dibawah rata-rata harga makanan di café atau di warung makan sekalipun. Betulan sangat murah sekali, dengan ragam menu yang menggugah selera dan hemat di kantong. 






enjoy your weekend. 


xoxo

Monk&Mnkey

Tuesday, December 28, 2021

review hotel : The Studio Seminyak - Bali

 

the lovely POOL 

Pandemi memang merubah banyak hal dalam hidup, termasuk ‘budaya’ traveling-nya anak Milenial. Tidak, saya gak akan ngaku-ngaku jadi anak milenial (sekalipun usia saya masih termasuk didalam golongan anak-anak Milenial), karena pola pikir, cara berpakaian dan lagu kesukaan masih suka-suka saya, saya tidak suka yang template, saya gak suka dijuluki anak senja, dan saya menolak disamakan dengan orang-orang yang suka musik jazz karena zaman. Anak muda… saya sudah suka jazz saat manusia bumi menggilai POP/ R N B.

Baik, back to topic. Masih dalam rangka bday celebration #sederhanadanmembumi Tahun ini, begitu ajaib nya satu mimpi untuk kembali ke Bali, rasanya bisa terwujud. This time, kita akan berbosan-bosan di Seminyak, tepatnya di The Studio Seminyak. Pertama kali yang saya lakukan setelah membayar tiket citilink kami, adalah melihat lihat available room di tanggal ulangtahun saya. Karena sebegitu niatnya, ada beberapa apps yang saya download hari itu; traveloka, tiket.com, booking.com, trip, membandingkan rate & availability dari apps satu ke apps lain, dan begitu masuk ke pembayaran, tidak ada satupun apps yang support pembayaran dengan debit card, (atau mungkin bisa.. tapi card debit saya masih yang jadul dan tidak berlogo Visa –waktu itu dengan alasan murah biaya admin, jadi tidak mau yang berlogo vis*--), merasa kesal, saya lalu iseng menelepon beberapa hotel yang menarik perhatian saya. Fokus utama saya adalah kenyamanan karena mengajak anak dan menginap adalah hal yang cukup tricky untuk saya.

The Studio lewat apps, dan juga hasil googling, memiliki kamar dengan luas 50sqm alias 50 meter persegiiiiii.. iyak gak salah baca.. beneran 50sqm dan itu seluas rumah-rumah milenial,, bahkan lebih luas.. sekarang rumah-rumah dipasaran mungkin hanya seluas 20sqm, 33 sqm, 36sqm, dan bahkan apartment studio atau 1 BR sekalipun, sepertinya jarang ada yang seluas itu. Bersyukur rate-nya hanya 200k/ night, kebayang kan 4 hari di kamar luas dan dikasih rate super ciamik.. berasa dikasih kado aja terus menerus oleh semesta. Setelah menelepon saya semakin yakin untuk booking, memang ada beberapa tipe kamar, ada yang 1 villa juga, dengan interior yang lumayan manjain mata, dan super nyaman. Tetapi, karena budget sangat minim, saya akhirnya setuju untuk booking superior suit room, via telepon, dan hanya perlu mentransfer ke rekening owner, dan juga menulis (via text) apa apa saja special request (mis: tambah bantal, ganti handuk 2x sehari, no smoking room atau malah smoking room) saya cukup kaget dengan kenyataan bahwa booking price  via aplikasi dan via telepon akan lebih murah bila booking via telepon, saya anggap itu sebagai hadiah, karena saya BUKAN PEMAKAI/ PENGGUNA KARTU KREDIT.

Bli hotel juga bilang, mereka ada jasa airport pick up ( mereka bisa arrange airport pickup bilamana tamu mau dijemput dari bandara Ngurahrai –tentu dengan harga terpisah dari harga room). Yang setelah saya pikir-pikir, seminyak cukup dekat dari ngurah rai, harusnya saya bisa manage untuk pergi sendiri ke hotel, tapi akhirnya pun,, saya booking airport pick up di Bli yang menyewakan Skuter untuk kami, katanya sih best price, jadi saya percaya saja. hotel check, airport pick up check, rent bike check. Selanjutnya saya hanya perlu menunggu beberapa bulan lain dengan sabar hati, saya merahasiakan trip Bali ini dari monkey, untuk menjaga kelancaran belajar di sekolah dan ritme les renangnya.

