MONK N THE MONKEY. a mom and a baby that likes to travel, hangout, drink coffee and share (loro = two ( in Javanese Language)).
Showing posts with label #surabayarek. Show all posts
Showing posts with label #surabayarek. Show all posts
Saturday, August 31, 2019
Sunday, August 4, 2019
meet the Green @ Surabaya
rasanya.. kayak udah ada di comfort zone yang 100x lebih sederhana tapi mewah klo di Surabaya tuh.. kenapa mewah tapi sederhana coba?? mewah nya itu karena waktu di perjalanan yang gak seberapa membuat saya lebih banyak waktu luang yang dulu kayak "ya ampun udah malem lagi..." kalau sekarang seringnya "kok masih sore ya.. ngapain lagi yaa........." semewah itu jadinya waktu senggang bisa dipakai sekedar untuk masak yang simple atau ngopi karena kebetulan juga di Surabaya banyak banget ya warung kopi, mulai dari yang 3ribuan/ gelas sampai kelas kafe yang membanderol sekitar puluhan - ratusan ribu lah ( tergantung pilihan kopinya apa.. )
Nah, waktu lowong yang banyak banget ini kerasa lagi nih, setelah sekolah mulai liburan, UAS kelar dan badan merasa harus bergerak kalau ngga yak eman-eman di waktu yang 'lowong' ini..
Pencarian pertama itu yang pasti Googling dan akhirnya, ketemu 2 driving range yang jaraknya dekat banget dari kantor,, YGC dan BDR dekatnya ini sama-sama sekitaran 4KM, weiits 4KM di Surabaya itu bisa cuma 10 menit sampek loh ( enak tho tinggal di Surabaya...?) timbulah keinginan untuk driving lagi.. tapi nyari waktu yang pas, masih belum ketemu..
2 bulan sebelum ini, saya udah nyari nyari glove yang 21 dan sepasang, too bad di Garuda Sport Mayjen Sungkono gak ada yang sepasang, adanya yang sebelah kiri doang, which is untuk golfer cowok dan juga sizenya diatas 24, daripada kedodoran,, ya udah gak saya beli.. tapi emang di suggest cari di toko golf yang di Brawijaya sih,, disini katanya lebih lengkap.. trus saya lupa karena banyaknya PEER Sekolah dan Kerjaan..
Tidak lama setelahnya, hasil ngobrol-ngobrol over lunch, temen-temen kantor ngide untuk manggil Guru Yoga dan sekantor Yoga bareng after office, dan ditentukanlah harinya, yaitu setiap Kamis. Saya langsung senang, karena bisa ikut, lain cerita kalau Yoga nya tiap Jumat, saya pasti gak bisa deh, karena kan Sekolah mulai sore - malam.
Dapat sebulan jalan Yoga, lalu disusul UAS di Sekolah, saya jadi beneran sibuk buk buk.. waktu yang mewah itu terasa langka banget, karena beneran tiap tidur cuma dapet 1,5jam atau sama sekali gak tidur karena nugas dan langsung berangkat kerja paginya,, gitu terus selama 2 minggu-an dan sampailah di akhir masa UAS, tepat hari ini, (ciyeee) saya mulai Yoga lagi, dan pulangnya mampirlah ke YGC.
YGC atau Yani Golf Club adalah green ternama dan salah satu yang tertua di Indonesia yang sekaligus pertama di Jawa Timur, menurut informasi lapangan ini sudah ada sejak tahun 1898. Setelah beberapa kali ganti nama & kepemilikan, tahun '65 namanya berubah jadi Lapangan Golf Ahmad Yani untuk mengenang Jenderal Ahmad Yani (Surabaya kota Pahlawan, reeeeeeeeek) Sebelumnya udah estimasi kalau harus beli glove duluan, sayangnya lupa, untung banget di YGC sediain sarung tangan, dan yah saya pakai ukuran 23 siy.. kelonggaran dikit, dan cuma sebelah kiri, hahaha gak papa lah, daripada gak pakai glove sama sekali..
