Tuesday, February 26, 2019

JJS ke : Mirota Batik Surabaya



Seringnya mampir ke Mirota Batik di Malioboro, Jogja, membuat saya terkejut melihat isi dari Mirota Batik yang ada di Surabaya. Karena jujur aja ya.. cukup banyak perbedaan sekalipun sama-sama menjual batik & pernak-perniknya.

Jika kalian pernah masuk dan menyisir tiap lantai di pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, pasti sudah tidak asing lagi dengan dekorasi etnic yang juga ditampilkan di tiap lantai di Mirota. Karena menurut saya keduanya CUKUP MIRIP. Ada payung kayu/kain khas daerah, manekin yang di’dandani’ dengan apik menggunakan kain batik ( baik yg sudah dijahit ataupun belum), meja, patung, lukisan dan elemen pendukung lainnya, sungguh cantik!

Terletak di Jl. Sulawesi Surabaya, Mirota Batik ini cukup mudah ditemui, saya sendiri setelah 2 mingguan wara wiri di Surabaya, udah beberapa kali melewati/ berpapasan dengan Mirota batik ini. Terbagi ke beberapa lantai yang kesemuanya seru untuk diberi kunjungan, karena betulan memanjakan mata.

Begitu buka pintu masuk ( well, atau dibukain sama petugas yang baik hati) aroma yang tercium adalah campuran antara makanan dan aroma tipis aromatherapy, dan sedikit aroma batik baru.. sungguh menyegarkan hidung kami. Di lantai ini kita bisa temui pernak-pernik khas daerah seperti pajangan berbahan dasar ragam kayu, gantungan kunci, minuman khas daerah ( bahkan aneka kopi), topeng, perhiasan perak, kalung-kalung etnic yang lucu, berjalan lebih dalam lagi, kita bisa menemukan display aromatherapy beragam wangi berserta burner nya,  ada yang dijual paket, ada juga yang dijual terpisah, silakan, mana yang mau di beli. Ke dalam lagi ada tangga naik atau jika lurus sudah terhampar luas kain batik berbagai corak dan warna dan harga, dipisahkan sekat tembok, ada aneka tas, lucunya, ada satu tas lucu kecil, bercorak wajah gajah, hampir aja saya ambil untuk Sa, pas lihat harganya ratusan ribu, saya tata balik ke tempatnya, hahaha mihil rupanya!
 Kamipun naik dan disambut display ciamik ini di tengah tengah tangga, lalu langsung mlipir ke tempat sendal karena sebetulnya memang mau cari sandal buat harian kami disini, mosok ke warung atau depot aja pakai sepatu.. disini ada banyak sendal yang menarik hati saya, jujur sekalipun ukuran kaki saya cukup besar ( yak 44 -  45 ) saya suka sama sendal yang unik, yang modelnya ngga pasaran dan kalau bisa ya pas di kaki ( seringnya lebih besar kaki daripada sandal, sih) eniwey pas coba sendal, mba minta ke toilet, walhasil nyekerlah dia ke toilet, dan diperjalanan ke sana ada banyak rupa rupa yang aduh pengin banget dimampirin..

Adanya dislay buku saat di tangga tadi, tetap membuat saya takjub karena pas banget dilantai 2 ini, ada ratusan atau bahkan ribuan buku import bekas yang dijual dengan harga Rp. 25.000/ 5 buku. Murah banget ya… sayang banget Sa ngeburu-buruin jadi saya ga sempat milih-milih, OK dijadwalkan untuk segera mampir sini lagi yaa! Ada juga beberapa kursi duduk, dengan background yang instagenic, seperti yang terlihat digambar, bagus banget gak sih...

sendal Sa, selop only for 12ribuan ( $1)
Eniwey habis milih sendalnya dan sendal saya ( iya saya dipilihkan Sa), Sa lihat lihat baju batik anak-anak, dan gak tahu kenapa setiap model yang saya taksir, selalu berlabel 400ribu –an urung deh jiper duluan sayanya.. yomosoook  

 Terdapat tangga ke lantai 3, not sure apa aja isinya karena ngga sempat naik, kayaknya patung patung besar gitu sih.. soalnya pajangan di tangga juga patung patung gitu.. ( sok teu ya) tapi bener sih,, untungnya kami ngga naik, kalau naik, besar kemungkinan Sa akan nangis2 takut lihat patung patung besar. Lanjutin Jalan kedekat tangga ada tumpukan kain Bali dengan ragam corak dan warna yang bikin saya naksir. Harga sih ya murahan di Bali, tapi saya pikir daripada harus jauh jauh ke Bali, jadinya lebih hemat juga beli disini, lagipula saya butuh juga buat selimut, karena gak sempat ngepack selimut dari Jakarta. Disini juga ada berbagai macam home & kitchen appliance berbahan dasar batik dan kain daerah, seperti cup mat, table mat, table cloth, water dispenser cover, pillow cover dan banyak lagi. Saya naksir berat sama bedcover dengan corak papan catur khas Bali yang dihargai 75ribu, dan bakalan segera saya adopsi begitu kami mendapatkan tempat tinggal. Semoga secepatnya.

