Saturday, December 8, 2018

Main di : Taman Banteng - Jakarta Pusat



Kayaknya udah jadi semacam keinginan yang cukup terjaga di hati, bagi saya untuk mengajak Sa ke Taman. Taman mana saja boleh. Selama itu rumputnya hijau, bukan artificial, ada mainan untuk anak-anak lebih bagus, tidak ada pun, tak masalah, yang penting engga ada orang pacaran yang sliweran dan kelihatan mata Sa. Karena dia pasti akan langsung Tanya, ngapain kakaknya, bu.. bisa linglung ibu jawabinnya.. hehehe
Saya sampai bikin semacam list, taman-taman mana saja yang sudah pernah kami berdua kunjungi since Sa masih bayi piyik.. taman pertama, will be, taman depan rumah, yup! Rumah di depan taman punya banyak manfaat emang.. bersyukurnya orangtua saya dulu memilih rumah ini dan kami bisa menjaganya sampai hari ini, pun taman depan rumah yang selalu ditata baik sama tim dari dinas pertamanan & pemakaman DKI Jakarta sejak bertahun-tahun lalu. Bahagia.

Lalu kemudian, taman di belakang rumah. Curang gak sih? Enggak kan ya.. hahah karena emang perumahannya di taman, jadi wajar kan ya kalau disekitaran rumah banyak taman. Tambah lagi, banyak RPTRA bermunculan yang membuat saya girang dan lega, ada tempat untuk mengajak Sa Jalan Jalan sore untuk menghabiskan waktu dan energi beliau. Maklum untuk ukuran bayi, Sa termasuk energic dan akan sangat bagus jika energy  nya bisa tersalur dan ujungnya dia bisa tidur nyenyak sebelum jam 7 malam.

Oke-oke, bakalan gak kelar kelar ini ya kalau bahas taman yang didatangi tapi lokasinya di dekat rumah, sekalipun RPTRA sih ya kayak effortless aja, ke taman kok Jalan kaki, Bu!! Nah, taman pertama terjauh yang pernah kami kunjungi adalah taman Ayodia ( dikawasan blok M, Barito), back then, ayodia pancorannya lagi trouble jadi cuma air kolam menggenang dan rodok kotor, saya sih senang senang aja Jalan disana, saat itu Sa lagi belajar Jalan ( June 2017) dan juga banyak ikan di kolam, Sa girang bukan main. Dan Ya. Dia sudah bisa Jalan di usia 1th.

Taman kedua, adalah taman yang letaknya tidak begitu jauh dari taman Ayodia, cuma nyebrang dan sedikit turun tangga. Ketemu deh sama taman ini. Taman Langsat namanya. Lumayan lebih rapi, sekalipun ada beberapa fasilitas yang rusak/ tidak terawat, dan letaknya yang agak tersembunyi ( dibawah jembatan) jadi taman ini cukup sepi, dan kemungkinan besar dipenuhi orang pacaran jika hari sudah mulai gelap. Banyak bench gitu, dan banyak pohon membuat banyak nyamuk yang siap sedia menggigit kapan saja. kami gak betah lama-lama disini, lalu memutuskan pulang.

panorama dekat musalla Taman Banteng

Lalu taman yang baru-baru aja kami kunjungi adalah Taman Banteng, di Jakarta Pusat. Lokasi nya yang dekat dengan pusat pemerintahan, layak diberi kunjungan karena Luasnya, Fasilitasnya dan yang pasti pengin kami ketahui adalah ketersediaan toilet& kamar mandi beserta kebersihannya. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saat saya masih suka mampir untuk ibadah di Katedral, taman ini masih biasa-biasa aja, ntah terbuka untuk umum atau tidak, tapi kondisi dari luar yang terlihat gersang dan tandus membuat saya enggan untuk coba menjelajah, tapi kini, taman ini sudah bebenah diri, banyak hal yang berubah, pastinya menjadikan taman ini tempat nongkrong kesukaan Sa.