Terkenal dengan tempatnya golfer cowok, bahkan se-caddy-caddy-nya pun,, kayaknya cuma saya deh yang perempuan malam itu,, tapi saya bonek rek,, aku WANI!!! Pas banget lagi pake baju Persebaya edisi Independence day yang warna nya merah, dan celana Yoga masih nempel di badan.. Dan disini saya disambut sama Pak Chandra yang adalah pengelola Driving Range, baik orangnya, dan informatif banget.. buat yang mau ke YGC, harus siapkan uang cash ya,, kalau saya karena malam itu pas banget gak ada cash, Pak Chandra nawarkan untuk bayar via ebanking saja, bisa kok.. tapi mereka memang gak sediakan mesin EDC ya... tapi di kompleks itu ada ATM BNI sih.. kalau keasyikan main dan cash gak cukup, bisa mlipir ke ATM dulu..
YGC pasang tarif flat Rp. 60.000/100 Bola..dan ada tambahan buat yang mau di bantu Caddy, kalo saya engga pakai Caddy, cukup PD dengan kemampuan sendiri ( ciyee gitu..) nah buat yang gak punya stick golf juga atau kebetulan lagi gak bawa, disini juga sediakan stik yg bisa di sewa di pinjam, pak Chandra kasih saya stick no. 7 dan 8 yang lumayan ringan ya, enak juga buat swing ( kalau udah biasa), pas banget gaya-gayaan nambah 100 bola ke dua, udah lumayan malam nyaris tutup YGC nya ( mereka tutup jam 9 malam, tapi boleh juga lanjut main jika masih mampu,, atau bola sisanya bisa di simpan untuk dimainkan kapan-kapan klo driving lagi.. akhirnya saya tinggal pulang beberapa bola itu..
Sabtunya, 3 Agustus, saya mau balik main di YGC, tapi atas bisikan seseorang, akhirnya coba deh di Brawijaya.. sebelum datang saya udah tanya-tanya by phone ke reception nya karena saya gak mau gak prepare uang lalu disana gak ada mesin EDC dan ATM, malu rek.. Brawijaya Driving Range ini terletak di Jl. Hayam Wuruk, dan kayaknya termasuk ke salah satu Lapangan tertua juga ya di Jawa Timur, tapi emang saya akui, di Jawa Timur ini emang banyak sekali lapangan golf ya,, compare to Jakarta, kayaknya enakan main di Surabaya deh,, panas terik, angin sepoy sepoy dan orang orang yang masih mau saling sapa membuat Driving saya di Surabaya bakalan jadi kegiatan yang rutin saya lakukan, demi apa? nambah skill tentunya, siapa tahu besok besok bisa ikut turnamen amateur golf.. sekarang mimpi dulu dan latihan rutin biar bisa lancar mukul..
Barawijaya pasang tarif Rp. 105.000/100 Bola untuk weekend, dan ada promo potongan harga jika kita datang weekday ( di jam 6 - 2 siang #cmiww) dan Rp. 100.000 untuk sewa stick se-bag selama 3 jam. Bisa bayar pakai debit/ CC dan minimal harus 200 bola, ih gempor kan.. hahaha... tapi karena santai selepas kerja dan hari juga masih siang, ya sudah 200 bola hajar juga.. di sini persis Driving Range di Senayan yah, bertingkat gitu,,, saya tetap pilih yang lantai 1, biar bisa tau pukulan lurus atau zig-zag..