Iseng iseng sebelum membayar di kasir belakang ( begitu mbak penjaga tokonya bilang—karena disini ada banyak kasir) saya lihat batik-batik yang ada di sebelah kanan kasir, ada satu batik abu abu dengan model chiongsam dan corak yang kalem, ketika saya lihat harganya 400ribu—an, kembali lagi saya gantungkan baju itu ke display. Duh.. ada yang salah nih sama mata saya, kenapa yang ditaksir semua diatas 100ribu—an yaak… tapi memang kualitas batiknya bagus, bahan tebal, motif unik, ….
 Masih di seputaran kasir ini, ada sudut oleh-oleh dan makanan ringan, nah yang menarik perhatian saya adalah display Monggo Coklat yang cuma dummy aja, dengan tulisan “ yang asli ada di kasir” membuat saya tergelitik dan timbul pertanyaan “kenapa cuma dummy ?”  apakah banyak ‘pencurian’ coklat atau mungkin karena coklat cepat lumer dan Surabaya panas, jadi coklatnya ditaro kasir yang punya pendingin.. masuk akal kan yah… soalnya pas ke Mirota Jogja, Monggo Coklat ya di hamparin aja gitu, engga ada dummy-dummy—an
Lucu itu karena niat awal kesini ingin beli sendal harian buat kami dan bila mungkin beli batik couple ibu –anak malahan gak beli batik couple, nanya pun nggak Karena kadung jiper sama harga harga batiknya, untuk range harga, sepertinya lebih vatiatif Mirota Jogja daripada Mirota Surabaya, tapi untuk jenis barang yang dijual, sepertinya saya harus bilang kalau Mirota Surabaya lebih bervatiatif, kayak kerajinan tangan khas Bali ( Patung, lukisan, topeng),kaus tulisan bali, kaos barong itu ada di Mirota Surabaya. Dan oh ya, ada resto Gelato persis dekat pintu masuk ya,, bisa banget buat nongkrong nyender habis belanja atau rehat sejenak dari teriknya matahari Surabaya..
 Terakhir, puas berbelanja ( eh engga ding puas lihat-lihat) saya beli rujak buah ( Sa yang kepingin) Gerobak—an yang mangkal persis sebelah Mirota, ini gak tahu ya saya ditipu atau ngga,, karena perasaan rujaknya sama kok kayak di Jakarta yang harganya 10k per pack,, nah disini kenapa dijual 13k, tapi ada bonus ngobrol sama pa penjual sampai gojek menjemput kami.

Tuesday, February 19, 2019

Ngopi di : the coffee theory - Jl Jaksa / Jakarta


coffee move on

Dua bulan terakhir, traveloro banyak menghabiskan waktu daytime di seputaran Menteng – Sarinah dan sekitarnya. Karena kebetulan saya ikut kelas knitting yang berlangsung tiap Selasa siang. Mau ngga mau ya jadi akamsi Menteng lah, mulai dari Jalan kaki sampai depan Bank Indonesia, mampir ke total buah untuk beli sambal bu Rudy ( penting eiym), jajan jajan di Jalan Sabang, sampai nyoba ngopi selain di starbucks skyline Sarinah, well, karena bukannya ku bosan, tapi ku bertekad untuk mencoba explorasi rasa-rasa kopi di kafe dengan owner local. Itulah mengapa kami memutuskan ngopi di The Coffee Theory Jaksa.

Awalnya cuma lewat aja pas kami mau staycation dan sejekap membuat saya teringat seseorang yang saya kenal (alm) Ajie yang adalah sahabatnya Abdul & The Coffee Theory, dari situ saya tahu kalau kafe ini miliknya. Kalau boleh cerita dikit soal Ajie, dia adalah teman chat YM saya awal masa kuliah dulu, kami bertukar cerita soal banyak hal, misalnya saja MU grup bola kesukaannya, atau pada saat Abdul baru awal karier, Ajie juga sering bercerita bagaimana marketing selalu rugi, sekalipun saat itu saya ngga ngerti karena baru awal kuliah dan nyambi kerja shift sebagai admin kantor. Sampai suatu hari saya dapat notif di friendster dari keluarga Ajie, memberi tahu bahwa Ajie meninggal karena sakit, dari ratusan IM yang kami pertukarkan, sakit adalah hal yang tidak pernah Ajie ceritakan ke saya. Dan sekalipun saya pernah ketemu Abdul di back stage dan menanyakan soal Ajie, Abdul ngga sempat kasih tahu saya dimana Ajie dikuburkan (iyalah dia lagi ribet banget) Wes dalam hati saya berucap, saya akan mampir ke situ.