Bagaimana tidak, baru tiba saja, Sa udah langsung lari nge gass,, sore itu, saat matahari masih betul-betul diatas kepala dan sinarnya masih menusuk kulit, Sa malah lari-lari menuju air. Jadi dari kawan, saya tahu bahwa Taman Benteng ini ada kolam luas ber-air mancur yang emang kalau malam malam dan hari tertentu menyala dan berdansa dengan cantiknya ( mungkin persis fountain di Monas ya), tapi karena masih sore, dan weekday, rasanya fountain itu gak akan dancing, dan emang bukan fountain yang mau Sa lihat, tapi air kolam yang membuat nya penasaran, apakah ada ikan di dalamnya. Begitulah Sa, dimana ada air dengan volume yang cukup banyak, dia akan langsung memberikan pertanyaan template yaitu “ ada ikannya gak bu”

Karena kami pergi diatar pa gojek, kami diturunkan persis di pintu masuk yang menghadap Patung. Dan jika Jalan ke Kiri, ada taman main khusus anak-anak, ramah anak, sayang nya masih ada penjual yang masuk berjualan sampai ke dalam taman, yang membuat saya jadi risih, bukan risih sama penjualnya, risihnya itu kalau ada yang beli lalu BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Please deh, banyak banget padahal tempat sampah di dalam taman. Bagus bagus taman dibikin, mental pengunjungnya ya harus dibagusin dong, paling tidak sadar diri untuk buang sampah di tempat yang disediakan. Kalau engga, gak usah jajan deh, atau gak usah datang, bikin mata risih lihatnya..

ngebekal. ketaman yang niat. dan sehat

Traveloro belok ke Kiri untuk mencoba mainan anak-anaknya, cukup komplit dan bersih, serta hijau. Adem mata walaupun sinar matahari lagi terik. Ada beberapa mainan ‘mewah’ yang engga ada di RPTRA manapun ( yang sudah kami kunjungi), dengan kondisi terawat. Eniwey, kami membawa bekal loh. Emang sudah saya biasakan sejak awal kenal makanan, setiap kali pergi pasti bawa bekal. Dan kali ini bekalnya adalah Jus Sayuran ( Kale, Lemon & Banana), Keju, Susu UHT. Semuanya, habis dan Sa masih bilang lapar, oleh karenanya, sepulang main kami putuskan untuk ngopi di KM 56.

jus sayuran saya & Sa. tebak siapa yang habis duluan

Dan selurusan taman anak, ada lapangan basket yang menurut informasi, selalu ramai, artinya, taman ini juga udah membantu anak-anak mendapatkan hak bermainnya. Itu bagus! Mengingat banyak anak-anak yang karena tak ada lahan bermain, mereka nekad main bola, sepeda-an,  di kuburan atau pinggir Jalan, bahaya & rawan.

kami berdua. traveloro

Lalu di tengah lapangan ada fountain dan kolam yang di kelilingi bangku semenan berundak seperti kursi pertunjukan. Kebayang indahnya menonton pertunjukan air mancur berdua Sa di malam hari. Pagi hingga sore hari sering dibuat foto-foto karena memang instagramable sekali, perpaduan warna cat abu-abu dan sulur sulur daun warna hijau tak beraturan terkesan natural namun cantik. kamipun ikutan foto, yah karena minta difotoin, jadi hasil nya begini ini.. heheh cantik kan.. 

Dibelakang kursi undakan ini ada toilet dan wastafel air. Reaksi pertama saya adalah takjub! Setelah pertama kali melihat wastafel air semacam ini hadir di Soetha beberapa tahun lalu, kali ini saya melihat wastafel ini di taman. Sungguh kemajuan yang cukup jempolan. Beberapa kali saya memergoki orang bodoh yang cuci tangan di wastafel ini. Padahal sudah ada tulisannya ini kran ini untuk minum dan bukan untuk cuci tangan, sesulit itu kah membaca informasi di depan mata??  Untuk toilet, bersih tapi lantainya basah, jadi cepat kotor kalau banyak pengunjung.

papan informasi disalah satu sudut taman

Not sure berapa luas taman ini secara keseluruhan, yang pasti luas banget. Kami belum sempat menjelajah semua area, mungkin hanya setengahnya, baru beberapa kali kesini dan juga selalu dibuat Jompo mengejar Sa yang lari sana sini dan terpaksa menggendong dia.. ada beberapa arena bermain anak, ada juga penjual makanan di pinggir taman bagian luar yang makin ramai ketika hari mulai gelap. Tukang nasi goreng, mie ayam, tahu gejrot, somay, hingga batagor, you name it. Semua ada.

cantik ya

Di sudut taman yang lain ada semacam bangunan semi permanen, meja, kursi, ayunan dan panggung yang semuanya terbuat dari kayu. Keren, kreatif tapi ada risky kalau naik ke rumahnya, mungkin udah lama, atau terlalu sering di pijaki dan dipakai untuk berfoto maka para paku sudah mulai mengintip dari kayunya. Eniwey, ada semacam gubuk yang bisa dipakai untuk duduk santai didekat sini, tapi ya gitu, pas kami kesini lagi ada pasangan rebahan, entah apa yang mereka pikirkan, pantaskah melakukan itu di taman umum yang harusnya buat jogging sore atau olahraga atau bonding sama keluarga.. 

