Tuesday, December 25, 2018

Staycation di : Ashley Hotel, Sarinah



Ini adalah pengalaman pertama kami, stay-cation, dan spesialnya adalah karena kami memilih tanggal 25 Desember, bertepatan dengan Hari Natal. Sangat spesial, mengingat tahun lalu, Natal hingga Tahun Baru, kami habiskan dengan duka dan sedih harus bersama di Rumah Sakit, karena Sa dirawat dengan kondisi GERD, diare dan muntah serta sel darah putih yang melonjak mengebabkan dia harus minum antibiotik. Yup, pengalaman, yang selalu menusuk ulu hati saya. Karena dia juga pernah HARUS minum antibiotik sesaat setelah dilahirkan :( 




Seminggu sebelum hari H, bahkan jauh sebelum itu, saya sempat was was, ada rasa 'parno' kalau kalau Sa akan tumbang lagi saat natal, entah, sakitnya Sa selalu menjadi sedih yang ber-ulang dan 'trauma' mendalam buat saya. hiks.. tak pernah putus doa saya supaya Sa  ( juga saya) selalu diberikan kesehatan, well, hotel udah di book dan no-refundable jadinya, cross my finger, tanggal 25 SEHAT!!!!

 ( foto di Sarinah)

Terletak di Jakarta Pusat, ASHLEY HOTEL menjadi pilihan karena dekat dengan Sarinah, Starbucks Coffee - Jalan Sabang ( tempat nongkrong favorite saya waktu kos dulu), dan beberapa Mall besar. Maksud saya sih, biar enak ajak Sa kemana-mana jika bosan di hotel. Eh bener sih, sorean, kita berdua sempat JJS ( jalan jalan sore) ke Sarinah. nyari batik couple tapi belum ada yang ditaksir karena si anak kecil itu sibuk lari sana lari sini, hehe... 


Kami tiba di Hotel, jam 1 Siang, dan ternyata boleh early-checkin karena kamar pesanan kami sudah siap. Cukup menunjukan ID Card dan semenit kemudian, saya sudah memegang kunci kamar dan di tunjukan kemana harus naik dan juga jam breakfast. Berjalan menuju lift, aromaterapi sereh merebak di hidung, sungguh sungguh sangat nyaman.. Eniwey, Sa sempat ngeri naik lift, dan pas udah di dalam lift, lha kok gak jalan lift nya ( dasar wong ndesoooo) pas ketemu orang baru dikasih tahu kalau lift hanya akan berfungsi jika kita men-klik kunci kamar di electric machine dekat tombol angka angka di lift, barulah lift langsung naik dan membawa kami ke lantai tujuan, yaitu lantai 9. cepat dan nyaman, Sa yang biasa nangis di dalam lift kali ini bisa cukup santai, walaupun masih harus memeluk saya.. hehehe...



Sesampainya di kamar, saya cukup kaget karena kamar ini cukup 'mini' dalam bayangan saya kamar type Deluxe itu bakalan yah lumayan lah buat lari lari atau koprol.. yah engga koprol juga sih,, minimal kayang lah ( hehe just kidding) tapi yang saya senang dari kamar ini, langsung berasa kayak ada di rumah, di kamar sendiri yang udah di tata seapik mungkin sehingga mirip hotel, karena luas nya dengan kamar kami dirumah, sama. Yang membedakan adalah city view nya dan kendaraan lalu lalang yang terlihat sangat cantik dari atas sini. Deluxe Twin, supaya nyaman karena saya dan Sa sudah terbiasa tidur terpisah. 


























Saya juga langsung mengecek kamar mandi, bersih, wangi dan eum gak ada bath up, padahal udah bawa baju renang buat Sa berendam, karena tahu kalau hotel ini tidak tersedia swimming pool, tenyata cuma shower dengan sekat kaca yang memisahkan antara toilet dan tempat mandinya. kacanya juga dikelilingi lampu, berasa cantik deh sekalipun keriput ini jadi terlihat jelas jika berkaca disitu.. ada colokan, tapi gak ada hair drayer, agak blunder gak sih.. tapi ketemu sih hair drayer nya ngumpet di drawer bed-side table. Jadi ngeringin rambutnya di coffe table, habis mandi sore, sambil menikmati kopi americano yang kami beli di Starbucks Skyline building tadi, pas JJS.