Hari yang ditunggu tiba, penerbangan yang smooth, landing yang super smooth, sampai penjemputan oleh Bli rent bike pun tepat waktu membuat saya sangat bahagia. Sampai di hotel dan check in, saya kembali di kagetkan karena satu hotel ini hanya kami yang menginap!! Wohoooo.. tamu lain memilih budget Villa yang letaknya 20 meter ke Utara, alias beda gedung. The Studio sebetulnya terletak diperbatasan seminyak, dan saya beruntung The Studio lokasinya benar benar berada di luar hiruk pikuk semaraknya Seminyak, masuk gang, 1 mobil, posisi di ujung gang buntu, sangat amat menjadikan The Studio tempat nyaman untuk tidur tanpa banyak basa basi. Sebab lokasi yang cukup ‘masuk gang’ dengan row jalan kemungkinan hanya 3,5 – 4 meter, Hotel ini hanya menyediakan parkiran motor, syukurlah kami memang menyewa motor (gak ada uang juga untuk sewa mobil). Sebetulnya bisa juga parkir mobil di tanah kosong dekat hotel, tapi tetap saja menurutku, lebih enak sewa motor, lebih hemat dan kita kan Cuma pergi berdua, saya juga sudah mengantongi SIM A dan C, jadi tetap aman selalu.

Sewaktu check in, saya dipermudah karena sudah confirm terlebih dahulu waktu kedatangan saya dengan meberikan tiket pesawat kami. Kamar sudah disiapkan, lokasinya dilantai 2. Sejujurnya saya sangat mencintai Bali, dan segala hal tentangnya. Mendaki tangga sambil membawa koper ditangan satu, dan memegang tangan anak balita ditangan yang lain adalah hal lain. Perlu effort dan nafas yang panjang. Kamar kami diujung, dan yah.. sedikit PR untuk bolak-balik ke bawah (karena kolam ada dilantai 1).  Tiap kali naik atau turun tangga, rasanya bobot badan saya  berkurang 0.50 gram.

Sampai di kamar setelah naik tangga, rasanya seperti dapat jackpot! 50sqm didepan mata, masuk kamar langsung ketemu lorong, ada 3 ruangan terpisah, kamar tidur dengan 2 pintu ( 1 pintu menuju ke lorong, 1 pintu lagi menuju langsung ke kamar mandi), kamar mandi dengan 2 pintu (1 pintu direct ke bedroom, 1 pintu lagi menuju lorong dan ruang tamu/ruang tv). Ruang tamu sendiri sangat lega dan interiornya tidak sia-sia, cukup fungsional dan nyaman. Terdapat lukisan Buddha berukuran besar menempel didinding. TV dan meja TV, meja & sofa L, meja makan dan kursi makan. Tempat sampah dan aircon. Whouuw 50sqm dan dibawah sejuta, kayanya Cuma the Studio yang punya.. diruang tamu juga ada pintu dan jendela kaca (all wooden & glass) menuju ke balcony. Pemandangan sunset & sunrise dari balcony cukup memuaskan.

Kamar 50 meter persegi adalah alasan ku memilih The Studio. Dan harga juga sangat terjangkau bahkan menurutku murah. Gimana enggak?? 200ribu, bisa santai rebahan sambil nonton di ruang TV, bisa memandangi langit di balkon, bisa berendam di bathtub-nya, bisa juga nyantai di kamar, semuanya masih satu interior yang sama tapi beda-beda kesan. Bahkan ada meja makan dan kursi makan di pojok dinding dekat meja TV. Betulan toughful deh arsitek dan ownernya. Betul-betul memikirkan tamunya. Oh dan selain luas kamar dan rate, ku pilih The Studio karena tempatnya yang cukup ‘terasing’ dari hiruk pikuk Seminyak tapi masih di perbatasan Seminyak dan itu membuat kami tetap bisa skuteran kepantai Kuta – Legian – seminyak dengan leluasa, one way tidak ada artinya karena jarak hotel ke destinasi yang ada di list kami dekat-dekat saja.