Kalau mau Jalan sedikit kearah kiri setelah bangunan ini, kalian akan ketemu sama musolla dan area bermain anak ( lagi) ada ayunan, ada jungkat jungkat jungkit juga perosotan kalau gak salah inget) dan gak jauh dari sini ada fouintain lagi, tapi kurang terawatt, berlumut dan ada banyak sampah plastik menggenang dikolamnya ( suka gemes sama manusia manusia yang buang sampah sembarangan). Menjelang magrib lampu taman akan mulai menyala, bagus deh setiap lampu ada rumahnya dan juga rumahnya ini bercorak jadi memberi efek cantik saat kita melihat bayangan cahayanya sepanjang Jalan. Saya gak sempat disini sampai malam hari karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah dan terlebih macet yang akan dihadapi jika pulang terlalu malam atau pulang pas bareng orang kantor pulang.

Menurut saya, taman-taman cantik serupa gini harus selalu diusahakan, harus ada dan jika sudah ada, harus betul betul dijaga dan dirawat, baik dari dinas pertamanan&pemakaman, dan utamanya para pengunjung juga harus tahu how to behave. Pasti taman bakalan selalu bagus dan enak dikunjungi sekalipun usianya sudah tua.


Xx
traveloro

Tuesday, November 6, 2018

Ngopi di : @kopimentjos56 - Salemba



Belakangan ini, Traveloro lagi cukup sering keluar rumah yang agak jauhan. Salah satu sebabnya adalah karena pembayaran go-ride menggunakan go-pay pada aplikasi Gojek sedang discount 90% (hehe maklum ya namanya travel irit) senangnya juga, cuaca lagi asyik banget,, rintik tapi ringan, buat perjalanan yang harusnya panas terik jadi adem nan magis.. 



terletak di Jalan Salemba Tengah, kedai kopi ini memilih nama yang terbilang cukup unik menurut saya. Pertama, karena KM56 ini sekilas ditelinga terdengar seperti kilo-meter 56, sebuah lokasi, yang kalau bagi saya sih, kayak lagi duduk di mini bus travel menuju Bandung dan supir akan bilang "kita berhenti di KM 57" , atau di Jogja itu, biasa menyebut lokasi daerah dengan kata " nganu posisine iku nang KM 56 lho" dan kedua, siapa yang bakal sangka kalau KM56 adalah kedai kopi sebelum mendengar kepanjangan nya Kopi Mentjos 56.





Sebetulnya, sebelum ngopi di sini, traveloro terlebih dulu bermain di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dan rasa laparnya Sa lah, yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk mampir ngopi di KM 56.  Karena, kedai kopi asyik ini membolehkan pengunjungnya untuk membeli makanan dari luar, bahkan boleh dimakan di didalam! keren banget gak sih.. saya sampai ter-takjub banget dengan konsep mereka. Sedangkan kafe / kedai kopi lain, umumnya membuat tulisan di depan pintu "TIDAK MEMBAWA MINUMAN/MAKANAN DARI LUAR" KM56 justru sebaliknya.. membuat saya berpikir kalau si owner pasti orangnya legowo & tulus, dengan ilmu iklhas yang udah tinggi.. atau mungkin udah lulus kali ya.. hehehe ini nih, Sa pesan nasi goreng telur dadar di pak nasi goreng depan kedai, dan iyak enaa banget nasi gorengnyaa.. saya sampai secara khusus menyampaikan pujian pada bapaknya, ( sekalipun pas pulangnya saya memesan menu yang persis sama dengan Sa, tanpa ayam tanpa telur atau hewani lain, cukup nasi goreng, dan pagi harinya saya mendapatkan tenggorokan saya radang!) jadi nyesel, sepertinya si bapak lupa ( karena udah kebiasaan meracik bumbu) jadi nasi goreng saya tetap diberi micin,, dan radang adalah buktinya.. ))




Menu kopi nya lengkap banget, emang niat banget mau menyajikan kopi dengan berbagai rasa dan cara.. tapi tetep sih, saya mah setia dengan kopi item manual brew yang bisa milih mau single origin dari daerah mana, pilihan saya? Gayo tentunya! Sesuatu yang lucu muncul lagi saat teman saya, juga memilih kopi single origin Gayo dengan tehnik v60. jadi, Literally kopi kita sama, sama sama Gayo, sama sama tanpa gula, cuma bedanya, saya memilih Gayo saya disajikan dengan tehnik French Press. Oh dan Sa, selain nasi goreng, dia juga saya pesankan french Fries & Chicken Wings dengan harga 35k. cukup banyak porsinya. tiga perut berbahagia.