Ajaibnya Tuhan dengan kecepatanNYA menjawab doa-doa saya, belakangan ini. Lalu tibalah waktu saya berkesempatan datang ke sini, sehabis menyelesaikan kelas Knitting yang makin mumet aja.. segelas kopi mungkin bisa jadi penawarnya. Dan benar, setengah cangkir pun rasanya udah cukup untuk menyejukan kepala saya…


Ya seenak itu kopinya, sampai saya lupa loh moto-moto banyak.. cuma beberapa foto aja sih.. padahal pas kami datang kayak gak terlalu rame pengunjung,, tapi ya itu saking keasyikan ngopi sambil ngobrol, akhirnya lupa foto-foto. Tempatnya adem sih, sekalipun view di luar yang nyaris tanpa pohon pohon hijau, terik dan puanassss…

Gak terlalu yakin konsep interior kafe nya apa, tebakan saya minimalis/industrialis. O ya.. kafe ini bersatu dengan kantor gitu, jadi ya sembari ngopi ada orang lalu lalang keluar masuk kantor dan bercakap-cakap  kadang memecah kenyamanan kami saat ngobrol. Tapi kopinya enak, scoring lidah saya 7.2/10. Lokasinya pun gampang banget dicari, karena siapa yang gak tahu Jalan Jaksa?? Dan selain di Jaksa, mereka juga punya beberapa lokasi lain di sekitaran Jakarta.
XX

Traveloro

Sunday, February 10, 2019

PKS ( bukan partai)


Atas berbagai pertimbangan, saya akhirnya membooking tiket kereta. Padahal beberapa minggu sebelumnya udah lihat tiket weekend dengan waktu ok berangkat gak keburu-buru dan sampai di tujuan gak dini hari, harga juga ramah di kantong, eh ntar sok ntar sok karena merasa waktu berangkatnya masih bakalan bulan Februari. Masih lama, tenang harga gak akan.. eh beberapa saat kemudiaan, harganya sudah berubah. Jangan begitu Fernando,, ( anggap aja Fernando ini si mimin yang aturin tiket dan rubah harga ) dan pas kebetulan, kaka pertama info tentang family trip pas banget imlek, dan keduluan adik info acara kantornya weekend setelah itu, jadinya saya fix gak pakai lama-lama, langsung pantengin website tiket kereta kesayangan tokopedia, berkali kali refresh dan nunggu kadang sampe ketiduran ( hahah selebai itu juga ternyata ibu ini nyari tiket murah) dan buru-buru bayar deh.. dan terimakasih Fernando udah kasih harga ciamik buat kami yaa!!
Selama hampir kurleb 2 minggu, saya simpan berita itu untuk diri sendiri, saya engga berani bilang ke Sa. Cuma takut dia over hype, tau kan anak kalo dijanjiin dan sesuatu itu dia suka banget bakalan jadi kayak apa.. packing santai santai lah setelah pulang dari acara keluarga masih ada beberapa hari yang bisa dipakai buat laundry dan pilih pilih baju. Gak ribet juga wong literally cuma sehari semalem diluar kereta. Dikeretanya? Yah cukup lah buat nonton grey anatomy 2 season kalo diniatin bawa gadget, bisa banget. Tapi saya milih travel yang rodok santai, baju 2 lembar celana chino 1, dan celana jeans yang saya pakai, lalu Sa juga sama cuma itu aja sama handuk dan sikat gigi. Sabun bisa beli, kalau sikat gigi kadang gak semua warung atau minimart ada sikat gigi anak yang bagus / biasa Sa pakai. Oh ya dan kaus kaki, supaya gak kedinginan di kereta. Mau bawa selimut kok takut ketinggalan, meningat saya banyak lupanya daripada ingetnya.
Sekalian deh bawa obat Sa yang lagi tumbuh giginya. Dan karena saya lagi tefar, saya juga bawa perlengkapan obat-obatan yang diresepkan sama dokter, vicks, neurobion ( Vit B-12 ). Neurobion ini membantu banget buat vegan yang sering pusing karena gak dapat vit b12 dari makanannya. Mungkin banyak merk ya, tapi aku yang gampang aja dicari kalau habis ( pernah trauma [cya ilee] ngobat Panadol Sinus yang gak dijual di Indo dan tiap kali habis harus nitip teman yang lagi ke Sing atau ke KL) Vit B12 itu umumnya didapatkan dari makan gak cuci tangan, minum air langsung dari air terjun/mata air, makan sayur mentah gak dicuci dulu, yang yang kotor-kotor gitulah, Karena orang sekarang gak ngelakuin hal-hal itu lagi, jadilah ada vitamin ini sebagai short cut. Ini saya juga minum kalau benar-benar pusing aja, udah ga ketahanan. Selebihnya, God help me!!! Eh dan para carnivore dapat vit B12 dari daging2 yang mereka makan, sapi kan makan rumput kadang sama tanahnya, ayampun sama, ikan pun sama, jadi gitulah kira-kira penjelasannya.
Loh kok jadi ngomongin obat yaks…
OK, Jadi singkatnya perjalanan pergi dan pulang, kami menggunakan kereta yang sama, cuma berbeda nomor dan berbeda durasi. Pergi memakan waktu 15jam perjalanan dan pulangnya 11 jam express nih, perasaan sih bakalan berat ya karena cuma pergi berdua, dan harus ada mata extra untuk sesekali menatap rasel. Yah saya sih gak bawa apa-apa yang berharga kok, cuma kasihan sama yang gak tahu terus rogoh tas sampai berantakan.. duh amit amitt jauhkanlah ransel hamba dari tangan usil. Cuma berharap kalau kereta ini kursinya seperti kursi bus/kereta/pesawat pada umumnya, sejurusan. Karena pengalaman tempo hari pas ke Semarang, PP kami dapat kereta dengan kursi hadap-hadapan, yang merosotkan kesejahteraan lutut saya. Dan dengan pengalaman dari kereta ke Semarang juga, akhirnya kita gak pilih kursi 13C. Bersyukur saat booking tiket masih tersedia kursi kosong untuk dipilih dan kursi no.9 sisi lorong masih kosong..  tapi sekalipun berat, bakalan fun juga, udah ngisi gopay biar lancar perjalanan sekalipun ada banyak saudara yang siap nganter kemana-mana.