Di Bali artinya harus percaya perbuatan baik ataupun buruk akan ada buahnya, LANGSUNG. Atau paling tidak itulah yang saya percayai, perdana sewa motor dan motor-nya pun yang mahal (sebetulnya sengaja karena mimpi someday punya vespa, tapi karena belum ada rejekinnya, akhirnnya sewa dulu) takut pas tiba-tiba lagi di parkir, motornya hilang, musti ganti rugi pakai uang apa.. syukurlah terjadi hanya yang baik baik saja.. walaupun sempat lupa kunci bagasi motor dan terparkir semalaman, tapi barang-barangku di bagasi termasuk STNK motornya, masih duduk cantik, aman, nggak hilang. Haa.. jadi rindu Bali, lagi.

Hal – hal unik yang ku perhatikan:

n  Hotel ini bukan hotel baru, begitupun arsitekturnya, interiornya dan exteriornya. Tapi saya suka, terlebih perpaduan elemen kayu dan kaca pada setiap pintu (pintu kamar, pintu kamar tidur ke kamar mandi, jendela kamar ke balkon). Dan kuncinya pun kunci jadul dan cukup berat. Saya selalu menitipkan kunci hotel di reception, kalau-kalau saya lupa atau kuncinya yang menghilang dari tas saya. Bisa saja.

n  Entah kenapa, tanaman di balcony kamarku sama sekali tidak ada, hanya pot berisikan tanah kering. Too bad, saya padahal suka yang hijau-hijau..

there's fridge under the wash basin. its magic

n  Masih di kamar, semuanya Nampak sempurna, bahkan untuk hotel bintang 3 dengan rate 200k, mendapatkan kamar mandi dengan bathtub adalah sebuah keniscayaan, tapi disini, setiap kamar memang dilengkapi dengan bathtub, dan huge wash basin dengan kaca yang juga super huge, too bad, ngga ada hairdryer (tenang, saya bawa hairdryer dan catokan juga) padahal kiri kanan kaca washbasin ada terminal electric (colokan), kalau mereka provide hairdryer pasti lebih ok. Sempat mikir, pasti nggak ada kulkas lah… ternyata pas buka wash basin didepan kamar mandi, ada kulkas tersembunyi dengan cantiknya dilemari bawah wash basin. TAKJUB. Titik.


n  Bed, idk badan ku yang terlalu hulk apa gimana, setiap pindah posisi tidur pasti papan divan akan berbunyi ‘kreeeek’ takut sewaktu waktu papannya patah, dan kasur kami amblas ke lantai **untung aja nggak terjadi**

n  Cupboard nya HULK sekali! Ini tuh ya.. baju, kulkas 2 pintu, anak & cucu masuk semua deh saking huge nya lemari. Memang, the studio adalah pilihan stay orang-orang yang menjalani WFB *Work from Bali* atau memang sedang dinas pekerjaan di Bali, mereka juga menyediakan rate special untuk yang tinggal bulanan (seperti indekos gitu modelannya). Jadi jangan heran sama lemari yang guedheeeeee banget itu yaa…

n  Kolam renang tidak besar, tapi cukup untuk alternative kegiatan keluarga. Monkey sangat senang berenang disini, sekalipun berjarak 1 meter dari kolam renang, ada aliran kali yang suaranya cukup bising, no problem, saya suka sama arsitekturnya, seriusan… cukup sulit disain kolam dengan kontur tanah dan posisi tanah yang sebelahan dengan Kali, karena rawan sekali longsor, dan arsitek the studio bisa mendisain dengan baik.