Ngopi kali ini happy sekali,, Sa seperti biasa, kesana kemari, mencoba duduk ditiap kursi yang ada di dalam, interior simple dan hommie.. menari dan berjoged seirama dengan lagu-lagu yang diputar. ah pokoknya senang banget disini.. dan makanan di luar kedai juga banyak banget, kayaknya enak-enak semua,, jam bukanya juga cihuyy mulai dari jam 11 Pagi - 24 Malam jadi pengin kesini lagiii,, kita betah lama lama disini.. terutama karena area no smoking nya sepi.. karena kebanyakan pengunjung memilih untuk duduk di area merokok yang kebetulan memang lebih luas dan lega dibandingkan area no smoking nya.. 


love
traveloro

xx




Thursday, November 1, 2018

Ngopi di : Kahwa Coffe House - Petamburan



Ngopi itu sejatinya, bagi kami adalah sebuah kegiatan yang melibatkan bukan cuma lidah, tapi juga hati.. karena jauh sebelum Sa lahir ke dunia, dia memang sudah biasa drenched in coffee. walaupun dulu saya terbiasa minum Cappuccino-nya Starbucks yang adalah campuran antara kopi dan susu, lalu selanjutnya mulai ala-ala mesan decaf americano, alih alih mengurangi jumlah kafein, saya malah kecewa setelahnya begitu tahu bahwa decaf adalah Joke bagi pecinta & penikmat kopi.. gimana tidak?? decaf sendiri adalah proses pengurangan kafein didalam kopi, entah itu lewat air atau proses kimia, serem gak sih?? aman gak sih?? silakan mampir ke artikel ini karena saya pun tercerahkan dengan artikel tersebut! makasih ya mas / mbaknya buat edukasi soal decaf coffee...



Dan, perkenalan pertama saya dengan Kahwa Coffee House inipun, terbilang unik. Lokasi kantor tempat saya bekerja yang berdekatan dengan coffe house ini lah  yang 'memaksa' kaki untuk jalan ke sini, karena lidah penasaran saya.. pertama kali masuk, pas jam makan siang, waktu itu, saya di sambut dengan harum kopi yang langsung memeluk indera penciuman saya.. lembut dan manis.. dan interior yang cukup homie, membuat saya terbuai semakin dalam ketika menyeruput kopi hangat pesanan saya,, hati berbisik.. " ah saya harus sering kesini". dan Yah itu lah yang terjadi sampai saya pindah kantor.  


Hari ini, setelah tahunan berlalu, dan ratusan gelas kopi dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa warung kopi di Jakarta dan sekitarnya, saya dan Sa, memutuskan untuk kembali ke sini. Demi mengembalikan dan menciptakan kenangan manis dan indah bersama Sa, tentu saja. Setelah membuka pintu, kembali,saya disambut dengan aroma kopi yang saya kenal, senyum saya diikuti senyum Sa, karena berhasil merayu saya untuk memesan makanan yang dia mau.


Entah kenapa saya pesan Iced Americano, padahal kepala baru saja terguyur hujan rintik separuh perjalanan,  dan juga sinus lagi kurang enak, tapi setelah dipikir ulang, itu adalah pilihan yang tepat, karena saya lebih suka minikmati kopi "house blend" ( robusta dan arabica) dengan es. Kahwa kehabisan kopi single origin yang manual brew.. jadi saya tidak kecewa dengan iced americano saya,, oh dan Sa, saya pesankan kentang goreng kesukaan dia,, yang selalu berhasil membuatnya duduk anteng untuk waktu tertentu demi memastikan kentang gorengnya aman masuk ke perut sampai habis tak bersisa.. 



Demi menjaga ketenangan pengunjung lain, dan niat mau berlama-lama 'duduk bengong' disini, saya putuskan untuk membawa serta Siti yang ketika di hubungkan dengan wifi, akan menimbulkan kebahagiaan dan duduk tenang Sa, menonton lagu nursery rhythms dan lagu anak-anak indonesia lewat youtube. sekalipun, sesekali, Sa masih asyik dengan buku gambar dan alat mewarnai nya. at least dia ngga lari-lari mengelilingi kafe dan membuat kegaduhan di sekitar.