(update):
setelah 10th absen nenggok toilet kereta, kemarin akhirnya saya pergi.. dan bagus deh, toilet duduk ada flush nya ada shower dan kaca, tissue juga selalu tersedia lengkap dengan sabun cuci tangan dong.. 
ngecek gerbong restorasi, ciamik.. kayak di film film gitu. bagusnya Gustii...
niat hati #zerowaste ngisi sbux tumbler ( 330ml) di restorasi pakai air hangat diberi harga 10k ( setara harga teh panas), wis gapapa.. seneng bisa berbuat suatu kebaikan. walaupun cuma saya seorang yang melakukannya. 
 kursi duduknya hadap-hadapan, ndilalaaah ekonomi semuanya begitu katanya.. kesian kamu ( ngesianin diri sendiri) gak terlalu gaul soal perkereta-api-an
Xx
traveloro

Thursday, January 3, 2019

JJS ke: MCD



Sebetulnya nongkrong di kafe cepat saji adalah hal yang saya hindari, karena, semacam me-YES-kan prilaku tak sehat kepada Sa, tapi saya membuat pengecualian karena satu alasan. Dan alasan itu adalah, tak lain tak bukan, karena saya lagi mau cari suasana baru. Kemarin nya persis, saya baru aja ngopi di 3 tempat dalam waktu 1 hari, Strabucks skyline Sarinah, Upnormal Coffee Roasters sebelah Ashley Hotel & Dunkin Donut Kramat. Lalu teman saya ingin ketemu, ngajaknya kok nongkrong di Starbucks Lippo Puri, wes lah saya ganti aja tempat ketemuannya jadi di MCD Puri. Dengan pertimbangan, ada pojok tempat main anak disini.

di candid teman saya. hehe lucu ya.. 

Karena kebetulan ada motor, akhirnya kali itu, kami berdua pergi motoran ke MCD. Ada parkir dan cukup luas karena Mcd ini ada di bangunan sendiri, bukan di dalam mall, atau hanya ruko. Dan setelah beberapa lama free, akhirnya MCD memasang mesin parkiran ( kayaknya sih karena keseringan pengunjung mall sebelah ‘numpang’ parkir di sini.. saya termasuk,, dulu banget sih,, soalnya parkir di mall khusus mobil, sedang saya bawanya motor.. ) tapi, penjaga loket parkiran gak sampai meriksa STNK sih ( soalnya kami engga bawa) yang penting bawa uang buat bayar parkir dan juga struk parkiran tersimpan rapi dan tak tercecer.

Jarak yang hanya beberapa KM dari rumah dan jalanan yang cukup lancar pasca liburan old n new, membuat motoran sore itu hanya memakan waktu 10 menit. Yang lebih lama adalah cari parkiran karena, ya gitu.. masih banyak pengunjung mall yang numpang parkir disini, soalnya pas lihat MCD gak terlalu ramai juga, masih ada banyak bangku kosong tapi alamak parkirannya penuh sekali!  

the famous apple pie, walaupun enakan buatan sendiri

Inilah yang saya pesan untuk kami. Since saya gak mau memperlihatkan kehidupan dan polamakan yang salah ke Sa, sore ini pilihan saya jatuh ke Apple Pie, Chicken Bite & untuk minum saya pesan thai Tea sesuai request dia. Dan nongkrong di Resto Cepat Saji bisa seru juga! Walaupun Sa gak mau main di tempat mainan anak2, malah bolak balik minta diajak cuci tangan. Cinta kebersihan dan cinta main air adalah hal yang pembedanya  setipis kulit bawang.

Disini, teman saya memberikan Biji Kopi yang dia janjikan hari sebelumnya. Senang? Tentu saja! saya suka kopi, dan saya selalu senang diberi kopi, terlebih kopi yang kali ini diberikan masih berbentuk bean! Makin giranglah saya karena ini Arabica, <3 Tidak lupa, kami juga ber wefie-ria. sekalipun pakai timer supaya kena semua, dan dari beberapa kali jepret, ini yang agak lumayan, pipi tak tumpah, foto gak blur dan Sa berpose dengan gayanya sendiri. everybody  happy.

nongkrong di MCD boleh dibilang hal yang perlu sesekali dilakukan, dan pilihan menu yang tepat bahkan memungkinkan kita untuk nongkrong disini sekalipun tanggal tua, penting adalah selalu menjaga anak saat bermain atau mendampingi saat pergi ke toilet. Ingat, jika anak laki-laki tolonglah ayahnya yang ajak ke toilet, jangan ibunya. Kalian tidak akan membayangkan bagaimana reaksi anak-anak perempuan yang melihat anak laki di toilet perempuan. Mungkin mereka tidak terlalu menganggap serius, tapi segala sesuatu dimulai dari kebiasaan, dan marilah menumbuhkan kebiasaan yang baik sejak dini. Bukan hanya untuk anak kalian saja, tapi untuk anak-anak yang tumbuh di sekitarnya.