n  Tidak ada breakfast, I specifically asking them lewat aplikasi traveloka, dan no.. mereka memang tidak menyediakan breakfast, 200k for room only. but they provide plate & cutlery so we can always take away or cook something.

n  Canang everywhere. Saya tahu canang memang bagian dari tradisi, tapi saya sedikit takut karena posisi nya dekat saya parkir motor, saya cukup khawatir motor sewaan akan secara tidak sengaja menyentuh canang. Dan juga canang yang ada di ujung tangga (bagian atas), kadang saya takut terinjak oleh kaki saya atau kaki anak saya. Huffttt… disini bener bener menjaga dan melihat betul-betul jalan yang akan kita lewati.

n  Dimalam hari, akan ada saat dimana reception pergi untuk membeli makan / hal lain, sehingga Bli nya tidak stand by, tapi mereka cukup bertanggung jawab dengan memberikan tulisan dan juga mencantumkan nomor hp mereka yang terhubung dengan aplikasi perpesanan, sehingga kita pun tetap bisa menyampaikan request atau pertanyaan kepada bli yang jaga.

n  Hotelnya sangat sunyi. Sangat ‘nggak seminyak banget!’ tapi justru saya sukakk.. kenapa? Karena dekat dengan warung banyuwangi yang bisa di gofood / dine in, masakannya enak-enak, juga nasi tempong bu Devie yang sambelnya juara! Dekat dengan lokasi makanan dan pusat hiburan (kafe, coffeeshop, bar, etc), lokasinya yang memang di gang, perumahan, bukan di lokasi seminyak yang sibuk, betulan bisa buat tempat persemedian juga (I call it –little ubud—) mungkin hanya sesekali terdengar suara anjing menggonggong.

BIG SPIDER in the bathroom. FYI, theyre nice

Secara keseluruhan HOTEL ini memenuhi segala keinginan, kalau biasa cari hotel murah-murah aja yang penting ada tempat buat tidur (karena bakalan kelayapan ALL DAY), artinya lagi nggak perlu space kamar yang luas. Nah The Studio ini berbeda, kamu mau satu minggu semedi didalam kamar hotel pun pasti nyaman karena spacious room yang ditawarkan. Mau nonton TV sampai bosan, ada ruang tamu.. memandangi kehidupan, bisa duduk terbengong dibalcony nya.. mau tidur seharian hayuuk pindah ke kamar.. atau mau bermain air dengan sedikit privacy ada bathtub dikamar mandi.. makan bisa gofood/ sejenisnya karena di dalam juga ada meja makan- kulkas, piring, gelas minum, gelas kopi bahkan wash bashin untuk cuci cuci berserta kelengkapannya. 

Saturday, December 18, 2021

BDAY TRIP KE : BALI ISLAND!!!!

 

always put a smile even we wore a mask

Saya, kami, sangat excited untuk ada didalam pesawat yang membawa kami berlibur ke pulau BALI. Setelah selama covid kami tidak kemana mana, sebuah trip pasti akan membuat kami melupakan kesedihan, kesesakan dan perasaan tersegarkan oleh angin dan pemandangan pulau Bali yang begitu memanjakan.

Bila taun lalu  tujuan kami adalah UBUD, kali ini tujuan kami hanya seputar SEMINYAK – KUTA – LEGIAN saja. mengapa demikian? Banyak teman yang menyarankan untuk mencoba pantai disaat covid (mungkin karena super sepi jadi akan nyaman dan tidak begitu crowd seperti biasanya), juga saya sudah terlanjur pesan NEW VESPA sebagai kendaraan kami keliling selama liburan. Not sure bila stay di UBUD apakah ada local bike rental yang harganya sesuai kantong saya. Iya bokek.