Dekat Jendela, ada meja semacam coffee table dan satu kursi empuk yang bisa digunakan untuk duduk santai memandangi lalulintas atau langit jakarta nan indah, cantik.. Sa juga saya bawakan peralatan perang berupa buku gambar dan pensil warna, juga beberapa mainan dan board book ( kan rencananya nginep ya khaaan) gak bosen sih dia, senang malah, karena bisa nonton BBC EARTH di TV Hotel, banyak acara binatang, dan kebetulan, saat itu menayangkan Pinguin, Beruang Kutub & Hiu, hewan hewan kesayangan nya.




Disudut lain, ada lemari tinggi yang jika dibuka ada, gantungan baju, dan bagian bawah ada lemari es juga brangkas. cukup minimalis memang, dan tidak makan tempat. dan persis di depan lemari, ada rak untuk meletakan koper/ tas kita, well, disinilah, saya meletakan tas kami, dan juga meletakan sepatu, dan bertelanjang kaki di dalam kamar ( psstt.. kami biasanya ber-kaus-kaki-an saat di rumah, di dalam kamar, its like our thing. aneh tapi kita suka)



Harapan saya awalnya sih, kita bakalan stay a night dan bisa menikmati breakfast yang katanya enak ( kalau baca review di booking.com sih gitu), tapi jam 7-malam, saya tanya Sa, dan dia bersikeras ingin pulang dan tidur di kasur sendiri. akhirnya saya putuskan untuk check out deh.. dan petugas cakep cakep, ramah dan murah senyum, membuat saya berani untuk minta ijin menfoto Sa di meja reception, maafkan muka BT Sa, karena dia habis di tanya " Kok Cewek mainnya mobil sih?" sama mas mas reception nya.. 




Dengan pikiran, kapan lagi kesini ya,, dan gak bisa breakfast juga, jadilah sebelum check out, kami sempat ngecheck resto nya ( asliiikk cakeeep banget.. interiornya,, saya sukaaakk), dan berfoto di pohon Natal dekorasi hotel di sudut reception. Sayang, kami gak sempat ngecheck tempat gym, next time mungkin yaah ( amin aminnn) dan sekalipun saya kecewa karena harus pulang sebelum waktunya, its OK, Nak. gak papa.. saya coba ngerti karena selama ini, hingga Sa berusia 2,5th, dia belum pernah pergi dan stay berdua hanya dengan saya, this is indeed our first time betulan quality time, hanya berdua, di hari Natal, bukan di ranjang Rumah Sakit, bukan di coffee shop, bukan juga di perjalanan, atau di Villa bersama keluarga dan saudara-saudaranya, cuma berdua, (hampir) seharian penuh, dan saya, kami, sangat amat menikmatinya.. dan looking forward to have another chance to stay-cation yang betulan nginep dan menikmati breakfast di hotel ( biar kayak orang-orang gitu lohh..) jadi gak sayang karena no refunable hahaha *nangis di pojokan* #JK



Sekalian kasih review traveloro yah, menurut kami, hotel ini cukup memuaskan 8/10 lah ya.. ( karena gak sempat ngobain breakfast atau order makanan) Hotel bintang 4 ini, kamarnya terbilang sempit untuk ukuran deluxe room ( menurut saya) tapi extremely clean, petugasnya ramah-ramah, kamar mandi bersih dan wangi, ada handuk beberapa ukuran, dan tersedia hair drayer ( sekalipun lokasinya tersembunyi), ada coffee pot dengan teh-kopi & beberapa pilihan gula (eh bukan coffee pot juga sih lebih ke electric thermos), ada kulkas sekalipun ngga ada mini-bar ( padahal berharap menemukan bir di dalam kulkas :D ), ada alarm dan jam digitalnya keren ( JBL bwookkk), ruang cukup senyap sekalipun pas ada cleaning service keberisikan banget padahal yang sedang di bersihkan itu ruangan di sebelah kami dan di sebrang, tapi suara vacum cleaner nya kedengaran sampai di kamar,, aromateraphy juara, sekalipun, pengin kayak tiap lantai ada wangi aromateraphy di kamar atau minimal di lorong hotel gitu..  liftnya spesial sih, Sa yang biasa takut naik-turun pakai lift, kali ini cukup nyaman,, dan lokasinya yang strategis banget, sebelah hotel ada beberapa kafe ( upnormal, bakmi toko tiga) dan kalau mau jalan kaki sedikit juga bisa sampai ke ABUBA STEAK, RM Garuda, dan kulineran di Jl. Sabang atau getting wasted di Jl. Jaksa.
 
