Showing posts with label #ngopiberdua. Show all posts
Showing posts with label #ngopiberdua. Show all posts

Saturday, February 5, 2022

ngopi di : D'John cafe & resto -- Gresik


Singkat cerita, pekerjaan broker yang secara tidak sengaja saya geluti post laidoff dari pekerjaan sebelumnya, membuat saya lebih sering dijalan daripada dirumah, dan beberapa Minggu terakhir, fokus pekerjaan saya, berada di seputaran Kedamean- Gresik. Dan karena seringnya bolak balik kesana, saya jadi penasaran mengexplore warung kopi / café local yang ada disekitar, dan saya cukup penasaran dengan satu cafe yang adanya di garasi --- teras & halaman rumah, dengan nama D'john. 

Seperti biasa, sebelum saya kesana.. saya bertanya ke orang lokal tentang tempat ini. Dan juga cek review nya di google maps, tapi biasanya saya lebih sering pakai feeling sih.. hehe.. hidung saya mencium aroma nyaman di café ini, dan plus nya pemandangan yang terkesan ‘ngopi di teras rumah nenek’ menjadi kenyataan. Setelah beberapa kali bolak balik ‘hanya lewat’ café ini, siang itu, dengan niat bulat, sehabis mampir ke lokasi properti yang akan di listing, kami kemudian secara sadar dan sengaja mampir ngopi disini.


First impression ku begitu masuk ke dalam café nya adalah nyaman, udara Gresik yang panas ( entah karena bersebelahan dengan lautan, atau juga karena Gresik memang dikelilingi pabrik-pabrik) tidak mengurangi rasa itu! Walaupun di meja sekitar kasir, hanya ada kipas, dan udara panas yang sumuk (gerah – bikin keringat berdatangan) tapi ya nyaman! Kafe ini kebetulan adalah juga rumah tinggal si empunya café. Karena namanya DJohn, saya menyimpulkan kalau owner café ini adalah pak John (atau anggap aja begitu ya.. hehehe)

monkey langsung ketemu tempat nyaman (dan juga teman baru).

Terdapat 2 vibes dalam satu café dan menurut saya itu smart sekali. Vibes pertama area semi formal, dengan meja – kursi  ‘template’ café. Vibes kedua area non formal, dimana ada rerumputan, semak semak hijau, bebatuan yang sedikit berlumut, ayunan super nyaman bergantung di dekat pohon manga, dan juga ada kolam ikan yang menghidupkan area santai ini.  Lagi-lagi saya merasa betulan berada di teras rumah nenek, karena lokasinya persis di jalan besar, kiri-kanan rumah tapi rasa-rasa angin desa ada banget disini.. dan memang karena lokasinya sendiri merupakan halaman rumah pak John, dan sebagian juga adalah garasi nya. Karyawan disini, tidak banyak, tidak seperti coffee shop yang lain. DJohn ini dikelola oleh keluarga pak John, sewaktu saya order, pas pertama datang, anak perempuannya yang menerima order, dan juga yang mengantarkan makanan/ lite bite pesanan kami. Untuk kopi sebagian diantar langsung oleh pak John. Dan saat membayar sebelum pulang, yang ada di meja kasir adalah ibunya (istri pak John). Saya jujur senang sekali ketemu kafe yang dikelola keluarga, seperti cerminan ‘support system’ yang baik, yang memang seharusnya terjadi disetiap keluarga, yaitu support each other. Dari situ juga, saya tahu bahwa pak john adalah pencinta kopi sejati,dan beliau sangat beruntung karena selain support dari keluarga, beliau-pun sudah menjalani profesi idaman setiap orang, yaitu menjadikan hobinya sebagai pekerjaan (yang menghasilkan uang & cuan).

Buku menunya, bukanlah buku menu yang disainnya ajaib, hanya buku menu sederhana, dan informative, kadang kala, sering juga orang suka ngopi tapi tidak tahu apa yang mereka minum, nah.. di menu nya Djohn, hal itu nggak akan terjadi. Karena setiap minuman, dijelaskan campurannya. Jadi untuk yang pertama kali coba cappucinno akan tahu, apa saja yang ingredients nya.. bagaimana rasanya. 