Dari beberapa coffee shop/ warung kopi/ kedai kopi, saya bisa bilang, Kahwa Coffe House ini, terlahir dari jiwa 'cinta kopi' yang juga saya bisa rasakan, baik dari kopi maupun interior cafe nya. betul-betul sungguh cerminan dari itu. marilah kesampingkan industri kopi yang marak beberapa tahun terakhir, atau simpan dulu pikiran nongkrong di coffee shop untuk hangout atau status di socmed, pergilah kesini dan rasakan sendiri, bagaimana kopi dan interior sederhana mampu membuat kita betah berlama-lama duduk ngobrol atau baca novel, menghabiskan waktu dengan orang tersayang, dan melupakan gadget, selama kopi didalam gelas masih ada.. hehe


xx,

Traveloro.





Thursday, October 4, 2018

ke Museum: MUNASAIN, Bogor


Sudah seminggu lamanya, atau lebih tepatnya dua minggu kebelakang, Sa selalu looping lagu 'Naik Kereta Api' dan dengan penegasan kata KE BANDUNG. Dan jadi bolak balik nanya, 'kapan ke Bandung ibu?' atau lain waktu bilang "ke Bandung yuk bu," atau langsung nodong "aku mau ke Bandung ibu, naik kereta" tapi pas saya cek, rate harga tiket kereta belum sesuai dengan kantong kami, lagi mahal. Jadi sebagai ganti, saya ajak Sa untuk ngeKereta ke Bogor. kali ini, benar-benar berdua, dan dengan kondisi yang Sasa masih sangat semangat untuk bisa diajak jalan jauh, udah truly gantung gendongan hehe,, syenang...




Setelah cukup dadakan membuat planning ke Bogor ini, saya sempatkan untuk membuat makanan sebagai bekal di perjalanan, sekalian saya tes, apakah dia suka dengan menu barunya, jadi Rabu siang saya buat #LemperSehat  yang mana buatnya sengaja saya wrap dengan aluminium foil supaya handy dan awet panasnya sampai di lokasi piknik ala-ala kami. Kamis paginya, kami berangkat naik kereta. Untuk menyiasati macet dan padat di kereta, sengaja saya pilih jam senggang yaitu jam setelah orang kantoran berangkat dan pulang pun, saya pilih jam senggang sebelum jam nya orang kantoran pulang. mepet ya? sangat! tapi kami cukup senang dan terutama Sa bahagia bukan main begitu bangun tidur saya ajak mandi dan bisikan "ayo naik kereta"




Kami naik dari Stasiun Palmerah. Stasiun yang menurut saya udah cakep banget beberapa tahun terakhir karena pembangunan dan juga terbilang cukup terawat ya, eniwey, ini Stasiun yang paling dekat dan masuk akal menurut saya, karena jika berangkat dari Stasiun Rawa Buaya kami harus transit di Duri dan transit lagi, itulah mengapa kami prefer berangkat dari St. Palmerah. St Palmerah dan transit di St. Tanah Abang, lalu kereta kami melanju hingga St. Bogor. kayak 1,5 jam perjalanan, kami pun tiba di bogor saat matahari lagi terik teriknya tepat diatas kepala kami.



Berbekal hasil googling, traveloro akhirnya punya tujuan, yaitu ke Museum MUNASAIN di Bogor. Entah karena saya kurang gaul atau emang baru tahu aja, bahwa BOGOR punya tempat kece selain Kebun Raya Bogor ( Bogor Botanical Garden) yang mana lokasi kedua nya pun ternyata berdekatan. kemana aja saya yah, padahal tahun lalu ada ajak Sa ke KRB sama sekali gak lihat tulisan MUSEUM ini.. dan oh ya googling saya end up disini, sungkem buat penulis artikelnya :) 



Dari Stasiun, kami melanjutkan perjalanan menggunakan apps ojek online kesayangan Indonesia, GOJEK. hehe.. karena malas nya naik angkot yang semrawut dan lama banget nge-tem nya. Bogor panas, Kak! Kalau gak cepet jalan bisa gosong di tempat ( hehehe becanda kok) Gojek ini membawa kami sampai ke halaman Museum. Sedih tapi kecewa juga, museum nya sangat sepi. sempat berfikir, apa karena kami datang di hari kerja, jadi pengunjung saat itu adalah traveloro dan Mas Bule gitu, 2 orang, heran ya kenapa BULE suka budaya, suka mengunjungi museum tapi orang kita, malah prefer ke Mall atau tempat hits lainnya, padahal ke Museum banyak sekali manfaatnya, kan?