xx
Traveloro 


 



Saturday, December 8, 2018

Main di : Taman Banteng - Jakarta Pusat



Kayaknya udah jadi semacam keinginan yang cukup terjaga di hati, bagi saya untuk mengajak Sa ke Taman. Taman mana saja boleh. Selama itu rumputnya hijau, bukan artificial, ada mainan untuk anak-anak lebih bagus, tidak ada pun, tak masalah, yang penting engga ada orang pacaran yang sliweran dan kelihatan mata Sa. Karena dia pasti akan langsung Tanya, ngapain kakaknya, bu.. bisa linglung ibu jawabinnya.. hehehe
Saya sampai bikin semacam list, taman-taman mana saja yang sudah pernah kami berdua kunjungi since Sa masih bayi piyik.. taman pertama, will be, taman depan rumah, yup! Rumah di depan taman punya banyak manfaat emang.. bersyukurnya orangtua saya dulu memilih rumah ini dan kami bisa menjaganya sampai hari ini, pun taman depan rumah yang selalu ditata baik sama tim dari dinas pertamanan & pemakaman DKI Jakarta sejak bertahun-tahun lalu. Bahagia.

Lalu kemudian, taman di belakang rumah. Curang gak sih? Enggak kan ya.. hahah karena emang perumahannya di taman, jadi wajar kan ya kalau disekitaran rumah banyak taman. Tambah lagi, banyak RPTRA bermunculan yang membuat saya girang dan lega, ada tempat untuk mengajak Sa Jalan Jalan sore untuk menghabiskan waktu dan energi beliau. Maklum untuk ukuran bayi, Sa termasuk energic dan akan sangat bagus jika energy  nya bisa tersalur dan ujungnya dia bisa tidur nyenyak sebelum jam 7 malam.

Oke-oke, bakalan gak kelar kelar ini ya kalau bahas taman yang didatangi tapi lokasinya di dekat rumah, sekalipun RPTRA sih ya kayak effortless aja, ke taman kok Jalan kaki, Bu!! Nah, taman pertama terjauh yang pernah kami kunjungi adalah taman Ayodia ( dikawasan blok M, Barito), back then, ayodia pancorannya lagi trouble jadi cuma air kolam menggenang dan rodok kotor, saya sih senang senang aja Jalan disana, saat itu Sa lagi belajar Jalan ( June 2017) dan juga banyak ikan di kolam, Sa girang bukan main. Dan Ya. Dia sudah bisa Jalan di usia 1th.

Taman kedua, adalah taman yang letaknya tidak begitu jauh dari taman Ayodia, cuma nyebrang dan sedikit turun tangga. Ketemu deh sama taman ini. Taman Langsat namanya. Lumayan lebih rapi, sekalipun ada beberapa fasilitas yang rusak/ tidak terawat, dan letaknya yang agak tersembunyi ( dibawah jembatan) jadi taman ini cukup sepi, dan kemungkinan besar dipenuhi orang pacaran jika hari sudah mulai gelap. Banyak bench gitu, dan banyak pohon membuat banyak nyamuk yang siap sedia menggigit kapan saja. kami gak betah lama-lama disini, lalu memutuskan pulang.

panorama dekat musalla Taman Banteng

Lalu taman yang baru-baru aja kami kunjungi adalah Taman Banteng, di Jakarta Pusat. Lokasi nya yang dekat dengan pusat pemerintahan, layak diberi kunjungan karena Luasnya, Fasilitasnya dan yang pasti pengin kami ketahui adalah ketersediaan toilet& kamar mandi beserta kebersihannya. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saat saya masih suka mampir untuk ibadah di Katedral, taman ini masih biasa-biasa aja, ntah terbuka untuk umum atau tidak, tapi kondisi dari luar yang terlihat gersang dan tandus membuat saya enggan untuk coba menjelajah, tapi kini, taman ini sudah bebenah diri, banyak hal yang berubah, pastinya menjadikan taman ini tempat nongkrong kesukaan Sa.