Dan dari ke dua lapangan ini, aku prefer YGC sih,, tempatnya homie banget.. inget jaman kecil lihat bokap main golf, ngintip dari dalam mobil.. sebenernya kedua lapangan ini sama bagus, cuma aku kurang suka pas ke Brawijaya ini, lagi pas ada event di GOR nya, dengan lagu Dangdut sebagai backsound, alahmak.. kasihan telingaku.. kalau YGC lagu-lagunya enak-enak, satu selera kayaknya,, dan sekalipun malam, penerangan yang memadai tersedia kok,,, di YGC jadinya bisa tetap main..(jika mau)
traveloro
xx
traveloro
xx
Labels:
#areksuroboyo,
#SHORTGETAWAY,
#surabayarek,
#surabayrek,
#tempatnongkrongsurabaya,
#travelorodiSurabaya,
Brawijaya,
Brawijaya Driving Range,
golf,
golf di surabaya,
golf surabaya,
new balance,
nike,
yani golf,
YGC
Thursday, May 9, 2019
Uniknya Surabaya
Memperhatikan lingkungan sekitar
adalah hal yang saya sukai, karena dari proses itulah, kemudian saya berfikir,
dan karena berfikir, saya merasa hidup. Secara ajaib, sekarang traveloro
tinggal dan menetap di S. Terbilang mudah menyesuaikan diri karena kedua
orangtua memang arek dan bonek, stay di S menjadikan kami ibarat going back
home alias Pulang Kampung. Lucu memang, seminggu di S dan kami balik ke
Jakarta, hanya semalam, dan Sa langsung flu, dan kembali sehat sekembalinya di
S. Ini membuktikan bahwa Sa luarbiasa cepat beradaptasi dengan lingkungan S.
Jalan dua bulan stay, traveloro menemukan keunikan-keunikan yang kayaknya hanya
ada di Surabaya deh.. yuk simak :
1. Penjual Sate Jinjing
Pernah kebayang gak, bawa bara api diatas kepala? engga? sama! saya juga sams sekali gak kepikiran, tapi disini, lain cerita. saya pikir ini cuma ada di satu perumahan aja, karena awal liatnya di rumah sodara di Pacar Keling, dan pas pindah, ndilalah.. ada tukang sate jinjing begini lewat
depan rumah, dan Sa panggil. Kebetulan Sa suka sate, dan sate jinjing ini
amazing banget.. si ibu bawa tampah dikepalanya, isinya bumbu sate, sate yang
sudah ditusuk-tusuk, dan bara api sak tungku-tungku’e. dan satenya, sate Madura
asli, penjualnya pun, asli Madura, dengan aksen dan logat yang kental. Rasa
satenya, enak sepertinya, Sa lahap makan.. seporsi Sate Jinjing Rp. 12.000 (
isi nya 10bh sate dan lontong). Jika sate nya saja dihargai Rp. 1.000,-/pc
2. Angkot yang suantai dan jarang nonggol
Satu kata
untuk angkutan umum di Surabaya. Angel ( Bahasa jawa yang artinya: susah). Dari
yang saya amati, kita harus nunggu di terminal untuk waktu yang sedemikian
lamanya, sampai si angkot datang dan mulai beroperasi, jumlahnya yang terbatas,
kalau berdasarkan hasil wawancara saya sama warga asli sini adalah karena
memang warga Surabaya yang dari dulunya adalah warga yang mandiri, lebih senang
pergi-pergian berjalan kaki, bersepeda atau motoran. Itulah sebabnya angkot
hanya sedikit. Ditambah lagi kedatangan ojek online beberapa tahun silam, buat
angkot semakin jarang dan supirnya suantai. Masalah lainnya adalah, warna yang
hampir mirip antar trayek satu dengan lainnya, juga tujuan yang tidak ditulis
di kendaraan, buat pendatang, pasti sulit sekali.. itulah kenapa saya belum
pernah coba naik angkot disini.