Cheers,
Traveloro

Wednesday, January 2, 2019

Sarapan di: Adele Dining ( Ashley Hotel)

Adele Dining




Akhirnya tiba juga hari ini, hari yang baru baru aja di mimpikan dan didoakan, cukup kaget karena lumayan instan terkabulnya. Kemarin Natalan, kami Staycation di ASHLEYHOTEL tapi pulang pas malamnya, karena Sa nangis mau tidur di kasurnya sendiri ( sekalipun pas sampai rumah, kembali nangis-nangis sambil bilang “aku mau nginep” sungguh membingungkan, memang.. )

Pada malam pergantian tahun, Good Friend of mine, text saya, detail hotel pesanannya, untuk saya, untuk kami, untuk traveloro! Saya kaget campur seneng, lebih banyak senengnya sih, karma baik menimpa kami bertubi-tubi dan kami sangat bersyukur karenanya. Tapi memang, saya cerita ke dia bahwa kemarin saya tidak jadi nginep, padahal saya mau! Sungguh ingin mencoba sarapan disini yang menurut review banyak website booking, rasanya enak-enak dan menu nya variatif.

Jadilah pas tanggal 1 Januari 2019, siang, kami berangkat ke Hotel itu lagi ( memang berjodoh.. senangnyaaa), kembali disambut dengan reception yang cantik cantik dan cekatan, cukup mengeluarkan KTP / ID CARD gak berapa lama langsung diserahkan kunci Room beserta informasih jam dan lokasi breakfast esok hari. Saya terkesan dengan waktu breakfast yang panjang yakni jam 6AM-10AM. Itu rentan waktu sarapan yang cukup panjang menurut saya.

Pertama, saya kaget, karena DELUXE TWIN kali ini, malah dapet superior room sepertinya karena kamar penuh ya ( full book), gak masalah di saya, dapat bed King Size, view tak langsung ke jalanan ( melainkan ke gedung hotel sebelah), tapi, saya agak masalah dengan ruangannya yang lebih kecil dibanding room kami pada tanggal 25 kemarin. Padahal pesannya sama, saya cek lagi email, betul, masih rate sama dengan kelas room yang sama. Dan masalah lain adalah kamar mandi yang bau, entah dari mana baunya. Sorry to say, saya sampai tuang minyak Tea Tree Oil saya ke dalam gelas berisi air hangat, agar bau tak sedap itu tersamarkan, dan saya bisa tidur. Puji Tuhan, iya saya bisa tidur jam 2 pagi. Hahaha dan jam 6an saya sudah bangun, nonton TV sebentar lalu bangunin Sa untuk turun breakfast pada jam 7-an.

Turun lift adalah hal lain, karena kamar kami posisinya persis di depan lift, kayak merasa lucu aja buka pintu langsung lift, ya gak sih.. saya sih iya merasanya begitu. Sampai di Adele Dining, mba-mba nya bertanya kami dari room berapa, dan saya langsung teringat untuk melakukan hal ini, boleh dibilang agak nekad atau apalah, karena belum mengecek menu yang tersedia, saya langsung tanya sama chef nya apakah bisa membuatkan saya sarapan Vegan, lalu chef nya bilang, bisa, saya langsung semangat, dan ada 2 pilihan, “nasi goreng sayuran atau palingan semacam cap cay gitu bu” kata chef. Saya awalnya agak tergiur dengan cap cay, pasti chef gak akan kesulitan untuk buatin, dan pasti enak, saya yakin betul. Tapi karena saya ini anaknya nasi goreng banget, alias rodok maniak dengan nasi goreng, saya putuskan untuk menjatuhkan pilihan pada nasi goreng, cross my finger, semoga enak itu ya nasi gorengnya.

Sarapan Sa pilihan Ibu ( atas persetujuan dia)

Sambil menunggu sarapan vega request-an saya datang, saya tuntun Sa duduk, sementara saya keliling, untuk mengambil sarapan untuk Sa. Pada ujung meja dibagian awal, ada roti, mesin pemanggang dan butter beserta 3 selai; selai coklat, selai kacang dan selai strawberry. Disini ada bagguete juga ya ( roti keras ala prancis gitu)  saya pilihkan sa selembar roti dengan mengoles sedikit butter dan sesendok penuh selai strawberry. Selai starberry biasa, bukan homemade nya mereka. Saya gak sempat coba, tapi Sa habis, berati enak. Bisa dipastikan.