Dan kaget seketika melihat harganya yang sangat murah. Untuk sebagian orang, mungkin langsung pesan (hanya karena harganya murah). Untuk saya, karena memang dari awal (berminggu-minggu sebelum akhirnya mampir) yang membuat saya kesini adalah rasa penasaran saya, terhadap rasa kopinya, dan setelah datang semakin kuat bahwa feeling saya benar, saya yakin, kopi yang dijual ini bukanlah kopi kemasan melainkan kopi artisan. Saya lihat pak John sendiri yang membuat semua orderan kopinya.


Diuntungkan oleh harga kopi yang murah itu, saya memutuskan membeli beberapa kopi, tidak ada salahnya mencoba kopi yang iced, dan hot. Untuk yang hot, saya pilih manual brew dengan French press. Dan gila-nya French press disini jarnya besar, jadi cukup untuk 2 porsi (2 orang) 2 gelas kopi hitam pahit. Lucunya, saat saya  memesan wine kopi, pak John memanggil saya dan menanyakan, seperti nggak yakin kalau lidah saya kuat menghadapi ‘wine coffee’ racikannya. Karena pertimbangan itu, akhirnya saya cancel pesanan kopi dan menggantinya dengan jenis kopi lain ( Argopuro dan bukan yang wine coffee).

drench in cafeine

Later on, Pak John datang menghampiri meja, tempat saya duduk. Dan membawa 2 gelas FREE wine coffee (yang tadi mau saya pesan namun saya batalkan atas anjuran pak Jhon). Tidak tanggung-tanggung 2 gelas. saya sendiri, saat itu sedang menyesap kopi hitam saya, yang baru saja saya tuang dari French press-nya.  Sebuah ironi macam apa ini, siang hingga sore itu, mulut saya sudah mencicipi 4 gelas kopi hitam (panas), dan 2 gelas kopi dingin. Setelah mencoba semua manual black coffee ( juga wine coffee nya) pilihan saya jatuh kepada kopi (yang di french press) karena si wine kopi ini kebetulan sangat manis untuk lidah ‘kopi hitam apa adanya’ versi saya. Lewat pak Djohn saya jadi paham kalau kopi manual brew (wine) biasanya diminum bersama dengan hisapan cerutu, maka dari itu dibuat manis, untuk menutupi ‘beratnya’ cerutu tersebut. No worries saya tetap menghabiskan semua kopi dengan tak bersisa.

Pengalaman ngopi di DJohn sepertinya akan membawa saya, membawa kami kesini lagi. Saya sangat berharap semakin banyak warung kopi/ café /coffeeshop yang berkonsep jelas dan nyaman dibuat berlama lama entah itu untuk nugas, ketemu klien/ kolega, quality time sama seluruh anggota keluarga, atau bahkan reuni sekolah sekalipun. Oh ya Selain kopi, saya juga berhasil menjejal perut saya dengan cwie mie, sempol ayam pesanan si monkey, tahu dan juga air mineral untuk sedikit menetralisir kafein ditubuh saya. Sebanyak itu menu yang saya pesan, saya hanya membayar selembar uang merah dan masih kembali. Sungguh sangat murah. 

Dan satu lagi keunikan dari DJohn adalah kenyataan bahwa menu termahal adalah wine kopi, bukan makanannya, padahal disini banyak sekali menu makanannya, tapi ajaibnya harganya dibawah rata-rata harga makanan di café atau di warung makan sekalipun. Betulan sangat murah sekali, dengan ragam menu yang menggugah selera dan hemat di kantong. 






enjoy your weekend. 


xoxo

Monk&Mnkey

Friday, December 28, 2018

ngopi di: Dancing Goat Coffee&Co



Suatu sore, sepulangnya kami dari main di taman, dan lewati jalan sepanjang pinggir Tol Kebon Jeruk, tanpa sengaja, saya melihat coffee shop di ruko Grand Puri Niaga yang tidak jauh dari Pola Bugar Sport Club. Dan langsung tertarik mau coba ngopi disini... dan begitulah saya jika sudah penasaran, saya pasti datang! Jadi, sekalipun sempat batal, sore ini, kami berkesempatan untuk pergi ngopi disini, diantar oleh online ojek kesayangan kami. Gojek.