Bagaimana tidak, baru tiba saja, Sa udah langsung lari nge gass,, sore itu, saat matahari masih betul-betul diatas kepala dan sinarnya masih menusuk kulit, Sa malah lari-lari menuju air. Jadi dari kawan, saya tahu bahwa Taman Benteng ini ada kolam luas ber-air mancur yang emang kalau malam malam dan hari tertentu menyala dan berdansa dengan cantiknya ( mungkin persis fountain di Monas ya), tapi karena masih sore, dan weekday, rasanya fountain itu gak akan dancing, dan emang bukan fountain yang mau Sa lihat, tapi air kolam yang membuat nya penasaran, apakah ada ikan di dalamnya. Begitulah Sa, dimana ada air dengan volume yang cukup banyak, dia akan langsung memberikan pertanyaan template yaitu “ ada ikannya gak bu”

Karena kami pergi diatar pa gojek, kami diturunkan persis di pintu masuk yang menghadap Patung. Dan jika Jalan ke Kiri, ada taman main khusus anak-anak, ramah anak, sayang nya masih ada penjual yang masuk berjualan sampai ke dalam taman, yang membuat saya jadi risih, bukan risih sama penjualnya, risihnya itu kalau ada yang beli lalu BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Please deh, banyak banget padahal tempat sampah di dalam taman. Bagus bagus taman dibikin, mental pengunjungnya ya harus dibagusin dong, paling tidak sadar diri untuk buang sampah di tempat yang disediakan. Kalau engga, gak usah jajan deh, atau gak usah datang, bikin mata risih lihatnya..

ngebekal. ketaman yang niat. dan sehat

Traveloro belok ke Kiri untuk mencoba mainan anak-anaknya, cukup komplit dan bersih, serta hijau. Adem mata walaupun sinar matahari lagi terik. Ada beberapa mainan ‘mewah’ yang engga ada di RPTRA manapun ( yang sudah kami kunjungi), dengan kondisi terawat. Eniwey, kami membawa bekal loh. Emang sudah saya biasakan sejak awal kenal makanan, setiap kali pergi pasti bawa bekal. Dan kali ini bekalnya adalah Jus Sayuran ( Kale, Lemon & Banana), Keju, Susu UHT. Semuanya, habis dan Sa masih bilang lapar, oleh karenanya, sepulang main kami putuskan untuk ngopi di KM 56.

jus sayuran saya & Sa. tebak siapa yang habis duluan

Dan selurusan taman anak, ada lapangan basket yang menurut informasi, selalu ramai, artinya, taman ini juga udah membantu anak-anak mendapatkan hak bermainnya. Itu bagus! Mengingat banyak anak-anak yang karena tak ada lahan bermain, mereka nekad main bola, sepeda-an,  di kuburan atau pinggir Jalan, bahaya & rawan.

kami berdua. traveloro

Lalu di tengah lapangan ada fountain dan kolam yang di kelilingi bangku semenan berundak seperti kursi pertunjukan. Kebayang indahnya menonton pertunjukan air mancur berdua Sa di malam hari. Pagi hingga sore hari sering dibuat foto-foto karena memang instagramable sekali, perpaduan warna cat abu-abu dan sulur sulur daun warna hijau tak beraturan terkesan natural namun cantik. kamipun ikutan foto, yah karena minta difotoin, jadi hasil nya begini ini.. heheh cantik kan.. 

Dibelakang kursi undakan ini ada toilet dan wastafel air. Reaksi pertama saya adalah takjub! Setelah pertama kali melihat wastafel air semacam ini hadir di Soetha beberapa tahun lalu, kali ini saya melihat wastafel ini di taman. Sungguh kemajuan yang cukup jempolan. Beberapa kali saya memergoki orang bodoh yang cuci tangan di wastafel ini. Padahal sudah ada tulisannya ini kran ini untuk minum dan bukan untuk cuci tangan, sesulit itu kah membaca informasi di depan mata??  Untuk toilet, bersih tapi lantainya basah, jadi cepat kotor kalau banyak pengunjung.