Museum ini sebelumnya adalah salah satu pusat penilitian Herbarium Bogoriens e atau biasa disebut Museum Etonobotani. Karena koleksi nya terus bertambah dari waktu ke waktu, maka berubah nama menjadi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia. isinya? beraneka ragam kekayaan alam asli Indonesia. Perkembangan HOLTIKULTURA, Perjalanan era dunia dari jaman prasejarah, bibit tanaman dan rempah rempah super lengkap dan bahkan ada harimau sumatera dan beruang madu yang dipajang disini..


Terdiri dari 2 lantai, dan cukup membayar Rp. 5.000,-/ orang maka kita bisa menjelajahi Indonesia melalui kekayaan alam nya dari ujung paling barat hingga ujung paling timur Negara Kepulauan Indonesia Raya. Terus terang, kedatangan traveloro kali ini bukanlah yang satu-satunya, saya pastikan, akan sering balik kesini, melihat isinya lebih dalam, dan menjelajahi pelan pelan setiap inchi dan detail semua hal yang dipamerkan disini. ada satu yang sangat menarik perhatian saya, yaitu alat penjepit / pemberat untuk mengeringkan daun tanpa merusaknya. terbuat dari pasir yang dimasukan kedalam karung goni/rami dan dijahit kedua ujungnya ( sayang banget saya gak foto, tapi menurut saya, itu canggih sekali, sekalipun itu alat kuno dan jadul, kayak berfikir, ini ilmuan jaman dulu kok udah kepikiran aja ya melakukan dan membuat teknologi sekeren ini..)

















Kami amat sangat menikmati waktu selama disini, walaupun Sa beberapa kali, terlihat ketakutan karena melihat Harimau, Beruang Madu dan Kura-kura yang di pamerkan disini. Tentunya, traveloro merasa museum ini bagus untuk mengedukasi anak-anak kita ( dan juga kita sendiri ) bahwa kekayaan alam indonesia sangat beragam, sangat banyak, dan mumpuni. Dan ini betulan yah, selama ini saya cuma kepikiran kelak Sa besar, jadi Dokter Gigi, tapi sejak melihat museum ini, saya jadi berfikir, kalau Sa besar, kinda Cool gak sih kalau dia jadi Ilmuan.

xx
Traveloro

Friday, September 28, 2018

JJS ke: GBK - Senayan



Merayakan kemampuan Sa bisa jalan, yang tertunda selama lebih dari SATU TAHUN. Ndak telat banget kan??? Saya ini, perempuan dan ibu dengan banyak mimpi. Salah satu dari yang banyak itu adalah, mengajak Sa JJS ke GBK ( Gelora Bung Karno ) yang sejak nge-kost dari tempat 'GYM' saya. yah maunya sih gym di indoor ya, anti panas, anti lengket dan anti gosong, tapi pas didatangi, gym gym sekarang mostly menggunakan pembayaran dengan CC yang mana saya tidak memilikinya, jadi malas deh, masa iya musti pinjem CC temen. Kok ya kayaknya gak praktis banget.. Karena pernah ada kejadian, teman saya sudah berhenti nge-gym tapi tagihannya tetap ke-auto debit setiap bulan ke CC nya. wah, saya langsung merasa terselamatkan dari beban rasa bersalah yang mungkin tibul juga jika saya menggunakan CC temen hanya demi untuk nge-Gym di tempat fitness kenamaan.



bubur GBK  ( source: instagram/claoed .c2015)

Awalnya, saya pengin ajak Sa kesini, bulan July 2017. pas dia sudah bisa jalan, dan lagi lucu-lucu nya ukuran kaki dia, namun, pas itu, belum ada sepatu running yang enak, belum nemu yang cocok dan harga yang bersahabat di kantong saya. dan pikir-pikir, saat itu, Sa masih moody jalan. Kalau mood nya kurang ens, dia bakalan minta gendong, jadi lah ku tunda tapi dalam hati masih pengin sekali ngajak dia ke GBK sore-sore untuk jalan kaki atau lari-lari kecil. semacam menularkan kebiasaan ibunya dulu, gitu. Sambil berharap juga, tukang bubur terenak di pintu 8/9 masih jualan. asli rasanya  juara sekali bubur ayam itu..