Selesai dengan roti, sebelahnya ada bubur ternyata, tau gitu saya gak repot-repot nyusain chef masak untuk saya. Sebelah bubur ada nasi putih & nasi goreng, lalu ikan tepung ( gak tahu ikan apa saya gak buka.. tapi ini lumayan sering di refill, jadi pikir saya ikan ini pasti enak banget), sebelah ikan ada kari ayam, ini saya juga gak buku tutupnya, tapi sepertinya enak, karena banyak juga tamu yang ambil kari ini. Sebelah kari ada kentang & sosis ayam. Nah itulah perhentian saya selanjutnya, mengambil kentang dan sosis ayam, beserta saus tomatnya.
Pecel Sayur & Orek Tempe yang enak itu

Selanjutnya ada Veggie Lasagna, ini nampaknya enak, saya sempat intip, tapi kelihatan agak gak beraturan karena pada ngambil tidak sesuai dengan potongan ( risik banget mata saya lihat yang gini gini,, ). Sebelahnya ada Pakcoy masak bawang putih, ini saya ambil, rada telat jadi sayurnya udah overcook / over-heated, tapi rasanya enak, & hampir plain, no micin detected. Lalu ada orek tempe & pecel sayuran, saya ambil dong, hahaha enak deh,, yummy banget pecelnya, bumbunya berasa dan tidak pedas, lalu orek tempenya sedep, sekalipun agak terlalu kering tempenya ( menurut saya), maklum gusiku lagi sakit, kan, jadi gak bisa ambil banyak-banyak, tapi klo lagi sehat, aku pastikan udah nyendok nasi putih dan makan pakai pecel ber-lauk-an orek tempe ini. Betulan enak.

Lalu ada minuman, jus jambu – air mineral – jus jeruk. Kami ambil jus jambu dan berkali kali refill air mineral. Segelas kopi untuk saya dan segelas susu segar untuk Sa. Telur ceplok dan telur dadar ala hotel juga mereka sediakan dan refill berkali-kali selama kami makan ( laris sepertinya), tepat dipojokan ada salad, dengan beragam sayuran. Ada buah & pudding juga! Saya ambil buahnya dan Puddingnya untuk Sa. Sebetulnya ada burjo & burtan ( both not my fave) jadi saya gak ambil, tapi saya yakin ini enak,,,
Nasi Goreng Vegan ( made by request )

Beginilah penampakan Vegan Nasi Goreng-nya Ashley Hotel, isinya nasi dengan beragam sayuran, mulai dari wortel, kol, sawi hingga tauge & juga ada potongan jamur. Untuk rasa, saya harus bilang kalau B aja sih, cuma rasa lada dan garam, maaf yaa, mas Chef… tapi untuk effort, saya salut sama effort mereka yang mau-maunya susah payah bikinin request tamunya.

Setelah bosan cocol kentang ke saus, Sa saya ajak untuk coba makan Sosisnya, eh dia suka.. Jujur aja, inilah pertama kalinya Sa makan sosis ayam, karena saya emang terbilang jarang banget kasih Sa makanan kemasan & frozen gitu, sosis sapi pun, dia gak doyan, sekalipun cuma sepotong di pingiran pizza atau di dalam roti, dia pasti singkirin. Eh karena dia suka, cepet banget habisnya sosis ini, lalu lanjut dia makan telur dadar ala hotel & sambil sesekali minum susu – jusnya.

Kami menghabiskan waktu cukup lama disini, saya senang. Gak biasanya saya bolehkan Sa makan lebih dari 30 menit. Tapi kali ini, sepertinya ada 1 jam lebih kami duduk dan menikmati makanan disini. Saya selesai duluan, jadi bisa baca novel sambil ngopi oh ya.. kopinya lumayan, untuk ukuran kopi hotel, rasanya gak buruk, agak over-roast tapi masih kategori normal, masih enak diminum hangat tanpa gula sekalipun.

Begitulah pengalaman pertama kali traveloro breakfast di hotel. Rasanya campur aduk sih, tapi utamanya, saya bangga karena Sa bisa behave selama makan dan bahkan gak lari sana sini apalagi ngacakin susunan piring / barang pecah belah lainnya. Dia juga bisa duduk dikursi yang sama dengan tamu lain, kursi yang sama dengan saya. Sekalipun hotel menyiapkan booster seat / high chair, Sa mau dan bisa dan nyampe mulutnya untuk duduk di kursi umum dan makan sendiri ( tanpa disuapin) dan makannya HABIS. Dan bagi teman travel dimanapun berada, biasakan untuk bersikap bijak dalam makan, baik itu makan di rumah ataupun di luar rumah ( hotel, resto, warung pinggir jalan, warung pecel lele dsb) terlebih jika menu prasmanan gini, sebetulnya menurut saya pribadi kelebihan menu prasmanan adalah kita bisa ambil sesuai yang kita mau dan sebanyak yang kita kuat, bukan sebanyak yang kita mau yah.. Karena itu adalah dua hal yang sangat berbeda. mengambil makanan sebanyak yang kita mau, jika gak habis, jatuhnya mubazir dan please deh, sekalipun duit mu banyak dan saldo ATM mu engga habis-habis, tapi ingatlah BUANG MAKANAN itu DOSA!! Dan ingatlah, untuk ambil makanan seperlunya, sambil mengingat saudara-saudara kita di belahan bumi lain mungkin sedang kelaparan dan kehausan.. dan jika makan per porsi, dan sisa, bungkuslah sisa makanmu, jika mungkin minta kemasan pembungkus yang reusable, bukan disposable.