3. Naik bis
bayar pakai sampah
![]() |
| foto dari google images |
Sebetulnya ini adalah salah satu program uniknya pemerintah Surabaya dalam rangka meminimalisir sampah plastic yang bertebaran di ruas jalan atau di kali. Cukup ampuh tapi bagi saya yang memang selalu bawa tumbler dari rumah jadi kesulitan naik bis ini. Sedangkan Sa pengin banget naik, untung aja pas di sekolahnya Sa ngadain trip dengan bis ini, saya jadi lega deh, keinginannya naik bis terpenuhi juga, sekalipun saya masih tetep ditagihi “kapan naik bis boyo” dan tiap kali lihat sampah botol dikampus, pasti saya bawa pulang.. hihiihi.. tapi minggu lalu, professor saya bilang kalau ini sekarang menjadi polemik karena pemerintah bingung mau diapakan sampah-sampah ini, karena kan pada akhirnya ini jadi pemasukan kas daerah dan mau gak mau harus di konversikan ke dalam bentuk uang.. nah... masih PR juga dari segi penukaran botol yang setahu saya cuma di terminal Purabaya ( rodok lumayan jauh sih dari lokasi tempat tinggal saya), botol nantinya akan ditukar menjadi stiker perjalanan yang berlaku selama 2 jam. selengkapnya nanti jika saya sudah berhasil naik, saya akan ceritakan detailnya yaa.. ^^
4.Mural
yang diawasi CCTV
Suatu
pagi saat macet di simpang jalan Aditya Warman dari arah Kutei, saya gak
sengaja lihat mural disebelah kiri jalan, mural-nya bagus pisan sih menurut
saya, dan artistic sekali, menyatu dengan bangunan yang tampaknya tidak
dipakai. Dan yang membuat saya terkejut adalah, tulisan yang ditempel di pojok
kanan atas yang intinya “ mural ini diawasi CCTV, siapapun yang merusak akan
kena sanksi dari institusi terkait” pas
selesai baca jadi mikir, ternyata mural ini memang merupakan contoh ril support pemerintah
Surabaya untuk seniman mural. Karena memang dinding disepanjang jalan di
Surabaya saya perhatikan pasti ada mural beragam corak dan warna dan theme yang
semuanya cantik-cantik dan instagramable..
5.Jual kerupuk setinggi rumah
5.Jual kerupuk setinggi rumah
Dulunya,
saya gak tahu stigma ini, tapi waktu kerja di The EAST dan ada teman yang
kayaknya ga bisa hidup jika gak makan kerupuk dan kebetulan dia adalah orang
Surabaya (Jawa) dan timbul stigma “pantang bagi orang jawa makan tanpa krupuk”
dan okey saya melihatnya sendiri di rumah, adik saya yang bisa dibilang selalu
cari kerupuk saat makan, bahkan kadang keripik macem lays atau citato gitu
dijadikan kerupuk jika kepepet gak ada stok kerupuk sama sekali. Pas pagi hari
jalan kaki ke pasar Simo, ketemu distributor kerupuk setinggi ini.. gak Cuma
satu atau dua ya, tapi buanyaaaaaaaaaaaaaaak,, mulai dari yang pakai sepeda
onthel sampai yang rodok modern pakai motor, semuanya bawa kerupuk seplastik
besar setinggi-tinggi ini, dan kayaknya habis setiap hari. Sampai pas beli
makan di warung, ga ada cerita kerupuk alot,seringnya kaleng kosong karena
kehabisan kerupuk,,
6. JPO dengan lift
Ini lho, saya sampai
sekarang belum pernah merasakan.. tapi sering lewat.. dan banyak banget JPO
yang difasilitasi dengan Lift, dan ini keren! Sumpah ya.. saya sampai mikir
gimana caranya ide itu tercetus sampai terwujud nyata. Karena pertama, harga
lift gak murah, dan kedua, gimana caranya lift ini jadi fasilitas umum, trus
terbengkalai, terus di coret coret oknum, terus jorok, terus.. terus.. ternyata
engga sih.. masih pada berfungsi dengan baik semua.. walaupun beberapa masih
bertuliskan “percobaan”.
Labels:
#areksuroboyo,
#IBUDANANAK,
#jalanjalansurabaya,
#kegiatanibudananak,
#surabayarek,
#travelorodiSurabaya,
surabaya,
uniknya surabaya
Saturday, May 4, 2019
Main di : Kidzoona Marvel City Surabaya
kayaknya pada sepakat ya semua kalau setiap anak suka bermain........... kenapa?? yah kalau yang dari saya pelajari di kelas sih, karena otak anak lagi develop dan itu di sisi motoriknya. jadi anak usia 0-5th itu gak boleh dipaksakan CALIS- apalagi TUNG, jangan dipaksa ya bu-ibu,,,,, klo udah bisa ya anggap aja bonus,,, klo belum,, jangan ditekan apalagi dipaksa untuk bisa, nanti pada saatnya mereka akan bisa kok,, yang penting pola asuh tepat dan gak jauh dari kaidah yang ada,, usahakan no gadget juga ya!!!