 
Ceiling Lantai 2

(tampak luar lantai 1)
 

Siapapun yang melihat exterior Dancing Goat, pasti langsung terkesan dan penasaran bakalan seperti apa interiornya?? karena membuat interior ciamik dengan bangunan model ruko, sekalipun bertingkat adalah sebuah tantangan besar menurut saya. beda hal jika coffe shop ini ada di mall atau di bangunan sendiri, akan lebih mudah mengatur interior cafe nya... dan dancing goat berhasil membuat mata saya takjub, karena pas masuk ke dalam, selain aroma khas kopi yang menyapa, interior industiralist betul-betul memanjakan mata kami. seperti bangunan bekas pabrik atau yang bangunan yang belum selesai pengerjaannya, adanya batu bata yang sengaja di eskpose, bohlam lampu dan fitting yang di cat hitam yang mengantung dengan 'polosnya', dan meja & kursi perpaduan kayu & besi warna hitam memperjelas itu semua. Tangga dan elemen lain di tata sedemikian rupa untuk mendukung kesan industrial ini. kesan ruko cafe langsung hilang.



Dancing Goat menawarkan berbagai jenis minuman, dan bagi saya pribadi, karena saya pecinta kopi hitam/ black coffee/ americano, jadilah saya menutup mata dari menu selain kopi hitam. Setelah bertanya pada barista, kopi pilihan saya jatuh ke Halu Pink Banana manual brew. Karena pilihan kopi single origin saat itu hanya sumatra & halu pink ini. Jujur & agak menyombong, saya bilang ke mas baristanya, Mas Dio, saya bosan dengan kopi SUMATRA. bukan bosen in a bad way. bosan nya karena sudah sering ngopi Sumatera dan ingin mencoba jenis kopi lain, yang asing di lidah saya. sekalipun mas Dio dengan ramahnya suggest saya untuk pilih kopi Sumatera karena acidity nya masih 'normal' kalau Halu Pink, dia Bilang acidity nya lumayan. Well, bring it on! saya kebetulan suka kopi Arabica, jadi no way on earth bakalan nolak yang asam asam gini.. Selesai bayar, saya diberi nomer meja yang juga industrialis, yaitu berupa besi bercat hitam dengan angka dan logo dancing goat diatasnya. indah tapi BERAT. karena saya harus membawa no. orderan saya ke lantai dua.


Sekitar 10 menit berselang, mas Dio naik dengan membawa struk baru berserta uang 5k, sebelum sempat saya bertanya, dia bilang bahwa Halu Pink pesanan saya, tidak butuh extra charge 5k seperti yang awal disampaikan. duh.. baiknya... dan beberapa waktu berikutnya, menu pesanan saya datang, saya memang hampir selalu memesankan Sa kentang goreng ( potato fries ) jika kami ngopi. dengan beberapa pertimbangan, diataranya, itulah satu satunya menu yang #vegan ( jadi both sa & saya bisa menikmatinya) dan yang paling utama adalah karena Sa suka sekali kentang goreng. well, anak kecil mana sih yang engga suka?? tambah lagi kentang goreng nya Dancing Goat sangat fresh. saya sendiri mencobanya dan kayak gak mau berhenti makan sampai kentangnya habis. garing diluar empuk di dalam, engga keras ya kentangnya, sepadan lah dengan harganya. Itu sebetulnya kentang goreng disajikan dengan (kayaknya) homemade mayonaise ya.. karena ada kayak potongan timun kyuri dan juga serbuk daun herb nya. jadi saya bisa bilang ini homemade mayoo. Kalau saus tomatnya itu saya yang tambahkan, karena Sa suka saus tomat. 