XX

TRAVELORO

Tuesday, January 1, 2019

Misa awal tahun di Gereja St. Teresia - Menteng


Dari banyak hal di dunia ini. Salah satu yang saya tidak percaya adalah: Kebetulan. Kalau orang suka bilang “ kebetulan banget ya kita ketemu disini..” atau “ well,, kebetulan aku bawa lebih..” no I didn’t believe it at ALL..
Kami, atau saya ( karena merasa masih terlalu dini untuk menyebut bahwa Sa akan sepaham dengan saya) lebih percaya dengan atau sebutlah ini ucapan “ Pasti udah diatur sama Tuhan”atau "beruntungnya..."
Sebetulnya, dari dulu, saya sangat senang Jalan-jalan, dan bukan berarti kehadiran Sa bakalan menghalangi hal yang saya sukai, tapi sekarang lebih ke priority sih, karena saya Stay at Home Mum, alias 24/7 untuk Sa, budget Jalan-jalan jadi terbatas, dan juga kemanapun dan apapun yang dibeli, harus berfikir ratusan atau ribuan kali, tanpa bermaksud lebay, saya, sering atau bahkan selalu melakukannya, berpikir ribuan kali hanya untuk pergi ke taman, misalnya. Dari apa yang harus dibawa sampai apa apa aja yang bakalan dilakukan. Karena berpergian cuma berdua, saya selalu memikirkan worst scenario misalkan Sa jatuh tersandung dan keningnya benjol atau berdarah, atau scenario kocak kayak gak kepikiran dia bakalan ngompol di starbucks atau di pangkuan saya saat kami nonton bioskop ( maklum udah gak ber-diapers dia sekarang), kayak harus berkali kali di sounding tentang “ kalau mau potty bilang ya” bawa baju dan celana lebih sih pasti, buat anaknya, ibunya? Ngga pernah! Jadi ya waktu itu harus ngeringin rok yang kebasahan di mesin pengering tangan, yang ada di dalam toilet. Dan karena biasanya kami pergi cuma berdua, saya pastikan selalu pakai back pack atau tas ransel supaya gampang dibawa dan muat banyak, sekalipun harus dibawa sambil lari mengejar Sa yang larinya nge gas banget.
Well, ok, um… karena umumnya orang old & new di luar kota, dan kami pun, kayaknya indah jika awal tahun ini diisi dengan hal yang positif dan bersahaja. Jadi itu lah yang kami lakukan.
Selama 30tahun, ( Upss setua itu yees.. im old but young at heart,, percayalah) saya selalu merayakan Old & New bersama keluarga besar, bersyukurnya, sekalipun satu persatu dari mereka berkeluarga, punya banyak uang dan anak-anak yang lucu dan menggemaskan, mereka tetap luangkan waktu untuk berkumpul, untuk bercanda dan makan malam bersama sampai waktu pergantian tahun tiba, kami berdoa bersama, dan saling mengucapkan permohonan yang positif satu dengan lainnya.
Dan selama itu pula lah, saya nggak pernah aware kalau gereja Katolik punya semacam perayaan saat old & new. Karena waktu nya yang berdekatan dengan  xMas, saya merasa apa perlu misa ini? Toh di rumahpun kami selalu panjatkan doa saat malam pergantian tahun. Dulu saya pernah ditawari ikut misa tutup tahun di Gereja, tapi, saya tolak, wong saya harus di rumah bersama keluarga, pikir saya begitu.
Malam tahun baru pun tiba, doa doa dan berbagai hidangan sudah tersedia dan kami habiskan. Tapi, rasanya ada yang kurang. Selain doa bersama keluarga, saya merasa perlu berdoa juga di Gereja, untuk berterimakasih kepada Tuhan yang sudah memelihara saya dan Sa selama tahun 2018. Begitu banyak kesehatan, suka cita dan tawa yang boleh kami rasakan. Untuk itulah saya merasa perlu pergi ke Gereja. Dan berutungnya saya, hal itu bisa terwujud.
Bukan kebetulan namanya kalau Tuhan sudah merencanakan. Dan Yup. Sedikit guyuran hujan pun tak jadi soal, kami berdua tiba di Gereja tepat sesaat sebelum misa di mulai. Dan boleh dibilang kami beruntung karena masih tersedia kursi kosong di bagian dalam gereja, pas untuk 2 orang, saya dan Sa. 


Diawali dengan doa Santo Angelus, kami pun, mampu mengikuti misa awal tahun yang mulai pukul 18.00 dengan khidmat sekalipun sedikit kedinginan karena sisa hujan yang menempel di kulit & baju kami tertiup hebusan air AC di dalam Gereja. Dan Sa, cukup anteng bahkan tidak minta ke toilet untuk cuci tangan atau potty. Beneran anteng di bangkunya, pikir saya, dia pasti juga senang kami bisa pergi ke Gereja. Bahkan percaya atau tidak, Sa lah yang membuat saya tidak pernah melewatkan misa minggu-an di Gereja…selesai Misa, Sa sempat mengantre untuk bisa berdoa di patung Bunda MARIA ( Sa bilangnya Bunda Ria) mengambil 1 lilin dan membakarnya sendiri begitu ada tempat kosong..
Secara sederhana, saya bisa bilang bahwa banyak hal yang pasti akan terjadi di tahun yang baru ini. Saya tidak banyak memanjatkan keinginan-keinginan ataupun mimpi-mimpi saya, cukuplah dengan permintaan supaya Tuhan selalu mengundang saya, kami, ke Gereja. Supaya kami selalu memiliki ketenangan hati dan pikiran, selalu mau mencoba dekatkan diri kepadaNYA dan segala kebaikan pasti akan mengikutinya…


Xx
Traveloro..