our flight with Citilink

Entah mengapa semesta memberi ijin dan kemudahan kami. Bagaimana tidak? Di bulan oktober 2021 saat iseng mengecek apps BETTER FLY Citilink bisa bisanya harga tiket PP ke Bali untuk 2 orang hanya 1,100k, LIKE IS IT REALL… sebab sebelumnya, perjalanan PP ke Bali termurah 2.000k berdua. Juga kenyataan bahwa setelah berhasil membeli tiket, kami juga mendapatkan harga murah untuk hotel tempat kami stay selama di Seminyak. Perfect combo yang mmbuat saya jadi berpikir bahwa ini adalah tanda dari semesta, restu dari NYA.

Bally.. here we come!!!

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya kami berdua trip… tapi saya agak gugup karena harus membawa BALITA yang belum vaksin ini berpergian,, Saya sendiri baru mendapatkan vaksin shoot dosis kedua beberapa hari menjelang keberangkatan kami ke Denpasar. Syukurlah efek dosis kedua ini lebih soft daripada dosis yang petama. Anyway, dengan beberapa hari sebelumnya brief Sa, dan sebelumnya selama berbulan bulan afirmasi ( Oktober – November – desember) dia pun berjanji untuk selalu memakai masker bila kami keluar (sekalipun hanya turun untuk berenang di bawah, tetap harus bermasker)

Siang itu, cuaca mendung tanpa hujan menyapa kami. Saya berhasil arrange penjemputan oleh tim sewa vespa yang sudah menunggu kami di terminal kedatangan sambil membawa kertas bertuliskan nama saya. Senang? Ya tentu saja, artinya kami bisa langsung handsfree karena koper dan barang lain langsung berpindah tangan dan dibawakan Bli nya. Tujuan petama, tentu saja hotel.. saya cukup lelah, agak gugup juga dipesawat karena sudah berbulan bulan lalu off naik pesawat. Terakhir kami naik pesawat adalah pada saat saya menjemput Sa di bandara Soetha dan bersama kembali ke Juanda.

ikkhousha ramen. shoyu ramen

Selesai meletakan koper dan mencuci muka dan berganti baju, kamipun berangkat untuk makan ramen di sekitar hotel. Senang sekali ramen yang sudah bertahun tahun tidak saya makan, hari ini, dihari ulangtahun saya.. saya bisa merasakan kembali lembutnya ramen dipadu dengan gurihnya Shoyu broth, saya rasanya mau terbang saat akhirnya lidah kembali merasakan kenikmatan ini.


Selesai makan kami langsung menuju toko oleh oleh krisna yang di Sunset Road, sedikit mengisi tas belanja kami #BringYourOwnShoppingBag untuk hadiah natal para saudara, ipar dan keponakan di Jakarta, mampir ke minimarket untuk membeli air minum, kemudian kembali ke hotel dalam sekejap. Tidak lama, saya kembali mengorder nasi tempong sebagai penutup hari lahir saya, senang, nasi tempongnya sangat nikmat dan juga harganya cukup murah.


Pagi hari, kami memulai dengan berenang, karena hotel tidak menyediakan breakfast (room only), kamipun memulai hari dengan skuteran ke Pantai Kuta, well… rodok sedikit kecewa karena di pantai ramai manusia, yah sebenarnya sepi pengunjung, tapi ramai pedagang, mulai dari kelapa muda seharga 40k, meni pedi & nail art, per-kalung-an, per-kaos-an, sampai per-kepang-an. Too bad, menawarkan jasa sampai memaksa, yang membuat kami akhirnya setuju untuk di kepang dengan harga sesuai yang ditawar. Dalam hati sambil berharap.. lain kali boleh kan ya kami duduk santai dipantai, menikmati suara ombak tanpa ‘paksaan’ menggunakan jasa jasa yang ada.. untuk minuman, kami pasti akan membeli dipantai juga untuk support local business. Selesai dikepang, kami langsung meninggalkan pantai, pergi ke parkiran dan pindah ke pasar seni Legian, too bad, saya gak sempat beli apapun disana karena, lagi lagi saya keburu takut di tembak harga, (berdasarkan pengalaman saya sebelum sebelumnya… kami sering dikira tourist jadi dikasih harga tourist). Perjalanan pulang dan Sa insist pergi ke warung gelato terkenal yang berlokasi tidak jauh dari tempat kami menginap.