papan informasi disalah satu sudut taman

Not sure berapa luas taman ini secara keseluruhan, yang pasti luas banget. Kami belum sempat menjelajah semua area, mungkin hanya setengahnya, baru beberapa kali kesini dan juga selalu dibuat Jompo mengejar Sa yang lari sana sini dan terpaksa menggendong dia.. ada beberapa arena bermain anak, ada juga penjual makanan di pinggir taman bagian luar yang makin ramai ketika hari mulai gelap. Tukang nasi goreng, mie ayam, tahu gejrot, somay, hingga batagor, you name it. Semua ada.

cantik ya

Di sudut taman yang lain ada semacam bangunan semi permanen, meja, kursi, ayunan dan panggung yang semuanya terbuat dari kayu. Keren, kreatif tapi ada risky kalau naik ke rumahnya, mungkin udah lama, atau terlalu sering di pijaki dan dipakai untuk berfoto maka para paku sudah mulai mengintip dari kayunya. Eniwey, ada semacam gubuk yang bisa dipakai untuk duduk santai didekat sini, tapi ya gitu, pas kami kesini lagi ada pasangan rebahan, entah apa yang mereka pikirkan, pantaskah melakukan itu di taman umum yang harusnya buat jogging sore atau olahraga atau bonding sama keluarga.. 

Kalau mau Jalan sedikit kearah kiri setelah bangunan ini, kalian akan ketemu sama musolla dan area bermain anak ( lagi) ada ayunan, ada jungkat jungkat jungkit juga perosotan kalau gak salah inget) dan gak jauh dari sini ada fouintain lagi, tapi kurang terawatt, berlumut dan ada banyak sampah plastik menggenang dikolamnya ( suka gemes sama manusia manusia yang buang sampah sembarangan). Menjelang magrib lampu taman akan mulai menyala, bagus deh setiap lampu ada rumahnya dan juga rumahnya ini bercorak jadi memberi efek cantik saat kita melihat bayangan cahayanya sepanjang Jalan. Saya gak sempat disini sampai malam hari karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah dan terlebih macet yang akan dihadapi jika pulang terlalu malam atau pulang pas bareng orang kantor pulang.

Menurut saya, taman-taman cantik serupa gini harus selalu diusahakan, harus ada dan jika sudah ada, harus betul betul dijaga dan dirawat, baik dari dinas pertamanan&pemakaman, dan utamanya para pengunjung juga harus tahu how to behave. Pasti taman bakalan selalu bagus dan enak dikunjungi sekalipun usianya sudah tua.


Xx
traveloro

Tuesday, November 6, 2018

Ngopi di : @kopimentjos56 - Salemba



Belakangan ini, Traveloro lagi cukup sering keluar rumah yang agak jauhan. Salah satu sebabnya adalah karena pembayaran go-ride menggunakan go-pay pada aplikasi Gojek sedang discount 90% (hehe maklum ya namanya travel irit) senangnya juga, cuaca lagi asyik banget,, rintik tapi ringan, buat perjalanan yang harusnya panas terik jadi adem nan magis.. 



terletak di Jalan Salemba Tengah, kedai kopi ini memilih nama yang terbilang cukup unik menurut saya. Pertama, karena KM56 ini sekilas ditelinga terdengar seperti kilo-meter 56, sebuah lokasi, yang kalau bagi saya sih, kayak lagi duduk di mini bus travel menuju Bandung dan supir akan bilang "kita berhenti di KM 57" , atau di Jogja itu, biasa menyebut lokasi daerah dengan kata " nganu posisine iku nang KM 56 lho" dan kedua, siapa yang bakal sangka kalau KM56 adalah kedai kopi sebelum mendengar kepanjangan nya Kopi Mentjos 56.