Disini ada ECD Bank BCA, dan gak tahu kenapa, saya ga bisa bayar pakai debit, karena mas nya bilang ini khusus untuk BCA, mesin EDC bank lain lagi rusak, beruntungnya saya bawa duit cash walaupun pas pas-an, masih dapat kembalian kok.. hehee.. plus pulangnya, membawa senang karena habis memanjakan lidah dengan kopi enak.. Seperti biasa Sa saya bekali dengan buku gambar dan pensil warna agar dia anteng duduk diam berlama-lama disini. Dan saya bisa update blog traveloro.

xx
traveloro.

Thursday, November 1, 2018

Ngopi di : Kahwa Coffe House - Petamburan



Ngopi itu sejatinya, bagi kami adalah sebuah kegiatan yang melibatkan bukan cuma lidah, tapi juga hati.. karena jauh sebelum Sa lahir ke dunia, dia memang sudah biasa drenched in coffee. walaupun dulu saya terbiasa minum Cappuccino-nya Starbucks yang adalah campuran antara kopi dan susu, lalu selanjutnya mulai ala-ala mesan decaf americano, alih alih mengurangi jumlah kafein, saya malah kecewa setelahnya begitu tahu bahwa decaf adalah Joke bagi pecinta & penikmat kopi.. gimana tidak?? decaf sendiri adalah proses pengurangan kafein didalam kopi, entah itu lewat air atau proses kimia, serem gak sih?? aman gak sih?? silakan mampir ke artikel ini karena saya pun tercerahkan dengan artikel tersebut! makasih ya mas / mbaknya buat edukasi soal decaf coffee...



Dan, perkenalan pertama saya dengan Kahwa Coffee House inipun, terbilang unik. Lokasi kantor tempat saya bekerja yang berdekatan dengan coffe house ini lah  yang 'memaksa' kaki untuk jalan ke sini, karena lidah penasaran saya.. pertama kali masuk, pas jam makan siang, waktu itu, saya di sambut dengan harum kopi yang langsung memeluk indera penciuman saya.. lembut dan manis.. dan interior yang cukup homie, membuat saya terbuai semakin dalam ketika menyeruput kopi hangat pesanan saya,, hati berbisik.. " ah saya harus sering kesini". dan Yah itu lah yang terjadi sampai saya pindah kantor.  


Hari ini, setelah tahunan berlalu, dan ratusan gelas kopi dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa warung kopi di Jakarta dan sekitarnya, saya dan Sa, memutuskan untuk kembali ke sini. Demi mengembalikan dan menciptakan kenangan manis dan indah bersama Sa, tentu saja. Setelah membuka pintu, kembali,saya disambut dengan aroma kopi yang saya kenal, senyum saya diikuti senyum Sa, karena berhasil merayu saya untuk memesan makanan yang dia mau.


Entah kenapa saya pesan Iced Americano, padahal kepala baru saja terguyur hujan rintik separuh perjalanan,  dan juga sinus lagi kurang enak, tapi setelah dipikir ulang, itu adalah pilihan yang tepat, karena saya lebih suka minikmati kopi "house blend" ( robusta dan arabica) dengan es. Kahwa kehabisan kopi single origin yang manual brew.. jadi saya tidak kecewa dengan iced americano saya,, oh dan Sa, saya pesankan kentang goreng kesukaan dia,, yang selalu berhasil membuatnya duduk anteng untuk waktu tertentu demi memastikan kentang gorengnya aman masuk ke perut sampai habis tak bersisa.. 



Demi menjaga ketenangan pengunjung lain, dan niat mau berlama-lama 'duduk bengong' disini, saya putuskan untuk membawa serta Siti yang ketika di hubungkan dengan wifi, akan menimbulkan kebahagiaan dan duduk tenang Sa, menonton lagu nursery rhythms dan lagu anak-anak indonesia lewat youtube. sekalipun, sesekali, Sa masih asyik dengan buku gambar dan alat mewarnai nya. at least dia ngga lari-lari mengelilingi kafe dan membuat kegaduhan di sekitar.