menikmati traffic Bali dengan scooter sewaan

Gelato ini lain cerita, disini kami mendapatkan perlakuan TIDAK RAMAH oleh para waiters dan petugas disana. Untuk rasa gelato OK, tapi pelayanan sorry to say, saya secara personal lebih memilih untuk TIDAK LAGI PERGI KESINI. Karena pembeli butuh rasa nyaman yang sayangnya tidak tersedia di toko ini. FYI, kesini saya MEMBELI, MEMBAYAR SEJUMLAH UANG, bukan menukarkan tiket / kupon hadiah giveaway untuk se-cup gelato. Miris memang, toko ini langsung saya blacklist, hehehe.. gak apa saya gak sebut merk kan.. aman kamu.. kemudian kamipun pulang, dengan membawa serta si gelato yang masih tersisa, iya bawaannya pengin pergi aja kalau tempatnya tidak nyaman, Karena kami kesini untuk berlibur dan have fun, segala yang buat not fun akan langsung kami tinggalkan.

sudah pengin kesini sejak Pepita buka beberapa tahun lalu.

Tiba di hotel kami lalu order gofood untuk makan, this time pilih nasi goreng local, rasanya nikmat. Setelahnya kami skuteran agak jauh untuk bertemu seseorang mentor vegan keren yang rumahnya, berhasil membuat kami nyasar. Kebayang kan, di kota orang, motoran modal googlemaps, dan tapi Jalan di denpasar dan sekitarnya itu kebanyakan Jalan satu arah yang membuat saya bingung sendiri, karena bolak balik nyasar.. waktu tempuh yang harusnya hanya 30 menit or so, menjadi satu jam lebih.. tapi ini ku syukuri karena bisa ngobrol lepas bersama mba Mitha di rumah beliau. Sebelum perjalanan makin memusingkan, kami juga sudah mampir ke Pepita n Sons untuk ngopi dingin dan merasakan nikmatnya vegan donut buatan mba Sophie Navita. Saat saya mengetik ini, terbayang lembutnya choco vegan donut yang saat itu saya rasakan, FIXX saya akan kesana lagi pada trip to Bali yang selanjutnya.. sampai hotel dan mandi.. kemudian kami pergi ke jimbaran untuk menikmati seafood dan sunset sepanjang Jalan. Merasakan nyamannya mengendarai vespa impian yang entah kapan akan dimiliki… malam belum berakhir, kami pergi ke Made’s di Seminyak untuk menikmati LIVE MUSIC.\

Made's Seminyak on Friday

Bersyukur lagi, jauh sebelum mengunjungi Warung ini, saya sudah menelepon nya terlebih dahulu untuk menanyakan perihal live music ini, awalnya saya berharap ada Bali dance atau local show lainnya. Dari informasi yang saya dapatkan lewat telpon, selama covid ini tidak ada traditional Bali dance, hanya ada LIVE MUSIC di hari Jumat dan Salsa night di Malam Sabtu. Jadi hari Jumat berakhir dengan ber-live music-ria dengan lagu lagu yang saya hapal semua lyricnya menikmati indahnya suara kakak penyanyi sambil nyemil marinara pizza dan menyesap kopi cappuccino saya..