Sebetulnya, sebelum ngopi di sini, traveloro terlebih dulu bermain di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dan rasa laparnya Sa lah, yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk mampir ngopi di KM 56.  Karena, kedai kopi asyik ini membolehkan pengunjungnya untuk membeli makanan dari luar, bahkan boleh dimakan di didalam! keren banget gak sih.. saya sampai ter-takjub banget dengan konsep mereka. Sedangkan kafe / kedai kopi lain, umumnya membuat tulisan di depan pintu "TIDAK MEMBAWA MINUMAN/MAKANAN DARI LUAR" KM56 justru sebaliknya.. membuat saya berpikir kalau si owner pasti orangnya legowo & tulus, dengan ilmu iklhas yang udah tinggi.. atau mungkin udah lulus kali ya.. hehehe ini nih, Sa pesan nasi goreng telur dadar di pak nasi goreng depan kedai, dan iyak enaa banget nasi gorengnyaa.. saya sampai secara khusus menyampaikan pujian pada bapaknya, ( sekalipun pas pulangnya saya memesan menu yang persis sama dengan Sa, tanpa ayam tanpa telur atau hewani lain, cukup nasi goreng, dan pagi harinya saya mendapatkan tenggorokan saya radang!) jadi nyesel, sepertinya si bapak lupa ( karena udah kebiasaan meracik bumbu) jadi nasi goreng saya tetap diberi micin,, dan radang adalah buktinya.. ))




Menu kopi nya lengkap banget, emang niat banget mau menyajikan kopi dengan berbagai rasa dan cara.. tapi tetep sih, saya mah setia dengan kopi item manual brew yang bisa milih mau single origin dari daerah mana, pilihan saya? Gayo tentunya! Sesuatu yang lucu muncul lagi saat teman saya, juga memilih kopi single origin Gayo dengan tehnik v60. jadi, Literally kopi kita sama, sama sama Gayo, sama sama tanpa gula, cuma bedanya, saya memilih Gayo saya disajikan dengan tehnik French Press. Oh dan Sa, selain nasi goreng, dia juga saya pesankan french Fries & Chicken Wings dengan harga 35k. cukup banyak porsinya. tiga perut berbahagia.




Ngopi kali ini happy sekali,, Sa seperti biasa, kesana kemari, mencoba duduk ditiap kursi yang ada di dalam, interior simple dan hommie.. menari dan berjoged seirama dengan lagu-lagu yang diputar. ah pokoknya senang banget disini.. dan makanan di luar kedai juga banyak banget, kayaknya enak-enak semua,, jam bukanya juga cihuyy mulai dari jam 11 Pagi - 24 Malam jadi pengin kesini lagiii,, kita betah lama lama disini.. terutama karena area no smoking nya sepi.. karena kebanyakan pengunjung memilih untuk duduk di area merokok yang kebetulan memang lebih luas dan lega dibandingkan area no smoking nya.. 


love
traveloro

xx




Thursday, November 1, 2018

Ngopi di : Kahwa Coffe House - Petamburan



Ngopi itu sejatinya, bagi kami adalah sebuah kegiatan yang melibatkan bukan cuma lidah, tapi juga hati.. karena jauh sebelum Sa lahir ke dunia, dia memang sudah biasa drenched in coffee. walaupun dulu saya terbiasa minum Cappuccino-nya Starbucks yang adalah campuran antara kopi dan susu, lalu selanjutnya mulai ala-ala mesan decaf americano, alih alih mengurangi jumlah kafein, saya malah kecewa setelahnya begitu tahu bahwa decaf adalah Joke bagi pecinta & penikmat kopi.. gimana tidak?? decaf sendiri adalah proses pengurangan kafein didalam kopi, entah itu lewat air atau proses kimia, serem gak sih?? aman gak sih?? silakan mampir ke artikel ini karena saya pun tercerahkan dengan artikel tersebut! makasih ya mas / mbaknya buat edukasi soal decaf coffee...



Dan, perkenalan pertama saya dengan Kahwa Coffee House inipun, terbilang unik. Lokasi kantor tempat saya bekerja yang berdekatan dengan coffe house ini lah  yang 'memaksa' kaki untuk jalan ke sini, karena lidah penasaran saya.. pertama kali masuk, pas jam makan siang, waktu itu, saya di sambut dengan harum kopi yang langsung memeluk indera penciuman saya.. lembut dan manis.. dan interior yang cukup homie, membuat saya terbuai semakin dalam ketika menyeruput kopi hangat pesanan saya,, hati berbisik.. " ah saya harus sering kesini". dan Yah itu lah yang terjadi sampai saya pindah kantor.  