Dari beberapa coffee shop/ warung kopi/ kedai kopi, saya bisa bilang, Kahwa Coffe House ini, terlahir dari jiwa 'cinta kopi' yang juga saya bisa rasakan, baik dari kopi maupun interior cafe nya. betul-betul sungguh cerminan dari itu. marilah kesampingkan industri kopi yang marak beberapa tahun terakhir, atau simpan dulu pikiran nongkrong di coffee shop untuk hangout atau status di socmed, pergilah kesini dan rasakan sendiri, bagaimana kopi dan interior sederhana mampu membuat kita betah berlama-lama duduk ngobrol atau baca novel, menghabiskan waktu dengan orang tersayang, dan melupakan gadget, selama kopi didalam gelas masih ada.. hehe


xx,

Traveloro.





Tuesday, September 25, 2018

Ngopi di: Olly's Cafe & Cake - Kedoya


Belum pernah cerita ke siapa-siapa, tapi diam-diam, saya suka tempat ini. Bermula di kuliah tahun ke 5 ( saya kuliah 8tahun), sering bolak-balik lewat Tol Kebon Jeruk karena dapat event di Tangerang dan juga di daerah Grogol. Selama berbulan-bulan lewat tol, ada satu cafe yang membuat saya tersenyum setiap  kali saya melihatnya.


Adalah Olly's Cafe & Cake, yang terletak di pinggir tol kebon jeruk, selurusan dengan kantor LION AIR, juga Restoran A&W, ruko yang dijadikan cafe ini, menarik perhatian saya karena tulisannya mirip dengan nama OLIVE OYL yang jika disingkat menjadi Olly's. Dan plang nama kafenya merah pula, mirip-mirip baju nya Olive. saya gak tahu ya, ownernya suka Olive Oyl atau tidak, tapi dengan referensi itu, timbul rasa ingin tahu, apa sih yang dijual di dalamnya??


Selesai beberapa event dan uang cukup lumayan waktu itu, saya mampir kesini, untuk take away Tiramisu yg Slice. makkkkkkk... enaknyaa... lidah saya seketika kayak lagi makan awan rasa kopi dan coklat yang lembut sekali... dan mereka pun mengklaim kalau produk roti&kue mereka memang rendah gula, sehat iya enak iya banget!!! dan begitulah, setiap kali saya ada duit lebih ( ya gak sering juga sih.. ) saya pastikan kaki saya melangkah ke dalam Cafe ini untuk satu slice Tiramisu Cake.



Dan, kali ini, saya berkesempatan mengajak Sa, ngopi cantik disini. engga fancy ya, karena emang signature nya bukan kopi, lebih ke Cake & Bakery, tapi, saya harus bilang bahwa menu mereka sangat lengkap, cake aneka ukuran, cake slice, roti dengan berbagai bentuk dan rasa, ada juga roti tawar, roti gandum, juga makanan berat hingga salad-salad. Kalau minuman, gak kalah menarik, ada berbagai menu minuman yang bisa di pilih jika ingin santai disini, kalau saya tetep kopi item panas dan minta tidak di gula-i. Karena, pas banget siang itu Sa habis makan siang, jadinya saya cuma pesankan Sa satu porsi french fries, yang habis dalam hitungan menit. 


Oh ya, Traveloro sarankan untuk datang kesini diluar jam makan siang, karena pasti penuh dengan orang kantoran yang ingin makan siang, bahkan ketika di luar ada meja kosong, plus tidak ada yang merokok, kan ngga enak jika harus kepanasan karena matahari yang terik. kami gak sempat banyak memfoto interiornya, gak spesial sih menurut saya, meja dan kursi ala cafe di film hollywood gitu, smoking area di luar cafe, tapi, rasa cake nya itu, kayak terkenang terus sampai ke hati ( ciyeee, K) dan bahkan banyak yang datang hanya untuk beli roti dan juga mengambil cake pesanan saja. Jadi, menurut saya, kadang interior cafe itu gak terlalu penting, asalkan nyaman, dan juga makanan yang di jual enak plus sehat ( karena rendah gula) pasti ramai kayak Olly's ini.


Kekurangannya cuma satu, buat rakyat jelata seperti kami ini, karena jika ingin kesini, harus naik taksi atau ojek, atau ya tentu saja kendaraan pribadi, karena lokasinya tidak dilewati angkutan umum. selebihnya, purfect bangett, tunggu kami balik kesini lagi ya Olly's 


xx,

Traveloro