Sabtu pagi berawal dengan berenang…. Sa kebetulan lagi GIAT SANGAT berenang jadi ya hampir setiap hari dan dalam sehari bisa beberapa kali berenang bersama. Pagi ini sarapan nasi tempong lagi di warung banyuwangi dekat hotel. Entah sudah berapa porsi nasi tempong dan menu khas banyuwangi lainnya yang sudah kami nikmati selama di Bali. Lost count karena memang SE ENAK ITU dan mudah dipilih daripada terjebak memakan daging B yang tidak kami konsumsi. Selesai sarapan kami lalu berangkat sedikit ke tengah, ke Cangu untuk mengunjungi warung kakak kandung saya (ngarepdotcom) Teh Manis Bali. Perjalanan ke Cangu dengan motor tidaklah begitu menyenangkan diterik nya matahari Bali dan ramainya jalanan oleh para tourist local dan tourist asing. Saya harus berkali kali mengerem dan membuat jari saya kapalan, iya se---sering---itu ngeremnya. Dan rem Vespa memang keras, jadi perlu tenaga dan kesabaran dan kekuatan yang penuh. Sekembalinya dari cangu, kami langsung ngemall, kali ini tujuannya, discovery mall, mall kecintaan saya yang tidak banyak berubah, dan luckily kami bisa memanjakan mata karena selain dibelakang mall persis ada hamparan laut kuta nan indah dengan langit yang aduhaii,, di dalam mall.. sedang ada pameran karya seni (lukisan dan sejenisnya) yang betulan membuat hati terkagum kagum melihat rupanya dan harganya.. (lihat saja, belum sanggup membeli). Seolah belum terlalu kapalan si jari, kami lanjutkan perjalanan ke Krisna, kali ini Krisna terbesar yang ada di Bypass, baru petama kali kesini dan kagum aja gitu.. segitu banyaknya lahan untuk parkir, sampai penuh dan harus di refer ke parkiran lain yang jaraknya beberapa meter dari lokasi, untunglah motor tetap bisa parkir di basement. Beli – beli sedikit lagi kado natal untuk diberikan ke keluarga, setelahnya kami pulang dengan kardus menyempil dibagian depan vespa, perjalanan balik ke hotel menjadi pelan dan sedikit mendebarkan karena cukup tricky membawa kardus besar disela sela kali saya yang panjang.

warung banyuwangi dekat hotel, dine in or takeaway

Malam ditutup dengan MAKAN MALAM NASI TEMPONG LAGI. hehehe bingung mau makan apa, warung banyuwangi selalu jadi jawaban. Dan rasa masakan yang mirip mirip dengan masakan Suroboyoan----masakanku, membuatnya menjadi sangat kusukai..

Nusa Dua Skies

Ya sebetulnya mau extend di NUSA DUA, dan hotelpun sudah di lunasi, tapi tiket pesawat tidak bisa di extend Karena flight nya sedang penuh sampai Natal. Dengan berat hati kami harus pulang sesuai jadwal dan merelakan booking-an hotel di Nusa Dua hangus sia sia.. anyway.. kami merasakan kenyamanan saat Drive-thru tes antigen dan PCR (untuk Sa) hasilnya cepat dan juga terkoneksi dengan apps PeduliLindungi.

why you grow up so fast, my Monkey?

Sesampainya kembali di bandara Djuanda, kami menunggu lumayan lama untuk baggage claim. Ya, kali ini, pergi dan pulang, selalu ada bagasi yang dititip karena pesawat citilink pesanan kami juga include baggage sebanyak 20kg each, itulah mengapa saya suka terbang dengan citilink, sebab pesawat lainnya, pasti butuh extra money untuk baggage. diusia baru ini, saya tersadar begitu banyak berkat yang boleh saya rasakan sekalipun, disetiap Desember, ada saja cobaan untuk kami, terkhusus di kesehatannya Sa. tahun lalu, bulan Desember, dihari dimana saya harus bimbingan tesis untuk finalisasi menuju sidang tesis, Sa harus dilarikan ke IGD karena muntah terus dan ternyata hasil tes darahnya dia terkena gejala typus. Desember tahun-tahun sebelumnya pun.. tidak mudah untuk kami lalui, tapi kami berhasil sampai di tahun ini. 


cheers, XOXO

Traveloro