Beginilah ceritanya Sa, anak usia balita yang lagi suka banget main di Kidzoona, awalnya ke Marvel ini kita nonton Dumbo pas banget nyoblos day yang libur itu.. trus ngeliat ada kidzoona dilantai 2, setelah hari itu,, kata-kata indah terus terucap dari dia, supaya ibunya mau mengajak ke situ.. dan yah kayak udah 4 kali main disitu, mengutip kata Sa "Mah.. besok main sini lagi ya" itulah yang membuat kita regularly kemari ( dompet menangis sedu)...
Awalnya sih rodok ragu ya masuk ke Kidzoona, gak cuan rasanya, karena tempatnya gak sebesar yang di Lippo Puri, Jakarta tapi pikir-pikir demi membuat anak senang karena jarang punya waktu untuk dia dan juga memenuhi stempel 10 ( supaya dapat member card --dan diskon tentu saja-- ) jadilah kami pergi sepulang saya Sekolah. ya kayak jam 7-an malam gitu deh sampai di Kidzoona Marvel City. Rasanya sih tetap worth-it karena jam segini, kidzoona sudah lumayan sepi. kayak serasa semua mainan ini punya dia,, jadi puas explore..
Pas banget masuk, langsung dikasih kunci locker dan kita udah siap dengan kaus kaki di kaki kita ( gak bawa kaus kaki, ada additional fee sebesar 20k/ pasang kaus kaki) lalu langsung Sa lari-lari ke arena Role Play yang jadi penjual burger, penjual es krim, penjual bunga, terus pemadam kebakaran, terus coba deh untuk naik perosotan yang sebelumnya gak pernah mau dicoba.. kali ini berani bahkan manjat sendiri,, harus saya akui kalau sejak sekolah, segala keberanian dan kepekaan Sa bertambah, dan Kidzoona memfasilitasi itu, makanya saya senang..
Balik lagi ke pemahaman anak usia 0-5th yang motoriknya harus dipelihara, disini kebanyakan mainan memang memfasilitasi hal itu. banyak mainan berbagai ukuran yang tersedia berguna untuk melatih motorik anak. satu hal lagi yang membuat saya senang saat disini adalah... pendamping tidak dikenakan biaya, dan lebih penting, arena yang dijaga kebersihannya. kayak kalau masuk harus pakai kaus kaki, ada arena khusus untuk bayi (iya bayi 0th masih gratis loh), ada arena role play rumah-rumahan kayu beserta toilet, ranjang, dll yang Sa sukai... ada juga mainan baby- mini di booth Doktor yang kalau Sa, dia pakai untuk bolak-balik copot-pasang baju dan celananya, ini juga membantu banget anak se-usia Sa yang lagi belajar self help ( bantu diri) membuka dan memasang kembali celana dan bajunya.
![]() |
| warna biru untuk 1 jam warna pink untuk seharian |
Pas banget masuk, langsung dikasih kunci locker dan kita udah siap dengan kaus kaki di kaki kita ( gak bawa kaus kaki, ada additional fee sebesar 20k/ pasang kaus kaki) lalu langsung Sa lari-lari ke arena Role Play yang jadi penjual burger, penjual es krim, penjual bunga, terus pemadam kebakaran, terus coba deh untuk naik perosotan yang sebelumnya gak pernah mau dicoba.. kali ini berani bahkan manjat sendiri,, harus saya akui kalau sejak sekolah, segala keberanian dan kepekaan Sa bertambah, dan Kidzoona memfasilitasi itu, makanya saya senang..
![]() |
| magnet block |
![]() |
| puzzle |
![]() |
| wooden train |
Balik lagi ke pemahaman anak usia 0-5th yang motoriknya harus dipelihara, disini kebanyakan mainan memang memfasilitasi hal itu. banyak mainan berbagai ukuran yang tersedia berguna untuk melatih motorik anak. satu hal lagi yang membuat saya senang saat disini adalah... pendamping tidak dikenakan biaya, dan lebih penting, arena yang dijaga kebersihannya. kayak kalau masuk harus pakai kaus kaki, ada arena khusus untuk bayi (iya bayi 0th masih gratis loh), ada arena role play rumah-rumahan kayu beserta toilet, ranjang, dll yang Sa sukai... ada juga mainan baby- mini di booth Doktor yang kalau Sa, dia pakai untuk bolak-balik copot-pasang baju dan celananya, ini juga membantu banget anak se-usia Sa yang lagi belajar self help ( bantu diri) membuka dan memasang kembali celana dan bajunya.