Eh. tapi, saya hampir lupa, saya udah pernah beberapa kali ajak Sa ke SENAYAN sini. Tapi kali itu untuk alasan lain, kayak pas ke INA CRAFT atau pas lewat doang sih, gak mampir, hehe.. So, kepergian kali ini emang secara spesifik pengin JJS ke GBK. Tapi sayang deh, SU GBK ( Stadion Utama Gelora Bung Karno) belum terbuka untuk umum, karena sekalipun ASIAN GAMES nya udah kelar, masih ada ASIAN PARA GAMES. Kali ini kami harus cukup puas dengan mengelilingi GBK dari luar.. kayak udah 4km lebih sih traveloro jalan santai diluarnya, itu aja, kalau Sa gak saya paksa untuk gendong, dia akan lari terus minta dikejar padahal emaknya udah ngos-ngosan dan capek banget,, 




Kelakon juga, pas kelar ASEAN GAMES, membawa Sa JJS kesini. Tempat penuh kenangan, jadi tambah bagus deh, semua terlihat lebih teratur dan terawat dengan baik, semoga aja nih, GBK dan kompleks Senayan ini selalu seindah dan se-apik ini sampai tahun tahun berikutnya, bukan cuma pas ASEAN GAMES aja, bagusnya. Jadi, kami-kami kan betah lama-lama duduk menikmati tiupan angin nan sejuk diiringi cuitan burung-burung dan suara air kolam dari kejauhan.



Terakhir keluar memutuskan pulang lewat pintu JCC. Pas banget ada event Rumah KPR. Dan tahu apa yang Sa katakan? dia mengajak saya masuk, ke dalam pameran itu. HAHA. engga pernah sampai terpikir anak ini bakalan se-iya itu kalau lihat event depan matanya, kalau aja event nya agak nyambung sama apa yang sering dilihatnya atau yang dia suka, udah pasti kami masuk, deh.. disini kan yang penting dia happy, saya pasti ikutan heppy.. jadinya, aku bujuk rayu dia dengan foto di dekat tempat event, ya kayak gitu jadinya.. sedikit nyeleneh gak sih gaya dia??



Begitulah pengalaman pertama traveloro ke GBK berdua. Senang, bahagia, gembira dan sehat sebagai bonusnya ( engga kok engga encok.. cuma sehat hehehe ). 


xx,

traveloro.

Tuesday, September 25, 2018

Ngopi di: Olly's Cafe & Cake - Kedoya


Belum pernah cerita ke siapa-siapa, tapi diam-diam, saya suka tempat ini. Bermula di kuliah tahun ke 5 ( saya kuliah 8tahun), sering bolak-balik lewat Tol Kebon Jeruk karena dapat event di Tangerang dan juga di daerah Grogol. Selama berbulan-bulan lewat tol, ada satu cafe yang membuat saya tersenyum setiap  kali saya melihatnya.


Adalah Olly's Cafe & Cake, yang terletak di pinggir tol kebon jeruk, selurusan dengan kantor LION AIR, juga Restoran A&W, ruko yang dijadikan cafe ini, menarik perhatian saya karena tulisannya mirip dengan nama OLIVE OYL yang jika disingkat menjadi Olly's. Dan plang nama kafenya merah pula, mirip-mirip baju nya Olive. saya gak tahu ya, ownernya suka Olive Oyl atau tidak, tapi dengan referensi itu, timbul rasa ingin tahu, apa sih yang dijual di dalamnya??


Selesai beberapa event dan uang cukup lumayan waktu itu, saya mampir kesini, untuk take away Tiramisu yg Slice. makkkkkkk... enaknyaa... lidah saya seketika kayak lagi makan awan rasa kopi dan coklat yang lembut sekali... dan mereka pun mengklaim kalau produk roti&kue mereka memang rendah gula, sehat iya enak iya banget!!! dan begitulah, setiap kali saya ada duit lebih ( ya gak sering juga sih.. ) saya pastikan kaki saya melangkah ke dalam Cafe ini untuk satu slice Tiramisu Cake.



Dan, kali ini, saya berkesempatan mengajak Sa, ngopi cantik disini. engga fancy ya, karena emang signature nya bukan kopi, lebih ke Cake & Bakery, tapi, saya harus bilang bahwa menu mereka sangat lengkap, cake aneka ukuran, cake slice, roti dengan berbagai bentuk dan rasa, ada juga roti tawar, roti gandum, juga makanan berat hingga salad-salad. Kalau minuman, gak kalah menarik, ada berbagai menu minuman yang bisa di pilih jika ingin santai disini, kalau saya tetep kopi item panas dan minta tidak di gula-i. Karena, pas banget siang itu Sa habis makan siang, jadinya saya cuma pesankan Sa satu porsi french fries, yang habis dalam hitungan menit. 