Friday, December 28, 2018

ngopi di: Dancing Goat Coffee&Co



Suatu sore, sepulangnya kami dari main di taman, dan lewati jalan sepanjang pinggir Tol Kebon Jeruk, tanpa sengaja, saya melihat coffee shop di ruko Grand Puri Niaga yang tidak jauh dari Pola Bugar Sport Club. Dan langsung tertarik mau coba ngopi disini... dan begitulah saya jika sudah penasaran, saya pasti datang! Jadi, sekalipun sempat batal, sore ini, kami berkesempatan untuk pergi ngopi disini, diantar oleh online ojek kesayangan kami. Gojek.

 
Ceiling Lantai 2

(tampak luar lantai 1)
 

Siapapun yang melihat exterior Dancing Goat, pasti langsung terkesan dan penasaran bakalan seperti apa interiornya?? karena membuat interior ciamik dengan bangunan model ruko, sekalipun bertingkat adalah sebuah tantangan besar menurut saya. beda hal jika coffe shop ini ada di mall atau di bangunan sendiri, akan lebih mudah mengatur interior cafe nya... dan dancing goat berhasil membuat mata saya takjub, karena pas masuk ke dalam, selain aroma khas kopi yang menyapa, interior industiralist betul-betul memanjakan mata kami. seperti bangunan bekas pabrik atau yang bangunan yang belum selesai pengerjaannya, adanya batu bata yang sengaja di eskpose, bohlam lampu dan fitting yang di cat hitam yang mengantung dengan 'polosnya', dan meja & kursi perpaduan kayu & besi warna hitam memperjelas itu semua. Tangga dan elemen lain di tata sedemikian rupa untuk mendukung kesan industrial ini. kesan ruko cafe langsung hilang.



Dancing Goat menawarkan berbagai jenis minuman, dan bagi saya pribadi, karena saya pecinta kopi hitam/ black coffee/ americano, jadilah saya menutup mata dari menu selain kopi hitam. Setelah bertanya pada barista, kopi pilihan saya jatuh ke Halu Pink Banana manual brew. Karena pilihan kopi single origin saat itu hanya sumatra & halu pink ini. Jujur & agak menyombong, saya bilang ke mas baristanya, Mas Dio, saya bosan dengan kopi SUMATRA. bukan bosen in a bad way. bosan nya karena sudah sering ngopi Sumatera dan ingin mencoba jenis kopi lain, yang asing di lidah saya. sekalipun mas Dio dengan ramahnya suggest saya untuk pilih kopi Sumatera karena acidity nya masih 'normal' kalau Halu Pink, dia Bilang acidity nya lumayan. Well, bring it on! saya kebetulan suka kopi Arabica, jadi no way on earth bakalan nolak yang asam asam gini.. Selesai bayar, saya diberi nomer meja yang juga industrialis, yaitu berupa besi bercat hitam dengan angka dan logo dancing goat diatasnya. indah tapi BERAT. karena saya harus membawa no. orderan saya ke lantai dua.


Sekitar 10 menit berselang, mas Dio naik dengan membawa struk baru berserta uang 5k, sebelum sempat saya bertanya, dia bilang bahwa Halu Pink pesanan saya, tidak butuh extra charge 5k seperti yang awal disampaikan. duh.. baiknya... dan beberapa waktu berikutnya, menu pesanan saya datang, saya memang hampir selalu memesankan Sa kentang goreng ( potato fries ) jika kami ngopi. dengan beberapa pertimbangan, diataranya, itulah satu satunya menu yang #vegan ( jadi both sa & saya bisa menikmatinya) dan yang paling utama adalah karena Sa suka sekali kentang goreng. well, anak kecil mana sih yang engga suka?? tambah lagi kentang goreng nya Dancing Goat sangat fresh. saya sendiri mencobanya dan kayak gak mau berhenti makan sampai kentangnya habis. garing diluar empuk di dalam, engga keras ya kentangnya, sepadan lah dengan harganya. Itu sebetulnya kentang goreng disajikan dengan (kayaknya) homemade mayonaise ya.. karena ada kayak potongan timun kyuri dan juga serbuk daun herb nya. jadi saya bisa bilang ini homemade mayoo. Kalau saus tomatnya itu saya yang tambahkan, karena Sa suka saus tomat. 



Disini ada ECD Bank BCA, dan gak tahu kenapa, saya ga bisa bayar pakai debit, karena mas nya bilang ini khusus untuk BCA, mesin EDC bank lain lagi rusak, beruntungnya saya bawa duit cash walaupun pas pas-an, masih dapat kembalian kok.. hehee.. plus pulangnya, membawa senang karena habis memanjakan lidah dengan kopi enak.. Seperti biasa Sa saya bekali dengan buku gambar dan pensil warna agar dia anteng duduk diam berlama-lama disini. Dan saya bisa update blog traveloro.

xx
traveloro.