Warna warni mainan dan arena juga menjadi perhatian saya. Owner sepertinya mempertimbangkan betul hal tersebut, tercermin sekali dari pemilihan warna pada tiap mainan yang cenderung cerah dan mencolok, warna ini berfungsi untuk mengembangkan juga imajinasi anak dan membangkitkan keceriaan anak saat bermain. Entah bagaimana, ibu-ibu seperti saya prefer mainan seperti ini ketimbang mainan lain di Mall yang menggunakan kacang / bahan makanan lain, sebagai media untuk melatih motorik anak, karena sekalipun Indonesia menghasilkan banyak kacang/ itu bersih/ diganti regularly, tetap saja menurut saya kurang bijaksana merubah makanan jadi mainan dan dibuang begitu saja pada akhirnya.
Untuk yang mau bermain disini, cukup siapkan uang kurang dari 100ribu/anak ( ini sudah termasuk biaya 1 orang pendamping), dan diataas 100rb/ anak ( untuk main seharian). kenapa saya tidak kasih rate yang pasti, karena kayaknya tiap kidzoona itu beda-beda ya rate nya ( murah di Surabaya daripada di Jakarta, dan lebih murah lagi jika kamu sudah mempunyai member card) Untuk Member card, kita harus ngumpulkan 10 stamp selama setahun, dan member card masa berlakunya juga cuma 1tahun, tapi berasa banget jika punya member card, potongan harga s/d 3 anak/ sekali main.. dan untuk saya sih 1 jam main udah lebih dari cukup, apalagi jika anaknya seaktif Sa.. emaknya gak dikasih istirahat muter-muter terus keliling arena... tapi pada akhirnya, saya bahagia.. karena Sa bahagia dan tidur nyenyak selepas main👭
xx
Traveloro
Labels:
#areksuroboyo,
#jalanjalansurabaya,
#surabayarek,
#TRAVELORO,
#travelorodiSurabaya,
ibu dan anak,
kegiatan ibu dan anak,
kidzoona,
main di mall
Thursday, March 7, 2019
Ngopi di : Rolag Kopi - Karah/ Surabaya
29 tahun saya melewati Nyepi di Jakarta, dan satu
kali coba melewati Nyepi di Bali, dan tahun ini, Tuhan kasih kami berkah untuk
merasakan Nyepi di Surabaya. Hal yang baru selalu menarik, betul atau nggak?
Betul ya kayaknya, dan menarik ini lebih ke WOW
![]() |
| nobar PERSEBAYA - PERSIB (ruameee reeeeeek) |
Tahunan tanggal merah itu kayaknya saya banyak di
rumahnya daripada diluar, perkara macet dijalan dan ramai di mall membuat saya
malas kemana-mana saat Liburan Nyepi. Lebih baik dirumah, stok cemilan dan take
away kopi dan streaming film di Siti.
Siangnya, masuklah chat dari sepupu saya, dan timbul
ide nih, untuk ngopi bareng, dan begitu saya tanya, ngopi dimana ya yang enak??
dengan pasti dia menjawab “ Rolag Coffee mbak..!” baiklaah.. rolag coffee it
is.. saya googling pun feel saya cocok nih tempatnya, lalu kami bersiap-siap
untuk pergi kesana. Eniwey,, pas dijalan, lanchaar jaya, no macet selain lampu
merah dan belokan/penyempitan Jalan.
![]() |
| meja kasir |
Sampai disana saya kaget bukan main,,,
ruameeeee reeek! Ternyata café ini menyelenggarakan acara nonton bareng PERSEBAYA vs PERSIB nih. Saya sampai
lama banget scanning tempat duduk, dan beneran gak ada yg kosong, FULL HOUSE.