Hari ini, setelah tahunan berlalu, dan ratusan gelas kopi dari berbagai daerah di Indonesia dan beberapa warung kopi di Jakarta dan sekitarnya, saya dan Sa, memutuskan untuk kembali ke sini. Demi mengembalikan dan menciptakan kenangan manis dan indah bersama Sa, tentu saja. Setelah membuka pintu, kembali,saya disambut dengan aroma kopi yang saya kenal, senyum saya diikuti senyum Sa, karena berhasil merayu saya untuk memesan makanan yang dia mau.


Entah kenapa saya pesan Iced Americano, padahal kepala baru saja terguyur hujan rintik separuh perjalanan,  dan juga sinus lagi kurang enak, tapi setelah dipikir ulang, itu adalah pilihan yang tepat, karena saya lebih suka minikmati kopi "house blend" ( robusta dan arabica) dengan es. Kahwa kehabisan kopi single origin yang manual brew.. jadi saya tidak kecewa dengan iced americano saya,, oh dan Sa, saya pesankan kentang goreng kesukaan dia,, yang selalu berhasil membuatnya duduk anteng untuk waktu tertentu demi memastikan kentang gorengnya aman masuk ke perut sampai habis tak bersisa.. 



Demi menjaga ketenangan pengunjung lain, dan niat mau berlama-lama 'duduk bengong' disini, saya putuskan untuk membawa serta Siti yang ketika di hubungkan dengan wifi, akan menimbulkan kebahagiaan dan duduk tenang Sa, menonton lagu nursery rhythms dan lagu anak-anak indonesia lewat youtube. sekalipun, sesekali, Sa masih asyik dengan buku gambar dan alat mewarnai nya. at least dia ngga lari-lari mengelilingi kafe dan membuat kegaduhan di sekitar.



Dari beberapa coffee shop/ warung kopi/ kedai kopi, saya bisa bilang, Kahwa Coffe House ini, terlahir dari jiwa 'cinta kopi' yang juga saya bisa rasakan, baik dari kopi maupun interior cafe nya. betul-betul sungguh cerminan dari itu. marilah kesampingkan industri kopi yang marak beberapa tahun terakhir, atau simpan dulu pikiran nongkrong di coffee shop untuk hangout atau status di socmed, pergilah kesini dan rasakan sendiri, bagaimana kopi dan interior sederhana mampu membuat kita betah berlama-lama duduk ngobrol atau baca novel, menghabiskan waktu dengan orang tersayang, dan melupakan gadget, selama kopi didalam gelas masih ada.. hehe


xx,

Traveloro.





Thursday, October 4, 2018

ke Museum: MUNASAIN, Bogor


Sudah seminggu lamanya, atau lebih tepatnya dua minggu kebelakang, Sa selalu looping lagu 'Naik Kereta Api' dan dengan penegasan kata KE BANDUNG. Dan jadi bolak balik nanya, 'kapan ke Bandung ibu?' atau lain waktu bilang "ke Bandung yuk bu," atau langsung nodong "aku mau ke Bandung ibu, naik kereta" tapi pas saya cek, rate harga tiket kereta belum sesuai dengan kantong kami, lagi mahal. Jadi sebagai ganti, saya ajak Sa untuk ngeKereta ke Bogor. kali ini, benar-benar berdua, dan dengan kondisi yang Sasa masih sangat semangat untuk bisa diajak jalan jauh, udah truly gantung gendongan hehe,, syenang...




Setelah cukup dadakan membuat planning ke Bogor ini, saya sempatkan untuk membuat makanan sebagai bekal di perjalanan, sekalian saya tes, apakah dia suka dengan menu barunya, jadi Rabu siang saya buat #LemperSehat  yang mana buatnya sengaja saya wrap dengan aluminium foil supaya handy dan awet panasnya sampai di lokasi piknik ala-ala kami. Kamis paginya, kami berangkat naik kereta. Untuk menyiasati macet dan padat di kereta, sengaja saya pilih jam senggang yaitu jam setelah orang kantoran berangkat dan pulang pun, saya pilih jam senggang sebelum jam nya orang kantoran pulang. mepet ya? sangat! tapi kami cukup senang dan terutama Sa bahagia bukan main begitu bangun tidur saya ajak mandi dan bisikan "ayo naik kereta"




Kami naik dari Stasiun Palmerah. Stasiun yang menurut saya udah cakep banget beberapa tahun terakhir karena pembangunan dan juga terbilang cukup terawat ya, eniwey, ini Stasiun yang paling dekat dan masuk akal menurut saya, karena jika berangkat dari Stasiun Rawa Buaya kami harus transit di Duri dan transit lagi, itulah mengapa kami prefer berangkat dari St. Palmerah. St Palmerah dan transit di St. Tanah Abang, lalu kereta kami melanju hingga St. Bogor. kayak 1,5 jam perjalanan, kami pun tiba di bogor saat matahari lagi terik teriknya tepat diatas kepala kami.