Oh ya, Traveloro sarankan untuk datang kesini diluar jam makan siang, karena pasti penuh dengan orang kantoran yang ingin makan siang, bahkan ketika di luar ada meja kosong, plus tidak ada yang merokok, kan ngga enak jika harus kepanasan karena matahari yang terik. kami gak sempat banyak memfoto interiornya, gak spesial sih menurut saya, meja dan kursi ala cafe di film hollywood gitu, smoking area di luar cafe, tapi, rasa cake nya itu, kayak terkenang terus sampai ke hati ( ciyeee, K) dan bahkan banyak yang datang hanya untuk beli roti dan juga mengambil cake pesanan saja. Jadi, menurut saya, kadang interior cafe itu gak terlalu penting, asalkan nyaman, dan juga makanan yang di jual enak plus sehat ( karena rendah gula) pasti ramai kayak Olly's ini.


Kekurangannya cuma satu, buat rakyat jelata seperti kami ini, karena jika ingin kesini, harus naik taksi atau ojek, atau ya tentu saja kendaraan pribadi, karena lokasinya tidak dilewati angkutan umum. selebihnya, purfect bangett, tunggu kami balik kesini lagi ya Olly's 


xx,

Traveloro


Tuesday, August 21, 2018

Ngopi di : @kopigawe Binus - Palmerah


Kopi Gawe. Sebelum benar-benar mampir ngopi disini. TRAVELORO udah lebih dulu naksir dan lumayan penasaran sama kopi ini. kebetulan beberapa kali kami lewati warung kopi ini, yang kalau mau mampir segan sekali, karena berlokasi di daerah macet sepanjang hari. 


Dulu banget, kayak dijaman saya mulai kuliah, di sekitaran kampur Binus, Rawa Belong, cuma ada kopi Starbucks yang letaknya di dalam gedung kampus. dan sekarang setelah kopi udah kayak hobi dan life style-nya anak muda, jadilah warung kopi, tempat ngopi banyak bermunculan, dengan berbagai kelas, dan signature masing-masing. dan kalau di Binus sekarang, selurusan kampus BINUS, banyak sekali warung kopi, nah salah satunya, kopi Gawe ini..



Dan, setelah berbulan-bulan cuma lewati dan ngegantungin rasa penasaran kami, akhirnya pas kebetulan kemarin recipe kacamata saya selesai di kerjakan, dan kebetulan Optik Melawai nya dekat dengan lokasi Kopi Gawe, dan Sa juga ditawari ngopi, mau, akhirnya mampir deh kami ke KOPI GAWE. 


Interior nya simple, hanya ada beberapa meja dan bangku untuk duduk, dengan dinding bergambar mural yang sederhana dan sarat makna.. menu kopi disinipun, dinamai cukup unik. misalnya saja "Es Kopi Susu Si Bos", 'Kopi Hitam Bosku' ada juga menu non kopi seperti "Merah Bosku", "Hijau Bosku" dll.


Pilihan kami, tentulah, Es Kopi Susu Si Bos ( scoring saya 7,5/10) . dan pas banget hari itu lagi ada promo Kemerdekaan, jadi cukup membayar 15k, udah dapetin segelas Es Kopi berisi 1 shot espresso + fresh milk + Palm Sugar. rasa kopinya, fresh sekali. Yang saya sukai adalah penggunaan Palm Sugar. yang emang kebetulan banget, sehari-hari selalu kami konsumsi ( kami sudah tidak konsumsi gula putih,, selalu pakai palm sugar/coconut sugar ) karena terbukti lebih sehat dan juga mampu menjauhkan kami dari penyakit Diabetes. eniwey,,, wifinya juga kenceng, pas banget bisa dipakai untuk update ke sosmed juga order gojek untuk pulang ke rumah. 

Setelah sampai di rumah, dan sibuk googling, barulah saya tahu kalau Kopi GAWE ini udah ada beberapa cabang di Jakarta. kalau ditanya ada menu makanannya atau nggak, mungkin kopi gawe ngga menyediakan ( belum menyediakan) menu makanan. 100% hanya minuman dengan persentasi minuman kopi dan non-kopi sama besar kayak firty-fifty sih.. range harga cocok di kantong mahasiswa, dan rasa kopi sekelas kopi di cafe. 


Ambiance nya cocok banget buat sambil ngerjain tugas, atau nyantai bengong atau quality time with your loved one seperti saya dan Sasa. lagu-lagu yang diputar easy listening, gak ada booster seat atau baby chair ( yaiyalaah kan ini buat para mahasiswa), area non-smoking semua (yg smoking bisa di luar sekaligus lahan parkir). kursinya pun memanjang tanpa sandaran tapi masih OK, Karena Sasa udah bisa duduk sendiri. 


( untuk lihat interior kopi Gawe bisa di seach di googling yaa,,)