Mau order duluan juga di kasir ngantri banget,, hhahaha… baru kali ini saya
sadar kalo tingkat ‘nyaman’ di coffee shop itu beda-beda. Soalnya mungkin saya
bakalan pulang deh kalau rame begini, tapi urung pulang, karena tempatnya asyik
dan Sa sendiri kadung lari sana-sini sambil ketawa tiwi..
![]() |
| rodok lenggang after the match ended |
Mungkin 15 menit berlalu dan para
penunjung bubar, karena acara bolanya sudah habis, nah inilah kesempatan kami
untuk cari duduk yang nyaman, kami sempat pindah beberapa kali untuk memastikan
dapat duduk yang asyik. Disini sebetulnya hampir semua bangku terbuat dari
kayu, seingat saya tidak ada kursi/ bangku empuk, sofa pun gak ada. Tapi
ramenya jempolan.
Dengan konsep industrialist, outdoor
coffee shop ini betulan membuat saya amazed, lokasinya yang persis sebelah kali Rolak membuat pemandangan amat
indah menjelang gelap, dan yah kami bahkan sempat lihat beberapa pemancing dan
ada juga yang menjual hasil pacingan di pinggir Kali, ikannya besar-besar. Dan
Rolag sendiri ada beberapa cabang diantaranya di Kayoon 6, Khairil Anwar, dan
A. Yani – Sidoarjo. Dan yang kami datangi adalah yang di Karah.
Seperti biasa kami pesan kopi dan kentang
goreng, tuh lihat Sa udah bisa pesan dan bilang sendiri ke mas-nya.. saya pun
santai sambil knitting dan Sa sambil nonton video Pink Panther. Trusnya, lama
menunggu sampai mungkin 1 jam sampai pesanan kami datang. Kalau gak
dikejar-kejar, mungkin pesanan kami bakalan tiba lebih dari 1 jam, dan ya tetap
sabar karena terlanjur penasaran sama rasa kopinya..
Pesanan yang pertama datang adalah kopi,
saya merasa langsung ceria, sebuah plunger pot berbahan dasar stainless dan
gelas kosong beserta 2 buah gula kemasan. Saya pesan robusta ( karena paginya
sudah ngopi Arabica – Kalosi Toraja di rumah) dan untuk itu, saya hanya
membayar Rp. 10.909 (sebelum PPN) kopinya enak, pahit legam, rasanya sedikit
over burnt dengan scoring 7/10 saya rasa saya bakalan mampir lagi sih ke sini.
Kalau tahu dan kentang, mba yang habiskan, dan sisanya bawa pulang. Sepupu
saya? Pergi untuk mengantar ‘teman perempuannya’ ke Sidoarjo, hehehe…
Untuk tempatnya full outdoor artinya
kita harus rela berbagi asap rokok dengan para smokers, tenang aja mereka
menyediakan kipas angin hampir di setiap tiang café kok, sementara untuk
suasana nyaman dan santai yang ditawarkan membuat tempat ini terbilang ramah
anak-anak, dan juga selain Sa, ada juga keluarga yang bawa nak bayinya kesini,,
rata-rata yang datang kesini sepengamatan saya adalah 40% keluarga dan 60%
sisanya anak muda usia 20 – 35th, dank arena pilihan menunya cukup
variatif dan affordable dan jam buka yang cukup panjang, ROLAG KOPI ini bisa
jadi alternatif untuk menghabiskan akhir pekan atau sekedar menonton live music
di hari tertentu.
Anyway, kami sangat menyarankan
pengaturan yang lebih baik pada pesanan dan pengantarannya, jangan sampai
orderan terkacau satu dengan lainnya,, karena gak lucu banget kan kalau harus
ngejar dan manggilin mas mas waiters terus-terusan untuk menyanyakan pesanan
kita. Yang lain juga saya lihat santai-santai aja tunggu pesanannya datang,
bahkan ada beberapa pengunjung yang saya lihat membawa makanan dari luar (
mungkin tahu kalau pesan disini
lama datangnya?) dan datang kesini hanya untuk kopinya.
Xx
Traveloro
Subscribe to:
Posts (Atom)




