Berbekal hasil googling, traveloro akhirnya punya tujuan, yaitu ke Museum MUNASAIN di Bogor. Entah karena saya kurang gaul atau emang baru tahu aja, bahwa BOGOR punya tempat kece selain Kebun Raya Bogor ( Bogor Botanical Garden) yang mana lokasi kedua nya pun ternyata berdekatan. kemana aja saya yah, padahal tahun lalu ada ajak Sa ke KRB sama sekali gak lihat tulisan MUSEUM ini.. dan oh ya googling saya end up disini, sungkem buat penulis artikelnya :) 



Dari Stasiun, kami melanjutkan perjalanan menggunakan apps ojek online kesayangan Indonesia, GOJEK. hehe.. karena malas nya naik angkot yang semrawut dan lama banget nge-tem nya. Bogor panas, Kak! Kalau gak cepet jalan bisa gosong di tempat ( hehehe becanda kok) Gojek ini membawa kami sampai ke halaman Museum. Sedih tapi kecewa juga, museum nya sangat sepi. sempat berfikir, apa karena kami datang di hari kerja, jadi pengunjung saat itu adalah traveloro dan Mas Bule gitu, 2 orang, heran ya kenapa BULE suka budaya, suka mengunjungi museum tapi orang kita, malah prefer ke Mall atau tempat hits lainnya, padahal ke Museum banyak sekali manfaatnya, kan?




Museum ini sebelumnya adalah salah satu pusat penilitian Herbarium Bogoriens e atau biasa disebut Museum Etonobotani. Karena koleksi nya terus bertambah dari waktu ke waktu, maka berubah nama menjadi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia. isinya? beraneka ragam kekayaan alam asli Indonesia. Perkembangan HOLTIKULTURA, Perjalanan era dunia dari jaman prasejarah, bibit tanaman dan rempah rempah super lengkap dan bahkan ada harimau sumatera dan beruang madu yang dipajang disini..


Terdiri dari 2 lantai, dan cukup membayar Rp. 5.000,-/ orang maka kita bisa menjelajahi Indonesia melalui kekayaan alam nya dari ujung paling barat hingga ujung paling timur Negara Kepulauan Indonesia Raya. Terus terang, kedatangan traveloro kali ini bukanlah yang satu-satunya, saya pastikan, akan sering balik kesini, melihat isinya lebih dalam, dan menjelajahi pelan pelan setiap inchi dan detail semua hal yang dipamerkan disini. ada satu yang sangat menarik perhatian saya, yaitu alat penjepit / pemberat untuk mengeringkan daun tanpa merusaknya. terbuat dari pasir yang dimasukan kedalam karung goni/rami dan dijahit kedua ujungnya ( sayang banget saya gak foto, tapi menurut saya, itu canggih sekali, sekalipun itu alat kuno dan jadul, kayak berfikir, ini ilmuan jaman dulu kok udah kepikiran aja ya melakukan dan membuat teknologi sekeren ini..)

















Kami amat sangat menikmati waktu selama disini, walaupun Sa beberapa kali, terlihat ketakutan karena melihat Harimau, Beruang Madu dan Kura-kura yang di pamerkan disini. Tentunya, traveloro merasa museum ini bagus untuk mengedukasi anak-anak kita ( dan juga kita sendiri ) bahwa kekayaan alam indonesia sangat beragam, sangat banyak, dan mumpuni. Dan ini betulan yah, selama ini saya cuma kepikiran kelak Sa besar, jadi Dokter Gigi, tapi sejak melihat museum ini, saya jadi berfikir, kalau Sa besar, kinda Cool gak sih kalau dia jadi Ilmuan.

xx
Traveloro